
Happy Reading...
Matahari tumbang di kaki langit sebelah barat. perlahan namun pasti pekat malam merambat naik sebelum sang rembulan bertabur bintang menggantung dengan indahnya.
Kini keluarga itu benar-benar lengkap dengn kedatangn Keisya dan di susul oleh keyla beberapa jam lalu.
Kedatangan mereka yang secara mendadak memang karena ingin melihat bayi Aldi yang baru berumur 3 hari.
Tampak mereka saling menyayangi karena Aldi, keyla Kai dan Keisya sudah hidup bersama sedari kecil. tawa dam canda mereka saling lontar menambah kebahagiaan dan keharmonisan dalam keluarga.
Dan untuk pertama kali juga mereka berkumpul sebagai keluarga yang utuh. apalagi di tambah kehadiran kinan. Sempurna.
Dan untuk pertama kalinya juga Kinan melihat wajah putri kandung Krisna berada di hadapannya.
Mereka semua terhanyut dalam keharmonisan yang tercipta. kecuali Zahra yang saat itu hanya mengaduk-aduk makanannya. Kai yang tau Zahra dalam keadaan mood yang tidak baik hanya mengulum senyum yang membuat Zahra semakin kesal.
Kinan menyadari bahwa putrinya memasang muka cemberut sejak kedatangnnya tadi sore pun tak tahan untuk tidak bertanya.
"Zahra, kau kenapa nak? apa kau sakit?" tanya Kinan yang melihat wajah zahra sedikit pucat dan tidak berselera.
"Tidak apa-apa bu, aku hanya kurang bernafsu." jawabnya sekenanya. dia tak mungkin mengatakan bahwa sekarang ia sangat kesal dengan kai. pasti semua orang akan mengatakan bahwa ia kekanakan.
Aldi dan Dea yang memang lebih mengenal Zahra lebih lama dari semua yang hadir, tak begitu saja percaya dengan ucapan Zahra. apa lagi Aldi yang beberapa kali memergoki Kai yang berusaha mengulum senyum, tentu Dia dapat merasakan bahwa adik dan adik iparnya sedang melakukan perang dingin saat ini.
"Apa dia membuatmu kesal?" tanya Aldi pada Zahra. sedangkan zahra tak menjawab dari mulutnya karena dengan ekor matanya yang melirik tajam ke arah Kai sudah dapat menjawab segala pertanyaannya.
Aldi hanya mengangkat bahu, bukan masalah penting yang harus di perdebatkan menurutnya.
Sedangkan sang tersangka tetap melanjutkan makan tanpa merasa berdosa sedikitpun karena sudah membuat sang nyonya besar menjadi gusar hingga ia sulit menelan makanannya.
"Memang apa yang di lakukannya?" kali ini kania yang bertanya.
Dan jika Kania telah angkat bicara, maka tak ada alasan bagi Zahra untuk tak menjawab. dan itu sudah dapat dipastikan Kai tak akan selamat.
Kai memaksakan senyum. lebih tepatnya cengiran yang membuatnya lebih tampak bodoh. dan sikap konyolnya itu semakin membuat kinan curiga. pasti ada yang di sembunyikan.
"Sayang, sudah ya tidak perlu di bahas." mohon kai dengan menggenggam tangan Zahra.
Bukannya menenangkan, justru perbuatan Kai yang mencari perlindungan semakin membuat singa betina itu murka.
Zahra menarik kasar tangannya dari genggaman kai. matanya melotot tajam memandang benci pada kai yang saat ini semakin di buat kelimpungan.
Aura-aura pertengkaran sudah tercium. dan itu tak lepas dari pengamatan Aldi. si mantan bos yang kini sudah berubah jadi kakak dari singa betina.
Melihat gelagat Kai yang semakin salah tingkah, Aldi yakin pasti masalahnya akan membuatnya sedikit menghibur.
"Dek, bilang sama kakak, apa yang di lakukan si bodoh ini sampai-sampai adek kesayangan kakak jadi tidak bernafsu untuk makan." Aldi bertindak sebagai kakak yang sangat memanjakan adiknya. itu di lakukan hanya untuk menyudutkan kai. karena Zahra pasti akan menceritakan semua karena merasa terlindungi.
