Daddy'S Love

Daddy'S Love
Part. 74



Happy Reading...


Zahra Pov.


Awan putih menggantung indah di atas cakrawala. semilir angin musim kemarau membawa pesan gugurnya dedaunan kering. gemertak suara tatkala terjatuh tersapu terhempas kebumi.


Mobil yang membawa kami melesat cepat membelah panasnya jalanan kota yang tak pernah lenggang.


Tak ku hiraukan suara kecil rain yang berceloteh riang karena aku sendiri sedang berperang melawan hatiku.


Entahlah, aku kehilangan semangatku meski tak dapat aku pungkiri bahwa aku selalu menantikan saat ini sejak 23 tahun yang lalu.


Dia, pria itu. yang beberapa saat lagi akan ku temui. masih mampukah mulutku ini menggumamkan kata ayah sedangkan hatiku masih terasa tercabik setiap mengingat rasa sakit yang di torehkannya. bukan padaku tapi pada ibuku.


Dan disinilah aku sekarang. di depan sebuah hotel megah berbintang lima. tempat yang dipilih untuk pertemuan pertama kami. namun aku masih enggan melangkahkan kaki.


Aku terkekeh dalam hati, apakah harus pertemuan kami di adakan di dalam restoran mewah dengan kelas VIP. kenapa tidak di kafe kecil atau bahkan warung tenda saja. memang siapa aku yang harus mendapat perlakuan khusus seperti ini.


Aku hanyalah seorang anak terbuang karena keadaan. gadis kampung yang miskin yang bahkan tak mampu membeli hells seharga seperempat juta.


Meskipun sekarang aku hidup bak cinderella tapi itu tak merubah apapun. aku tetaplah zahra. zahra si gadis biasa.


Aku bahkan ingin tertawa keras dan bertanya "kita mau apa disini?" atau mungkin "memang siapa dia yang mau aku temui" tapi urung aku lakukan. bodohnya aku.


Ah ya, aku hampir lupa bahwa aku akan bertemu dengan seorang Tuan Almeida. salah satu orang terpandang di kota ini, yang notabene adalah ayahku.


Ayah, aku ingin tertawa atau justru menangis mengingat panggilan itu.


Aku berjalan dengan menggenggam tangan mungil putraku yang berumur 4 tahun. langkahku ringan, seringan dress panjang menjuntai hingga sedikit menyapu lantai hotel yang aku pijak. tapi terasa berat di hatiku.


Lihatlah, betapa konyolnya aku. aku berdandan cantik dengan balutan gown mahal berbahan sutra berwarna creame dengan potongan umbrella berleher sabrina. aunty kania menyiapkan semuanya. ia ingin aku nampak luar biasa di pandang mata.


Hells 12cm ini membuat langkahku semakin sulit. kenapa aku tidak di beri sandal jepit merk swallow khas indonesia saja. toh aku juga dari kampung meski keadaan telah mengangkat derajatku. aku kini seorang putri, kaya raya dan bergelimang harta. tapi bukan ini yang aku inginkan. aku hampa. separuh hatiku tertinggal di masa lalu. dan Dialah pematahnya.


Aku sendiri merasa heran, apa maksudnya aunty kania mendandaniku seperti ini. apa ini maksudnya dengan kata "bersinar" yang selalu ia gaungkan. masih ku ingat dan sering kudengar kata-katanya "kau akan bertemu dengan ayahmu saat kau sudah bersinar". kenapa dia tak memberiku crown dengan bertahtakan berlian agar aku tak membutuhkan penerang saat berjalan di lorong gelap. aku terkikik membayangkan.


Langkahku terhenti di sebuah ruang. baru kusadari sedari tadi aku melamun. hingga mereka meninggalkanku sendirian hanya berdua dengannya. pria paruh baya berdiri beberapa langkah di depanku.


Ayah! hatiku bergetar. jantungku berdegup kencang. sehingga kata yang kurangkai sedemikian rupa hanya tercekat di tenggorokan. wajah itu tetap sama seperti terakhir ku lihat 4 tahun yang lalu. ya Tuhan, kenapa kejadian pengusiran itu terlintas lagi di saat seperti ini. membuat hatiku terasa nyeri. tak ku pungkiri aku masih terluka. sakit.


"zahra" dia sebut namaku untuk pertama kali kudengar.


"Kemarilah" titahnya. tak semudah itu ferguso. aku masih marah asal anda tau.


Aku masih mematung. hingga ia sendiri yang melangkahkan kakinya mendekatiku.


