
Happy Reading...
Pov zahra.
Embun menyambut pagiku yang cerah. membuat hatiku ringan tak berbeban.
Semalam aku mendengar kabar, bahwa hari ini ia mungkin ia akan menemuiku. Dia, orang yang kusembunyikan dalam sudut hatiku. yang diam-diam selalu ku puja.
Entahlah, aku harus senang atau sedih. sejujurnya aku ragu untuk menemuinya. Tidak, lebih tepatnya aku takut.
Aku takut mengakui bahwa pria yang memiliki darah yang sama denganku dan juga anakku adalah orang yang aku inginkan untuk menemaniku melewati masa.
Pagi beranjak siang. akhirnya penantianku telah sampai. sayup kudengar langkah kaki mendekati pintu.
Ku dengar satu ketukan yang mentitahkan aku untuk segera beranjak, tapi tidak, aku hanya bergeming di tempatku.
Kudengar ketukan kedua, kakiku melangkah bukan untuk meraih gagang pintu, membuka, dan menyambutnya dengan senyuman. atau bahkan pelukan.
Ku lihat cindy yang berjalan kearah pintu karena ku yakin ia yang tengah menggendong putraku juga mendengar ketukan di pintu itu.
Aku segera berlari, menyembunyikan diri. namun aku masih bisa melihat interaksi keduanya.
Ku dengar putraku bergumam "da..da..da.." mungkin ia tengah berusaha mengucapkan kata daddy untuk memanggil orang yang baru saja di temuinya.
Lihatlah, betapa putraku bisa merasakan bahwa ia adalah orang yang membuatnya hadir di dunia ini. takdir telah mempertemukan mereka. seperti ungkapan Kehidupan akan menemukan jalannya. begitulah.
Ku dengar isak tangis haru dari seorang pria yang sudah tak pantas lagi untuk di sebut bocah. hatiku trenyuh melihat putraku dalam dekapannya. tidak, aku tidak melihatnya. aku hanya meliriknya. sekali lagi kutekankan aku tidak mempunyai kekuatan untuk melihatnya.
Ku dengar langkah kaki mendekatiku. namun aku masih membelakanginya.
"jangan pergi lagi, kumohon" pintanya.
aku bergeming tetap berdiri mematung. tanpa menoleh sedikitpun padanya.
"Pergilah" tegasku.
Mungkin dia terkejut aku mengusirnya.
"Aku lelah dalam kesendirianku, ikutlah bersamaku." pintanya.
Aku senang sekaligus ragu dalam waktu bersamaan mendengar tuturnya.
"Kalau lelah maka berhentilah jangan paksakan dirimu." sahutku. karena kutau semua ini tak mungkin terjadi.
Aku tidak marah atau membencinya. tapi aku harus lakukan itu. keadaan yang memaksaku.
Aku belum bisa menerima dan memandangnya bukan karena membencinya. bukan!.
Dulu ia pernah berjanji akan menemuiku dan membiarkan aku menunggu sampai aku siap menerimanya. namun apa ini, dia berbohong.
Aku terkejut saat sepasang tangan kokoh tiba-tiba melingkar di perutku. memelukku erat dari belakang.
Harusnya aku marah, tapi jangankan untuk marah bahkan untuk berkata saja lidahku terasa kelu.
Bohong jika aku mengatakan aku benci ini. aku justru sangat menyukainya. inilah yang aku inginkan. pelukannya.
Bolehkah jika sekarang aku berharap kita bersama. bersama untuk saling memiliki.
Aku sudah jatuh terlalu dalam pada pesonanya meski tak pernah aku tau sebentuk wajahnya. hanya dengan membayangkan meski begitu sulitnya aku melukis bayangnya.
"Maaf!" lirihnya.
Aku tidak tau arti maaf yang ia ucapkan.
"Aku sudah memaafkanmu" jawabku tanpa ragu.
setidaknya hanya itu kata yang dapat aku temukan.
"Kau tidak bersalah.ini semua karena keadaan." jawabku. memang itu kenyataannya.
tiba-tiba aku merasa dia melonggarkan pelukannya.
itu kesempatanku untuk pergi menghindarinya. aku takut dia akan mendengar detak jantungku yang kuyakini sepuluh kali lebih cepat dari biasanya.
Lalu aku beranjak meninggalkannya. aku sudah tidak kuat berada bersamanya dalam jarak sedekat ini.
Aku hanya takut tak dapat mengendalaikan perasaanku. yang semakin hari semakin dalam.
***
Author pov.
Waktu berlalu, 3 tahun sejak zahra memintanya untuk menunggu. namun penantian kai tiada berujung. Zahra kembali menghilang, menyisakan harap.
