
Part. 18.
Seperti hari-hari sebelumnya, setiap pagi adalah waktu berkumpul seluruh keluarga. dan hari ini juga merupakan hari yang berat bagi gadis yang bernama Vanesa. seperti yang di sampaikan oleh kepala sekolahnya kemarin setelah insiden penyiraman itu, bahwa ia harus membawa Kai ke sekolah untuk menerima teguran atas kenakalan Vanesa. tapi sampai saat ini, Vanesa belum mengatakan apapun karena ia belum siap dengan murka dari ibunya yang super cerewet. dan dapat di pastikan Zahra akan menceramahi nya sepanjang sore. maka itu, ia lebih memilih untuk mengatakan saat sarapan pagi karena tak akan ada drama ceramah panjang dari mulut ibunya.
"Dad, bisakah pagi ini Daddy ikut ke sekolah, kepala sekolah ingin bicara." ujar Vanesa takut-takut.
"Apa lagi yang sudah kau lakukan." sahut Mom Zahra seketika itu.
Kai masih duduk tenang di kursinya. ia sudah tahu masalah itu pasti akan terjadi karena ia lebih dulu tahu tentang masalah itu dari Shine saat menunggu gadis itu yang pulang terlambat.
"Tidak ada Mom, aku hanya tak sengaja menyiram kepala sekolah dengan air." jawab Vanesa membela diri, meski ia tahu semua itu tak akan membuat orang tuanya percaya begitu saja.
"TIdak sengaja? oh benarkah seperti itu? dan entah kenapa mama meragukan itu." sengit Zahra yang tahu bagaimana perangai puterinya itu. pembuat masalah dan sangat suka berkelahi.
"NO Mom!" Vanesa berusaha meyakinkan, karena ia merasa tak sepenuhnya bersalah.ada satu lagi orang ang harus dipersalahkan dalam hal ini. siapa lagi jika bukan Rama Satya Herlambang. "Ini semua karena_" Vanesa tak melanjutkan ucapannya. ia justru melirik pada Shine yang hanya diam dan sama sekali tak membantunya memberi penjelasan. padahal ia tahu memang si Rama itu yang sengaja membuat Vanesa marah dan akhirnya terjadilah perkelahian antara Ratu onar dan Siswa baru yang tak kalah bengal.
"Kenapa kau diam saja Shine, katakan pada mommy jika aku memang tak bersalah. si rambut jagung itulah yang bersalah sengaja melempar permen karet padaku."
Vanesa meminta bantuan pada Shine, hingga gadis itu mengangkat kepala tapi ia juga takut jika membela Vanesa karena pasti Zahra akan menghukumnya juga. apalagi ia juga punya kesalahan sendiri yaitu pulang larut malam.dan hanya Kai yang mengetahuinya.
Acara sarapan pagi yang biasanya harmonis itu tiba-tiba terasa berbeda untuk hari ini. Kai yang biasanya hangat kini tampak dingin. Ayah dari kedua gadis itu lebih memilih untuk bersikap diam dengan wajah datar hingga sarapan pagi dengan menu lezat itu terasa hambar di mulut kedua gadis itu.
"Sayang, tolong kau ambil berkas di meja kerjaku." pinta Kai pada Zahra dengan suara lembut seperti biasa, sama sekali tak mengisyaratkan jika ia sedang marah.
Zahra beringsut untuk melakukan permintaan Kai, sedangkan dua gadis di depannya sedang mati-matian menahan napas karena takut. mereka tahu jika semua itu Kai lakukan hanya untuk menjauhkan Zahra dari kemarahannya.
Diam adalah cara Kai menunjukkan kemarahan, ia tak pernah mengeluarkan nada tinggi ataupun bentakan apalagi di depan Zahra. wanita itu selalu cerewet dan pria selalu salah meski sebenarnya para wanita di sekitarnya yang sebenarnya bersalah. tapi saat Kai memberikan keadilan atau hukuman, yang terjadi selanjutnya adalah Kai yang menjadi terpidana di hadapan Zahra.
"Bisa kita mulai." Kai meletakkan benda pipih yang sejak tadi ia cermati, sarapan pagi yang biasanya lebih lama itu kini terasa singkat karena Kai belum menyentuh makanannya dan itu pertanda buruk.
"Bi_bisa." jawab Shine dan Vanesa serempak tanpa di komando. sebenarnya Kai ingin tertawa melihat dua putri manisnya ketakutan. bahkan jika langit runtuh pun, ia tak akan meninggikan suara apalagi sampai mengangkat tangan hanya untuk kesalahan kecil.
