Daddy'S Love

Daddy'S Love
Part.34



Happy Reading...


beberapa saat lalu.


Albert masih belum puas memikirkan kata-kata Kania tentang seorang puteri. ia tidak percaya, lebih tepatnya menolak untuk percaya. karena menurutnya tidak mungkin Kinan tidak memberi tahukan tentang kehamilannya.


Ia mengingat semua yang di katakan oleh istrinya saat malam itu, malam terakhir ia melihat istrinya sebelum wanita yang beberapa tahun ini berada di sampingnya.


Lalu ia mengingat satu kalimat terakhir ya g di ucapkan oleh kinan yaitu "Aku membawa bagian dari dirimu". mungkin itu adalah kode yang di lontarkan oleh kinan kepadanya. namun Albert, si pria paling tidak peka tidak dapat menangkap kode itu.


Albert mendesah pelan, penyesalan menyeruak dalam batinnya. Ia mengutuk kebodohannya sendiri. membuat wanita yang begitu ia cintai dan mencintainya, pergi karena ketajaman mulutnya. pergi meninggalkan separuh jiwanya dan membawa setengah hatinya.


Belum terlambat untuk memperbaiki semuanya. ia bertekad untuk menebus kesalahan yang telah ia lakukan.


"Aku mau kamu menemukan seseorang." ucapnya pada orang di seberang telpon. "lakukan secepatnya nanti aku kirimkan datanya tambahnya lagi.


****


Zahra memandang dengan pandangan yang sulit di artikan. berusaha menata hatinya agar tidak menangis di depan laki-laki itu.


Hatinya ingin berteriak "Ayah ini aku, putrimu!" namun bibirnya bungkam hanya tatapan matanya yang memandang wajah pria tua di hadapannya dengan tatapan merindu.


Zahra masih di posisi yang sama, berdiri mematung tanpa pergerakan hingga suara bariton pria yang datang menginterupsinya.


"Aku menyesal atas apa yang menimpa dirimu. aku minta maaf karena yang di lakukan putraku padamu sungguh sangat buruk. dengan semua yang terjadi, aku tidak ingin siapapun merasa tidak nyaman." pria itu penuh penyesalan.


Zahra trenyuh dengan ucapan pria di hadapannya. suara itu, suara yang begitu ia rindukan. suara yang ia harapkan untuk menyapa pendengarannya setiap waktu.


"Aku akui cara putraku masuk kedalam hidupmu sangatlah tidak pantas. dan aku juga tidak ingin kau larut dalam kesedihan." ucapan yang begitu menenangkan.


"Aku tidak ingin membuatmu lebih sakit lagi dengan menunggu kai tersadar. Pergilah! jangan menunggunya lagi."


Jedarr!!!!


Bagai mendengar halilintar di tengah teriknya panas,Ucapan terakhir pria itu sungguh tidak dapat di duga.


Zahra tersentak menajamkan pendengarannya.


Tunggu, apa barusan ia dengar, pergi? pria ini memintanya pergi?


dan Kai? putranya? artinya dia kakakku?


" Apa maksud anda?" Zahra memberanikan diri untuk bertanya.


"Pergi, aku memintamu untuk pergi. kau tidak perlu lagi menunggu kai." ucapnya datar tapi sangat menghujam perasaan.


"Putra? Kai? tolong bisa anda ulang kalimat anda tuan." pinta Zahra dengan suara bergetar.


"Ya! Kai adalah putraku. jika menunggunya hanya membuatmu lelah, maka pergilah. tinggalkan dia. tidak perlu menunggu sesuatu yang tidak pasti."


Air mata Zahra hampir luruh, tapi gadis itu sekuat tenaga menahan agar tidak sampai menangis.


" Lalu Pak Aldi?" peetanyaan itu lolos begitu saja dari mulut zahra.


"Bukankah dia tidak perlu mengorbankan dirinya untuk masalah kalian." pria itu menjawab pertanyaan Zahra dengan pertanyaan.


"Ya anda benar." Zahra berusaha tegar, tapi sesungguhnya ia sangat ingin berteriak.


Tapi Zahra menyesali tindakannya. karena pria di hadapannya memang tidak sedang salah dalam berucap.


Pria itu, mengeluarkan secarik kertas dari saku jas super mahal yang di pakainya dan memberikannya pada zahra.


