
Happy reading...
Kai dan Zahra keluar dari hotel tempat mereka bersembunyi selama dua hari. sebenarnya tidak bisa di katakan bersembunyi karena nyatanya mereka seolah sedang berkencan.
Mereka hanya ingin rehat dari masalah pelik yang membuat kepala sedikit berdenyut nyeri. dan bukankah urusan rumah tangga akan dapat terselesaikan dengan baik jika di bicarakan di atas ranjang?
Tidak, tidak semuanya karena nyatanya permasalahan mereka bukannya selesai malah semakin membengkak.
Lari bukanlah suatu solusi untuk penyelesaian suatu masalah, melainkan harus di hadapi dan di bicarakan.
Kita bukanlah satu-satunya orang yang terperangkap dalam masalah, tapi mungkin saja kita adalah salah satu dari sekian banyak manusia yang suka lari dari permasalahan.
Kai mengendarai mobil membelah jalanan dengan wajah tanpa beban. tak ada gunanya larut dalam kesedihan dan kekecewaan. semua masalah sudah waktunya berakhir.
"Kai, hari ini aku mau kita mampir kesuatu tempat. aku ingin menghamburkan uangmu." ucap zahra dengan riangnya dan di akhiri dengan senyum manisnya. sudah dapat di pastikan apa yang wanita pikirkan jika ia tengah berbicara tentang uang.
Kai mengernyit heran, tidak biasanya wanitanya ingin berbelanja. dan apa tadi ia kata? menghamburkan uang? mengingatnya membuat dahi Kai berkerut ngeri.
"Apa kau ingin kita jalan-jalan dulu?" Kai berkata dengan sangat hati-hati. takut jika reaksi zahra sesuai ekspektasinya.
Jujur Kai sedikit takut akan apa yang dilakukan zahra nanti. karena itu bukan kebiasaan.
"Aku ingin membeli kado untuk bayi kak aldi dan dea." sontak kai menoleh karena ia sama sekali tak mengetahui tentang kelahiran bayi Aldi dan dea.
"Huft.." Kai menghela nafas lega, setidaknya ia tidak terlalu khawatir jika ia hanya ingin membeli sebuah kado.
"Tentu, kau boleh menghamburkan uang sebanyak yang kau mau. tapi itu tidaklah gratis, sayang." kai mengakhiri ucapannya dengan kerling nakal khas dirinya.
Zahra menaikkan sebelah bibirnya, tersenyum ngeri dan sedikit mengejek.
Dia sudah kembali rupanya, batin zahra karena melihat kai yang sudah bertindak seperti biasanya.
*
*
Kai menghentikan mobilnya di basement sebuah Mall, ia keluar dan berjalan memutar untuk membukakan pintu sang istri.
Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam mall dengan bergandengan tangan dan saling melempar senyum saat pandangan mata mereka bertemu.
Seolah tanpa beban kedua pasangan suami istri berjalan menyusuri deretan store selayaknya pasangan muda yang sedang berkencan.
"Aku merasa kita seperti sedang berkencan." ujar kai seraya merangkul bahu sempit zahra dan berjalan pelan.
"Entahlah, karena aku belum pernah berkencan sebelumnya." zahra menggedikkan bahu. karena memang itu kenyataannya.
"Benarkah?" kai memandang zahra takjub.
Kemana saja dia selama ini.
"Memang kapan aku punya waktu untuk berkencan? setelah malam buruk itu kau menjadi mimpi buruk dan lebih buruknya lagi aku harus belajar bekerja dan merawat rain sendirian." ketus Zahra sangat menampar. bukan pada wajah melainkan pada hati Kai. Zahra tanpa sadar telah mengeluarkan kata hatinya membuat kai merasa tercubit pada relung hatinya.
Sesakit itukah luka yang aku berikan.
"Maaf." suara lirih kai seperti bunyi sebuah nyanyian terompet yang berbunyi tepat di samping telinga zahra. ia seperti terbangun dari tidurnya. tak seharusnya zahra mengatakan itu di saat kai memiliki permasalahan sendiri.
Zahra merangkul pinggang Kai dan menyandarkan kepalanya pada bahu kai sebentar sebelum beralih menatap wajah pria yang seketika itu menjadi pias.
"Tapi aku bersyukur karena malam kelam itu, aku memiliki kalian." ucapnya tulus.
Dan sepertinya benar, setelah malam yang kelam akan ada pagi yang indah seperti hujan saat malam dan langit cerah pada esok hari. namun salah jika beranggapan bahwa selalu ada pelangi setelah hujan, karena nyatanya pelangi hadir saat ada sinar mentari yang bersinar setelah air hujan menggenang.
Kembali mereka berjalan memasuki sebuah kafe yang cukup ramai karena memang matahari tepat di atas kepala.
Kai dan Zahra mengambil duduk di tempat paling ujung, agar dapat menikmati pemandangan kota dan lalu lalang kendaraan dari lantai atas gedung.
Keharmonisan dan kemesraan tertampak dari sepasang orang yang saling mencinta sebelum suara halus seorang wanita menginterupsi keduanya.
