Daddy'S Love

Daddy'S Love
Part. 106



Happy Reading..


Albert berjalan ke arah meja kerja yang semula di duduki oleh kinan. ia juga tampak mengambil sebuah berkas, lalu memberikannya kepada Kai, yang ia terima dengan dahi berkerut.


"Apa ini dad?" Kai membuka berkas yang berisi tentang sebuah laporan penyelidikan dimasa lalu.


"'Itu adalah catatan tentang sepak terjang ayah kandungmu di masa lalu." ucap Albert datar. sontak semua orang mendongak melihat ke arah Albert.


"Daddy juga baru melihatnya, Sebelumnya ayahmu pernah menitipkan beberapa berkas tentang perusahaan yang harus di kelola oleh sofia. dan berkas itu juga terdapat di dalamnya. mungkin itu tak sengaja tercampur diantara berkas-berkas lain. dan bodohnya daddy baru membukanya kembali setelah bertahun-tahun lamanya." Ucap Albert menyesal.


"Ini adalah catatan gelap dari ayah kandungku. itu artinya dia adalah seorang kriminal lebih tepatnya dia adalah Mafia." Kai terlihat kecewa setelah membaca seluruh isinya.


"Mantan mafia, karena sekarang dia sudah tak berkecimpung di dunia hitam. dia sudah berhenti bermain-main dengan dunia hitamnya setelah dia bertemu dengan wanita yang telah menyentuh hatinya. yaitu ibumu."


"Bagaimana Daddy mengetahui jika sekarang ia sudah bersih." tanya kai penasaran karena Albert seperti sangat mengenal sosok ayah kandung kai sebenarnya.


"Daddy sudah menyelidiki semuanya jauh sebelum masalah ini muncul. semenjak Sofia mencoba mengganggu hubunganmu dengan Zahra, daddy sudah mengaturnya."


"Daddy juga meyakini seseorang yang adalah ayahmu, namun untuk memastikannya kita bisa menyelidikinya. atau jika kau mau kau bisa menanyakannya langsung kepada orangnya." ucap Albert yakin.


"Maksud Daddy?" Kai tak mengerti apa yang di maksud dengan ucapan Albert.


"Ya benar Kai, ayah kandungmu begitu dekat denganmu. bahkan kalian sering menghabiskan waktu bersama." Kai semakin bingung karena Albert berputar-putar sedari tadi.


"Siapa? katakan dad!" suara Kai tiba-tiba melemah. ia senang namun juga kecewa. kenapa ia memberikan Kai kepada orang lain meski itu adalah saudaranya sendiri.


Suasana menegang menunggu sebuah nama terlontar dari mulut Albert. termasuk sofia yang tampak jari-jarinya saling meremas.


"Tuan Ravi, salah seorang kolega bisnismu."


Kai terkesiap, "Bagaimana Daddy bisa yakin?"


"Saat pertama kali bertemu, ayah sudah mengenali wajahnya. Dia sangat mirip dengan ayahmu. apa kau tak menyadarinya?" Kai menggeleng.


"Entah dia menyadari atau tidak jika kau adalah Putranya. tapi Daddy rasa dia sudah merencanakan ini semua. mungkin ia ingin mendekatimu perlahan."


Albert membuang nafas lega, setidaknya tak ada lagi rahasia yang akan membuat keadaan menjadi sulit suatu saat nanti jika tiba-tiba ada seseorang yang mengaku sebagai orang tua Kai.


"Besok kita akan menemuinya. daddy sudah membuat janji. apa kau siap?" albert menepuk pundak Kai, memberinya semangat. Kai mengangguk pasrah.


Bagaimanapun orang tuanya di masa lalu, Kai harus menerimanya. tak ada yang berhak menghakimi siapapun, karena semua orang berhak memiliki kesempatan kedua.


Semua orang yang terlibat dalam meeting dadakan itu satu persatu meninggalkan ruangan. hanya satu orang yang masih duduk dengan antengnya. agaknya ia masih terhanyut dalam lamunan. hingga suara berat Albert menyadarkannya.


"Ada yang ingin kau sampaikan Sofia?" Albert dengan suara beratnya. membuat sofia terperanjat.


"Kenapa kau lakukan ini Albert." lirihnya. "Apa belum cukup dengan memberi tahu bahwa aku bukan ibunya, hingga sekarang kau ingin mempertemukan Kai dengan orang tuanya." suara sofia bergetar. sebisa mungkin ia menahan air mata agar tidak jatuh dan terlihat lemah.


"Cepat atau lambat mereka akan bertemu, Sofia. jadi kapanpun itu terjadi kau harus siap dan menerima semuanya." Tegas Albert.


"Kau bisa berkata seperti itu karena kau tak mengalami apa yang aku rasakan. selama ini kau selalu bersama Aldi. kau tak pernah jauh darinya. tapi aku, aku sudah pernah kehilangan, Albert. kau mengerti itu!" Pertahanan sofia pun runtuh. ia tak tahan untuk tidak menangis. ia tergugu di tempatnya. bayangan Kai yang akan lebih menyayangi orang tuanya dari pada dirinya yang selama ini merawatnya membuatnya takut. ia belum siap dan tak akan pernah siap.


"Aku mengerti, bahkan sangat tau bagaimana rasanya kehilangan." Albert berdiri berjalan sedikit menjauhi sofia dan membelakanginya. "Kau kehilangan anakmu tapi kau masih memiliki kesempatan untuk melihat dan merawatnya Kai dulu. tapi kinan..." Albert menjeda ucapannya "Kinan berpisah dengan Aldi tanpa bisa melihatnya. begitupun dengan Zahra. jika malam itu kau mau berbaik hati sedikit saja, kinan tak akan kecelakaan dan ia tak akan berpisah dengan zahra." Albert menghakimi Sofia tanpa ampun.


