Daddy'S Love

Daddy'S Love
Part.114



Happy Reading...


"Namanya Sonia."


"Adikku."


Kinan mencerna ucapan Sofia dengan sangat lambat. ia bahkan tertegun. tak percaya bahwa Sofia mengatakan bahwa ia memiliki seorang adik.


Adik? benarkah?


Kinan bahkan mengira bahwa Sofia tengah memainkan sandiwara saat ini. tapi ini tidak sedang dalam situasi yang tepat untuk bercanda. atau ia sedang merencanakan sesuatu?


"Kau tidak sedang bercanda kan Sofia?" mata Kinan memicing. terlihat sekali bahwa ia sangat meragukan ucapan Sofia.


Tidak ada yang lebih mengenal Sofia kecuali dirinya. dan Kinan pun juga bukan wanita yang mudah untuk di bodohi.


Memiliki seorang adik bukanlah hal yang termasuk dalam tujuan hidup Sofia selama ini. meski dulu ia pernah berada di posisi saudara dari Sofia.


"Kau tidak sedang merencanakan sesuatu kan Sofia?" kembali Kinan menyatakan keraguannya.


"Memang apa yang aku rencanakan kinan?" Sofia tertawa kencang. mentertawakan sebuah pertanyaan yang tidak lucu sama sekali.


"Apa kau akan bilang bahwa aku sedang mengada-ada?" Tawa yang tadinya keras kini berubah menjadi suara sumbang.


"Dia memang adikku kinan. Adikku." Sofia menekankan kata adik untuk membuat Kinan tak meragukannya.


Kinan melihat wajah Sofia yang begitu pilu. "Lalu dimana dia? kenapa aku tak pernah melihatnya? aku bahkan tidak pernah tau kau punya adik!"


Sofia hanya tersenyum menanggapi kalimat kinan.


"Aku memang orang asing yang kebetulan di jadikan anggota keluarga untuk sementara waktu, tapi aku tak menyangka bahwa aku se asing ini." Kinan terdengar sangat kecewa.


"Di rumah ini terlalu banyak kenangan indah jika harus di lupakan. tapi juga menyimpan duka yang dalam jika harus mengingatnya." Ucapan Sofia terdengar semakin pilu.


"Ceritakan sofia." sebuah permintaan bernada perintah Kinan lontarkan. namun Sofia hanya bergeming.


Untuk sesaat Sofia hanya melihat foto gadis kecil di depannya dengan penuh kerinduan.


Kinan semakin gusar. tak sabar menunggu cerita dari sofia. wajah gadis kecil itu begitu sangat menyiksanya.


Setelah hening sesaat, lalu sofia berbalik dan berhadapan dengan Kinan.


Setelah menghela nafas panjang Sofia mulai membuka suara.


"Pagi itu kami membawa Sonia ke taman. kami berjalan sambil aku mendorong keretanya. lalu kami berhenti pada kursi taman dan duduk disana. mami pergi untuk mengambil botol susu yang tertinggal di mobil. tinggalah aku sendiri di sana. menjaga Sonia yang telah terlelap."


"Karena kulihat dia sedang tertidur, lalu aku duduk di sebuah kursi. dan saat itu ada seorang wanita kumuh mengambil sonia dan membawanya lari. lalu kami mengejarnya, namun naasnya sebuah mobil melaju dengan kencang dan menabrak wanita itu hingga terlempar. tapi di tempat kejadian itu Sonia tak ada di sana. entah dimana wanita itu meninggalkan Sonia. kami tidak tau. entah dia masih hidup atau.." Sofia tak melanjukan ceritanya. terlalu menyedihkan.


Kinan memeluk tubuh Sofia dengan perasaan yang bercampur aduk. wajah bayi itu sangat familiar.


***


Matahari telah tergelincir ke kaki barat saat Kinan pergi dari rumah sofia.


Dengan berbagai praduga dan ciri-ciri fisik yang masih dapat Sofia ingat, kinan dapat mengingat dimana ia pernah melihat wajah bayi itu.


Kinan telah sampai di mension keluarga Almeida. segera ia masuk ke dalam kamar dan ternyata Albert sudah pulang dari kantor.