Kai masih dalam kesendiriannya. pria itu baru menyadari bahwa zahra memang tidak berniat untuk kembali.
Seperti saat ini, pemuda itu baru menginjakkan kakinya di sini. setelah sebulan terakhir ia berada di singapura untuk melebarkan sayap membangun perusahaan baru.
Dari bandara kai tidak langsung pulang ke apartemennya, seperti biasa ia akan menganggu aldi yang sibuk di kantornya.
"Kau di sini, kapan kembali?" sapa aldi yang tiba-tiba melihat kai dengan wajah lelahnya duduk bersandar di hadapannya.
"Entah untuk keberapa kalinya aku tanyakan ini, tapi aku tak akan pernah bosan. Dimana adik kesayanganmu itu kau sembunyikan aldi?" tanya kai putus asa.
"Kenapa kau tak melanjutkan hidupmu tanpa zahra, bukankah itu akan lebih menyenangkan." ucap aldi. dengan gamblangnya yang meminta kai untuk melupakan zahra.
Kai mendengus kesal. "Kau sama saja memintaku untuk bunuh diri."
Aldi mendongak mendengar penuturan kai. "kau berlebihan sekali." aldi tersenyum mengejek.
"Jika tau ia akan meninggalkanku lagi, mungkin saat itu aku akan membawa rain pergi bersamaku." kai berdecak kesal.
Aldi justru terkekeh. "dan kau akan berhadapan dengan aunty kania, seperti daddy yang sampai saat ini tidak di ijinkan untuk menemui zahra." aldi berdecih.
"Tantemu sungguh keterlaluan." kai mendelik sebal. "Harusnya ia tak membawa-bawaku dalam urusan dendam kalian. karena aku tidak bersalah." sungut kai.
"Tentu saja kau juga bersalah karena kau salah satu dari mereka." aldi malah memojokkan.
"Tunggulah sebentar lagi, zahra hanya butuh waktu untuk menyadari semuanya." jelas aldi.
"Menyadari apa maksudmu?" tanya kai penasaran.
"Menyadari perasaan bodohnya terhadapmu." ucap aldi datar. dan mendapatkan tatapan membunuh dari kai.
"Sabarlah kai, kau hanya perlu menjaga mommy sofia agar tak ikut campur dalam masalah kalian." aldi menasehati.
"Kali ini aku tidak akan membiarkan mommy bertindak semaunya." janji kai kesal karena sikap sofia yang selalu ingin mengusik zahra.
Hening sejenak.
"Ceritakan bagaimana pekerjaanmu." aldi mengalihkan pembicaraan agar ka tidak terus memaksanya memberitahukan keberadaan zahra.
Ya, saat ini zahra kembali pergi menghilang tak mwmberikan kabar apapun kecuali kepada aldi.
Namun aldi juga tidak mengwtahui pasti dimana zahra tinggal. zahra juga meninggalkan tempat tinggalnya di london. ia takut kai akan menyusulnya.Aldi dan zahra hanya berhubungan lewat jaringan seluler.
"Bulan depan aku akan ke india, melihat langsung perkebunan kapas di sana. aku akan memasok langsung dari petani disana." kai bercerita.
"Wow, sebentar lagi kau pasti akan kaya raya." ucap aldi membesar-besarkan.
"Aku sudah kaya sejak lahir, apa kau lupa itu. kai tersenyum miring.
"Ya.. ya.. ya... orang kaya yang kesepian" aldi tergelak mentertawakan kai yang sedang kesal.
Dan sore itu dua pemuda menghabiskan waktu sore mereka dengan saling mengejek dan mentertawakan kekesalan masing-masing.
***
"Rain..." panggil zahra karena rain mengunci diri di dalam kamar.
Pemuda berusia 3,5 tahun itu semakin pintar dan kritis dalam berfikir.
"Open the door, please!" mohon zahra agar putra kecilnya mau membukakan pintu.
"No mom! leave me alone!" teriak rain lantang dari dalam kamar.
"Honey..." mohon zahra.
Dengan menghentakkan kaki rain berjalan dan membukakan pintu untuk zahra.
"What going on rain?" Zahra dengan lembut bertanya perihal rain yang uring-uringan.
"I wan't go to school!" ketusnya.
"But Why?" tanya zahra heran.
Rain tak menjawab, hanya matanya yang mengisyaratkan bahwa anak kecil itu sedang sedih.
Zahra menghela nafas, ia sudah bisa menebak sebab kenapa rain akhir-akhir ini sering marah dan memberontak.
***
👍👍👍 jangan ketinggalan
vote.. vote... vote...
lots of luv chanda 💕💕💕