
Happy Reading...
Sofia sangat senang karena rencananya berjalan mulus. wanita itu menggunakan kai sebagai alasan agar Albert tak mengusirnya. sebenarnya bukan karena harta yang membuat sofia mempertahankan Albert, namun obsesi untuk memiliki albert, pria yang di cintainya sejak zaman kuliah membuat wanita itu mampu melakukan hal apapun termasuk hal yang memalukan.
"Jadi, gadis itu adalah putri Albert? dan albert baru mengetahuinya?" Sofia bermonolog.
"Kenapa dia tidak ikut mati saja bersama ibunya. brengsek!" sofia geram sendiri.
"Harusnya aku tau jika kinanti memiliki anak yang lain.arrrgt!" Sofia yang semula ingin menguasai albert dengan menjadikan aldi sebagai alat untuk mendapatkan hati albert menjadi geram setelah mengetahui tentang keberadaan zahra.
Wanita itu selalu bisa mencari cara untuk mendapatkan informasi tentang sofia. bahkan saat kinanti meninggal, sofia tidak memberi tahukan kepada Albert.
"Kinanti Bodoh, kau berani membuka rahasiaku meski kau telah membusuk di n****a. kita lihat apa yang bisa kau lakukan jika aku menghancurkan putrimu. ha... ha.. ha.." sofia tertawa seperti orang gila. setelah ia menemukan surat yang di tinggalkan kinanti untuk albert.
"Tapi sepertinya, putra kesayanganku telah membuatku memudahkan rencanaku. dan sepertinya takdir tengah berpihak kepadaku." terlintas rencana licik di benak sofia.
***
Di pagi menjelang siang itu, Kai sangat bersemangat mengikuti pertemuan dengan Albert. nampaknya pemuda itu sedang sangat bahagia karena ia berfikir akan mengakui semuanya di depan zahra.
Tak peduli apa yang akan di lakukan keluarganya nanti, tapi kai telah bertekad untuk membawa zahra dan bayinya bersamanya.
***
Rumah sakit. 12.30
Kai sudah berada di basement rumah sakit setelah ia menyelesaikan pertemuannya yang memakan waktu selama 2 jam.
Dengan langkah panjang pemuda itu berjalan ke arah ruangan bayi. tiba-tiba perasaannya tidak enak karena tak melihat bayinya berada di dalam box yang biasa di tempatkan.
Kai berjalan menuju ruang rawat zahra dan masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu. jantungnya berdetak kencang saat ia melangkahkan kakinya menuju tempat tidur. Nyawanya seperti di cabut paksa dari raganya, jantungnya berhenti berdetak untuk beberapa detik saat mendapati tempat tidur zahra kosong dan melihat seorang suster tengah membersihkan dan mengganti sprei berwarna putih itu.
"Di mana pasien yang di rawat di kamar ini?" tanya kai kepada suster yang sedang berbenah.
"Sudah pulang beberapa saat yang lalu pak." jawab suster.
"Kenapa cepat sekali, bukankah kondisinya belum membaik?" tanya kai lagi.
"Keluarga pasien memaksa untuk memindahkannya." sambung suster.
"Pindah kemana?" tanya kai untuk kesekian kali.
"Untuk informasi bisa bapak tanyakan langsung ke bagian informasi pak." tukas suster akhirnya.
Tanpa banyak bicara kai langsung menuju bagian informasi. namun kai tidak mendapatkan informasi apapun. karena itu merupakan privasi pasien.
Dengan langkah gontai kai keluar dari rumah sakit. wajah yang tadinya berbinar bahagia kini berubah sendu.
Harapan untuk bertemu dengan zahra pupus sudah. Dunia kai seakan runtuh bersamaan dengan turunnya hujan siang itu. mewakili perasaan kai yang tengah hancur dan air mata putus asa meleleh dari sudut matanya.
Kai merasa takdir tengah mempermainkannya. atau ia tengah menjalani karmanya.
