
Happy Reading...
"Kinan meninggal karena, me.. me..."
"jangan bertele-tele sofia, cepat katakan!" bentak Albert menggelegar sambil berdiri dari tempatnya semula duduk. hingga sofia terlonjak kaget.
" kinan.." suara sofia tercekat di tenggorokan. "Kinan meninggal karena, me.."
sofia tak kuasa menahan kegugupannya. jantungnya berdegub bertalu-talu seakan ingin melompat dari sarangnya. tubuhnya bergetar hebat seiring dengan suara bentakan albert dan pandangan kai tajam menghunus jantung.
"kau tak perlu repot menjelaskannya sofia." suara seorang wanita menginterupsi sofia. suara dari pemilik orang yang tak pernah takut terhadapnya. kania.
Sontak ketiga orang itu menoleh secara bersamaan ke arah sumber suara. pandangan mereka terpaku pada sosok yang begitu ia kenal dari masa lalu.
Wajah sofia pucat pasi melihat pemandangan di depan matanya. tak percaya dengan apa yang di lihatnya. tubuhnya melemah seketika. tak ada kekuatan dalam tubuhnya sehingga ia harus menopang tubuhnya dengan bersandar pada meja makan.
Albert mematung di tempatnya, setelah langkahnya mundur dua langkah secara reflek. mulutnya menganga dengan mata yang membuat sempurna.
Sedangkan kai, seketika menjadi pria bertampang bego menoleh ke arah sofia albert dan wajah yang baru ia lihat.
"Kinan..." ucap albert dan sofia secara bersamaan.
Mendengar nama kinan di sebut, reflek kai menoleh kearah albert menegaskan pendengarannya karena ia memang tak mengetahui wajah kinan selain dari foto masa mudanya.
Dengan langkah anggunnya dan wajah tegasnya kinan mendekat ke arah dimana orang-orang yang berkontribusi membuatnya menderita sedang berdiri dengan ketakutan masing-masing. di ikuti oleh kania dan aldi di belakangnya.
Berbeda dengan kai, pemuda itu tersenyum. dengan binar bahagia dan lelehan air mata. tak menyangka bahwa wanita yang sangat di rindukan oleh wanita tercintanya berdiri hanya beberapa langkah di tempatnya.
Flashback on.
Aldi mengantar kinan ke dalam kamar untuk kembali beristirahat. dan menutup pintu. aldi menemani kinan yang masih meracaau hingga suara wanita itu melemah dan terganti dengan nafas yang berhembus teratur menandakan ia telah terlelap.
Lalu aldi berniat untuk menghubungi dokter yang biasa menangani kinan. Namun sebelum aldi sempat mendial nomor tujuannya, terdengar pintu kembali terbuka dan kanialah pelakunya.
"Aunty.." sapa aldi.
"Bagaimana keadaannya" kania langsung berjalan mendekat ke arah ranjang tempat kinn berbaring.
"Dia pingsan lumayan lama, sepertinya ia mengingat sesuatu." ucap aldi tanpa mengalihkan pandangannya dari kinan.
"Apa dia mengalami sesuatu?" kania berdiri di samping aldi dan menelisik wajah kinan yang terlelap dengan tenangnya.
"Entahlah, suster menelponku. dia bilang mommy berteriak kesakitan lalu pingsan. saat dia terbangun dia memanggil nama kai." aldi menceritakan kejadian sesaat lalu.
kania terhenyak dengan apa yang di katakan aldi "Kai?" kania mengernyit. "bagaimana kakak bisa tau tentang kai. apa kau pernah menceritakan tentang kai." kania memandang aldi dengan pandangan penuh pertanyaan.
"itulah yang membuatku bingung. dia bangun dan menanyakan kai tapi justru mommy melupakanku." aldi menghembuskan nafas kasar.
Kania, wanita cerdas itu berdiri dan berjalan ke arah jendela kamar yang menghadap langsung ke taman.
"Pasti ini ada kaitannya dengan wanita ular itu. jika tidak, mana mungkin kakak menyebut nama kai. sedangkan dalam kehidupan yang sekarang ia belum pernah mengenal kai. tapi entah jika di masa lalunya ia dekat dengan kai." kania berspekulasi.
"apa kau ingat masa kecilmu, apa kau dan kai sangat dekat?" kaldi tampak mengingat sebelum menjawab pertanyaan kania.
"Aku masih terlalu kecil waktu mommy meninggalkanku. yang aku ingat kai tiba-tiba ada di rumah dan..."
"Eugh.."
Terdengar lenguhan kecil dari mulut kinan. matanya mengerjap dan kembali terpejam. menyesuaikan pantulan cahaya yang masuk ke retina matanya.
"Aldi cepat hubungi dokter." titah kania seraya berjalan cepat ke arah ranjang kinan.
"Tidak perlu." ucap kinan lirih namun masih dapat di dengar aldi sebelum kwluar dari kamar.
"aku sudah mengingat semuanya". seketika aldi berhenti melangkah dan membalikkan badan dan di ikuti kania yang tiba-tiba juga berhenti melangkah.
"kak kinan.."
"mom.."
Ucap aldi bersamaan. seketika keduanya menghambur ke arah kinan. keduanya tak percaya dengan ucapan yang keluar dari mulut kinan.
