BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
45. Tidak Sendirian



Siasat Ravi pun berhasil, akhirnya Keelua sudah mau berbicara padanya bahkan sekarang mereka sudah menonton drama Ravi rekomendasikan. yang tadi


"Gimana? Bagus, 'kan? Gini gini selera film gue bagus juga." Ravi buka suara.


Keelua menoleh, "Bagus apaan, ini karena emang dramanya lagi viral aja makanya lo bisa tau, kalau enggak viral mah pasti lo bakal nyuruh gue nonton film perang perangan," sahut gadis itu.


"Apa yang salah sama film perang perangan, bagus kok. Gue aja suka," balas Ravi.


Keelua menghela napas panjang, malas beradu argumen dengan manusia yang tidak pernah mau mengalah. Mending dia menonton drama itu lagi di laptop Ravi.


Dramanya bagus, menceritakan tentang dua orang kekasih yang harus terpisah karena perjodohan yang dipaksakan oleh orang tua salah satu dari pasangan itu. Dramanya bagus, alur ceritanya juga seru, dan yang paling membuat Keelua fokus menonton drama ini adalah karena ada unsur perjodohan di dalamnya.


Seolah Keelua bisa merasakan perasaan wanita yang terpaksa menerima perjodohan tersebut karena ia dipaksa oleh kedua orang tuanya, ada kecewa dan marah yang bercampur aduk, perasaan yang sulit dijelaskan hingga pada akhirnya memilih untuk diam.


"Beneran bagus? Kok gue ngantuk, ya?" tanya Ravi tiba tiba.


"Lo bisa diam, enggak? Gue enggak peduli menurut lo bagus apa enggak, yang jelas gue mau nonton ini dan fokus sama dialog dialognya! Mending lo keluar dari kamar gue," usir Keelua kemudian.


"Ya udah, laptopnya gue bawa, itu kan laptop gue." Tangan Ravi bergerak hendak mengambil laptopnya namun buru buru Keelua memukul pelan tangan anak laki laki itu.


"Jangan diambil! Enggak sopan banget jadi adik," seru Keelua kesal.


"Itu kan laptop gue!" Ravi ikut memekik juga.


"Bacot. Diam lo."


Ravi memutar bola matanya malas, lantas memandangi Keelua yang bisa bisanya malah menguasi laptop yang notabenenya adalah milik Ravi.


Karena tak bisa melakukan apa apa lagi dan laptopnya sudah dijarah oleh Keelua, Ravi akhirnya memilih untuk merebahkan tubuhnya ke atas ranjang Keelua.


"Kak, ayo deep talks."


"Hah?"


"Deep talks, ngomong dalem." Ravi menyerongkan tubuhnya hingga menoleh ke arah Keelua yang duduk di sebelahnya.


"Lo mau ngomongin apa emang? Deep talk itu enggak direncanain, tiba tiba aja," sahut Keelua.


Benar juga.


Ravi berpikir sebentar, kira kira apa yang akan ia bahas bersama Keelua kali ini? Ia tak ingin apa pun padahal biasanya saat sedang tidak bersama Keelua, rasanya Ravi ingin menceritakan banyak hal pada gadis itu.


"Kak.." Ravi kembali bergumam.


"Apa sih, Rav? Kalau mau curhat ya curhat aja," balas Keelua, mata gadis itu masih fokus ke layar laptop yang ada di pangkuannya.


Sama seperti tadi, setelah memanggil nama kakaknya, anak laki laki itu kembali diam. Sepertinya ada sesuatu yang ingin anak itu katakan namun ia tak tau harus mulai dari mana.


"Kak.."


"Manggil gue sekali lagi tapi enggak ngomong ngomong gue gampar lo, ya!" ancam Keelua.


"Gimana, ya. Gue itu tau kalau lo beneran lagi suka sama cewek, lo enggak usah banyak omong, sekarang kasih tau gue siapa cewek itu dan kayak apa dia. Gue harus tau seluk beluknya dulu sebelum lo pedekate, nembak dia, pacaran abis itu nikahin dia."


