
Happy Reading...
Kai yang di sibukkan dengan aktifitas kerjanya seakan lupa bahwa hari ini belum menelpon aldi sama sekali.
Agaknya menelpon Aldi agar dapat berbicara dengan Zahra sudah menjadi kebiasaan barunya. sekedar menanyakan kabar Zahra adalah cara Kai untuk memberikan perhatian kepada gadis itu, gadis yang akan menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Jarak yang terpisah, di antara dua benua yang berbeda tak menyurutkan niat Kai untuk mempertanggung jawabkan kesalahannya. rasa sakit yang di berikannya kepada seorang gadis membuat hidup kai tak tentram. kinilah saatnya ia menebus kesalahannya.
Kai pov.
Waktu sudah siang, mungkin di indonesia sekarang sudah malam. dan aku belum menelpon Zahra. aku takut dia berfikir aku mengacuhkannya. sebaiknya aku menelpon Aldi. mungkin Zahra belum pulang.
"Hallo Al." kai baru menelpon Aldi setelah ia memiliki waktu senggang dari rutinitas padatnya.
"Ya kai, kenapa?" Aldi menimpali sambil membolak balikkan berkas yang di pegangnya.
"Aku mau bicara sama Zahra." Aldi menghentikan aktifitasnya. ia melihat jam di pergelangan tangannya. dan jam kerja telah usai.
"Sepertinya Zahra sudah pulang, kau bisa menelponnya sendiri. biar ku kirim nomornya." Aldi mengakhiri panggilan dan segera mengirim nomor kontak Zahra pada kai .
Tapi Kai menelponnya kembali. "Al, boleh aku minta tolong?" Kai menghentikan ucapannya.
"Katakanlah!" sambung Aldi
"aku tidak tau apa yang akan terjadi, tapi aku merasa akhir-akhir ini aku sedang merasa di awasi." kai kembali menghentikan ucapannya.
"Tentu, aku akan menjaganya, jangan khawatir." Aldi tampak berfikir.
"Thank's." kai menutup panghilannya.
Kai segera menghubungi Zahra, entah kenapa saat itu ia merasa bahwa ia sangat ingin bicara dengan wanita yang sudah ia paksa menjadi bagian dari hidupnya.
Hallo Zahra."
"Siapa?" suara dari seberang.
"Aku Kai." kai menghentikan ucapannya, namun kai juga tak mendengar suara Zahra.
Mungkin ia bertanya-tanya dari mana aku mwndapatkan nomornya? batin kai
"Iya, ada apa? suara zahra terdengar gugup.
"Apa kau keberatan aku menelponmu?" godaku.
"Ti-tidak. tentu saja tidak." ucapnya terbata. tapi aku rasa ia senang aku. menelponnya.
"Apa kau menungguku? emm.. menunggu telponku maksudku." aku kembali menggodanya.
"Ehm.. iya, ah.. tidak." suaranya terbata, aku tau dia sedang menunggu telponku.
"Apa Kau merindukanku?"
"Aku tau kau merindukanku. aku juga merindukanmu." tiba-tiba saja pertanyaan itu muncul dari mulutku.
Zahra hanya diam.
"Aku bisa melihat wajahmu dari tempatku duduk, setiap hari aku melihatmu asal kau tau." tentu saja aku dapat melihatnya dari gawaiku yang tersambung dengan CCTV di cafe Aldi.
"Jangan kau fikirkan. itu rahasia." aku sengaja mempermainkannya.
"Tapi itu tidak adil, aku belum pernah melihat wajahmu." protesnya.
suara Zahra terdengar manja. hormon kehamilan sepertinya membuat ia menjadi lebih melow. tapi aku menyukainya.
Aku terkekeh "Kau benar, tapi aku tidak mau kau melihat wajahku saat ini."
aku sedikit mengkhawatirkannya.
"Tapi kenapa, mungkin ia juga ingin melihat wajahmu,"
"Benarkah? aku tidak percaya.
"aku hanya tidak ingin kau takut, aku akanmuncul di hadapanmu saat kau sudah bisa menerimaku, atau saat kau mencintaiku." aku hanya tidak ingin membuatnya takut.
"Aldi bilang kau sempat trauma, apa itu benar?" aku coba mencari kebenarannya.
"Maaf telah membuatmu takut, maaf telahmenyakitimu. aku janji aku akan menebusnya." aku menyesal, sungguh!
"Apa yang kau lakukan jika kau merindukanku? aku hanya memancingnya.
"Aku memeluk jaketmu, maaf aku mengambilnya waktu itu."
"Tidak apa-apa, kau boleh menyimpannya. Apa hari ini dia menyusahkanmu? Aldi bilang kau sering merasa tidak sehat. kau bisa berhenti bekerja kalau kau tidak sanggup, aku akan membiayaimu jangan khawatir. aku tidak ingin kau sakit. jangan sampai terjadi apa-apa dengannya. tolong jaga dia untukku." ku jelaskan padanya.
Tiba-tiba aku merasa janggal, seperti ada mobil yang mengikuti dari belakang. tiba-tiba kekhawatiran menderaku.
"Sampai jumpa, dan tunggu aku. aku akan datang mungkin agak terlamb.."
Ciiiit.... Dhuuum... Dhuarr!!!
kai pov end
***
Terdengar suara decitan dan dentuman mobil yang menabrak bahu jalan dan disusul sebuah ledakan dari sebuah mobil. kejadian beberapa menit itu sontak menghentikan para pengemudi lain.
Dengan cepat tempat itu di datangi mobil polisi dan ambulan untuk mengevakuasi korban.
***
Zahra tidak tau apa yang terjadi, tapi kekhawatiran merambati hatinya. panggilan kai terputus dan Zahra tidak dapat menghubunginya lagi.
Ia tidak tau apa yang harus di lakukan, ia menelpon Aldi. tapi panggilannya terputus mungkin Aldi sedang sibuk.
Malam itu Zahra tidak dapat memejamkan matanya, ia ketakutan dengan fikiran sendiri.
Suara ledakan masih terngiang di telinganya. dalam kelelahannya ia tertidur tapi suara ledakan itu membangunkannya tengah malam. menjelma menjadi mimpi buruk. Zahra menangis gadis itu ketakutan. sangat ketakutan.
***
lanjut malam ya gengs...