
Tiba-tiba Zahra merasa ketakutan yang luar biasa, hatinya resah. trauma itu masih ada, ia tak mau lelaki itu mengenalinya. dengan gemetaran Zahra mengkahkan kakinya menjauh dari meja di mana Kai dan Aldi sedang mengobrol.
Zahra masuk ke dalam toilet,alih-alih buang air sebenarnya ia sedang bersembunyi.
Zahra menatap wajahnya di cermin, air matanya kembali mengalir.ia sudah tidak tahan untuk menahannya, akhirnya tangisnya pecah tanpa bisa ia tahan.
Zahra terisak menahan agar suara tangisnya tidak sampai terdengar ke luar.
Iya benar, dia pria itu. untuk apa dia datang kesini, apa ia mencari jaket yang aku pakai semalam.
pasti jaket itu sangat mahal sampai dia harus mencarinya, seharusnya yang marah itu aku, aku yang di lecehkan aku yang di rugikan, tapi aku bisa apa? aku tidak mungkin melaporkan masalah ini ke polisi. mereka gak akan mendengarkan laporan orang miskin, bisa jadi mereka berbalik menuduhku mencemarkan nama baik.dengan kekuasaan yang di miliki orang kaya mampu melakukan apa pun. batin Zahra
Zahra membasuh mukanya setelah menangis, ia masih belum beranjak dari dalam toilet.
Tunggu! tadi ia bilang apa? sesuatu terjatuh? apa aku menjatuhkan sesuatu? Zahra tampak berfikir.
Mulut Zahra menganga sambil ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya.saat menatap dirinya di cermin, ia baru menyadari bahwa ia tak lagi memakai kalung pemberian neneknya.
Ya tuhan, lengkap sudah penderitaanku, kalung itu satu-satunya benda berharga milik aku. kalung itu satu-satunya bukti yang aku miliki untuk menemukan keberadaan ayahku. sekarang aku harus apa ya Tuhan.aku tidak mungkin memintanya pada pria itu.
Zahra keluar dari toilet untuk melanjutkan pekerjaannya, tapi netranya masih menangkap pemandangan dua orang cowok yang masih asyik mengobrol.
"hhhh... mereka masih asyik ghibah rupanya." Zahra menghembuskan nafas kasar.
Akhirnya Zahra melannjutkan pekerjaannya, dia memilih meja yang jauh dari meja Kai dan Aldi mengobrol.
***
Sementara di sana, dua cowok masih asyik dengan obrolannya, entah apa yang mereka bicarakan, terkadang mereka tergelak bersama.
"Sekarang apa rencana lo kai?" Aldi.
"mungkin gue balik ke London buat ambil S2 gue, kalau males ya mungkin ikut ke perusahaan keluarga, mungkin sih," Kai mengangkat bahu tanda gak jelas.
"What??? nikah? gila lo! ngasih saran keren dikit napa? Kai mendengus kesal.
"Daripada lu kayak gini, hidup tak mau matipun segan" aldi trsenyum mengejek.
"Maksud lo ngomong gitu apaan Al?" Kai sewot.
" Patah hati!, maksud gue. lo harus move on dari melisa, jangan terpuruk kayak gini, serasa bukan Kai, gak pantes tau gak?" Aldi emang pengertian.
"Gak lah, gak mungkin gue patah hati, seorang Kai gak pernah patah hati. apaan coba, gue cuma kesel aja, gak suka gue di hianatin kayak gitu, ngehina banget si melisa tuh, awas aja!" kai emosi
Gue emang kecewa sama melisa, tapi setelah kejadian semalam entah mengapa wajah melisa hilang begitu aja dari otak gue. apa mungkin cuma rasa bersalah gue aja atau mungkin Tuhan mengirimkan gadis itu buat gantiin melisa. gimana kalau dia hamil? Gue harus cari tau siapa gadis itu. Kai bertekad.
Hening sesaat...
Drrrt...
Drrrt...
Drrrt...
Gawai kai bergetar, ada panggilan masuk.
"Gue balik dulu ya, besok kita ngobrol lagi,,,
**Othornya ngantuk, besok kita sambung lagi ya readersku sayang.
mohon dukungannya biar makin semangat.
kalo menurut readers tersayang ceritaku cukup menarik, boleh atuh kirim bunganya satu aja yang penting iklas.sekebon mah othor gak nolak. apa lagi di bikinin kopi makin melek noh si othor, biar besok gak ngantuk lagi waktu nulis.
salam cinta lope... lope... 😘😘😘**