
Happy Reading....
Selama dua bulan zahra tidak melakukan apapun. sekarang ia tinggal di rumah Renita, teman seperjuangan ibunya. Kandungannya sudah memasuki usia 7 bulan. mengharuskan ia lebih banyak beristirahat.
Dan selama itu juga Zahra belum bertemu dengan kania, wanita itu sudah mengetahui bahwa saat ini ia berada di rumah peninggalan ibunya.
Selama ini Renita dan kania memang mencari keberadaan Kinan, namun kinan menghilang seolah di telan bumi, tak ada kabar dan tak ada berita. hingga setelah 18 tahun Zahra muncul.
Zahra si gadis miskin tak lagi menjadi miskin, kini ia telah jadi pewaris dari pabrik garmen terbesar di indonesia.
Usaha konveksi yang di rintis ibunya 18 tahun yang lalu kini menjadi yang terbesar di bandung. hidupnya berkecukupan dari usaha yang di tinggalkan untuknya.
Seharusnya Zahra bahagia karena ia tidak perlu lagi memikirkan pekerjaan. hidup berkecukupan meski hanya dengan berdiam diri di dalam kamar. namun tidak, zahra tidak bahagia. hatinya menghianatinya. diam-diam ia merindukan suara kai. suara ayah biologis dari bayinya. meski setiap malam ia tertidur dengan memeluk aroma maskulin tubuh kai.
"Aku merindukanmu kai, tapi kita tidak mungkin bersatu." lirihnya dalam hati.
Zahra menyiksa dirinya dalam diam. tak ada yang tau bagaimana keadaan hatinya saat ini. menyembunyikan tangis dalam tawa. berlaku seolah tak ada yang terjadi, namun kenyataannya hatinya remuk redam.
Tok... tok... tok...
"Zahra, kamu sedang apa nak?" Renita membuyarkan lamunan Zahra. gadis itu hanya memandang ke arah luar jendela. menghitung rintik hujan yang menerpa kaca jendela. berlomba- lomba untuk sampai ke bumi. seperti kebiasaannya saat merindukan kai. ya, zahra sangat menyukai hujan karena hujan selalu mengingatkannya pada kai.
"Tidak ada tante." tetap pada posisinya, setia menikmati hujan.
"Apa yang kau fikirkan? apa kau masih memikirkan ayahmu? apa kau ingin bertemu denganya?"
"Tidak tante, aku tidak memikirkannay. jika dulu sebelum ia mengusirku, aku selalu merindukannya dan ingin bertemu dengannya. tapi untuk sekarang aku bahkan tidak menganggapnya ada. satu-satunya orang yang aku rindukan saat ini adalah kakakku." bohong zahra, tentu saja ia tidak akan mengatakan bahwa ia merindukan kai.
"Apa hubungan kalian baik? Renita memegang tangan zahra dan mengajaknya duduk di tepi ranjang.
"Dia sangat baik kepada semua orang, aku sangat menyayanginya." zahra menghentikan ucapannya. ia tidak ingin Renita bertanya tantang hal lain.
"Lalu bagaimana dengan pria yang menghamilimu?" seperti dugaan zahra bahwa renita pasti membahasnya.
"Aku mohon tante, aku tak ingin membahasnya. jangan tanyakan apapun." Zahra tertunduk sedih.
"Apa dia tidak ingin bertanggung jawab atas perbuatannya? " Renita memaksa zahra. wanita itu memegang dagu zahra memintanya untuk menatap matanya.
"Bukan seperti itu yang terjadi, dia sangat ingin bertanggung jawab tapi ada hal lain yang terjadi." zahra membuang pandangannya ke arah lain karena ia tak ingin renita mencurigai kalau ia menyembunyikan sesuatu.
"Ada hal lain yang terjadi? apa itu? tentu saja karena ayahnya mengusirmu. benar seperti itu." suara renita meninggi. ia mulai kehabisan akal untuk membujuk zahra agar mengatakan siapa yang menghamilinya."Ya Tuhan, Takdir apa yang sedang kau jalani ini zahra. kau hamil dengan saudaramu?" Zahra menunduk menangis. ia membenarkan ucapan Renita. ia hamil dengan saudaranya namun Renita salah faham ia mengira Zahra hamil karena Aldi.
Renita menghela nafas berat, ia bingung harus bersikap. tidak mungkin ia memaksa dua orang saudara untuk menikah. "Tadi Aunty Kania telpon, beberapa hari lagi mungkin ia datang. setelah kau melahirkan kau harus ikut pergi bersamanya. lupakan kenangan buruk. mulailah hidup yang baru. kamu masih muda, masa depanmu masih panjang. lanjutkan pendidikanmu dan jadilah ibu yang baik untuk anakmu. dan jangan mengingat masa kelam. " Renita mengusap pundak Zahra dan beranjak pergi dari kamarnya.
Di Depan pintu, sebelum ia meraih gagang pintu. pintu sudah terbuka dari luar. cindi lah pelakunya. cindi, adalah putrinya yang berusia 16 tahun. ia masuk dan menghampiri Zahra.
"Mbak, keluar yuk, jalan-jalan daripada bengong aja di rumah. cuaca lagi bagus lo." bujuknya pada Zahra.
"Bagus apa an ini habis hujan pasti di luar dingin." zahra menolak karena memang ia sedang tidak ingin keluar.
" Ya udah kita belanja aja ke mall depan, temani aku, aku lagi pingin beli novel sama komik, yuk ah! plisss." rengeknya.
