BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
Menantu kesayangan



"Pa, Angel hilang. Udah dicari ke mana mana tapi enggak ketemu ketemu."


Dengan berderai air mata, Regina menelpon suaminya dan mengabari tentang Angel yang hilang entah ke mana padahal tadi gadis kecil itu berada di rumah.


"Hilang? Hilang ke mana, Ma? Angel pasti ada di rumah, atau di sekolah. Angel enggak mungkin ke mana mana," balas Arya dari ujung telepon.


"Aku, Raka dan Keelua udah nyari Angel ke mana mana. Udah ngecek ke sekolahnya juga, tapi dia enggak ada, Pa. Papa tolong pulang dulu, lakuin sesuatu biar kita bisa nemuin Angel. Jangan sampai ada sesuatu yang terjadi sama anak kita, Pa."


"Iya, Ma. Mama tenang dulu, Papa pulang sekarang."


Panggilan akhirnya terputus.


Regina, Anraka dan Keelua yang sedang berdiri di depan pagar sekolah Angel hanya bisa kebingungan dan planga plongo karena tidak ada info sama sekali tentang keberadaan Angel.


Bahkan mereka sudah mencoba untuk menghubungi polisi namun pihak berwajib belum bisa melakukan apa apa karena gadis kecil itu hilang belum seharian atau belum 1×24 jam.


"Gimana, Ma? Papa bisa pulang?" tanya Anraka.


"Iya. Kita balik ke rumah dulu, tunggu Papa di rumah baru lakuin sesuatu biar Angel bisa ketemu." Regina merangkul tubuh Keelua lalu berjalan beriringan kembali ke mobil.


"Mamanya Angel, Mamanya Angel! Tunggu!"


"Eh, jangan keluar, dek!"


Saat ketiganya sudah mulai melangkah menjauh dari gerbang sekolah Angel, tiba tiba saja ada seorang anak laki laki datang dan menghampiri mereka namun langkahnya di tahan oleh satpam penjaga sekolah.


Keelua berbalik lebih dulu, lantas buru buru menghampiri anak laki laki tersebut.


"Kenapa, dek?" tanya Keelua ramah.


"Maaf, Pak. Saya mau ngomong sama anak ini sebentar, boleh dibukain dulu gerbangnya?" Keelua meminta izin pada satpam penjaga sekolah tadi.


"Baik," kata satpam itu lantas membiarkan anak tadi keluar.


"Tadi kakak nyari Angel, ya?" tanya anak laki laki itu.


Keelua mengangguk, "Iya, bener. Kamu tau Angel di mana?" balasnya.


Anak laki laki itu menggeleng, ia tidak tau apa apa. "Enggak," katanya.


"Terus?" Keelua kebingungan, jika tidak tau apa apa, untuk apa laki laki ini mengejarnya? anak


"Aku enggak tau Angel di mana tapi tadi pas mau masuk ke gerbang sekolah, aku lihat Angel masuk ke dalam mobil. Enggak tau ada siapa di dalam mobil itu tapi yang jelas Angel masuk gitu aja setelah ngomong sama orang yang ada di dalam mobil."


"Masuk ke mobil?!" Regina mendekat.


Anak laki laki itu mengangguk, "Iya. Kirain orang yang Angel kenal tapi kayaknya bukan, ya? Angel tadi naik mobil siapa, dong?"


"Mobilnya warna apa, dek? Kamu lihat plat nomer kendaraannya?" tanya Keelua memperjelas.


Anak laki laki tersebut menggeleng lagi, "Enggak tau nomer platnya, enggak merhatiin tapi mobilnya warna hitam," jawabnya.


"Mobil Oma Arum warna hitam," gumam Keelua.


"Bentuk mobilnya gimana? Kamu tau?" tanya Regina lagi.


Anak itu terdiam, ia berpikir sebentar. Setelah beberapa saat ia mendongak dan menatap Regina lagi.


"Aku tau mobilnya bentuknya kayak gimana tapi aku enggak tau cara jelasinnya. Pokoknya warna hitam aja gitu," tutur anak itu dengan begitu polos.


"Mobilnya bentuk kayak gini?" Keelua mengambil ponselnya lalu menunjukkan sebuah gambar mobil yang mungkin saja sama dengan yang anak laki laki itu lihat.


"Iya. Kayak gini, kak!" jawab anak itu dengan semangat.