"Kejauhan, ege!"


"Enggak apa apa, kita harus mikirin itu dari sekarang. Gue enggak mau lo salah pilih, apalagi gagal nembak cewek yang lo suka. Jadi lo harus jawab pertanyaan gue dengan amat sangat terperinci, enggak boleh ada kesalahan sedikit pun dan enggak boleh bohong sedikit pun, oke? Ayo, kita mulai!"


"Eh, eh, bentar dulu!" Ravi langsung bangkit dari posisi rebahnya. "Ini lo mau nanya nanya apa mau ujian nasional, sih? Lebay banget, lo aja belum tau orangnya, 'kan?" ucap anak laki laki itu.


"Ya emang karena gue belum tau makanya gue mau tau sekarang, bisa bisanya lo suka sama cewek tapi enggak pernah ngomong sama gue. Gimana kalau si cewek itu jamet atau cabe cabean?"


Ravi memutar bola matanya malas, apa apaan kakaknya ini. Sebenarnya Ravi sudah bisa menebak bagaiamana ekspresi Keelua saat mendengar perkataan Ravi tadi, gadis itu pasti akan bertingkah berlebihan dan mengatakan banyak hal yang sebenarnya tak perlu dikatakan.


Ravi bahkan belum bilang siapa perempuan yang ia sukai, tapi Keelua sudah membahas pernikahan. Ada ada saja.


"Gue enggak perlu jelasin dia siapa, kalau gue sebut namanya, lo pasti tau siapa orang itu. Jadi, enggak usah banyak nanya,' ujar Ravi.


Keelua terdiam sebentar lantas memutar otak.


"Angel?"


...****************...


"Udaranya sejuk banget! Kayaknya Angel bakalan betah di sini, kita enggak usah pulang ke kota, ya?" seru Angel.


Anraka yang sedang melangkah santai di sebelah anak perempuan itu hanya diam saja, sejak tadi Angel sudah mengatakan banyak hal dan tak kunjung lelah berceloteh.


"Kalau di kota, udaranya udah enggak segar. Hujannya udah enggak bagus juga, terlalu asam, enggak baik buat kulit sama kendaraan. Kalau di sini, udaranya enggak terkontaminasi sama polusi makanya asri banget. Iya kan, bang?" Angel menoleh ke arah kakak laki lakinya yang memang tidak banyak bicara itu.


"Iya."


Jauh dari bisingnya kota dan kenakalan remaja tapi bising di kepala tepat menyertainya. Tak masalah, Anraka yakin ia akan menemukan solusi untuk setiap masalah yang ia alami, tidak perlu mengeluh atau meratapi, semuanya pasti akan berakhir.


"Nanti kalau Bang Raka nikah, tinggalnya di sini aja, Bang. Supaya Angel ikut tinggal di sini bareng sama istrinya Bang Raka juga," ucap Angel lagi.


Ide yang bagus. Andai saja Anraka bisa menikahi gadis pilihannya sendiri namun kenyataannya ia tak bisa. Tidak akan ada kebahagiaan setelah pernikahannya dengan orang asing itu.


"Tapi Angel mau Bang Raka nikah sama orang yang Bang Raka suka dan Bang Raka pilih. Apa pun yang terjadi, Angel enggak akan terima kalau Bang Raka dipaksa nikah sama siapa pun termasuk Oma Arum. Angel emang enggak bisa ngapa ngapain buat bantu Bang Raka tapi Angel janji akan ngedukung apa pun keputusan Bang Raka dan apa pun yang pengen Bang Raka lakuin."


"Ngel," panggil Anraka. Angel pun menoleh ke arah pemuda tinggi itu. "Sini," ajak Anraka lagi.


Dengan polosnya Angel mendekat ke arah Anraka dan menatap lugu kakaknya tersebut, selalu ada senyuman yang terpatri di bibir tipis gadis kecil itu. Senyuman yang selalu ingin Anraka lihat dan selalu Anraka perjuangkan.


