
Happy Reading...
Kinan duduk termangu di sebuah taman bermain. di sana, banyak anak kecil yang berlarian. ibu-ibu muda yang juga sedang menemani anak mereka, atau suster yang sedang menjalankan tugas menyenangkan anak majikannya.
Senyum kecil tersungging di sudut bibir Kinan melihat betapa gembiranya mereka. ada setitik kesedihan yang merambati batinnya, membuat lengkungan di bibirnya menjadi memudar. ingatan tentang sebuah masa lalu yang menyedihkan. dimana seorang ibu tak memiliki kesempatan untuk melewati masa indah itu, masa dimana anak-anak dengan lincahnya berlarian lalu kembali ke pangkuannya. masa telah merenggut semuanya.
Lalu ingatannya jatuh kembali pada masa yang jauh kebelakang. di tempat inilah Kinan untuk pertama kalinya melihat sosok kecil yang sedang berjalan tertatih sendirian.
Kinan tak pernah lupa bagaimana gadis kecil itu berjalan tersandung dan terjatuh untuk meraihnya.
Antara bingung dan takut akhirnya Kinan membawa gadis kecil itu duduk di kursi taman. hingga malam menjelang dan orang-orang mulai meninggalkan taman, namun tak ada satu orang pun yang datang menjemput gadis kecil itu. lalu ia dengan sisa keberaniannya membawanya ke panti tempatnya bernaung.
Air mata Kinan luruh tanpa bisa di cegah, setelah beberapa tahun tak ada yang menanyakan keberadaan gadis kecil itu. dan kini ia bimbang, benarkah gadis kecil yang ia temukan di taman sewaktu pulang sekolah adalah bayi yang sama dengan adik yang Sofia cari? ah mengingat itu Kinan menjadi sangat khawatir.
Tak bisa di bayangkan, jika Kania adalah adik dari Sofia, mengingat Kania sangat membenci Sofia. dan dapat di pastikan betapa hancurnya Sofia jika adik yang di carinya ternyata sangat membencinya.
Kinan masih terhanyut dalam lamunannya, hingga dering gawainya menginterupsi pendengarannya.
Kembali sebuah lengkungan terbentuk di sudut bibirnya melihat id pemanggil pada layar gawainya.
"Kania.." lirihnya. "Ada apa Kania?" tanya Kinan.
"Tidak ada apa-apa kak, aku hanya sedang memikirkan mu." Kinan tersenyum. ternyata Kania juga tengah memikirkannya. betapa ikatan batin ini sangat kuat.
"Kau memang adikku." Ucap Kinan selanjutnya.
"Ya kak. aku memang adikmu yang sangat menyayangimu. kenapa kau bilang seperti itu.?
"Tidak ada apa-apa. aku juga sedang memikirkan mu. apa kau bisa kesini? ada hal penting yang ingin aku sampaikan." Kinan merasa harus mengatakan semua kebenarannya. setidaknya mereka harus mengetahui ikatan keduanya.
"Ada apa kak? apa Sofia berulah lagi. wanita itu memang benar-benar mencari mati." ceriwis Kania seperti biasanya
"Tidak.. tidak.. bukan seperti itu." Kinan menampik tuduhan Kania. "Sofia tidak akan melakukan apapun. sepertinya ia sudah membenahi diri."
"Baguslah kalau begitu. jika tidak, aku akan benar-benar menghancurkannya. aku sangat muak dan ingin melihatnya menderita." ucap Kania geram.
"Apa kakak pernah mengajarimu menjadi jahat? jika kau membalas Sofia dengan perbuatan yang sama, itu artinya kau sama dengannya. kakak tidak ingin kau seperti itu. Kau gadis kecilku yang manis." dada Kinan semakin sesak mendengar ucapan Kania. betapa ia sangat membenci.
"Sayang sekali kau tak pernah mengajariku berbuat seperti itu." Kania mendengus.
"Baiklah, selesaikan pekerjaanmu dan segeralah datang."
"Aku akan datang secepatnya jika memang itu penting." sambung Kania.