Keelua menghela napas panjang, ia takut apa yang ia duga mungkin saja benar.


"Mobil apa, Keel?" tanya Anraka.


Dengan ragu Keelua pun menunjukkan layar ponselnya ke arah pemuda itu dan juga kepada Ibu mertuanya.


Mereka berdua syok, sama sekali tidak percaya tapi isi kepala mereka mendadak menjadi serasi.


"Enggak mungkin," gumam Anraka.


"Mobil ini.." Regina menutup mulutnya dengan tangannya.


Ya, warna dan model mobil yang anak laki laki tadi perlihatkan pada keluarga Angel itu sama dengan warna dan model mobil milik Oma Arum.


"Enggak mungkin Oma Arum yang udah nyulik Angel, itu sama sekali enggak masuk akal," bantah Anraka.


"Gue juga enggak mau mikir kayak gitu, Raka. Tapi gue cuma mau nanya ke adik ini aja buat mastiin tapi ternyata bener, belum tentu juga Oma Arum nyulik Angel, mungkin cuma diajak jalan jalan atau pergi ke suatu tempat." Keelua berusaha untuk tidak memperkeruh suasana.


"Enggak mungkin orang itu ngajak anak saya pergi jalan jalan atau ke tempat lain. Ini udah keterlaluan, kesabaran saya udah benar benar habis," kata Regina, matanya seolah menggambarkan api yang membara.


"Ma, tenang dulu. Belum tentu Oma Arum yang—"


Setelah mengeluarkan segala isi hatinya, Regina berbalik dan masuk ke dalam mobil lebih dulu, meninggalkan Keelua dan Anraka yang terdiam di tempat mereka.


"Udah, Rak. Sekarang kita ikutin aja maunya Mama gimana, Mama lagi cemas banget. Lo harus ngertiin, ya," kata Keelua.


Anraka manggut manggut lalu menundukkan kepala.


"Udah, lo susul Mama. Gue mau ngomong bentar lagi sama anak ini," titah Keelua.


Anraka pun menurutinya dan berjalan mengikuti langkah Regina.


"Dek, makasih ya udah bantuin kami dengan ngasih info tentang Angel. Kami terbantu banget, kamu anak baik. Semangat sekolahnya, ya. Jangan bandel," kata Keelua sambil menepuk pucuk kepala anak laki laki tadi.


"Iya, kak. Tolong cari Angel, aku takut sama teman teman kelas aku kalau enggak ada dia," lirih anak laki laki itu, wajahnya tampak ketakutan.


"Takut? Takut kenapa?" tanya Keelua.


"Teman teman kelas aku suka


ngusulin aku, suka ngebuli.


100


Biasanya Angel yang ngebela aku dan teman teman aku yang suka dibuli, kalau dia enggak ada, aku dan teman teman yang lain jadi sasaran anak anak bandel di sekolah," jelas anak itu lagi.


Keelua terdiam beberapa saat, ternyata Angel memang anak yang baik dan memberani. Dia selalu ingin membantu orang lain dan ramah kepada siapa saja. Tapi sayangnya, semua kegembiraan yang ia punya hanya tampak di luar saja, selebihnya hidup gadis kecil itu hanya berisi tangisan dan rasa trauma.


Keelua tau semua itu dari Angel sendiri, Keelua bisa melihat dari cara gadis kecil itu bercerita dan seperti apa ekspresinya. Ada banyak luka yang ia tutupi. Itu sangat disayangkan dan menyedihkan.


Siapa yang mengira bahwa anak perempuan yang baik dan juga murah senyum itu punya masalah dengan kesehatan mentalnya? Semua itu memang tidak tampak, namun untuk orang orang yang peduli, hal itu sangat amat terlihat.


Entah bagaimana Angel melewati hari harinya yang buruk, mental yang dihancurkan oleh keluarganya sendiri bahkan kesepian yang terus menerus ia peluk.


Semua mimpi buruk itu diciptakan oleh seorang wanita tua yang seharusnya menjadi sumber kehangatan dari setiap cucu, siapa lagi kalau bukan seorang nenek? Nenek Raka dan Angel, Oma Arum.


Akan seperti apa masa masa remaja Angel jika ia terus terperangkap di dalam rumah yang berisikan salah satu anggota keluarga yang tidak pernah mendukung apa pun yang ia lakukan dan selalu bersikap tidak adil.