Pastilah pria itu pulang sejak beberapa menit yang lalu. terlihat dari pakaiannya yang sudah berganti dengan pakaian rumahan.


"Dari mana kau. aku sudah cukup lama menunggumu." Sebuah pertanyaan bernada merajuk keluar dari mulut yang tak pantas lagi untuk merajuk.


Kinan mengernyit heran hampir tertawa melihat suami tuanya berlaku seperti itu.


Kenapa dia manja sekali?


"Kau merindukanku?"


"Tentu saja aku selalu merindukanmu. aku takut kau pergi lagi?" Albert memeluk pinggang Kinan semakin erat.


"Aku tidak akan pergi lagi. ada yang mengikatku di sini, jadi aku tak akan kemana-mana."


"Aku senang mendengarnya." Albert mencium pipi Kinan dari samping.


"Kenapa kau senang sekali?" Kinan merotasikan kepalanya sehingga matanya terbentur dengan wajah albert yang sedang tersenyum bahagia.


"Karena aku sudah berhasil membuat gadis sombongku jatuh cinta lagi padaku." ucap Albert percaya diri.


"Kau terlalu percaya diri Albert sayang. tentu aku bertahan disini karena ada Rain, Zahra dan Kai." Ucap kinan tersenyum lebar. apalagi melihat Albert yang tiba-tiba kehilangan lengkungan di bibirnya.


"Jadi bukan karena aku kau bertahan?" senyum Kinan kian melebar melihat wajah Albert yang cemberut. terlalu menggemaskan untuk usia setua dirinya.


Dan tiba-tiba sesosok mungil memasuki kamar mereka tanpa mengetuk pintu.


Dialah si biang berisik yang menggemaskan. Rain.


"Ah! kenapa aku selalu melihat pemandangan seperti ini dimana-mana." kesal Rain karena melihat pemandangan yang tak selayaknya untuk ia lihat.


Albert dan Kinan segera saling menjauh. terlalu malu karena kepergok sedang di peluk. apalagi Rain yang memergoki mereka. sudah dapat di pastikan Rain akan bercerita pada orang tua dan unclenya. yang artinya itu akan menjadi bahan ledekan. meski kenyataannya mereka juga sering melakukannya dan mengalami hal yang sama.


"Memang apa yang kau lihat sayang?" Albert membawa tubuh kecil Rain ke atas pangkuannya.


"Seperti yang kalian lakukan. berpelukan. Grandpa dan grandma, mommy sama daddy, uncle Aldi dan Aunty Dea. kalian semua sama saja. menyebalkan. kalian sering melupakanku." ucapan Rain membuat Albert tergelak dan wajah kinan memerah karena malu.


"Kalau begitu aku ingin cepat besar dan memeluk starla seperti kalian." ucapan Rain sungguh membuat Albert mengencangkan tawanya hingga terdengar sampai ke kamar Zahra. dan membuat Kinan melongo tak percaya


"Sayang kau dengar tadi, kenapa tawa ayah sangat kencang?" Zahra bertanya pada kai yang baru pulang dari kantor dengan wajah lelahnya.


"Mungkin Daddy sedang sangat bahagia sekarang. jangan lupa mereka pasangan baru sekarang." jawab Kai sekenanya sambil menarik tangan Zahra agar duduk di pangkuannya dan membelai perut buncit istrinya.


Meski kelihatan sangat lelah, namun untuk melakukan hal seperti itu merupakan hal wajib yang harus Kai lakukan setiap hari.


Kini tak ada lagi yang akan mencoba merusak kebahagiaan mereka. karena sofia pun tak pernah kembali pulang kerumah mereka. dan mereka tak mempermasalahkan hal itu.


Beberapa menit kemudian terdengar pintu di ketuk. dan kai yang sedang berjalan ke kamar mandi pun berbelok untuk membuka pintu.


"Mommy?"...


***


Nungguin ya???


maafkeun author ya gengs sering terlambat up. mau gimana lagi, daerah author berada di zona merona. jadi pergerakan Author untuk menyelesaikan aktifitas dunia nyata sedikit melambat. jangan khawatir cerita ini segera berakhir, dan di lanjutkan dengan cerita baru sambil menunggu kisah 'Keenan and the gengs'.


Lots of luv Chanda. 💕💕💕