Daddy'S Love

Daddy'S Love
Part. 110



Happy Reading...


Ada gelagat aneh yang Kinan rasaka saat melihat perilaku Sofia saat ini.


Wanita yang biasanya banyak bicara dan tak terbantah kini menjadi lebih banyak diam dan mengurung diri.


Bahkan saat Albert menceraikannya pun tak ada penolakan darinya. sama sekali tak mencerminkan sofia yang selalu mengobarkan kebesaran cintanya terhadap Albert.


Jika dulu ia selalu menolak berada jauh dari Albert, lalu kenapa sekarang malah begitu saja ia melepaskan Albert.


Seperti saat ini, Kinan mendapati Sofia sedang menangis sendirian dalam kamar. dan itu suatu hal yang sangat langka, bukankah dulu Sofia adalah wanita yang selalu ingin menjadi yang terkuat.


"Kau kenapa Sofia?" suara Kinan mengagetkan Sofia dan dengan cepat wanita itu menghapus jejak air matanya dan merubah wajahnya sedatar mungkin.


"Aku tidak apa-apa. lagi pula aku tak membutuhkan dirimu untuk mengetahui setiap masalahku bukan?" Seperti biasa Sofia bersikap ketus tapi otak cerdas Kinan bisa menangkap bahwa suara itu hanya di buat-buat. sorot mata Sofia yang biasa tajam penuh kebencian kini memperlihatkan kerapuhan.


"Kau menangis." ucap Kinan to the Poin.


"Sudah aku bilang aku tidak apa-apa. dan kau juga jangan sok perhatian. karena aku tau kau pasti senang telah mengalahkanku." Cicit Sofia berusaha menutupi kegugupannya.


"Sudahlah! aku tak ingin kita berdebat. cepatlah turun, yang lain sudah menunggumu." Kinan mengakhiri perdebatan dan memilih keluar dari kamar Sofia.


Maafkinan ... maaf .... aku tak ingin terlihat kalah di depanmu. aku harus tetap terlihat kuat di depan semuanya.


Sofia kembali menangis setelah Kinan benar-benar menutup pintu kamarnya. entah apa yang membuat wanita yang biasanya tegar itu menjadi lemah saat ini. atau itu hanyalah taktiknya saja untuk mengecoh semua orang agar dapat kembali berkuasa.


***


Di lantai bawah semua anggota keluarga sudah berkumpul untuk menyambut kedatangan Ravi dan keluarga.


Dan beberapa menit kemudian, tamu yang di tunggu pun datang. meski ini adalah pertemuan yang kesekian kali antara Kai dan Ravi, namun ini adalah pertama kalinya ia bertemu dengan ibu kandungnya.


Suasana malam ini terasa begitu hangat. dan dalam kesempatan ini pula Kai akan memberitahu tentang kehamilan Zahra pada seluruh keluarga.


Saat ini adalah moment yang sangat spesial bagi kedua keluarga. kebahagiaan yang akan di dapatkan berkali-kali lipat.


"Rendahkan tubuhmu, aku tak dapat menjangkaumu." dan seperti biasa, Kai mengangkat tubuh Zahra karena tinggi zahra yang hanya sebatas bahu Kai. sehingga menyulitkannya untuk memasangkan dasi.


"Sebenarnya aku masih ingin marah padamu, bisa-bisanya kau menyembunyikan semua ini dariku."


Zahra kesal karena baru mengetahui kehamilannya. itu karena Kai yang selalu mengalihkan perhatiannya saat Zahra merasakan keanehan pada tubuhnya.


"Ini balasan untukmu karena waktu kau mengandung Rain kau berada jauh dariku." alasan yang sungguh tak masuk akal Kai.


"Kenapa kau jadi menyalahkan aku, jika kau langsung datang saat mengetahui aku hamil maka kau tak akan jauh dariku. dan kita tak akan mengalami perpisahan yang begitu lama." cicit Zahra tak mau kalah.


"Itu kan karena kau takut terhadapku sayang, apa kau lupa?" Kai membelai pipi zahra dengan ibu jarinya setelah Kai menurunkan Zahra dan memberikan satu kecupan di bibirnya.


"Dan liar! begitu kan?" Kai terkekeh menggoda Zahra dan membuat wanita yang sedang kesal itu semakin mendelik tajam.


Flashback On.


Kai, Zahra dan rain sedang menikmati senja di balkon kamar Rain.


Zahra yang sore itu mengalami mual akhirnya menyadari bahwa ia belum mendapatkan tamu bulanan selama dua bulan. dan saat ia mengutarakannya pada Kai, Kai hanya bersikap seolah itu bukanlah hal yang harus di pusingkan.


"Kai, antar aku ke Dokter sekarang." Pinta Zahra karena ia ingin memastikan satu hal.


"Apa ada yang salah sayang?" bukan langsung mengiyakan justru kini Kai sedang memperhatikan raut wajah Zahra yang panik sambil mengulum senyum.


"Kenapa kau malah tersenyum begitu, bukannya khawatir dengan keadaanku." Zahra memandang Kai dengan raut wajah penuh pertanyaan.


"Aku tersenyum karena aku sedang bahagia." kai memeluk Zahra dan membelai lembut perut istrinya.


"Bahagia? kenapa? jangan bilang..." zahra tak meneruskan ucapannya karena melihat kai sedang tersenyum lebar.


"Sejak kapan kau mengetahuinya." Zahra tak begitu saja mempercayai ucapan Kai.


"Sejak kedatangan mommy Kinan. kau pingsan waktu itu dan dokter menyatakan kau hamil. dan aku melarangnya untuk memberi tahu semua orang" Ucap Kai tanpa beban membuat Zahra harus mengeluarkan capitannya pada perut Kai.


"Aaaah... sakit sayang!" Kai mengusap bekas capitan di perutnya sambil meringis. lalu keduanya tertawa bahagia bersama dan saling memeluk.


"Apa maksudmu menyembunyikan semuanya dariku." Meski tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya, zahra masih bisa mendumel kesal akibat kelakuan suaminya.


"Tidak ada, aku hanya ingin memberimu kejutan. itu saja." Kai mengedikkan bahu tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Ishh! kau itu aneh sekali. seharusnya aku yang memberimu kejutan, bukannya malah kau yang memberiku kejutan." ucap zahra tak terima.


Kai terkekeh " Baiklah... Baiklah... kau benar aku salah. dan sekarang untuk menebus kesalahanku, apa pun yang kau inginkan, kau akan dapatkan." janji Kai membuat Zahra tersenyum penuh kemenangan.


Zahra beringsut menenggelamkan wajahnya di dada bidang Kai dengan senyum mengembang di wajahnya.


Ia bahagia dan sangat bersyukur atas berita yang baru saja ia dengar.


Rona senja sore itu menambah indah kemesraan dua orang yang sedang berbahagia. namun mereka lupa jika ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka dengan tatapan tak suka.


"Kalian sudah selesai?"


Flash back off.


***