Angel mungkin saja bisa menerima semua rasa sakit fisik yang Oma Arum lakukan padanya tapi bagaimana dengan sikap pilih kasih yang neneknya itu selalu lakukan? Bagaimana gadis sekecil Angel bisa menerimanya dengan lapang dada? Di usianya yang sedang haus hausnya dengan kasih sayang dan perhatian, harus dipaksa menerima perlakuan yang tentu saja membuat kesehatan mentalnya terganggu.


Keelua merasa harus lebih bersyukur dengan posisinya setelah mengetahui apa yang terjadi pada Angel dan ia pun harus membantu gadis kecil yang notabenenya adalah adik iparnya Juga.


"Iya, dek. Kakak sama keluarganya Angel pasti bakal nyari Angel sampai ketemu," balas Keelua.


Anak laki laki itu mengangguk lalu tersenyum manis ke arah Keelua setelah itu melambaikan tangan dan berlari masuk ke dalam lingkungan sekolah lagi.


Keelua pun berbalik dan pergi meninggalkan gerbang sekolah Angel dan tempat di mana Ravi bersekolah juga. Ia tadi tidak sempat bertemu Ravi karena anak laki laki itu sedang belajar di kelasnya dan Keelua tidak tau itu di mana.


"Ayo, Rak," kata Keelua begitu ia masuk ke dalam mobil.


"Anak tadi bilang apa lagi sama kamu, Keel?" tanya Regina dari bangku belakang.


"Dia cuma nanya kenapa Angel bisa hilang terus nitip salam buat Angel juga," balas Keelua.


Gadis itu berbohong. Ya, itu yang ia lakukan. Bukan apa apa, seperti yang Keelua dan Angel sepakati waktu itu, Keelua sudah berjanji pada Angel bahwa ia tak akan mengatakan pada siapa pun tentang bagaimana sikapnya di sekolah dan apa yang telah ia lakukan selama ini.


Yang tau hanya Keelua dan Ravi saja, tidak ada siapa pun lagi. Angel tidak membiarkan siapa siapa untuk tau.


"Coba hubungin Oma Arum," titah Regina.


Anraka mengambil ponselnya lalu mencoba menghubungi Oma Arum setelah menyalakan mesin mobilnya.


"Pegangin, Keel. Nyalain speakernya biar Mama denger juga," kata Anraka seraya memberikan ponselnya pada Keelua.


Keelua pun mengiyakan dan memegangi ponsel Anraka yang sedang melakukan panggilan pada Oma Arum.


Tak beberapa lama berselang, panggilan itu terhubung.


"Halo, Raka? Kenapa kamu? Kamu pasti mau minta maaf sama Oma, 'kan? Apa Oma bilang, kamu pasti bakal menyesal udah ngelawan Oma. Sekarang apa? Kamu mau pulang ke rumah lagi? Hm? Udah sadar kalau Keelua bukan gadis yang tepat untuk kamu?"


Anraka menghela napas panjang, "Oma di mana?" tanyanya.


"Oma ada di rumah, baru saja sampai. Kamu bisa langsung pulang ke rumah kalau kamu mau, tapi tidak usah ajak Keelua ke sini. Antar saja dia ke rumah orang tuanya, Oma akan kirim uang lebih banyak ke orang tuanya, dijamin mereka tidak akan berkomentar apa apa soal hubungan kalian."


Keelua tidak dapat menjelaskan apa yang ia rasakan setelah mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Oma Arum, semuanya terdengar menyakitkan.


Seolah olah, orang tua gadis itu hanya menjualnya ke keluarga Pranata untuk mendapatkan uang. Sungguh, Keelua mendadak merasa tidak punya alasan untuk hidup.


Sambil menyentuh tangan Keelua, Anraka membalas ucapan Oma Arum, "Ini bukan soal hubungan Raka dan Keelua." Lantas mematikan panggilan.


Terlihat jelas bahwa Keelua sedang menahan tangisnya, Regina yang duduk di belakang bahkan sudah lebih dulu meneteskan air mata. Membayangkan bagaimana hancurnya perasaan menantunya tersebut.


"Maafin Oma, Keel."


"Keel, kamu akan selalu jadi menantu kesayangan Mama. Enggak akan ada yang bisa gantiin posisi kamu, sayang. Kamu akan selamanya jadi menantu dan anak Mama. Selamanya."