
Happy Reading...
Bang Aldi datang menyapa...
Matahari sudah tepat di atas kepala saat aldi yang sedang berada di depan villanya.
Pemuda itu memaksa untuk mengantar dea kembali ke villa dengan alasan agar ia tak terlalu lelah mengingat usia kandungannya yang sudah memasuki usia 7 bulan.
Siang itu aldi diam-diam melakukan pencarian terjadap wanita yang berwajah kinanti.
Sendirian ia menelusuri pantai berharap ia akan kembali wanita itu. ia memutuskan untuk tidak memberi tahukan perihal wanita yang mirip dengan ibunya kepada albert atau siapapun sampainia yakin bahwa yang ia temui itu adalh kinan.
Matahari telah tergelincir di langit barat. namun aldi masih berharap ia akan menemui wanita itu.
Ia segera bergabung dengan yang lainnya untuk menikmati senja.
"Kau meninggalkanku sejak siang, apa kau menemukan hal menarik lainnya?" ketus dea yang yak menemukan aldi saat ia terbangun dari tidur siangnya
"Apa kau merindukanku?" godanya yang melihat dea sedikit manyun.
"Kau dari mana saja kak seharian kau menghilang?" tanya zahra yang saat itu membuat istana pasir bersama Rain dan juga Kai.
" Aku bosan melihat kalian yang selalu menempel, seharusnya kalian membooking pantai ini sendiri." Aldi menimpali pertanyaan zahra dengan jawaban yang konyol. karena tidak mungkin ia mengatakan bahwa ia berkeliling sendirian tanpa dea.
"kau benar uncle, mereka bahkan mengacuhkan aku seharian. mereka membiarkan aku bermain sendiri bersama granpa." sungut rain sambil melirik ke arah kedua orang tuanya yang selalu tampak mesra.
Mendengar penuturan Rain yang terlalu jujur membuat kai dan zahra reflek menggelengkan kepala bersama.
Tapi tidak dengan kania. wanita itu sangat peka. meski pandangannya mengarah pada Daniel dan edward yang sedang bermain ombak, wanita itu selalu memasang mode on siaga dalam telinganya.
Namun ia menahan diri agar tidak menanyakan hal itu pada aldi mengingat semua orang adaa di sana. termasuk sofia yang juga terlihat aneh setelah ia kembali dari acara jalan-jalannya.
Matahari telah tenggelam dan terganti oleh sinar rembulan yang nampak memucat.
Malam itu mereka memutuskan untuk makan malam di area terbuka. dengan di iringi candaan ringan dan celoteh rain yang membuat suasana begitu hangat.
"Apa ada yang tidak aunty ketahui" tanya kania saat melihat aldi duduk sendiri dan yang lain sibuk dengan acara sendiri-sendiri.
"Aku melihat seorang wanita yang sangat mirip dengan mommy" aldi dengan suara lirih.
Mata kania membulat sempurna tak percaya "Kapan? dimana?"
"Kemarin di pantai. aku melihatnya tepat di belakang daddy. tapi daddy tak melihatnya karena sibuk dengan rain. aku mencoba mengejarnya tapi aku kehilangan jejak. dan aku sudah mencarinya seharian tapi aku tak menemukannya." dengan suara pelan.
"Kita harus segera menemukannya aunty." imbuhnya penuh penekanan.
"Kita tidak tau siapa dia atau dimana dia. bisa jadi dia sudah pergi kemarin." kania ragu.
" kita harus tetap mencarinya, meski kemungkinannya sangat kecil." aldi tak mau menyerah begitu saja.
Banyak pertanyaan di otak pemuda itu. tak akan ada yang mengira di balik sikapnya yang tenang ia adalah pemuda yang selalu bisa di andalkan.
"Cari cara agar kita bisa pergi dari sini secepatnya. kita harus menemukan wanita itu tanpa ada orang lain yang tau." ucap kania sambil mengedarkan matanya. takut ada yang menguping pembicaraan mereka.
Aldi tampak berfikir dan akhirnya mengangguk samar. ia sudah memutuskan untuk mencari keberadaan kinan dengan menyuruh orang lain.
Dan selama beberapa hari ini pencarian tak mwmbuahkan hasil. tapi ia tak ingin menyerah.
***
Di sudut lain sofia juga tampak mengerutkan dahi, pertanda ia tengah berfikir keras saat ini. sudah beberapa hari pula ia tampak cemas.
Apa yang harus aku lakukan sekarang. jika bukan albert pasti ia yang akan mengatakan semua pada kai.
Baiklah! mungkin sudah waktunya kai mengetahuinya. lebih baik aku memberitahukan sendiri. itu lebih baik dari pada ia tau dari orang lain.
Malam semakin larut namun sofia masih terjaga. ia sudah memutuskan untuk menceritakan perihal kedatangan Ravi, ayah kandung kai.
***
Malam berlalu, mentari menjelma dengan indahnya. menjanjikan suguhan alam dengan kehangatan tiada tara.
