
Happy Reading...
Di sudut kota yang lain.
"Bagaimana, apa kau sudah mendapatkan alamat dari istri krisna?" tanya melati kepada suaminya, ravi.
"Mereka berdomisili di london. kemungkinan mereka akan sering pulang ke indonesia karena perusahaan mereka berada disini." jawab ravi sambil menyesap tehnya.
"apa kau akan memberi tau semuanya pada raka. aku takut dia tak bisa menerima kita." ucap melati sendu.
"Anak kita sudah dewasa. dia pasti bisa mengerti keadaan kita. meskipun dia menolak kita, yang penting dia tau kebenarannya." Ravi berusaha menenangkan istrinya yang sedang gelisah.
"Lalu kapan kau akan menemui sofia."
"Aku tidak perlu menemui sofia. mungkin dia belum tau tentang siapa raka sebenarnya. karena kau bilang waktu itu dia depresi. tapi aku akan langsung menemui raka."
"Apa kau akan memberitahukan siapa kau sebenarnya?"
"Tentu saja tidak. aku akan mendekatinya perlahan. aku tidak mau dia berfikir kuta mengada-ada." Ravi meletakkan cangkir tehnya di atas meja. lalu beranjak bangkit dari duduknya dan berlalu meninggalkan melati yang masih tampak berfikir.
***
Khanza Boutique.
Kai dan zahra sedang berada di balkon yang menghadap langsung ke arah jalan raya.
Dengan keberadaan rain disana, kai seolah menjadi pengangguran yang tak memiliki tanghung jawab pekerjaan.
Waktunya lebih banyak di gunakan untuk berkumpul bersama orang-orang terkasihnya.
"Dad, aku mau pergi ke tempat grandpa, apa kau mau mengantarku?" pinta rain tiba-tiba.
Zahra dan kai yang sedari tadi mengamati apa yang di lakukan rain saling pandang dengan wajah penuh tanya.
"kenapa kau tiba-tiba ingin kesana rain?" zahra penasaran dengan ungkapan tiba-tiba dari mulut kecil rain.
"Aku hanya ingin berkunjung mom, apa itu salah?" bohong rain padahal sebenarnya bocah itu ingin pergi ketempat yang lain.
"Apa kau yakin nak?" zahra tak yakin dengan alasan rain karena ia tau kebiasaan rain yang berbicara kebalikannya.
"Baiklah, kapan kau ingin pergi." kai yang tak mengerti kebiasaan putranya mengikuti keinginan rain begitu saja tanpa curiga sedikitpun.
"Besok, karena aku harus bersiap-siap dulu. dan harus tampan." kai dan zahra kompak mengernyitkan dahi.
"Dad antar aku pulang sekarang karena aku harus bersiap-siap. aku menunggumu di bawah dan cepatlah."
Rain bergegas dan hendak melangkah namun tatapan matanya mengarah pada kedua orang tuanya yang mengisyaratkan 'jangan lama-lama'.
"oke dude, sebentar lagi daddy turun."
Setelah rain berlalu, kai beralih menghadap ke arah zahra dan memeluk pinggangnya. mengikis jarak dan kini tubuh mereka menempel sempurna.
"Aku harus pergi meski aku masih merindukanmu." kai menautkan dahinya pada dahi zahra dan sesekali mencuri kecupan dari bibir ranum zahra.
Zahra tertawa kecil " kau hampir seharian di sini kai, dan masih bilang rindu. lalu bagaimana kau melewati empat tahun tanpa kami?"
Zahra bergelayut manja menautkan kedua tangannya di leher kai.
"Kau hampir membunuhku sayang " ucap kai singkat dan menyambar bibir zahra cepat. mmengulumnya sebentar lalu melepaskannya.
"pergilah!" usir zahra dengan mengusap rahang kai dengan lembut.
Kai berlalu dengan senyum bahagia di wajahnya. kini hari-harinya menjadi lebih menyenangkan seiring kebersamaannya bersama keluarga kecilnya.
***
Setelah pergi dari tempat zahra, sofia tidak langsung pulang kerumahnya melainkan pergi ke tempat perkumpulan sosialitanya.
Meski di tempat teman-temannya, sofia terlihat biasa saja dan tak nampak kegusaran di wajahnya. namun hatinya bergejolak marah.
Akhirnya sofia memutuskan pergi dari tempat teman-temannya berkumpul dan pulang kerumah membawa amarah meletup-letup seolah ingin meledakkan kepalanya.
Sofia masuk kedalam rumahnya dengan membawa emosi yang meledak-ledak. suara hells yang menghentak-hentak mendominasi langkah wanita bertubuh tinggi semampai itu.
Sofia menutup pintu kamarnya dengan keras sehingga suaranya terdengar sampai ke lantai bawah.
"Apa yang kau lakukan sofia! apa kau sudah gila?" bentak albert menggelegar memenuhi ruang dimana mereka berada.
