Daddy'S Love

Daddy'S Love
Part. 97



Happy Reading...


Sebentuk senyum tak lekang dari wajah tampan kai saat memandang wajah istrinya yang terlelap dalam pelukannya.


Sesekali ia terlihat memejamkan mata, berusaha untuk menahan air mata yang menggenang di pelupuk mata. agar tak tumpah ruah dan menjadikannya lemah.


Tanpa ada yang tau bahwa pria tangguh itu dalam keadaan rapuh saat ini.


Hati kai hancur dan bahagia dalam waktu bersamaan. ia menangis di sela-sela senyumnya namun ia memaksa untuk tersenyum dalam derai air matanya.


Terlalu banyak kejutan yang ia terima akhir-akhir ini. kebahagiaan datang tanpa ia duga namun kesedihan menghampirinya tanpa meminta izinnya.


Hati kai hancur mana kala ia mengetahui bahwa wanita yang ia sayang adalah monster berwajah cantik.


Setelah terbongkarnya kebohongan sofia yang membuatnya cukup kecewa, tuhan menukar kekecewaannya dengan kebahagiaan. kedatangan kinan merupakan penawar dari rasa sakit yang selama ini kai rasakan karena kelicikan sofia yang memisahkan keluarga kecil yang seharusnya berbahagia.


Lalu dengan pingsannya zahra, merupakan satu hadiah yang Tuhan anugrahkan padanya. Tuhan memberikan kesempatan kedua kepadanya untuk menebus kesalahan dan rasa sakit yang ia torehkan pada wanita yang kini menjadikannya sandaran hidupnya. wanita yang ia ingin perjuangkan kebahagiaannya.


"Terima kasih kau telah hadir untuk yang kedua kalinya." kai membelai lembut perut zahra. dimana telah bersemayam makhluk kecil yang akan melengkapi keduanya. dengan seulas senyum yang berkejaran dengan air mata.


Dan sekarang, tuhan memberinya kejutan yang lebih dahsyat dengan kenyataan bahwa orang yang selama ini ia tau adalah orang tuanya ternyata bukan orang tua kandungnya.


Flashback on.


Pagi menjelang, membangunkan jiwa-jiwa yang tengah terlelap. menyambut wajah-wajah bahagia melepas lelah.


Zahra menggeliat, mengerjapkan mata menyesuaikan cahaya jingga yang menyapa kornea mata bulatnya. gerakannya yang lembut memaksa sosok pria yang telah memaksanya menjadikannya pendamping terganggu dari mimpi indahnya.


"Morning." suara serak khas bangun tidur menyapanya dengan mata masih terpejam. disusul kecupan lembut menyapa bibir ranum sebagai awal di mulainya hari.


"Morning."


Masih dalam posisi yang sama, kai memandang zahra dengan pandangan penuh cinta. tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut keduanya, namun tatapan mereka menunjukkan semuanya.


"Apa kita akan seharian seperti ini" zahra memutus pandangan terlebih dahulu.


Kai terkekeh "Aku bahkan rela menghabiskan seumur hidupku untuk memandangmu."


"Kai, katakan bahwa aku tidak sedang bermimpi. aku takut apa yang aku lihat semalam hanyalah ilusi. aku.."


"ssstt.. tenanglah. ini semua nyata. kau tidak sedang bermimpi. ibumu masih hidup dan saat ini pasti ia sudah menunggumu." kai membelai lembut pipi zahra dengan punggung jari tengahnya untuk menenangkanmya.


Setengah jam kemudian, kai dan zahra turun. semua orang sudah berkumpul di meja makan tanpa terkecuali sofia.


Entah kapan wanita itu datang karena setelah kehebohan malam itu, sofia menghilang dan tiba-tiba pagi ini ia sudah berada disana.


"Morning.." sapa kai dan zahra bersamaan dan di sambut semua yang hadir di meja makan .


"Morning son." sapa sofia dengan manisnya. entah apa yang di rencanakan namun itu sama sekali tak membuat orang lain terganggu.


"Morning mom." kai membalas sapaan sofia tanpa mengalihkan pandangannya. karena saat ini kai sedang sibuk gadget di tangannya.


