Daddy'S Love

Daddy'S Love
Part. 100



Happy Reading...


"Terima kasih kau telah hadir untuk yang kedua kalinya." kai membelai lembut perut zahra. dimana telah bersemayam makhluk kecil yang akan melengkapi keduanya. dengan seulas senyum yang berkejaran dengan air mata.


Dan sekarang, tuhan memberinya kejutan yang lebih dahsyat dengan kenyataan bahwa orang yang selama ini ia tau adalah orang tuanya ternyata bukan orang tua kandungnya.


Gerakan lembut yang kai ciptakan agaknya mengusik zahra yang terlelap. perlahan ia mengerjap dan membuka mata. kai segera menghapus jejak air matanya dan merubah wajahnya senormal mungkin.


"Sudah bangun nyonya?" kai menyambut zahra dengan garis lengkung di bibirnya yang ia ciptakan.


Zahra membalas tanpa mengatakan apapun. ia tak mau merusak suasana. ia sangat tau saat ini, di balik senyum manis pria tampan itu ada luka tak berdarah. kai bersikap seolah ia baik-baik saja namun sebenarnya saat ini ia sedang tidak baik-baik saja.


" Aku lapar ." jawab zahra sambil bangun dari tidurnya dan duduk bersandar di dada bidang kai.


"Mau makan sesuatu" tanya kai sambil memeluk tubuh zahra lebih erat dan membelai perutnya yang masih datar.


"Apa saja, aku sudah sangat lapar." Kai terkekeh melihat Zahra yang cemberut karena memang ia melewatkan makan siangnya gara-gara Kai yang mengendarai mobilnya tanpa mampir ke suatu tempat.


"Baiklah aku akan memesannya terlebih dahulu. apa kau mau membersihkan badan dulu?" Sebuah pertanyaan bodoh keluar dari mulut Kai yang akan membuatnya jatuh kedalam masalah.


Zahra menegakkan badannya dan mengendus tubuhnya. " Apa baru saja kau mengatakan bahwa badanku sangat bau?" zahra memicing curiga membuat Kai gelagapan dan menggeleng tajam.


"Aku hanya tidur, kita tidak melakukan apa-apa Kai dan lihat pakaianku masih lengkap." zahra mendelik tajam. sebelum ia sadar dengan keadaannya yang hanya memakai kemeja kai yang kebesaran.


Zahra dengan cepat membuka selimut yang menutup bagian bawah tubuhnya dan mendapati dirinya tak mengenakan apapun.


"Kau memperkosaku Kai!" zahra mendelik tajam dan menekankan kata-katanya, geram.


Apa tadi dia bilang?


"Memperkosa?" Kai melongo tak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut wanitanya.


"Sayang, kau membuatku merinding." dengan nada di buat takut.


Cih, memperkosa katanya yang ada dia mendesah. inginnya kai menjerit namun sayangnya kata-kata itu hanya tercekat di tenggorokan.


"Sudahlah, aku mau mandi. cepatlah kau pesan makanannya. aku sudah sangat lapar." zahra melenggang pergi tanpa menghiraukan kai yang masih melongo menatap tak percaya.


Sepertinya satu masalah baru datang lagi. batin kai kembali menjerit.


"Kai..." Jerit Zahra dari dalam kamar mandi membuat Kai terlonjak dan hampir menjatuhkan gawai yang ia pegang.


Dan satu lagi, dia semakin cerewet. Kai menggeleng sebal.


"Yes honey.." jawab kai malas.


"Apa kau sedang menggerutu?" sarkas Zahra dari dalam.


Dan sekarang dia berubah jadi cenayang. Nafas kai berhembus kasar.


"Tidak! cepatlah kita makan di luar saja." jawab kai menahan kesal sebisa mungkin.


"Aku tidak mau, aku malas." jawab zahra tanpa berdosa membuat kai semakin keki.


Masih menggunakan bathrobe di tubuhnya, kembali zahra naik ke atas tempat tidur dan duduk bersandar di kepala ranjang.


Zahra menatap kai intens, zahra bisa merasakan apa yang kai rasakan. merasa di bohongi dan di permainkan.


"Are you okey?" melihat kai yang kembali terdiam, cukup membuat zahra mengerti bahwa prianya saat ini sedang butuh dukungan.


Kai mendesah pelan untuk melongharkan dadanya yang kian sesak "Menurutmu?".