"Tidak perlu. selesaikan saja pekerjaanmu. aku bisa menunggu."
"Baiklah kak sampai jumpa."
"Sampai jumpa Kania." Kinan mengakhiri panggilannya.
Kinan mendesah. terlalu banyak
yang di fikirkan. mau tidak mau, suka tidak suka semua harus di lakukan. mengungkapkan kebenaran.
Hari semakin sore, Kinan beranjak dari kursi taman. berniat untuk pulang. rasanya terlalu pusing untuk memikirkannya sendiri.
***
Entah dari mana ia membawa anak itu. dan ia juga terlihat menyayanginya.
"Hai Sofia." sapa Kinan setelah kedua manik mereka bertemu.
"Kinan, kau baru datang. aku sudah menunggumu sejak tadi." Sofia menyambut kedatangan Kinan. ada binar bahagia di mata Sofia dan terdengar kebahagiaan dari tutur katanya.
"Aku baru saja dari kantor Albert. apa kau ingin menemui Kai?" tanya Kinan tanpa mengalihkan pandangannya dari anak yang berada dekat Sofia. dan Sofia menyadari itu. lalu ia tersenyum melihat wajah penuh tanya dari Kinan.
"Dia putraku." mata Kinan membulat mendengar ucapan Sofia.
"Aku mengadopsinya beberapa hari yang lalu. dan aku ingin mengenalkannya padamu. Kai harus tau jika ia mempunyai satu lagi saudara." ucap Sofia Riang.
"Ku harap kau tidak merencanakan sesuatu Sofia?"
"Melakukan apa Kinan, aku hanya merasa kesepian sendiri di rumah itu. tak ada salahnya aku memiliki anak lagi meski aku tak muda lagi. lagipula hartaku masih bisa menghidupinya jika aku meninggal nanti"
"Aku sudah menyerah untuk bisa menemukan Sonia. aku tak berharap apapun. aku akan memulai kehidupanku yang baru bersamanya."
Ada haru yang Kinan rasakan. ia seperti menemukan kembali Sofia yang dulu. Sofia yang manis dan baik.
Tak seharusnya semua orang masih mencurigainya. mungkin kesendiriannya telah menyadarkannya dan akan membuatnya menjadi lebih baik.
"Baiklah siapa nama si tampan ini?" Kinan menyapa pria kecil yang seumuran dengan Rain.
"Krisna. namanya Krisna." Sofia yang menjawab. anak itu hanya menunduk malu.
Mendengar nama Krisna, kembali Kinan di buat tercengang. Sofia benar-benar memberinya kejutan.
"Aku melihatnya saat aku berkunjung ke panti, saat aku mengetahui namanya Kris, aku langsung menyukainya. dia sangat manis dan aku mengadopsinya secara resmi dengan nama baru yaitu Krisna."
"Kenapa Krisna?" tanya Kinan heran.
"Aku hanya ingin mengingat Krisna saat memanggilnya."
"Jujur saja akhir-akhir ini aku sering melihatnya dalam mimpiku." ucap Sofia dengan suara sendunya. tak ada yang dapat di lakukan Kinan kecuali memeluk dan memberinya semangat. seperti yang biasa ia lakukan.
Dengan keberadaan Sofia dan anak yang baru saja di adopsinya, semua orang juga di buat terkejut. termasuk Kai yang juga baru saja datang.
Lalu satu persatu para penghuni rumah kembali dari aktifitasnya. dan seperti Kinan, mereka juga terkejut dengan yang mereka lihat.
"Jadi dia adalah adikku? seumuran dengan putraku?" Kai terkekeh saat ia di perkenalkan dengan Krisna kecil.
"Lalu aku harus memanggilnya apa dad, apakah uncle seperti memanggil Uncle Aldi?" tanya Rain polos.
"Mungkin kau bisa memanggilnya begitu prince." Kai yang memang tak dapat menjawab pertanyaan Rain pun hanya bisa mengiyakan.
***
Nungguin ya???
maaf yaa authornya lagi sok sibuk 😁😁😁
jika berkenan boleh mampir.