"Kau tak seharusnya mengungkit masalah Kinan di masa lalu. sekarang yang jadi masalahnya adalah Kai!" Sofia bangkit dari duduknya dan berjalan cepat ke hadapan Albert. "Kau menggunakan masa lalu hanya sebagai alasan, alasan untuk membalasku. iya kan albert? dan aku yakin ini semua juga karena kau hanya ingin agar terlihat baik di depan Kinan. kau sungguh licik." Sofia tersenyum sinis.


"Anggaplah aku licik. tapi aku ingin memperbaiki keadaan. dengan adanya Kinan atau tidak masalah ini akan tetap muncul. orang tua kandung Kai akan tetap datang. harusnya kau mengerti itu."


"Tidak! aku tidak mengerti dan tak akan mau mengerti. Kai putraku hanya milikku. tak akan kubiarkan siapapun memisahkan kami. cukup aku kehilangan putraku. aku tak ingin lagi." Sofia histeris. hingga Kinan yang keluar dari ruang kerja paling akhir dapat mendengar dengan jelas suara teriakannya.


"Sudahlah Sofia, Kai pria dewasa, bukan anak kecil yang harus selalu kau gemggam tangannya. ia bisa menentukan sikap. jika kau menyayanginya dan tak ingin benar-benar kehilangan, berhentilah mengusik mereka. biarkan Kai menentukan jalan hidupnya." Suara Albert melemah. ada rasa tak tega melihat sofia terpuruk seperti itu.


Sofia keluar dari ruang itu masih dengan lelehan air mata. lihatlah wanita yang beberapa menit lalu masih bisa mengangkat kepala dengan sombongnya kini menjadi sangat rapuh.


Albert duduk di atas kursi kebesarannya menyandarkaan tubuhnya dan menatap langit-langit ruang kerjanya.


Terlalu lelah hanya untuk keluar dari sana. pembicaraannya dengan sofia cukup menguras energinya.


Di dalam kamar, kai masih memikirkan kebenaran tentang siapa ayah kandungnya. ia masih belum bisa menerima jika dulu ayahnya adalah orang yang suka berkecimpung di dunia hitam.


"Mafia.." kata itu berkali-kali Kai ucapkan. "Jadi aku anak seorang mafia, ironis sekali." Kai tertawa samar. menertawakan dirinya sendiri.


Kai masih terhanyut dalam lamunannya, hingga ia tak menyadari ada sepasang mata yang mengawasinya yang cemcerut kesal karena lelah menunggunya.


Zahra berjalan ke arah balkon tanpa banyak bicara ia meraih daun pintu yang menghubungkan balkin dan kamar tidurnya.


Ceklek.


Zahra menutup pintu dan menguncinya. kai lantas tersadar dan berjalan cepat ke arah pintu. dan memutar handlenya. Kai memohon dengan isyarat matanya namun percuma karena arwah singa yang merasuki tubuh wanita hamil itu kembali murka.


"Malam ini kau tidur di luar." Zahra berkata hanya dengan isyarat bibirnya. Membuat kai semakin membulatkan matanya.


Cupp


Zahra meninggalkan satu ciuman di kaca untuk memperolok Kai. "Good night, have a nice dream baby." ucapnya lagi. Kai melihatnya dengan tatapan memohon yang sama sekali tak di hiraukannya.


"Damn" umpat kai dalam hati namun dengan cengiran kepalsuan. agar tak membuat Zahra semakin murka.


Shit! umpatnya berkali-kali namun sayang Zahra tak mendengarnya. justru ia masuk kedalam selimut hangatnya tanpa rasa berdosa.


Sepertinya arwah singa ganas yang merasuki tubuh Zahra belum menghilang sejak kejadian tadi pagi.


"Kita lihat, dalam hitungan ke 30 kau akan berbalik." Kai bermonolog lalu menidurkan dirinya di atas sofa bed yang ada di balkon dengan menghadap ke arah Zahra dan mulai menghitung mundur.


Dan tepat seperti dugaannya, Zahra tampak gelisah dalam hitungn ke 20.


"10 detik lagi." kai tersenyum karena melihat Zahra yang sepertinya mulai kesal.


"10... 9... 8..." Kai masih menghitung, dan Zahra duduk dari posisi tidurnya.


"7... 6... 5... " Kai tersenyum melihat zahra menyibak selimutnya.


"4... 3... 2..." Zahra turun dan berjalan ke arah pintu.


"1..." Ceklek! Tepat di hitungan terakhir Zahra membuka kunci dan berjalan mendekat.


"Merindukanku hmm?" Kai menyambut tubuh Zahra yang tidur di sampingnya dalam sofa bed yang sangat sempit.


Zahra tak bersuara hanya bibirnya saja yang terlihat lebih lonjong dari biasanya.


"Tidurlah!" Kai merapatkan pelukannya dan membiarkan Zahra tertidur dengan lelapnya.


Panasnya kota Jakarta malam itu tak menjadi masalah bagi mereka, karena mereka tidur berselimutkan udara malam. dan Kai membawa tubuh Zahra ke dalam kamar setelah melewati tengah malam. melanjutkan mimpi indah yang sempat tertunda.


***


Kalian suka dengan part ini??? hadiahnya dong...


***