
Happy Reading...
Kai menoleh saat merasakan bahunya ditepuk dari belakang. lantas ia menoleh. mendapati Aldi di belakangnya. kai menyuruh Aldi duduk di sebelahnya dengan isyarat matanya.
"Pa an?" tanya Aldi sambil mendaratkan pantatnya di atas kursi sebelah kai.
"Temenin aku minum." sambil menyerahkan gelas berisi minuman alkohol ke hadapan aldi.
Aldi menerima dan mencecap sedikit isi gelas tersebut sambil melirik ke arah kai yang memasang muka datar.
"Apa harus seperti ini. sampai kapan?" terdengar helaan nafas putus asa yang kai hembuskan.
"Kai..." Aldi tak meneruskan ucapannya karena kai memotongnya terlwbih dahulu.
"Apa begitu sulit bagi zahra, untuk memaafkan perbuatan mommy sofia." potong kai cepat.
"Sebenarnya..." Aldi tak dapat melanjutkan ucapannya. ia ragu mengatakan kebenarannya kalau zahra tidak mempermasalahkan masalah sofia di masa lalu.
"Apa?" tanya kai lemah. ia menoleh, menatap intens ke arah aldi yang juga sedang menatapnya.
"Itu," aldi menjeda ucapannya. "Sebenarnya zahra menolak kehaduranmu karena," suara aldi tercekat ragu untuk mengatakannya.
"Dia membenciku mengutuk perbuatanku dan mommy. begitu?" sambar kai cepat sebelum aldi menyelsaikan kalimatnya.
"Bu.. bukan". Aldi tergagap karena kai terlebih dulu memotong ucapannya.
Tanpa menunggu aldi menyelesaikan ucapannya, kai beringsut meninggalkan kursinya dan berlalu pergi. namun baru beberapa langkah terdengar suara aldi yang membuatnya berhenti dan berbalik menghadap aldi.
"Zahra mengira kau kakaknya." dengan cepat aldi mengucapkannya. karena ia sendiri juga lelah menghadapai kelakuan adiknya yang menolak mendengarkan dirinya maupun kania yang ingin memberi tahu siapa kai sebenarnya.
"Apa maksudmu?" kai mendekat dengan cepat dan kembali duduk di kursi semula.
"Selama ini dia mengira kalian sedarah. namun dengan bodohnya dia menolak penjelasan kami." aldi menghela nafas lega.
Kai terdiam mendengar cerita aldi. lehernya tercekat tak dapat mengatakan apapun.
"4 tahun dalam kesalah fahaman. siapa yang paling menderita. Rain." kai tersenyum kecut.
"4 tahun dalam kesendirian, siapa yang paling tersiksa? aku" jawabnya pada diri sendiri.
"Kenapa kau tidak berusaha lebih keras untuk menjelaskannya." tanya kai dengan suara serak menahan sesak.
"Dia juga tak pernah membahas masalah itu, aku juga berfikiran sama denganmu. aku kira dia menolakmu karena masalah mommy." aldi terkekeh geli.
"Zahra yang bodoh." aldi mentertawakan.
"Kapan kau tau masalah itu."
"Tadi aunty kania menelponku. dia sudah jengah dengan sikap keras kepala zahra." ungkap aldi. "dan kau tau, anakmu itu sangat pintar. dia bahkan ikut menjudge sikap zahra yang menyebalkan." Aldi tergelak mengingat rain yang begitu dewasa sebelum usianya.
Di liriknya kai yang juga tengah tersenyum sembari melihat foto rain saat ia bertemu dulu.
"Pertemukan aku dengannya. sudah waktunya kami bersama." pinta kai.
"Belum saatnya, kau harus meyakinkan dirinya bahwa kalian bukan saudara kandung seperti yang di pikirkannya." kai tersenyum miring mendengar penuturan aldi.
"Itu masalah kecil." kai meremehkan.
"Akan jadi besar jika kau tak segera menemukannya. karena aku juga belum bertemu dengannya."
"Lagi pula, aku dengar dia juga tengah di dekati laki-laki." bohong aldi sengaja memancing reaksi kai.
"Akan ku sungkirkan semua yang berusaha mendekatinya. dan jika dia masih menolakku aku akan membawa rain bersamaku." suara kai meninggi. ada nada cemburu dan marah dalam ucapannya.
Aldi tertawa melihat ekspresi kai yang marah.
"Kalau begitu berusalah lebih keras" aldi menepuk pundak kai seraya berdiri.
"Mau kemana?" tanya kai yang melihat aldi hendak meninggalkannya.
"Istriku pasti sangat merindukanku dan butuh usapan di perutnya." aldi berlalu meninggalkan kai yang melongo mendengar ucapan aldi.
"cih! dasar bucin." ejek kai.
Aldi tergelak. "kau hanya iri kai karena zahra bisa sendiri tanpamu." melangkah meninggalkan kai yang sedang kesal.
"Zahra, kau akan ku dapatkan. dan Rain, daddy segera datang sayang." kai menemukan kembali semangatnya.