"Kak, kau mengingatku." tanya kania tak percaya. suaranya bergetar dengan air mata yang sudah bersiap terjun melewati pipi mulusnya.
"tentu saja, gadis bodoh." kinan merengkuh tubuh kania dengan berurai air mata. keduanya berpelukan sangat erat. melebur rindu dalam urai air mata.
"mom.." tubuh aldi terguncang memeluk sosok tua yang sangat ia rindukan.
"Ini seperti mimpi, entah berapa lama aku tertidur. dan saat aku terbangun, aku melihat putraku sudah dewasa." ucap kinan tersedu.
"Dan putramu juga akan segera menjadi orang tua." timpal kania yang duduk di samping kinan.
"Benarkah?" kinan mengurai pelukannya agar dapat menjangkau pandangan aldi. dan aldi mengangguk pasti sambil tersenyum.
"Ah, ternyata aku melewatkan banyak hal." ucapnya masih dengan terisak.
"kanza.." kinan tersadar bahwa ia memiliki anak yang lain.
"Antar aku pulang. aku harus menemui putriku. dia sendirian." kinan kembali bergerak gusar. namun aldi kembali memeluknya.
"Tenang mom!" aldi mempererat pelukannya. "kanza sudah berada di tempat yang tepat." ucap aldi menenangkan.
"Dimana dia? dimana putriku? antarkan aku menemuinya. aku merindukannya." kinan mengenggam erat tangan aldi. menghiba.
"Aku akan mengantarmu sekarang. dia tinggal bersama suamimu dan juga istri ularnya itu." sarkas kania dengan sinisnya.
"Tapi kau jangan khawatir. dia baik-baik saja. ada malaikat yang menjaganya dengan sangat baik. tak ada yang akan menyakiti putri kecilmu." ucap kania menenangkan.
"Tapi ada hal yang harus kau ketahui sebelum kau menemui zahra" kania menghentikan ucapannya karena kinan memotongnya.
"zahra?"..
"ah iya, kanza. kami terbiasa memanggilnya zahra." kania melanjutkan ucapannya. "Bukankah itu juga namanya? kenapa kau heran?" ucapan kania membuat kinan mengangguk sambil tersenyum.
"Sekarang zahra sudah menikah dengan kai, anak dari sofia." kania melanjutkan ucapannya yang sempat terpotong.
"kai.." kinan membulatkan matanya.
"Mom, apa kau mengenal kai? kenapa kau memanggil kai saat kau belum siuman?" akhirnya aldi akan mendapatkan jawaban atas teka-teki igauan kinan.
"Kai, tentu saja aku mengetahui siapa kai. anak angkat krisna dan sofia." kinan berkata ragu.
"Apa???" tanya kania dan aldi bersamaan.
"Apa maksudmu dengan anak angkat, kau tidak sedang mengigau kan kak?" seperti biasa kania berkata tanpa tedeng aling-aling. tak peduli kinan yang baru sadar atau tidak.
"kania, kenapa nada bicaramu ketus sekali, apa kau di Paris juga belajar bicara." sarkas kinan tak kalah ketusnya. membuat aldi melongo tak percaya. sedangkan kania hanya cengengesan yang tak pernah ia perlihatkan pada siapapun. bahkan aldi pun tak pernah melihat ekspresi kania yang seperti itu.
"kenapa kalian tiba-tiba seperti ini?" heran aldi menjudge keduanya.
"Kau anak kecil tau apa?" ucap kinan dan kania bersama membuat aldi semakin menganga lebar.
"Pantas kalian bersaudara. ternyata kalian sama." aldi menggeleng membuat kania dan kinan tergelak bersama.
Itulah yang terjadi. tak ada yang dapat memprediksi yang apa akan terjadi esok. disaat kita begitu mengharap sebuah keajaiban, namun Tuhan seolah enggan mengabulkan harapan kita. dan disaat kita lelah tuk berharap bahkan berdo'a, di saat itu juga kita tak akan pernah menyangka bahwa Tuhan mengabulkan do'a dan harapan kita yang terlupa.
Kesembuhan kinan yang tak di duga-duga hanya karena hal sepele, itulah cara tuhan menunjukkan kebesarannya. tak perlu memaksakan diri untuk meraih sesuatu hal yang tak pasti. karena yang pasti akan terjadi lewat campur tangan tuhan.
"Baiklah, sekarang kita beri kejutan pada mereka. kita mulai permainanya" ucap kania dengan smirk smile melengkung di wajah cantiknya.
Flash back off.
"mom.." lirih kai, memandang lekat wajah kinan dengan lelehan air mata yang tak dapat ia bendung lagi.
Bersamaan dengan kinan yang juga balas memandangnya dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Kai..." kinan melangkah menghampiri kai yang juga berjalan kearah mereka membuat semua mata yang berada di sana melihat aksi keduanya dengan heran.
"Aunty senang kau baik-baik saja." kinan menangkup wajah kai dengan sanyangnya.
Hey... ada apa ini??? batin aldi kania albert sofia dan semua readers kompak!!!
***jejaknya gengs... jika ada yang punya simpenan vote boleh banget nih buat dukung cerita ini.
Giftnya jua boleh, Gak maksa sih, seiklasnya aja***.
yang koment kelamaan trus males baca, gak usah memaksakan diri dari pada entar kalian mabok.
Autor cinta kalian semuahh 😗😗😗