"Maafkan ayah." mohonnya membuat hatiku semakin berdenyut nyeri. air mataku luruh tanpa bisa ku cegah. tapi aku masih tak bersuara.


"Kau begitu marah hingga tak mau memandang ayah?" aku masih menunduk. aku enggan menatapnya.


"Kesalahan ayah terlalu besar, tapi tak bisakah kau memberi ayah kesempatan untuk menerima ampunanmu." aku semakin terisak hingga bahuku terguncang.


Aku mundur satu langkah saat tangannya terulur hendak menyentuh bahuku.


"Maaf" katanya lagi.


"Saya sudah memaafkan anda, tuan." aku tak mampu memanggilnya ayah. panggilan itu terlalu asing untuk keluar dari mulutku.


"Panggil aku ayah zahra, aku ayahmu." suaranya bergetar. aku tau dia menahan untuk tidak menangis. matanya memerah. mungkin ia sama hancurnya sepertiku.


"Sejak kapan?" tanyaku parau. dia tidak menjawab. karena dia tak pernah tau aku ada.


"Maaf karena memperlakukanmu dengan buruk." lirihnya menunduk.


Jangan menunduk di hadapanku ayah itu akan membuatku berdosa.


"Anda hanya melakukan tugas anda sebagai seorang ayah, melindungi putra anda. begitu kan?" aku berusaha untuk tidak berkata kasar.


" Bagaimana cara ayah agar kau bisa memaafkan ayah?" dalam tunduknya.


"Anda tidak perlu melakukan apapun tuan. cukup anda mengetahui bahwa aku anakmu. cukup anda menyadari bahwa anda menyakiti ibuku." aku hampir berteriak marah. ya Tuhan maafkan aku.


"Ayah menyesal, tapi ayah janji akan menggantinya." janjinya tapi itu tak akan mudah.


"dengan apa?" tanyaku penuh emosi. "waktu tak dapat di putar kembali ayah." akhirnya ku ucapkan kata itu.


"Anda tak pernah tau bagaimana kami melewati kehidupan tanpa anda. lalu aku kehilangan ibuku." ucapku getir. "aku hidup di tempat asing. aku menghabiskan masa anak-anak sampai remaja dengan orang asing. Anda tak pernah tau aku berjuang sendiri untuk hidup." air mataku semakin deras. entah seperti apa mukaku saat ini.


"Dan setelah aku menemukanmu, bahkan hatimu tak tergetar untuk mengenaliku. lihatlah aku, lihatlah wajah ini. tidakkah wajah ini sama dengan wanita yang pernah kau ikat dalam janji suci pernikahan. kau melupakan wajah kinanti tuan albert!" tak dapat lagi ku kendalikan emosiku. aku kehilangan formalitas.


"dan kau membayar harga diriku yang terkoyak karena putramu. tidakkah perbuatanmu itu sungguh keterlaluan." aku meluapkan semua emosi yang menyesakkan selama ini.


" tapi sudahlah, semuanya sudah berlalu. aku sudah memaafkanmu." suaraku melunak. bagaimanapun dia ayahku yang harus aku hormati.


"Maafkan ayah nak." aku tak menghindari pelukannya lagi. aku terisak dalam pelukan pria tua ini. aku merindukannya. sangat.


"Aku menyayangimu ayah." ucapku. tak dapat kucegah lagi kata-kata itu meluncur dari mulutku.


Aku merasakan pelukannya semakin erat. sama sepertiku dia juga menangis. bisa kurasakan tubuhnya terguncang.


"Ayah janji setelah ini semuanya akan lebih baik. akan ayah pastikan kau akan selalu bahagia. tak akan ku biarkan siapapun menyakiti satu-satunya putri ayah." hatiku menghangat mendengar penuturannya seiring dengan kecupan sayangnya di puncak kepalaku tandanya dia berbangga atas diriku.


Suasana yang sejak beberapa saat lalu memanas karena luapan emosiku kini berubah menghangat bersamaan dengan hadirnya mereka yang beberapa saat lalu meninggalkanku.


Kurasakan ada yang memelukku dari belakang. dia kakakku. aku berada di antara pria-pria yang ku sayang.


Jangan tanyakan keadaan hatiku saat ini. aku bahagia, sangat bahagia.


***


END!!!


*


*


*


*


kok end sih thooor ..


sophia kapan nih kapoknya???


👍👍👍 banyak gak jadi end, hadiahnya lancar makin cepet bahagianya votenya banyak makin semangat upnya 😄😄😄


Rampok nih authornya 😂😂😂


lots of luv chanda 💕💕💕