Daddy'S Love

Daddy'S Love
Part. 116



Happy Reading...


Sofia membuka lemari besi di dalam ruang kerja almarhum ayahnya. lalu ia mengambil sebuah kotak perhiasan dan membukanya. tangannya terulur mengambil sebuah kalung dengan liontin berbentuk bulan. ia ingat bahwa adiknya memiliki kalung yang sama dengan liontin berbentuk bintang.


Sofia mengingat saat dimana kalung itu ia terima, yaitu saat usianya sembilan tahun. dan adiknya berusia enam bulan.


Itu adalah hadiah terakhir yang di berikan oleh papanya. kembali ia mengingat momen-momen kebahagiaan mereka sebelum peristiwa hilangnya adik satu-satunya.


Air mata Sofia meleleh menyesali diri. menyesal karena telah membuang waktunya tanpa melanjutkan pencarian terhadap adiknya.


Ia terlalu fokus pada obsesinya. menenggelamkan diri pada keegoisannya sehingga Sofia yang manis dan manja menjadi sosok yang jahat dan sombong.


Air matanya semakin deras tatkala ia mengingat sebuah tanda lahir yang sama pada tubuh seseorang yang ia kenal.


Ketakutan akan kebencian adiknya semakin membuatnya kesakitan.


Di sisi lain ia ingin kembali bersama dengan adiknya tapi di sisi lain ia ingin pergi sejauh mungkin. ia tak akan sanggup jika kebencian orang yang mungkin adalah Sonia semakin menjadi-jadi.


Tidak! Sofia tak ingin semakin terpuruk. tapi jika ini adalah karma yang harus ia terima, lalu ia bisa apa.


"Jika benar kau adalah Sonia, apakah kau bisa memaafkanku?" Sofia bermonolog sambil memandang sebuah foto di ponselnya dan membandingkannya dengan foto seorang bayi.


"Jika kau adalah dia, maka aku lebih memilih meninggalkanmu. aku tak ingin menerima kebencianmu. cukup aku melihatmu, dan mengetahui kau hidup baik-baik saja." lirihnya lagi.


Sofia semakin bingung bagaimana cara menghilangkan keraguannya. untuk membuktikan kebenarannya adalah hal yang tidak mungkin. mengingat hubungan mereka yang tak pernah baik.


Malam semakin larut dan Sofia hanya sendiri. ini merupakan hukuman terpedih yang di rasakannya.


***


"Siapa?" tanya Albert dengan wajah penasarannya.


Kinan tampak berfikir. apakah tepat jika ia mengatakan bahwa adik dari Sofia adalah orang yang berada dekat dengannya.


Kinan akhirnya menutup mata, menjemput mimpi. tak mempedukihan pertanyaan Albert. Kinan harus menyelidikinya dulu. mungkin saja Sofia telah menyiapkan jebakan untuknya. ia tak boleh terkecoh oleh permainan Sofia.


"Siapa Kinan?" kembali Albert bertanya.


"Sudahlah! lupakanlah. aku juga belum yakin." ucap Kinan mulai memejamkan mata.


"Jadi kau membangunkanku hanya untuk membuatku penasaran?"


"Kau mau apa Albert?" sentak Kinan saat Albert tiba-tiba menyerangnya.


"Menghukummu." kembali Albert melakukan aksinya.


"Lep.." Albert membungkam mulut Kinan dengan bibirnya. Kinan terus meronta namun permainan Albert membuatnya gila hingga ia terlena dan membalas ciuman panas di malam hari.


Albert meneruskan permainannya hingga tanpa sadar membuat Kinan hanya mengenakan dua penutup terakhirnya.


Melihat tubuh istrinya yang setengah polos membuat Albert semakin panas. meski usia Kinan tidak muda lagi tapi Albert melihatnya seperti wanita muda yang menggairahkan.


Melihat Albert yang bertingkah tidak semestinya di lakukan oleh manusia seumuran mereka membuat Kinan ingin menghentikan aksinya.


"Mau apa kau?" bentak kinan pada Albert yang kembali mengukungnya.


"Menjadikan Zahra bukan si bungsu lagi." Sambil membuang penutup terakhir.


Kinan yang lamban memikirkan perkataan terakhir dari Albert tak menyadari apapun hingga akhirnya..


"Ah!" kinan tersentak karena penyatuan Albert yang tiba-tiba dan menghujamnya dengan keras.


Tak ada lagi penolakan dan pemberontakan, karena Albert membawa Kinan terbang ke nirwana sama seperti bertahun-tahun yang lalu. dan malam panjang nan panas pun di lalui oleh sepasang manusia tua tak ingat umur.


Dan sepertinya status si bungsu tak akan lagi menjadi milik Zahra. Bukankah saat ini mereka seharusnya menyelesaikan sebuah masalah? Ah sudahlah itu hak mereka. biarkan mereka menyelesaikan kebahagiaan yang tertunda.