Kai mendengus kesal melihat kelakuan Aldi yang semakin memancing emosi Zahra. dan Zahra yang sedari tadi mati-matian menahan gejolak emosi akhirnya runtuh juga.
Semua yang hadir disana nampak gelisah menunggu jawaban zahra. dan dengan segera Aldi, sang kakak ipar durjana mengeluarkan gawainya untuk mengabadikan momen pertengkaran pertama pasangan yang selalu membuat orang muak karena kemesraannya.
"Kai sangat bahagia karena mendapat pelukan dan ciuman dari wanita cantik." Zahra mengatakan dengan satu tarikn nafas.
"Dan dia juga bilang jika kai sangat liar." zahra dengan lirih namun dapat di dengar oleh semua orang.
"Wow! mengagumkam!" Aldi semakin gencar mengompori.
Wajah kai sangpat pias, apalagi kini tatapan Kinan Albert dan Kania seolah mengulitinya.
Keadaan itulah yang sudah dinantikan sofia, melihat Kai dan Zahra bertengkar. tapi dia tak pernah tau masalah apa yang sedang menantinya.
"Apa kau mengenalnya Kai?" kali ini Kinan yang bertanya. agaknya ia juga termakan oleh permainan Aldi.
"I-iya." ucap kai kikuk.
Tak ada celah lagi untuknya berkelit. percuma karena Zahra yang memang tak bisa bwrbohong itu pasti akan mengatakan semuanya.
"Siapa?" Kinan juga ikut serta membuat kai semakin sulit menelan salivanya. apalagi Albert yang sepertinya juga ikut andil dalam ketegangan.
"Melisa." Kai menjawab dengan susah payah. jangan tanyakan keadaan sofia saat ini karena dia sedang terbatuk karena tersedak.
Dan sontak semua menoleh ke arah sofia yang sangat mencurigakan menurut mereka.
"Dan itu atas perintah mommy " tak ada cara lain, Kai harus mencari pembenaran sendiri. mengatakan semua perbuatan sofia adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan dirinya dari ancaman sang istri yang moodnya berubah-ubah.
"Kai, mommy tidak.." Sofia tak dapat melanjutkan ucapannya karena batuk akibat ia tersedak menyulitkannya untuk berbicara.
Apalagi pandangan ketiga tetua yang ada disana seolah mengulitinya. membuat sofia semakin terpojok. dan jangan lupakan dua putri kandungnya yang juga ada disana yang belum mengetahui apapun tentang kelicikannya selama ini. tidak, sofia belum siap mendapatkan penghakiman dari anak-anaknya.
"Kita akan bicara mom, tapi nanti. setelah aku menyelesaikan urusanku dengan si brengsek ini." Kai menatap tajam pada Aldi yang masih erat memegang gawai di tangannya. agaknya menjadi kompor saat ini adalah hobi barunya.
Aldi yang melihat kai menyeringai ke arahnya segera bangkit dari duduknya. bersiap menghindari amukan kai.
"Aku sudah selesai. aku pergi dulu." pura-pura tak mengerti akan kode yang kai berikan, Aldi ingin segera kabur dari sana.
"Tetap di tempatmu bro!" seru Kai dengan tenangnya yang sebenarnya sebal dengan kelakuan temannya yang selalu senang melihatnya susah.
"Tidak, terima kasih." timpal Aldi dan segera melangkah meninggalkan meja makan dengan langkah sedikit berlari. di ikuti Kai yang berjalan cepat di belakangnya.
"Keep fight dad!" si kecil Rain menyemangati.
"Yes sir!" ujar kai sambil mempercepat langkahnya mengejar Aldi.
Pemandangan yang sudah bertahun-tahun tak pernah di pertontonkan lagi semenjak mereka dewasa kini bisa dinikmati. Hati Albert menghangat melihat kelakuan dua putranya yang seperti bernostalgia pada masa dua puluh tahun yang lalu. saling mengejar dan berebut.
Tapi itu hanya sementara karena kini pandangannya teralihkan pada sofia yang wajahnya masih memerah dan semakin memerah karena kinan kini menatapnya dengan pandangan permusuhan.
"Aku mau kita bicara. sekarang! aku tunggu kalian di ruang kerja Albert. termasuk kalian berdua." ucapnya pada Kayla dan keisya.
***
Bongkar semua Rahasia mak, biar para readers gak penisirin. 😁😁
Ritualnya gengs...