Satu putri kandungnya sedangkan yang satu ia belum tahu siapa ayahnya. tak ada petunjuk apapun tentang ayah biologis dari gadis yang ia rawat sejak bayi itu. yang ia tahu jika Shine adalah putri dari mantan kekasihnya yang sengaja di tukar dengan putri kandungnya di rumah sakit. tapi tetap saja ada kekhawatiran yang tak mungkin ia ungkapkan pada siapa pun.
"Bisa kalian perjelas apa yang terjadi di sekolah?" masih mempertahankan ekspresi datar tanpa senyum Kai bertanya.
Shine meremas ujung dress-nya dibawah meja Sedangkan Vanesa semakin mengeratkan pegangan pada garpu ditangannya. wajah kedua gadis itu sudah menampakkan ketakutan dan itu semakin membuat tawa Kai ingin segera pecah.
"Apa ini yang kau maksud?" tanya Zahra dengan mengulurkan benda yang sedang di pegangnya.
Kai tersenyum sembari menggerakkan kepala naik turun pertanda mengiyakan. mungkin dalam hati kedua gadis di sana sedang mengumpat bagaimana mungkin pria yang beberapa menit lalu hampir memarahinya kini justru bersikap begitu manis.
Apa iya pengaruh Zahra pada pria penuh kuasa seperti Kai begitu kuat hingga membuat pria itu begitu tak berdaya. dan sepertinya itu sudah biasa berlaku setiap hari.
"Baiklah sayang, aku berangkat dulu," Kai beranjak di ikuti Vanesa di belakangnya setelah ia memberikan kecupan di pipi kanan dan kiri istrinya. sedangkan Shine masih terdiam ditempatnya.ia sadar telah membuat kesalahan karena itu ia tak berani mendekat seperti biasa.
Kai menyadari kediaman Shine, puterinya itu memang tak akan melakukan apapun tanpa di suruh. belum terlalu jauh dari tempat duduknya semula, Kai berbalik dan menggerakkan tangan memanggil Shine sambil berkata, "Apa kau akan membiarkan daddy pergi tanpa menciummu, come princess."
Shine berlari menyusul Kai yang merentangkan tangan dan langsung menjatuhkan tubuhnya dalam pelukan pria yang merupakan cinta pertamanya itu.
"Maafkan Shine, Dad."
Kai mengusap punggung kecil itu dengan sayang lalu berbisik "Kenapa harus di hotel jika di rumah bisa lebih leluasa bersama."
Seketika Shine merona, jadi ayahnya tahu jika Rain yang mengantarnya semalam. "Apa yang di lakukan si bodoh itu padamu." bisik Kai lagi yang membuat Shine menggeleng cepat.
"Ayolah cepat, apa kalian tidak puas berpelukan sejak tadi." sela Vanesa di sertai sedikit tarikan pada lengan Kai.
Shine melepaskan pelukannya lebih dulu lalu melambaikan tangan setelah Kai melangkah bersama Zahra dan diikuti Vanesa dibelakangnya.
Beberapa menit kemudian, mobil Kai telah sampai di sekolah Vanesa. sekolah yang merupakan tempatnya dulu menimba ilmu. dan tentu saja banyak kenangan di sini termasuk perkelahiannya dengan siswa lain. mengingat itu, untuk apa ia memarahi Vanesa jika dirinya pun tak kalah nakalnya dulu.
Kai melangkah sendirian menuju ruang kepala sekolah karena Vanesa ingin ke ke kelas terlebih dahulu. dan ia sedikit terkejut karena merasa ada yang merangkul nya dari belakang. seorang pemuda tampan bahkan sangat tampan dengan garis wajah yang tegas dan mata keabu-abuan khas eropa. dan yang paling mencolok dari itu semua adalah penampilannya yang sangat luar biasa, kemeja putih yang jauh dari kata rapi serta accesories yang entahlah, Kai tak mampu mengatakan jika itu adalah penampilan seorang pelajar. dan di saat itu pula ia merasa dejavu. ia ingat penampilan ini, "Dewa..." ucap Kai dalam hati.
"Selamat pagi calon mertua." tutur Rama pada Kai yang sontak membuat Kai melongo.
***
cerita yang makin seru dan pastinya kalian tak ingin melewatkan bagaimana bucinnya Kai yang menurun seratus persen pada Rain.
yuk kawal Rain yang sedang mengejar obsesinya pada pada adiknya di bacaan gratis dengan logo F.