Daddy'S Love

Daddy'S Love
Part.27



Happy Reading...


Aldi sudah sampai di apartemennya, ia baru sadar bahwa gawainya tertinggal di rumah sakit. ia memutuskan untuk tidur. tapi matanya sama sekali tidak dapat terpejam. pria itu masih berusaha hal yang di bicarakan nya dengan Dea. setelah lelah dengan fikirannya sendiri, Aldi pun terlelap.


***


Di belahan bumi yang lain seorang wanita sedang melamun, seperti tengah berfikir.


di depannya ada sebuah foto tua. foto seorang anak berusia 15 tahun dan seorang wanita berumur kira-kira 10 tahun lebih tua darinya.


"Kak, maafkan aku, aku sama sekali tidak berguna." lirihnya sambil memandang foto ditangannya. ada nada sedih dan bersalah dari ucapannya.


"Seharusnya aku tidak mendengarkan mu waktu itu. seharusnya aku tidak menuruti waktu kau memintaku pergi. harusnya aku ikut denganmu saja. maaf, aku terlambat mengetahui semuanya." terdengar suaranya parau menyesali diri.


"Kau tahu? lelaki itu? pria yang sangat kau cintai itu sudah menghianati mu. dia bahkan tak pernah mencari keberadaan mu."


"Dan kau tahu, siapa wanita yang sudah menggantikan mu? Dialah yang selama ini kau anggap sebagai teman baikmu. sahabatmu telah menghianati mu, mengambil tempatmu dan lebih buruknya lagi sekarang mereka memiliki anak yang usianya tidak jauh dari anakmu."


"Dia bahkan tak pernah benar-benar berusaha untuk mengetahui keberadaan mu. dan sekarang aku sudah lelah untuk menjadi anak yang selalu menuruti kata-katamu. sekarang aku akan hidup dengan caraku. aku akan benar-benar membuat dia menyesal karena telah menelantarkan mu."


Wanita itu menyimpan kembali foto ke dalam laci meja kerjanya. Sakit hati dan dendam sudah mendarah daging dalam dirinya.


Dendam yang sudah ia pendam selama bertahun-tahun seolah-olah menjadi bom waktu yang siap meledak. memporak porandakan semua yang ada di dekatnya.


"Halo!" ucapnya setelah terdengar suara dari seberang telpon. "Siapkan semuanya, besok aku akan lembali ke negaraku dan mungkin lama di sana." ucapnya pada seseorang yang ada di


"...."


"Aku ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan, dan urusan di sini aku serahkan pada asistenku."


"...."


"Baiklah!"


Wanita itu meletakkan gawainya di atas meja kerjanya. ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kebesarannya.


***


Pagi itu, Zahra memutuskan untuk pulang dari rumah sakit. meski tubuhnya belum sehat ia tetap memaksa. ia merasa tidak enak harus merepotkan teman-temannya.


"Zahra, apa kau yakin ingin pulang hari ini?" tanya Dea.


"Tentu dea."


"Tapi kau belum pulih, aku takut terjadi apa-apa denganmu." ucap dea khawatir.


"Aku sudah tidak apa-apa. jangan khawatir." ucap Zahra menenangkan. "apa pak Aldi akan menjemput kita? sebenarnya aku tidak enak karena selalu menyusahkannya dan juga dirimu." lanjutnya sambil menunduk.


"Sudahlah, jangan di pikirkan. aku senang bisa membantumu." sambil menggamit tangan Zahra.


"Tentu kau senang karena berada di dekat si bos terus kan?" godanya pada Dea yang di hadiahi pelototan dari mata gadis itu.


"Jangan bicara sembarangan, nanti di kira itu beneran."dea bersungut-sungut.


"Biar saja dia dengar, tapi beneran kan kamu suka sama pak Aldi?" godanya.


"Aku gak seberani itu Ra, mungkin dia udah punya kekasih, lagian sepertinya yang dia suka itu kamu." ucap Dea sendu.


"Tidak mungkin De, kan aku pernah bilang kalau waktu itu dia ajak aku cuma buat bantu memilih hadiah buat orang yang dia suka, mungkin kamu adalah orangnya." muka Dea memerah mendengar penuturan Zahra.


"Udah jangan bahas itu lagi, gak enak kalau orangnya dengar." Dea mengajak zahra keluar dari kamarnya. bersamaan Aldi yang baru masuk.


Untung orangnya gak dengar batin Dea


****


scroll lagi ya kakak... ☺☺☺