"Berhenti mengacuhkanku kai, kau sama sekali tidak menghargai mommy disini." sofia mencoba menunjukkan kekuasaannya. padahal ia sudah sering melihat kai sibuk dengan gadget di meja makan dan ia tak pernah terganggu dengan hal itu. Namun pagi ini sofia sepertinya ingin mencoba menguasai semuanya kembali.


Kai mendongak, namun ia tak mengatakan sepatah katapun. hanya sebelah alisnya terangkat seolah memberi tahu bahwa ia tak peduli.


Terdengar suara kekehan kecil. "Sepertinya kau baru menyadari bahwa istrimu ini sangat menyukai keributan, kakak ipar." seperti biasa, kania selalu bisa mencari celah untuk mencibir dan memojokkan albert. dan menekankan kata kakak ipar.


"Kania..." tegur kinan. membuat kania berdecih sebal.


Suasana hening, tak ada yang bersuara dalam acara makan pagi itu. hanya suara sendok dan garpu yang yang bertabrakan menimbulkan suara denting sebagai irama pagi.


"Mulai sekarang aku akan tinggal di sini. di rumah putraku." kembali sofia membuka suara. " dan mulai saat ini, semua orang harus mentaati aturanku karena akulah nyonya besar di rumah ini."


Sofia memulai sesi intimidasinya. namun tak ada yang menanggapai apaun yang keluar dari mulutnya.


"Baiklah nyonya!" suara rain yang terdengar seolah mencibir apa yang diinginkan sofia. membuat orang memalingkan muka menoleh kearahnya dengan mengulum senyum.


"Apa kau yakin dengan ucapanmu itu rain?" kania pun memulai sesi cibirannya.


"Aku hanya takut dia tidak kerasan lalu pergi dengan menangis." ucap rain dengan polosnya hingga membuat kania tak dapat menahan untuk tidak terbahak.


"Rain, jaga ucapanmu. kau tidak boleh bersikap tidak sopan." tegur zahra.


"Yes mom, i'm sorry."


Ucapan polos rain membuat semua orang tersenyum namun tidak dengan sofia. ia merasa di permainkan dan tidak di hargai. padahal memang seperti itu keadaanya.


"Kau tidak perlu berpura-pura baik. padahal kau sendiri yang mengajarkan anakmu untuk bersikap tidak sopan terhadapku." bentak sofia.


"Mom! stop it." kai yang sedari tadi diam akhirnya mengeluarkan suara.


Pandangan tajamnya membuat sofia salah tingkah. namun wanita itu berusaha untuk tidak terlihat ketakutan.


"Aku tidak percaya kau membentakku demi wanita itu kai, kau keterlaluan. apa kau tak menganggap aku ibumu lagi." kembali sofia dengan sandiwaranya. Dasar ular.


Kai menutup mata rapat dan mengepalkan tangannya. menahan agar tidak berkata kasar terhadap ibunya.


"Albert, kenapa kau diam saja. apa karena ada kinan, apa kau takut padanya?" kembali sofia memancing emosi albert. ia hanya tidak sadar bahwa semua yang di lakukannya akan membuatnya semakin terjebak dalam masalah.


"Kucing tidak akan pernah berubah menjadi macan meski ia di tempatkan dalam kandang macan. bahkan dalam hutan sekalipun. kucing akan tetap menjadi kucing dan selamanya akan jadi seperti itu." ucap kinan ringan tanpa beban. namun itu cukup untuk membungkam sofia.


"Jika kau ingin memiliki kembali kekuasaanmu, maka pergilah ke tempat asalmu. karena semua yang kau lakukan, sama sekali tak berdampak apapun terhadapku."


Semua orang menjadi diam tak berani bersuara, aura ketegasan kinan benar-benar dapat menghipnotis semua orang.


Atmosfer ruang itu serasa semakin dingin karena dua orang yang saling bersitegang.


"Jika kau sudah selesai, bawa rain bersamamu. masuklah!" titah kinan pada zahra.


"Baiklah bu?" tanpa banyak bicara, zahra membawa rain untuk masuk agar tak mendengar pertengkaran mereka yang semakin memanas.


Suasana kembali hening, namun hawa panas menjalar dengan tatapan dua orang yang saling memendam dendam. seperti bom waktu yang siap meledak.


***


maafkan diriku yang baru nongol gengs...


dunia nyata sedang meminta perhatian othor yang multi talenta ini. wkkk