Daddy'S Love

Daddy'S Love
Part. 108



Maafkan diriku yang baru nongol ya gaeees...


Happy Reading...


***


Hati Sofia seperti di remas melihat kebahagiaan dan keharmonisan putranya. sayangnya dia sama sekali tak terlibat di dalamnya.


Senyum Kai yang tak pernah lepas dan gelak tawa sumua orang bagai belati tumpul yang mengiris hatinya. tak langsung putus namun sayatannya begitu sangat menyakitkan.


Sofia menjauh dari tempatnya berdiri. tangannya yang semula menggenggam pagar pembatas lantai dua mengepal erat. ia harus pergi sekarang juga. bersembunyi untuk menyembuhkan luka hatinya. tak ingin siapapun melihat sisi lemahnya,


Di taman kecil yang berada di Rumah megah Kai, Sofia sedang duduk di sebuah bangku taman sendirian.


Di dalam genggaman tangannya terdapat benda pipih yang terus ia pandangi. sepertinya ia baru saja bicara ditelpon.


Berhentilah melakukan perbuatan yang membuat orang lain muak terhadapmu! aku benci dengan tingkah lakumu! aku malu mengakui orang jahat sepertimu sebagai ibuku.


Kata-kata yang baru saja di ucapkan oleh Keisya di telepon beberapa menit yang lalu bagai air garam yang menyiram lukanya. semakin pedih dan menyayat.


Sofia terus memandangi gawai yang ada di tangannya. hingga tanpa ia sadar seseorang telah berada di dekatnya dan memperhatikannya.


"Bisa kita bicara sekarang Sofia?" Suara berat Albert mengagetkannya. dengan cepat ia menyeka sisa-sisa lelehan air mata yang mengalir di pipinya.


"Jika kau ingin aku pergi dari sini, maka tunggulah beberapa hari. aku masih ingin berada di rumah putraku." Meski ia tahu bukan itu yang di maksud Albert, sofia tetap mengatakannya. berpura-pura tak mengerti atau bersikap bodoh mungkin akan membuatnya sedikit meredam rasa sakitnya.


"Mari kita bercerai. kita akhiri semuanya."


Jedarrrr...


Bersamaan dengan petir yang menyambar di atas langit kota jakarta, Albert menyatakan keinginannya untuk berpisah. yang itu artinya kematian untuk Sofia. karena bagi wanita itu Albert adalah nafasnya.


Langit yang tiba-tiba menggelap karena mendung dan awan hitam menggulung, seolah menggambarkan perasaan Sofia saat ini. hati yang beberapa saat lalu mengalami kesakitan akibat kata-kata Keisya kini menjadi lebih dan lebih terkoyak.


Kenapa harus sekarang ya Tuhan. batin Sofia berteriak.


Duka nestapa datang secara bersamaan seperti tetesan air hujan yang saling berkejaran menghampiri bumi.


"Bagaimana jika aku menolak." Sofia mencoba bernego, meski ia tahu itu sudah tak ada gunanya lagi.


Dengan atau tanpa persetujuan sofia, perceraian itu pasti terjadi. tekad Albert dalm hati.


"Lalu bagaimana dengan janjimu pada Krisna. apa kau baru saja mengingkarinya." Sofia masih kekeuh, berharap Albert akan membatalkan niatnya.


"Aku masih bisa menjaga kalian tanpa ikatan perkawinan. kau tau benar yang terjadi di antara kita. aku tak ingin menyakiti siapapun. dan anak-anak sudah dewasa. mereka mampu menjaga mereka sendiri."


Alasan yang masuk akal Albert, kenapa baru sekarang kau menyadarinya


"Apa kinan yang memintamu?" Sofia mensejajarkan dirinya tepat di depan Pria yang meminta perpisahan darinya. memandang manik matanya dan berharap menemukan kebohongan dari ucapan Albert yang baru saja ia dengar, namun sayangnya Sofia tak pernah menemukannya disana. Pria ini serius dengan ucapannya yang meminta sebuah putusan tali tak kasat mata yang telah mengikat mereka selama bertahun-tahun.


"Dengar Sofia, tanpa Kinan minta pun aku akan tetap melakukannya. aku sudah bosan berpura-pura kita baik-baik saja. kau tahu dengan benar dari dulu hingga sekarang posisinya tak pernah tergeser sedikitpun. dan kedatangannya sekarang hanya menjadi penambah poinnya saja." Tanpa menunggu jawaban Sofia, Albert pergi melewati wanita yang sedang mati-matian menahan gejolak dalam dirinya.


"Kenapa? Kenapa Albert!" Sofia membalik tubuhnya. kini ia berdiri tepat di belakang Albert yang sedang memunggunginya.


"Kenapa kau tak bisa sedikit saja memberikan rasa cintamu. setelah bertahun-tahun, tak bisakah kau melihatku sedikit saja. apa yang di miliki oleh Kinan yang tak ku miliki. apa yang membuatmu begitu memujanya yang tak bisa aku lakukan. katakan Albert!" Sofia berkata lemah. wanita yang selama ini tak bisa berbicara sendu kini telah hilang. yang ada hanyalah wanita penuh kerapuhan.


"Kau sudah memberi jawaban atas semua pertanyaanmu sendiri Sofia." Albert berlalu meninggalkan sofia dengan sebuah jawaban yang harus sofia maknai sendiri.


Sofia termanggu di tempatnya. mencerna setiap ucapan datar yang keluar dari mulut Albert tapi terasa seperti sebuah teka-teki besar yang harus ia cari tau sendiri jawabannya.


"Bukankah kau wanita pintar, kenapa kau sulit sekali menemukan jawaban atas pertanyaanmu itu." suara Kania yang tiba-tiba ada di belakangnya membuat sifia harus merotasi kepalanya.


"Apa maksudmu!" Sofia memandang kania dengan tatapan benci.


"Egois, jahat, pemaksa dan tak berperasaan. itulah yang tak ada dalam diri kak Kinan. apa kau sadar itu." Kania tersenyum miring mengatakannya.


Hey, apakah itu semua bakat Sofia? tapi sayangnya itu semua benar.


"Kau berharap memiliki cinta dari semua orang. tapi kau lupa cara mencintai. kau inginkan cinta semua orang. tapi kau menjadikan mereka terluka karena cinta. kau tak pernah bisa mencintai. kau hanya terobsesi ingin memiliki. belajarlah mencintai dengan tulus, sebelum menginginkan cinta yang tulus. karena kau lupa bagaimana ketulusan itu sendiri. kau wanita malang. aku kasihan padamu. terimalah kekalahanmu, nyonya!" Kania pergi meninggalkan Sofia dengan tawa penuh kemenangan. membuat Sofia mendengus kesal.


Dengan langkah gontai Sofia masuk kedalam kamarnya. kata-kata Kania terngiang-ngiang di telinganya. benarkah seperti itu?


Sofia masuk kedalam bilik mandinya, mungkin dengan berendam akan sedikit merefres otaknya. setidaknya setelah segar ia mampu menerima kekalahannya.


***


Belum End ya gengs... Sofia masih terikat kontrak 😁😁😁