"Rain... Rain..." Zahra di buat kebingungan karena Rain tiba-tiba menghilang setelah menyelesaikan makan paginya.
Hari ini adalah hari terakhir mereka di pulau Dewata. dan selama seminggu mereka menghabiskan waktu untuk menikmati suguhan alam dari keindahan pantai. berpindah dari satu pantai yang lain.
"Kenapa sayang?" kai bertanya karena melihat wajah panik zahra.
"Apa kau melihat Rain?" zahra dengan raut cemasnya.
Kai menatap wajah zahra yang terlihat sangat cemas. agaknya otaknya belum terkonek sempurna dengan keadaan sekitar.
"Rain? mungkin dia bersama daddy atau aunty kania." Kai masih dalam mode tak mengerti.
"Kai... Rain menghilang kau masih tenang disini?" geram zahra dengan kesalnya karena kai kembali sibuk dengan gawai di tangannya. entah apa yang di lihatnya.
"Rain hilang? bagaimana bisa?" kai seperti tersadar setelah zahra berteriak.
"Kalau aku tau dia dimana aku jemput dia sendiri dan aku tak akan mengganggumu dengan gawai di tanganmu itu." ketus Zahra meninggalkan kai yang terbengong tak percaya wanitanya mampu berteriak. yang ia tau zahra tak bisa bersuara keras kecuali saat mereka sedang olahraga malam.
"Sayang kau meneriakiku?" kai masih bergeming di tempatnya.
"Ya dan akan terus aku lakukan!" sambil ngeloyor pergi meninggalkan kai yang berlari kecil mengejarnya.
"Hah! dulu saja ia seperti tak mau berpisah dan sekarang dia lebih mementingkan pekerjaannya." gerutu zahra sambil berjalan cepat ke arah pantai.
"Aku mendengarnya sayang." ucap kai sambil mensejajarkan langkahnya dengan zahra.
"Kau baru mendengarnya sekarang, apa kabar tadi pagi kau sibuk sendiri." zahra terus dengan gerutuannya.
Kai yang gemas dengan tingkah wanitanya secepat kilat menarik pergelangan tangan zahra hingga membuatnya berbalik dan jatuh ke pelukan kai.
"Kau cerewet sekali." zahra terkesiap. kai menyambar bibir zahra dan ********** di tempat terbuka.
Dengan cepat zahra mendorong dada kai untuk menjauhkan tubuhya, namun pelukan kai yang semakin erat membuat tubuhnya tetap menempel sempurna.
"Apa yang kau lakukan, lepas!" zahra mendelik tajam.
"Apa? hanya mencium." ungkap kai tanpa dosa.
"Tak tau malu dasar mesum." zahra berlalu dengan wajah memerah karena malu dan mempercepat jalannya. kai hanya terkekeh sambil mengejar zahra yang sudah jauh meninggalkannya.
***
"Kau bersama siapa nak?" tanya aisyah pada rain yang tiba-tiba duduk di sampingnya dan menyaksikan aktifitas aisyah yang sedang membersihkan barang-barang.
"Aku sendiri." ucap rain dengan pongahnya.
"Lalu kemana orang tuamu?" tanya aisyah lagi.
"Mereka semua di villa." jawab rain dengan santainya.
"lalu kenapa kau keluar sendiri? apa kau tidak takut?" aizah menghentikan pekerjaannya dan menoleh menelisik wajah pria kecil di sampingnya.
Ada rasa tak biasa saat ia memperhatikan raut wajah tampan Rain. yang membuat kepalanya berdenyut nyeri.
"Rain tidak takut. Rain sudah besar. mommy bilang Rain anak pintar dan daddy bilang Rain anak hebat. dan semua orang bilang Rain tiada duanya." ucapnya pongah sambil berdiri merentangkan kedua tangan.
"jadi namamu Rain? kau lucu sekali." ucap aizah sambil mengusap pucuk kepala rain.
Dan di luar toko terdengar kebisingan suara seorang wanita meneriakkan nama rain.
"Rain.."
"Rain..."
Kania berteriak memanggil rain, ia ingat waktu pesta rain ngotot ingin pergi ke toko itu.
"I'm here." teriak rain dari dalam rumah.
Mendengar suara rain terdengar dari dalam toko, kania segera melangkah memasuki toko dimana rain berada.
Pemandangan kania mendelik tajam saat berhadapan dengan wanita yang menggenggam pergelangan tangan Rain.
Kania seperti kehilangan otot-otot dalam tubuhnya. ia seperti melayang dari tempatnya berpijak. ia sampai harus berpegangan pada tembok karena tubuhnya seperti mau pingsan.
"kakak..." lirihnya tertahan dengan air mata yang hampir saja tumpah.
***
Noooh.. sp kemarin yang minta iasyah ketemu sm kania, boleh banget kirim bunga sekebon.
like, komen ..
vote... vote...