Daddy'S Love

Daddy'S Love
Part. 118



Happy Reading...


Seperti biasa, tak ada hal lain yang di lakukan oleh sepasang suami istri itu saat hari menjelang malam. kecuali berada di balkon kamar, menikmati indahnya sinar rembulan.


Namun sayang, kemesraan mereka harus terhenti karena ketukan pintu yang di lakukan oleh Kinan.


Tok... tok...tok..


Kembali suara pintu di ketuk.


"Zahra..." panggil Kinan dari luar pintu kamar.


"Ya Bu, masuk saja." sahut Zahra dari dalam.


"Ada apa? apa ada masalah sampai ibu datang ke kamarku?" sambil menurunkan kakinya yang berselonjor di sofa kini hanya tinggal tubuh saja yang bersandar pada dada Kai.


"Tidak ada apa-apa. ibu hanya ingin bertanya sesuatu."


Kembali Kinan menaikkan kaki Zahra. kini kedua kakinya berada di atas pangkuan Kinan.


Kinan memberi usapan lembut pada kedua kaki Zahra yang sudah mulai membengkak.


"Jangan Bu.." Zahra berusaha menolak perlakuan Kinan terhadapnya.


"Kau ingat, sebelum ibu meninggalkanmu waktu itu, kau merengek minta di elus seperti ini." Kinan mengingat kejadian malam terakhir sebelum ia benar- benar berpisah dengan putri kecilnya.


Zahra menggeleng, ia memang tak mengingat apapun tentang masa kecilnya.


"Kau masih terlalu kecil, tapi ibu sama sekali tak berniat meninggalkanmu. waktu itu ibu hanya akan pergi ke tempat Aunty Renita. tapi ibu malah merindukan kakakmu dan kepikiran suamimu ini."


Kai yang sedari tadi diam mendengarkan, kini beralih menoleh ke arah Kinan.


"Selama ini mommy hanya bilang, bahwa Daddy Krisna menjodohkan kami. tapi kenapa mommy tak pernah datang dan mengatakannya."


"Apa kau pikir Sofia akan menyetujui rencana konyol Krisna? lagipula ibu terlalu malas untuk melihat Albert dan Sofia. ibu sudah tidak berniat untuk melihat mereka selamanya tapi sebelumnya ibu ingin merebut Aldi. namun sayang semua rencana ibu gagal karena kejadian malam itu."


"Tapi Bu, kenapa ibu harus menulis surat untuk ayah. dan justru memintanya untuk mencariku."


"Ibu merasa ada kejanggalan. ibu merasa di awasi. dan pernah mendapatkan telpon dari orang asing. tapi ibu seperti mengenal suaranya."


"Dia meminta ibu menjaga Kai. entah apa maksudnya. itulah sebabnya ibu menulis surat itu dan meminta nenek Aida memberikannya padamu jika ibu tak kembali."


"Dan setelah itu ibu memang tak pernah kembali." Zahra terdengar sedih.


"Ibu juga penasaran, kenapa kau tidak kuliah di Surabaya dan malah ingin kuliah di Jakarta. bukankah ibu sudah menyiapkan semuanya. apa ada yang terjadi hingga kau tak mempunyai biaya."


"Usaha di sana bangkrut. dan mereka menggunakan uang yang seharusnya untuk biaya kuliahku di jadikan modal untuk memulai usaha lagi. dan aku mengizinkannya."


"Kenapa kau tak pernah mengatakannya. itu tidak mungkin terjadi begitu saja. mereka pasti menipumu. uang itu akan bisa di cairkan jika kau telah cukup umur."


" Ya Bu, aku sendiri sudah menandatangani semuanya. lalu aku pergi mencari ayah. aku tidak tega melihat mereka kehilangan pekerjaan. mereka akan kesulitan."


Kai melotot mendengar penuturan Zahra, ia rela mengorbankan semuanya demi orang lain. padahal dirinya sendiri kesusahan. ternyata selama ini ia tak mengenal Zahra dengan baik. lihat betapa baiknya wanita ini.


"Ah putri ibu ini baik sekali. ibu bangga padamu." Kinan membelai pipi Zahra dengan sayang.


"Sepertinya aku harus ke desa itu dan berterima kasih pada mereka." celetuk Kai tiba-tiba.


"Kenapa?" Zahra dan Kinan kompak bertanya.


"Ya ampun mulutnya." Zahra geram sampai ke ubun-ubun dan terus menghujaninya dengan cubitan maut.


"Aw..aw..aw.. Sakit sayang!" Kai meringis dan mengusap perutnya. Zahra memberinya tatapan benci dan Kinan hanya menggeleng.


"Kau ini, sudah merusak putriku masih bisa berucap bangga." Kinan mendengus.


"Memalukan" Zahra mencebik.


Kai hanya mampu nyengir menghadapi dua wanita di depannya.


"Apa nenek Aida tidak memberimu sebuah kalung?" Maksud dari kedatangan Kinan masuk ke kamar Zahra yang sempat terlupakan kini mulai di ingat.


"Kalung?" Zahra tampak berfikir.


"Oh kalung itu." Zahra terdiam.


"Iya kalung dengan liontin permata itu." Kinan berbinar.


"Iya Bu, tapi kalungnya sudah tidak ada." Zahra menengok ke arah Kai, berharap Kai bisa membantunya menjawab. karena kalung itu terjatuh di apartemennya waktu itu.


"Kalungnya ada padaku. tapi di London. di apartemenku."


"Jadi kau menyimpannya?" Tanya Zahra senang.


"Tentu saja karena kalung itu milik kekasihku." senyum Kai mengembang.


"Sejak kapan pemilik kalung itu jadi kekasihmu Kai?" Zahra memutar bola matanya malas.


"Sejak malam panas di apartemen itu. kau selalu menyiksaku lewat mimpi. dan bayangan wajahmu yang seksi di bawahku membuatku gila."


"Dasar mesum!"


"Dasar tak tau malu"


Ucap Kinan dan Zahra bersama dan seketika tabokan maut di layangkan dua wanita beda usia itu.


"Ampun mom!"


" sayang.. sudah cukup! kalian menyakitiku." Ringis Kai berusaha menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Besok asistenku akan mengambilnya." Ucap Kai setelah pukulan mereka terhenti.


"Sudah kalian lanjutkan saja, ibu bosan melihat tingkah kalian." Kinan berlalu meninggalkan Zahra yang masih mengerucut.


"Kenapa kau selalu bicara ngawur"


Kai mengedik bahu cuek.


"Tapi kenapa ibu tiba- tiba menanyakan kalung itu. aku kira ibu lupa."


"Entahlah!"


"Sudahlah, sebaiknya kau tidur. ini sudah malam." Kai menggendong Zahra ala bridal menuju ranjang dan menurunkannya. lalu ia merebahkan dirinya di samping Zahra dan menutup tubuh mereka dengan selimut tebal.


***