Zahra tak menjawab. ia menatap lekat wajah kai untuk meyakinkan dirinya bahwa semuanya baik-baik saja.


"Bisa kau katakan siapa aku sebenarnya." kai menatap balik zahra dengan sorot mata yang begitu sendu. mencari sebuah pembenaran bahwa yang terjadi beberapa jam yang lalu hanyalah sebuah gurauan yang akan membuat semua orang tertawa karena kekonyolannya.


Zahra menangkup wajah kai dengan kedua tangannya. membelai lembut seolah mengatakan bahwa aku tak peduli. "Rakai Langit Abiyasa." Zahra mengucapkan dengan sangat lugas.


Kai menatap manik mata Zahra tak mengerti. bukankah semua orang tau bahwa itu adalah namanya. bahkan di akui oleh dunia.


"Bu-bukan itu maksudku." Kai berusaha memperjelas kalimatnya.


Zahra naik ke atas pangkuan Kai dengan posisi menyamping. kembali menangkup wajah tampan yang selalu ceria sejak pertemuan mereka beberapa bulan lalu. dan kini wajah itu tengah menyimpan luka dan banyak pertanyaaan yang membutuhkan jawaban. yang mungkin saja membuatnya semakin terluka setelah mendapatkan jawabannya.


"Jika aku sibuk memikirkan siapa dirimu, mungkin saat ini kita tidak akan berada di sini." zahra menurunkan tangannya dan menyandarkan punggungnya di dada lebar kai. mencari kenyamanan dalam hangat peluknya.


"Itu artinya kau tau masalah ini?" Zahra mengangguk. Kai tersenyum masam. sedikit kecewa hingga ia harus menutup rapat matanya. berusaha menetralkan perasaannya yang membuncah kecewa. " Dan kau diam saja, kenapa?"


Zahra mendongak agar dapat menjangkau wajah kai dengan pandangannya. "Karena aku tak memang tak perlu membahasnya. aku tak peduli siapa dan dari mana kau berasal. yang aku tau kau adalah Raka. Pria yang begitu aku takuti namun selalu ku Rindu. Pria yang begitu ku benci namun sayangnya selalu ku tunggu. dan kau adalah pria yang telah memporak porandakan hidupku namun sialnya adalah pria sangat aku cinta. jadi untuk apa aku mempermasalahkan yang lain jika kau sudah lebih dari yang aku inginkan."


Hati Kai berdesir mendengar ungkapan dari wanita yang telah membolak-balikkan dunianya. wanita yang mampu membuat kai yang manja dan egois menjadi pria yang hampir gila karena kehilangannya.


"Sejak kapan kau mengetahuinya dan apa dia juga mengatakan tentang siapa orang tua kandungku." kai mengeratkan pelukannya membenamkan wajahnya pada perpotongan leher dan bahu zahra.


"Seminggu sebelum pernikahan di mansion ayah sore itu." kai tersentak membelalak tak percaya. " kau adalah putra dari saudara daddy krisna." kai mendengarkan dengan seksama penuturan zahra.


"Apa daddy juga mengatakan dimana mereka?" zahra menggeleng lemah.


"Ayah mengatakan semua hal tentang mereka. tentang perpisahan mommy sofia dan daddy krisna dan alasan kenapa ayah menikahi mommy sofia. tapi sayangnya ayah tidak menceritakan tentang siapa orang tua kandungmu."


Ada sedikit nyeri dalam dada Kai setelah mendengar semua hal yang zahra ceritakan. hatinya menolak untuk percaya. tapi sayangnya logikanya sedqikit membenarkannya.


Apa yang akan terjadi jika hati dan logikanya tidak sejalan. maka itu merupakan satu titik dimana kau harus menemukan pembenarannya.


Tidak ada hal di dunia ini yang terjadi karena kebetulan. semuanya pasti sudah terncana.


Kai dan zahra akhirnya memutuskan untuk tidak membahas masalah itu lagi. karena baginya, mengetahui atau tidak, terlibat ataupun tidak, orang tua kai yang sebenarnya merupakan orang lain dan asing saat ini.


Tidak perlu terlalu memikirkan apa yang terjadi esok. karena, entah itu baik atau buruk semua pasti akan terjadi tanpa harus kita prediksi terlebih dahulu.


***


Di sudut ruang yang lain, para tetua itu masih saja terlibat pembicaraan yang serius. entah apa yang mereka bahas? author sendiri juga tidak tau...


Rituanya gengs..