Dengan tangan bergetar Zahra mengambil kertas tersebut dan membacanya. Zahra memang gadis kampung tapi dia bukan gadis bodoh yang tidak tau kertad apa yang sedang ia pegang.


"Kau boleh menulis nominalnya sendiri, berapapun yang kau mau." ucap pria itu dengan pongahnya. merasa tindakannya di sambut baik oleh zahra, pria itu tersenyum. ia mengira bahwa ia telah menang. dan melangkah melewati zahra hendak keluar.


Namun senyum itu hanya sebentar. karena sebelum tangannya meraih gagang pintu, zahrs menghentikannya.


"Tunggu! sepertinya ada yang salah faham di sini." ucapan tegas zahra membuat pria tua itu menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Apa dengan memberikan cek ini, masalah selesai tuan Almeida? apa anda merasa bahwa dengan uang anda bisa berlaku seenaknya tuan? apa begitu tinggi harga diri anda sehingga anda melupakan bahwa saya juga manusia, bukan barang yang dengan seenaknya anda lempar." Zahra menekankan kata-katanya.


"Apa kurang jelas yang saya katakan padamu nona, tidak perlu ada yang tersakiti lagi. Aku tau tindakan kai keterlaluan tapi bukankah Aldi juga tidak harus merasa bersalah atas tindakannya."


"Ya anda sangat benar dalam hal itu. tapi anda tidak perlu melakukan ini. saya tidak butuh uang anda tuan."


"Lalu apa tang kau inginkan? masuk menjadi bagian dari keluarga kami?" albert tersenyum meremehkan. jantung zahra seperti di remas melihatnya.


"Ternyata seperti ini cara orang kaya dan terhormat menyingkirkan orang-orang terdekatnya." Zahra tersenyum pias. raut kekecewaan tergambar jelas di wajahnya. dan Albert menyadari itu, hatinya seperti tersentil mendengar cercaan gadis kecil di hadapannya.


" Tindakan anda cukup membuat saya mengerti, bahwa orang-orang kaya seperti anda bisa lebih hina dari kami orang-orang miskin." Zahra mengucapkan tanpa rasa takut.


"Silahkan bawa harta anda, karena saya tidak membutuhkannya. saya sudah membawa bagian penting dari anda dalam tubuh saya." pernyataan Zahra seperti bongkahan meteor menghantam ingatan Albert. ia pernah mendengar pernyataan yang sama sebelumnya.


Albert tidak mengambil cek dari tangan zahra, ia lebih memilih pergi dari tempat itu. kata-kata gadis di hadapannya cukup membuat hati seorang Albert Almeida merasa seperti terhunua tombak.


Zahra luruh terduduk di tempatnya, tangisnya pecah seketika, air mata yang ia tahan mati-matian sedari tadi lolos begitu saja.


Ya Tuhan, apalagi ini? Kai adalah kakakku? jadi aku hamil oleh kakakku?


Zahra semakin terisak di tempatnya, dia merasa lebih hina dari sebelumnya. kenapa takdir begitu kejam untuknya? haruskah ia menyalahkan takdir? Tidak!


***


Di kantornya, Aldi tidak fokus dalam bekerja. masslah yang di hadapinya tidaklah mudah. ia harus di hadapkan dengan pilihan yang sangat sulit.


Di sisi lain ia harus merelakan kebahagiaannya sendiri dan melepaskan orang yang di cintainya. tapi di sisi lain ada kehidupan lain yang harus ia perjuangkan.


Rasa bersalahnya, mengalahkan keinginannya untuk bersama dengan wznita yang di cintainya. sungguh pilihan yang sulit. namun ia tetap harus memilih.


***


Author:


Tidak ada kejadian di dunia ini tanpa campur tangan Tuhan. juga tidak ada kebetulan tanpa perencanaan. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok, namun percayalah Tuhan tidak memberikan apa yang kita inginkan. melainkan memberikan apa yang kita butuhkan.


**Rasanya kurang greget ya, si author mah kurang bisa bikin hujatan buat si albert.


yuk ah! bantu mak othor hujat-hujat cantik si Albert yang nyebelinnya sampai mampus.


Eh... sepertinya neng zahra butuh dukungan, kasih bunga boleh kali yah! 😃😃


Dasar othor, bilang aja minta hadiah 😃😃😃 iya sih tapi gak maksa kok, seikhlasnya aja 😗😗😗**