
Happy Reading...
"Sampai kapan kau akan berlari, zahra?" Suara yang sangat zahra kenal dan zahra rindukan menyapa kendang telinga zahra yang sedang berlari menuju ruang dimana anaknya berada.
Suara itu? benarkah? tidak! ini tidak mungkin. ini pasti mimpi.
Zahra mematung, ia tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Di mana akan kau temukan tempat untuk bersembunyi dari kami? cepat atau lambat aku pasti akan menemukanmu." sambung sang pemilik suara.
Dia di sini, bagaimana mungkin, bagaimana bisa dia menemukanku.
Zahra menolak apa yang di dengarnya.
Dengan kaki berat ia membalik tubuhnya. Seketika air matanya luruh tanpa bisa dicegah.
Ini nyata, bukan mimpi. tidak.. tidak ini tidak benar.
Zahra masih saja menolak untuk mempercayai meski dia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri siapa orang yang ada di hadapannya.
Tangan zahra mengepal entah karena apa, yang pasti gadis itu bahagia dan takut di waktu bersamaan.
Zahra masih berada di tempatnya, mematung sambil berurai air mata. ia tak beranjak sedikit pun meski pria yang ada di hadapannya merentangkan kedua tangannya, meminta zahra agar memeluknya.
Tanpa menunggu perintah, kaki zahra melangkah begitu saja. gadis yang telah menjadi ibu itu menghambur kedalam pelukan pria di hadapannya.
Pria yang beberapa bulan lalu menjadi tempatnya berkeluh kesah. pria yang selalu ada di tiap waktu untuk dan tak pernah bosan menjadi penopangnya.
"Kakak!" zahra dengan suara seraknya nyaris tak terdengar.
"Kakak!" serunya lagi. tangisnya pecah tanpa bisa di cegah lagi.
Zahra tersedu dalam pelukan Aldi, saudara laki-lakinya yang begitu ia rindukan. tak peduli orang- orang yang memandang mereka dengan tatapan heran dan penuh pertanyaan.
Menyaksikan dua anak manusia saling memeluk melepas kerinduan dan berurai tangis.
***
Zahra dan aldi kini berada di taman rumah sakit. ia sudah menelpon pengasuh rain bahwa ia akan sedikit terlambat.
"Bagaimana bapak bisa menemukan saya?" zahra kembali kepada panggilan formalnya. ia lupa memanggil kakak kepada aldi.
"Kenapa kau masih memanggilku bapak zahra? aku bukan bos mu lagi." aldi terkekeh melihat zahra yang tersenyum canggung. zahra masih sama, gadis pemalu yang menggemaskan.
"Saya belum terbiasa." ucap zahra canggung. "Bagaimana kabarmu kak?"
"Aku baik zahra, bagaimana denganmu?" Aldi balik bertanya.
"Aku juga baik." zahra memang baik tapi tidak dengan hatinya. "Bagaimana dengan Dea?" zahra tak pernah melupakan satu-satunya sahabat yang sering ia susahkan.
"Dia masih berisik. dan semakin cerewet setelah kau pergi." Aldi mendengus kesal.
Zahra tertawa kecil mengingat sahabat sablengnya. "Kapan kalian menikah?" pertanyaan yang membuatnya sedih, karena mungkin ia tak akan hadir di pernikahan kakaknya.
"Entahlah." jawab Aldi singkat.
"Tapi kau tidak bisa seperti itu, itu tak adil buat Dea." Zahra menelisik wajah Aldi melihat keseriusan disana.
"Kakak pasti akan menikahi Dea. tapi nanti." timpal Aldi datar.
"Kapan?" Desak zahra.
"Jika kau memutuskan untuk pulang." tepat seperti dugaan Zahra. bahwa Aldi akan menikahi Dea setelah ia kembali.
"Bagaimana kakak bisa menemukanku." Zahra mengalihkan topik pembicaraan.
"Aku tak sengaja." Aldi memperhatikan wajah zahra yang kini berubah menjadi sangat cantik. ia tidak memungkiri bahwa dulu ia sempat terpesona oleh kecantikan dan keluguan zahra sebelum ia menjatuhkan pilihannya pada dea.
"Maksudnya?" tanya zahra tak mengerti.
"Aku melihatmu di dalam mobil sewaktu mobilmu keluar dari kampus. seharusnya aku bisa menduga dimana lagi kau bisa kuliah. kalau tidak disini pasti di paris. dekat dengan aunty kania." pria itu tersenyum. ia tak menduga bahwa akan bertemu di sini. sangat dekat dengan orang tuanya.
"Apa yang kau lakukan disini, bukankah ayah tidak ada di kota ini." zahra ragu mengatakan kata ayah.
"Aku mencari kai." jawab aldi.
"Kai?" mata zahra membulat mendengar nama kai di sebut.
"Ya Kai, dia sudah sadar." Zahra terkejut mendengarnya. "Kau tak ingat dia yang membawamu kerumah sakit saat kau melahirkan bayimu?" Zahra menggeleng. "Dan dia juga menjagamu semalaman." matanya membulat sempurna.
Apa pria yang pagi itu kulihat adalah kai? namun zahra tak berani menanyakannya.
"Apa dia juga mencariku?" lirih zahra.
Aldi tersenyum. "Kau membuatnya seperti orang gila karena mencarimu."
Percuma, kami tetap tidak mungkin bersama. batin zahra getir.
"Kenapa kau mencarinya? apa ada masalah?" Zahra memberanikan diri untuk bertanya.
"Kai marah setelah mengetahui ayah mengusir mu karena mommy nya yang meminta." Aldi menarik nafas sebelum ia melanjutkan ceritanya. "Aku khawatir ia kan melakukan hal buruk. Kai itu manja dan nekat." Aldi terkekeh mengingat kelakuan adik tirinya.
"Sebaiknya kau menemuinya." ujar Aldi.
Zahra menggeleng lemah "Aku tidak mungkin bersamanya kak." putus Zahra.
Aldi mengira keputusan zahra menjauh dari kai karena perbuatan sofia yang telah membuat kinan pergi. namun nyatanya zahra masih menganggap bahwa kai juga anak albert. Kesalah fahaman membuat keadaan semakin rumit.
"Baiklah, dimana keponakanku sekarang?" Zahra baru ingat jika ia harus menjemput rain.
"Ya tuhan aku sampai lupa, anakku sedang di periksa dokter. kata pengasuhnya ia terbentur. jadi sekarang aku harus menjemputnya." Zahra hendak pergi namun ia mengurungkannya.
Aldi mengernyit, "Ada apa?"
"Tolong rahasiakan keberadaanku dari siapapun sampai aku siap kembali, kumohon!" pinta zahra.
"Termasuk Kai?" zahra mengangguk.
"Apa kau tidak bisa memaafkan papa?" tanya Aldi.
"Aku sudah memaafkannya. tapi untuk bertemu aku belum siap kak." ucap Zahra sendu.
"Baiklah! tapi, apa kakak boleh mengunjungimu?" pinta Aldi.
"Tentu, tanpa Kai." pungkas zahra.
"Baiklah kita pergi, kenalkan aku pada putramu." Aldi merangkul zahra dengan sayang. tak ada lagi kecanggungan di antara mereka. karena nyatanya ikatan darah lebih kental dari air.
***
jangan lupa 👍👍👍 yang buanyak biar othor semangat buat entar malem.
lots of luv chanda 💕💕💕