"Hai, kai." suara lembut nan manja yang sangat familiar di telinga kai memaksa kedua orang yang sedang duduk berhadapan menoleh secara bersamaan.
"How are you." suara itu kembali menyapa dan di sertai sebuah pelukan singkat pada kai.
Melisa..
Ada sedikit nyeri dalam dirinya mengingat kisah mereka yang berakhir menyakitkan. Sial!
Wajah kai seketika menjadi pucat pasi karena tiba-tiba melisa tanpa ragu duduk bergabung di antara mereka.
Dan tanpa sungkan, Melisa duduk diantara dua orang yang saling berpandangan menatap bingung.
Zahra yang belum mengenal apapun tentang kai di masa lalu beralih menatap kai sedang pandangan penuh tanya.
"Hey, siapakah gadis cantik ini kai? apa dia adikmu?" zahra yang memang berwajah imut sama sekali tak nampak bahwa dia sudah menjadi seorang ibu. meski tak menampakkan ekspresi apapun, namun ia merasa sedikit tersentil karena di anggap adik kai bukan istrinya.
"Dia adalah istriku." tegas Kai tanpa ragu. ia tak ingin ada praduga macam-macam di antara mereka.
Zahra tersenyum dengan manisnya karena Kai mengenalkannya sebagai istrinya, bukan adiknya. dan itu cukup untuk mematahkan anggapan bahwa dia masih kecil. karena ia belum tau siapa melisa di masa lalu Kai.
"Oh ya?" melisa membeliak tak percaya. "jangan bilang dia adalah wanita.." melisa tak meneruskan ucapannya karena kali ini Kai yang membulatkan matanya.
"Apa?" Kai dan Zahra kompak bertanya.
Kai yang penasaran karena ucapn melisa yang terhenti, sedangkan Zahra bertanya karena ingin mengetahui apa yang di dengar orang lain tentang dirinya.
"Kai, Diakah gadis yang telah kau sakiti begitu dalam itu?" Melisa memicingkan matanya memandang Kai penuh curiga.
Kai ketar-ketir, kenapa Melisa bisa tau tentang hal itu. ia juga mendadak takut jika Zahra menganggap kesalahan Kai terhadapanya di jadikan konsumsi publik.
Wajah Kai semakin pias saat menatap mata Zahra yang memandangnya dengan tajam.
"Ba.. bagaimana kau tau tentang hal itu." tanya Kai gugup.
Melisa tampak tenang sambil menyeruput lemon tea yang baru saja di antarkan oleh waitres.
Cuaca yang memang panas semakin panas karena pembicaraan yang sepertinya akan menimbulkan masalah baru.
Kai semakin gelisah menunggu jawaban dari bibir bergincu merah yang masih harus menyelesaikan ritual menyegarkan tenggorokannya.
"Siapa lagi? sudahlah kau pasti tak akan suka mendengarnya."
"ibumu itu sungguh aneh, dulu dia mati-matian membuatku meninggalkanmu, lalu seenak jidatnya dengan tanpa dosa dia datang lagi memintaku menggodamu agar kau tak menikahinya." Melisa bercerita sambil dengan sesekali melirik ke arah zahra yang sedang bertekuk muka.
Kai semakin gusar dengan yang di ceritakan oleh Melisa. entah karena ia menyesal dengan perbuatan sofia atau karena sekarang ia tau bahwa melisa bukan menghianatinya tapi melainkan keinginan sofia.
Apakah kai menyesal?
Sekarang keinginan Kai semakin kuat untuk segera mengakhiri perseteruanmya dengan Sofia. entah apa yang akan di lakukannya.
"Hey, nona kau harus bisa menjaga Kai, jangan sampai si liar ini pergi darimu." kai membelalakkan mata untuk yang kesekian kalinya. dan apa tadi Melisa bilang? Liar?
"Dulu aku begitu bodoh mau menuruti kemauan ibunya yang sedikit, ya kau tau lah!"
"Baiklah Kai aku harus pergi sekarang,sampai jumpa." Melisa berdiri dan meraih tasnya dan segera melankahkan kakinya.
Namun ia berbalik untuk mencium pipi Kai singkat dengan wajah tanpa dosa seraya berkata "Bisa kau bayar minumanku, sepertinya kau semakin kaya sekarang." dan melenggang begitu saja meninggalkan sepotong hati yang sedang memanas karena kebskaran lokal dan satu lagi hati yang, entahlah!
Kai menelan salivanya kasar kala melihat perubahan wajah Zahra yang memerah, mungkin dia marah.
"Sayang, bisa aku jelaskan." Kai di buat mati kutu, ia yakin setelah ini zahra pasti akan mengamuk.
"Kau berhutang penjelasan padaku. tapi tidak disini. kita pulang!" Zahra pergi dengan menghentakkan kaki karena saking kesalnya. dan kai hanya mampu mengusap wajahnya kasar. lalu menarik rambutnya. frustasi.
***
Sofia pinter banget bikin masalah. 😆😆😆
Ritualnya gengs...
like
coment
vote.
Lots og luv Chanda 💕💕💕