Daddy'S Love

Daddy'S Love
Ayah 1



Happy reading...


Zahra dan Dea sedang berdiri di ujung gang kontrakan mereka, menunggu taksi online yang di pesan oleh Dea melalui sebuah aplikasi.


Zahra Pov.


Kami berdiri di depan gang kontrakan kami, menunggu Taksi online yang di pesan oleh Dea. Kami memang berada di satu lingkungan.kontrakan kami terpaut 3 kamar. satu kamar untuk satu orang atau keluarga kecil.kontrakan tersebut memiliki fasilitas dua ruang yang bersekat. ruang depan untuk kamar tidur yang di batasi oleh korden bersebelahan dengan ruang tamu. dan untuk ruang belakang di pakai untuk kamar mandi dan dapur. tapi kamar ini cukup luas untuk aku tempati sendirian.


Taksi online yang kami pesan sudah datang, tentu saja kami harus naik taksi online atau mungkin ojek online jika harus pergi ke tempat yang agak jauh dari kontrakan kami. karena tidak mungkin orang- orang seperti kami bisa memiliki mobil. sangat mustahil.


Taksi yang membawa kami melaju dengan kecepatan sedang. membelah pagi menjelang siang.entah kenapa aku merasa pusing dan agak mual.


Kami telah sampai di depan sebuah gedung yang menjulang tinggi. untuk pertama kalinya aku datang ke tempat ini. kupikir aku tidak perlu pergi ke tempat seperti ini hanya untuk membeli sabun dan odol.warung di depan gang sudah cukup menyediakan barang-barang tersebut. dan kalau ingin keren sedikit aku bisa pergi ke minimart atau swalayan kecil dengan warna cat kombinasi merah dan biru yang ada di seberang jalan depan gang. cukup dekat dan tentunya lebih hemat.


Berbeda dengan Dea yang sepertinya sudah terbiasa keluar masuk tempat seperti ini.aku lihat ada yang berbeda dengan gaya hidupnya.mungkin dia seorang puteri yang sedang menyamar menjadi rakyat jelata.begitulah yang ku lihat dari seorang Dea.dia tidak pernah menceritakan tentang kehidupan pribadinya dan aku rasa aku juga tidak perlu mempertanyakannya.usianya lebih tua dariku, seharusnya aku memanggilnya kakak tapi dia memintaku memanggilnya nama saja. dia hanya merasa takut tua. bukankah dia sangat lucu.menolak tua, memangnya siapa dia???


Kami melangkah masuk kedalam mall yang sangat besar.ini pertama kalinya aku datang ke mall seperti ini, berbeda di kota asalku mall di sana tak sebesar di sini. aku melongo dan Dea mengetahui itu, ia terkekeh katanya aku lucu. tidak aku tidak lucu, tapi aku kampungan, ndeso!


Aku mengedarkan pandangan kulihat disana banyak toko baju dan tas dan barang lain yang tentunya dengan nominal yang wow.aku tidak akan sanggup membelinya.gaji sebulan hanya cukup untuk membayar sepasang sandal mungkin,dan selebihnya aku akan mati kelaparan.Ironis.


"Dea, apa kau yakin mengajakku jalan ke tempat seperti ini?tanyaku.


"Tentu saja, memangnya kenapa? tanyanya, dia masa bodoh dengan pertanyaanku.


"Hey,,, ada denganmu, kenapa kita harus pergi?"tanyanya polos.


"aku rasa kita tidak akan bersikap konyol dengan berpura-pura kaya, memiliki uang banyak untuk bebelanja di sini". kataku lagi.


"Di sini tidak ada larangan untuk siapapun yang mau berbelanja. mereka juga tidak akan mempertanyakan pekerjaan atau status kita, jadi tenanglah!" sambungnya lagi aku jengah mendengarnya berkata seenaknya.


"Baiklah, kalau kau ingin belanja, tapi aku gak.aku hanya akan mengikutimu dan melihat-lihat saja." aku berbicara sambil melihat kesana kemari.


Dea kerkikik, "Aku juga tidak akan membeli apapun, kita hanya akan nonton saja sekarang. sepertinya akan ada film bagus yang di putar perdana siang ini. lagi pula kita tidak akan langsung jadi gelandangan jika kita nonton dan makan di courtfood untuk sekali saja." Dea masih terkekeh.


"Baiklah, kau menang kawan." aku menyerah.


Lantas kami berjalan beriringan menuju tempat2 yang belum pernah aku kunjungi. melihat barang-barang mewah dan tertawa ngeri setelah melihat price tag yang tergantung. dengan sesekali bercanda tertawa bersama,sungguh hari ini aku senang.


Dan tawaku terhenti saat aku melihat siluet tubuh itu.aku merinding, sejenak aku kehilangan diriku.aku terpaku.tapi hanya sebentar karna aku yakin bahwa aku salah lihat.


Ayah... batinku


***