"Ya udah mbak siap-siap dulu, kamu tunggu di bawah. kita naik taksi aja ya, mang sapri sepertinya sedang keluar." zahra berdiri dan berjalan ke arah meja rias hanya untuk menyisir rambutnya. gadis itu semakin cantik seiring membesarnya usia kehamilannya.
"oke siap," cindi menirukan gaya prajurit. dan zahra tersenyum geli dengan tingkah gadis belia di hadapannya.
Dua gadis cantik itupun berangkat menggunakan taksi online yang sudah menunggunya.
***
"Bagaimana aldi, apa sudah ada titik terang dimana keberadaan adikmu?" tanya Albert dari seberang telpon.
"Belum dad, seperti mommy yang menghilang tanpa jejak, seolah mereka sengaja menghilang. sepertinya kita sedang mengulang sejarah saat ini" jawab aldi putus asa, pasalnya orang-orang suruhannya tak mampu menemukan jejak Zahra sedikitpun.
"Itu karena kau mencintainya dad, kau tergila-gila pada wanita itu." ejek Aldi.
"Kau salah jika beranggapan seperti itu, daddy hanya mencintai ibumu. dia hanya pandai mengendalikan daddy" bela Albert tak terima.
"Tapi kau menyukainya dad." ucap Aldi sinis.
"Sudahlah! jangan bahas dia." putus Albert akhirnya. "Kurasa kania sudah menemukannya dan menyembunyikannya. dan jika itu benar maka ayah tidak akan mempunyai kesempatan untuk meminta maaf padanya"" sesal Albert.
"Jangan bilang begitu, kau tidak tau Zahra adalah gadis yang baik. dia pasti memaafkanmu. percayalah!" hibur aldi.
"besok aku akan keluar kota untuk beberapa hari, setelah itu aku akan menyusulmu. aku ingin melihat keadaan kai. bye dad." putus Aldi akhirnya.
***
Saat ini, Zahra dan cindi sudah berada di mall terdekat yang ada di rumahnya. setelah di guyur hujan sejak pagi, kota ini menjadi lebih sejuk di banding dengan hari biasanya.
Di siang beranjak sore hari itu, mereka berdua sedang berjalan-jalan di are baby shop setelah keduanya keluar dari toko buku. seperti tujuan awal mereka, mereka hanya akan membeli novel dan komik saja. namun saat Zahra melihat koleksi pakaian bayi, secara naluriah calon ibu muda itu berbelok ke dalam toko perlengkapan bayi. matanya berbinar melihat pakaian-pakaian bayi dengan berbahan sangat lembut berada di atas tembok di cantol rapi.
Zahra yang tengah asyik dengan acara pilih memilihnya yang ditemani oleh cindi tidak sadar jika waktu semakin gelap. dan mendung kembali menyelimuti bumi.
Tak jauh dari mereka, seseorang tengah mengawasi gerak-gerik mereka. dan orang tersebut juga tengah mengambil video dari kameranya. entah siapa dia.
Gawai cindi berdering, renita menelponnya untuk menyuruh mereka pulang karena hari semakin sore dan alam mendadak gelap karena mendung yang hampir menumpahkan ribuan galon air untuk memberi kehidupab di bumi.
"Mbak, pulang yuk sudah sore ini. ajak cindi sambil menarik tangan zahra keluar dari toko.
"Bentar ya" ucapnya pada cindi.
" Ibu menelpon meminta kita segera balik karena mau hujan..." dan sebelum cindi menyelesaikan ucapannya, di luar gerimis mulai turun
Kedua gadis itu keluar dengan tergesa berlomba dengan hujan yang mulai deras.
dan tiba- tiba terdengar suara jeritan dari arah belakang cindi. Zahra terpeleset karena berjalan cepat. tubuh Zahra limbung dengan posisi pinggulnya menghantam lantai terlebih dahulu.
"Mbak!" Jerit cindi saat melihat zahra yang meringis sambil memegangi perut bagian bawahnya.
"Cindi, sakit sin. erangnya sambil memegang perutnya. zahra menangis dan menjerit mengundang banyak mata untuk segera melihat ke arahnya. orang-orang yang berada di sekitar mereka berlari mendekat untuk melihat apa yang terjadi.
Darah mengalir deras dari ************ zahra melewati kakinya. gadis itu semakin keras menjerit menahan sakit dan cindi yang tidak mengerti harus berbuat apa ikut menangis.
"Mbak.. mbak.." panggil cindi di tengah kepanikannya. namun Zahra tidak menjawab. wajahnya semakin pucat.
Seorang pemuda berjalan setengah berlari datang menghampiri mereka, dengan cepat ia membuka jas yang di kenakannya dan menyelimuti bagian bawah tubuh Zahra, karena waktu itu zahra memakai dress hamil sebawah lutut.
Secepat kilat ia menggendong zahra ala bridal. hendak membawanya ke rumah sakit. di ikuti cindi di belakangnya.
"Zahra... zahra!" panggilnya untuk membuat zahra tetap terjaga. namun zahra yang kesakitan tak menjawab matanya hampir terpejam, semakin gelap, gelap dan gelap. Zahra pingsan.
***
...Jreng.. jreng... jreng......
Ayo tebak siapa yang nolong mbak zahra ???
ritualnya gengs..
Like comment and vote, gift seikhlasnya biar othor semakin semangat buat update.
jangan ngeluh karena cuma 1 bab, karena ini udah puanjang banget. kalo mau dobel part othor bakal edit nih jadi 3 episode. mau???
lots of luv Chanda 💕💕💕