Kai mengendarai mobilnya dengan sangat kencang membelah jalanan di tengah derasnya hujan untuk meluapkan emosinya. Tanpa tau tujuan kemana ia akan pergi, kai terus dan terus memutari jalanan dengan mobilnya. tak ia pedulikan panggilan dari aldi ataupun pesan dari Albert. kai menggila. logikanya menolak bahwa ia telah kembali kehilangan zahra ditambah lagi bayinya yang baru beberapa jam yang lalu ia timang.
Tengah malam kai kembali ke hotel dalam keadaan yang berantakan. jas kerja yang ia tenteng dan dasi yang menggantung asal di lehernya.
Tak ada lagi kai yang penuh wibawa, kini hanya tinggal kai yang putus asa dan frustasi.
Di dalam kamar kai terduduk di lantai bersandar pada ujung tempat tidur, ia memandang foto zahra dan bayinya yang ia ambil dengan berbagai pose beberapa jam lalu saat zahra masih tertidur.
Kai tersenyum kecut saat memandang fotonya yang tengah mencuri ciuman di pipi zahra.
"Kemana lagi aku harus mencarimu, apakah begitu sulit bagi kita untuk memulai semuanya." dengan suara serak kai bermonolog di depan foto zahra.
***
Di rumah sakit lain, saat ini zahra sedang gelisah. entah apa yang menghampiri fikiran gadis itu sehingga ia tidak dapat memejamkan matanya.
"Kau kenapa mbak?" tanya cindy yang sedang menemani zahra.
"Entahlah, mbak gak bisa tidur." jujur zahra.
"Apa kau merasa sakit? biar aku panggilkan dokter." tawar cindy karena khawatir yang melihat zahra.
"Tidak perlu, mbak gak papa." tolak zahra karena memang yang ia rasa bukan tubuhnya yang sakit. melainkan perasaannya.
"Kau beri nama siapa bayi tampanmu ini kak?" tanya cindy untuk mengalihkan kegelisahan zahra.
"Rain." jawab zahra tanpa ragu.
"Rain, kenapa Rain?" tanya cindy heran.
"Suka aja." jawab zahra sambil tersenyum karena ia tau cindy adalah tipe gadis yang penasaran dan banyak tanya.
Kenapa mereka kompak sekali, padahal tanpa janjian bisa menemukan nama yang sama. batin cindy mengingat ucapan kai yang ingin memberi nama Rain pada bayinya.
Ah! kenapa aku bisa lupa kasih nomerku, duh gimana nih. cindy tiba-tiba ingat telah lupa memberikan nomernya pada kai.
Melihat cindy yang bertingkah aneh, zahra pun bertanya. "Kau kenapa sin?"
"Aku? aku gak papa." jawab cindy sekenanya.
"Mbak, boleh aku tanya sesuatu." ucap cindy ragu.
"Bukannya saat ini kau sedang bertanya." zahra menjawab dengan pertanyaan. sedangkan cindy hanya mencebik.
"Siapa nama ayah dari bayimu? apakah KAi?" pertanyaan cindy membuat zahra membelalakkan matanya. dari mana gadis kecil itu mengetahuinya. bahkan pada renita pun ia tidak pernah bercerita tentang kai.
Namun zahra tidak menjawab pertanyaan cindi. ia lebih memilih untuk bungkam.
"Mbak!" cindy kembali akan bertanya, namun suara dua orang wanita yang masuk ke dalam kamarnya mengurungkan niatnya.
"Kau tidak tidur sayang?" tanya kania mendekat ke arah zahra.
"Aku belum mengantuk aunty." bohong zahra.
"Tapi kau harus banyak beristirahat agar cepat pulih. karena kita harus cepat pergi dari kota ini." Ucap kania sambil memperhatikan air wajah zahra yang saat ini tengah gelisah.
Kania tau sebenarnya Zahra tidak ingin pergi sekarang. namun cepat atau lambat albert pasti akan menemukannya dan membawanya.
Kania tidak keberatan soal itu, namun yang menjadi kekhawatiran kania adalah sofia yang tidak akan membiarkan zahra hidup bahagia. mengingat wanita itu sudah seperti psyco.
***
Ritualnya gengs...
🖒🖒🖒 jangan lupa. maaf ya othor telat update karena mamak kampung ini sedang di butuhkan untuk persiapan lebaran.
like comment and vote..
lots of luv chanda 💕💕💕