
Happy Reading..
Setelah kembali dari london, Aldi memutuskan untuk membawa Zahra tinggal bersamanya bersama Dea yang akan menemani Zahra.
Setelah beberapa minggu sejak kecelakaan yang di alami kai, Zahra seperti kehilangan gairah hidup. yang di lakukannya hanya berdiam diri di balkon kamarnya.
Tak ada lagi Zahra yan ceria tak ada lagi gadis yang selalu tersenyum.meski dalam kesakitannya.
Zahra yang rapuh harus menelan kenyataan pahit bahwa Kai mungkin tidak dapat sadar untuk selamanya.
Dokter pun sudah memberi saran untuk mencabut alat bantu kesehatan karena itu hanya akan menyiksa Kai. merelakan kepergian Kai bukanlah hal yang mudah namun mempertahanlannya pun juga pilihan yang sulit.
Zahra semakin terpuruk saat di hadapkan dengan pilihan, bertahan dengan mengorbankan kebahagiaan orang lain atau pergi membawa luka.
Bagaimanapun ia tidak ingin merebut kebahagiaan orang lain hanya untuk membuatnya tetap berada di posisinya saat ini.
Flashback on.
Zahra yang tengah tertidur, harus terbangun karena mendengar suara percakapan dua orang yang sangat di kenalnya.
Aldi dan Dea sedang berada di ruang tengah sedang memperdebatkan suatu hal yang menarik perhatian zahra untuk mendengarkan lebih lama.
"Bagaimana keadaan Kai?" tanya Dea.
"Sama, sepertinya dia enggan untuk bangun." jawab aldi.
"Lalu bagaimana dengan Zahra?" pertanyaan sederhana namun bermakna sangat dalam. dan pertanyaan Dea yang baru saja di lontarkan sedikit menyentil perasaan zahra.
"Apanya? tentu dia akan tetap disini, dia tanggung jawabku sekarang." timpal Aldi.
"Tanggung jawab macam seperti apa yang kau maksud Al?" potong Dea.
"Untuk semua." jawaban yang sangat di mengerti apa maknanya.
"Maksudmu kau yang akan bertanggung jawab atas bayi zahra?" tambah Dea.
"Lalu siapa? dia adalah anak kai keponakanku. kalau bukan aku siapa lagi?"
"Dengan cara apa kau akan melakukannya? dengan menikahinya? suara dea bergetar saat mengatakannya.
"Hanya sampai kai tersadar. saat kai sadar nanti aku akan menceraikannya. bagaimanapun bayi itu tidak boleh lahir tanpa ayah."
"Tapi bagaimana jika kai tidak pernah sadar. maka kau akan tetap menjadi ayah dari anak itu, dan itu artinya kau tetap akan menjadi suami Zahra."
"Hanya itu jalan satu-satunya."
"Bagaimanapun, akulah yang memulai semua ini. semua yang terjadi karena aku. dan kau sangat tau itu." Aldi menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.
" Apa zahra tau masalah ini?"
"Tidak, Zahra belum tau. tapi itu akan tetap terjadi dengan atau tanpa mpersetujuannya." ucap aldi yakin.
"Dia harus setuju." aldi mengakhiri perbincangan dan meninggalkan Dea yang masih terpaku di tempatnya.
Sedangkan Zahra kembali ke kamarnya dengan banyak beban di fikirannya. Zahra tidak mungkin menghianati dea sahabatnya sendiri, dengan menerima keberadaan Aldi di sisinya.
Dea yang sudah begitu baik padanya harus melepaskan Aldi hanya demi sebuah tanggung jawab yang tidak semestinya ia tanggung. tentu Zahra sangat tidak ingin melakukan itu.
Flashback off.
Seperti hari-hari biasa, zahra tidak melakukan apapun kecuali memandang ke luar jendela di balik kaca besarnya.
Ia masih memikirkan apa yang di dengarnya beberapa hari yang lalu. sebenarnya Zahra ingin pergi dan menghilang daripada harus menjadi beban untuk orang lain.
Sore itu, saat Zahra sedang melamun, denting bel menginterupsinya. tentu saja bukan aldi maupun dea yang datang karena mereka berdua sudah mengetahui kode dari apartemen tersebut.
kaki Zahra bergerak menuju pintu untuk membuka pintu apartemen.
Ceklek..
Mata Zahra membulat saat mengetahui siapa yang tengah berada di depan pintu apartemennya.
Zahra mentutup mulutnya yang terbuka membentuk huruf ' O' dengan menangkupkan kedua tangannya pada mulutnya. dan dengan mata yang masih melotot Zahra terus memperhatikan siapa yang saat ini tengah berdiri dengan gagahnya di depan pintu.
Tanpa di persilahkan untuk masuk, tamu tersebut langsung masuk kedalam Apartemen kai. dan mendudukkn bokongnya di sofa ruang tengah apartemen kai.
Tanpa penolakan, gadis itu membirkan tamu itu duduk di depanmya. dan mendengarkan setiap makna dari ucapan pria tersebut.
Zahra memandang dengan pandangan yang sulit di artikan. berusaha menata hatinya agar tidak menangis di depan laki-laki itu.
****
next...
Siapa yang datang haYooo
Ayo... ayo... bantu neng Zahra buatin kopi manis buat si tamu agung ☺☺☺