Sofia yang tak memgetahui keberadaan albert di belakangnya pun terhenyak mendengar sapaan, lebih tepatnya bentakan orang yang akhir-akhir ini suka mendebatnya.
"semakin hari kulihat tingkahmu semakin tak dapat ku mengerti. kau berlaku seolah kau bukan wanita terhormat. kalau kau bosan kau boleh keluar dari sini. aku juga tidak pernah menahanmu untuk tinggal disini bersamaku." Albert meluapkan amarahnya karena sofia yang seperti orang gila.
Sofia mencelos. ia menangkap makna dari ucapan albert bahwa ia tengah di usir saat ini.
"Apa kau sedang mengusirku albert?" tanya sofia dengan suara bergetar.
" Jika kau masih merasa punya harga diri, kau pasti sudah angkat kaki dari sini." albert menjawab dengan ekspresi datar.
"sampai kapanpun aku tak akan keluar dari sini. aku akan tinggal dimanapun kau akan tinggal." sofia tak menyerah begitu saja.
Meski berkali-kali albert mengusirnya namun sofia tak pernah mendengarkan. wanita itu seolah kehilangan urat malunya.
"Benarkah?" albert tersenyum miring. " Asal kau tau pemilik mansion ini sudah datang. dan aku yakin sebentar lagi ia pasti akan mengusir kita dari sini. apa kau juga mau tinggal di jalanan bersamaku."
Albert sengaja menakut-nakuti sofia meski ia tau bahwa zahra pasti tak akan meminta mereka pergi.
"Apa maksudmu albert!" sofia tak percaya dengan semua yang dikatakan albert.
"Apa kau lupa setelah aku bangkrut. aku memulai usahaku dengan menggunakan aset atas nama kinan. sekarang puterinya sudah kembali dan sebentar lagi dia pasti meminta haknya."
Mendengar ucapan albert sofia seperti dejavu. beberapa jam yang lalu ia juga mendengar kalimat yang sama dari mulut zahra.
"Aku kira putrimu yang baik itu tidak akan tega melakukannya. dia itu bodoh seperti ibunya." sofia tersenyum mengejek hanya untuk terlihat tenang di hadapan albert.
"jika zahra bodoh kenapa kau repot-repot untuk mengancamnya. dan lagi kenapa kau masih menganggunya." albert masih tenang di tempatnya.
Sofia tak menjawab hanya nafas yang memburu yang keluar dari mulutnya.
"Jika kau bersikap baik, mungkin kau bisa meminta bantuan kai agar zahra tak mengusirmu dari sini." Albert mengolok-olok kekalahan sofia. ia sudah tau tentang kejadian penamparan yang sofia lakukan pada zahra karena kai yang memberitahunya.
"Apa itu berarti aku juga bisa meminta kai untuk merayu zahra agar memindahkan seluruh aset menjadi atas nama kai?" sofia berspekulasi dengan tak tau malu.
Albert terkekeh mendengar lelucon yang di lontarkan sofia.
"Kau pikir kai mau melakukan itu sofia? bahkan putra semata wayangmu itu akan tunduk di bawah kaki putriku. aku tak yakin lagi dengan kasih sayangnya terhadapmu. kai terlalu mencintai zahra." albert tertawa kecil sedangkan sofia mengepalkan tangannya karena kesal.
"Aku akan membuat mereka berpisah. aku pasti akan membuat putrimu pergi dengan suka rela dari samping putraku." ancam sofia tanpa rasa takut.
Namun albert tak sedikitpun terganggu dengan mulut besar sofia.
"Kau boleh melakukan apapun yang kau mau. aku juga akan melakukan apa yang harus kulakukan untuk menebus kesalahanku pada kinan dan zahra."
"Apa yang bisa kau lakukan padaku. membunuhku?" sofia menaikkan sebelah alisnya.
Albert melangkahkan kakinya dan berhenti tepat di depan sofia. kini posisi mereka berhadapan. sofia memandang albert dengan tatapan kebencian namun albert menanggapinya dengan tenang.
"Apa yang akan terjadi jika kai mengetahui kalau kau bukan ibu kandungnya." albert menampilkan smirk smilenya.
Jedddaarrr...
Sofia terhenyak. seperti ada petir yang menyambar kepalanya. nafasnya tercekat di tenggorokan. nafasnya sesak memburu seolah-olah oksigen di renggut paksa dari ruang itu.
Bersamaan dengan itu pintu yang tadinya tertutup tiba-tiba terbuka dengan keras.
***
Jreng.. jreng.. jreng...
iya..iya.. iya.. ahahay...
gantung thooor! Yakin gue 😄😄😄
kuiz hari ini, siapakah kira-kira yang punya kebiasaan nguping?
👍👍👍jempolnya gengs...
Lots of luv chanda 💕💕💕