Anraka memang jarang menyampaikan rasa sayangnya kepada orang orang yang ia sayangi namun dengan sikapnya yang seperti ini, Anraka sebenanya punya rasa yang sangat besar. Orang orang tidak perlu tau, cukup dirinya dan Tuhan saja yang melihat semuanya.


Tangan Anraka pun naik dan memegangi kedua lengan Angel yang masih setia berdiri di hadapannya.


"Kalau lo mau tau, buat sekarang cuma lo support system nomer satu gue. Mungkin ada beberapa orang yang peduli sama gue tapi enggak semua bisa ngerti. Jadi tolong, gimana pun sikap gue ke lo, jangan pernah tinggalin gue," ucap Anraka dengan nada suara begitu tulus.


Angel tersenyum lebar, lalu tanpa aba aba langsung memeluk erat kakaknya dan mengikis semua jarak yang ada. Angel benar benar menyayangi Anraka, tidak ada orang yang bisa menjaganya sebaik kakak laki lakinya ini, bagaimana pun sikap Anraka, Angel selalu mengerti bahwa yang kakaknya inginkan hanyalah pengertian dan perhatian.


"Bang Raka enggak perlu cemas untuk apa pun, Angel bakalan selalu ada buat Bang Raka tanpa Bang Raka minta bahkan setelah Bang Raka ngusir Angel pun, Angel bakal kembali lagi buat nemenin Bang Raka. Kakak Angel cuma satu, cuma Bang Raka doang," balas Angel sembari masih memeluk erat tubuh tegap Anraka.


"Iya, Angel. Tapi jangan meluk gue sekencang ini, gue enggak bisa napas," sahut pemuda berkaos putih polos itu.


Angel terkekeh pelan lalu melepas pelukannya dan menatap Anraka dengan mendongak karena pemuda itu jauh lebih tinggi darinya.


"Janji enggak akan ngerasa sendirian lagi?"


Angel menaikan tangannya lalu menyodorkan jari kelingkingnya ke depan wajah Anraka, mereka akan membuat sebuah janji kecil yang manis.


Anraka menatap Angel sebentar lantas menaikan jarinya juga lalu kedua jari itu pun bertaut. Janji kecil yang sebenarnya sangat berarti untuk Angel, ia benar benar ingin kakaknya menepati janji itu, Angel benar benar tak ingin melihat kakaknya sendirian apalagi merasa kesepian.


Angel akan selalu ada untuk Anraka meskipun terkadang ia tak bisa melakukan apa apa.


"Janji enggak bakal marahin Angel lagi?" tanya Angel kemudian.


Anraka langsung melepas tautan jari mereka lalu melangkah lebih dulu meninggalkan Angel yang mendadak geming di tempatnya.


"Janji dulu, Bang!" seru Angel seraya menoleh ke belakang.


"Enggak, gue enggak mau janji buat itu," balas Anraka dengan berseru juga.


"Dih, apaan, sih?! Janji dulu, enggak?!" pekik Angel lalu mengejar Anraka yang semakin melangkah menjauh.


Hari yang menyenangkan, Angel sudah lama mendambakan hari hari berdua dengan Anraka seperti ini. Gadis kecil itu tau, kakaknya sedang berada di dalam dilema yang begitu berat.


Entah seperti apa akhir dari drama perjodohan yang sedang menghantui mereka, tapi apa pun yang akan terjadi pada akhirnya, Angel hanya ingin semuanya berakhir bahagia.


Anraka memang tidak mengatakan bahwa ia sedih atau stres karena semua masalah ini tapi jadi sikap pemuda itu, Angel bisa langsung mengetahui bahwa ada sesuatu yang kakaknya sembunyikan. Sikap Anraka tidak sedingin biasanya, dia lebih lembut dan lebih mau mendengarkan beberapa hari ini.


Angel takut terjadi sesuatu pada Anraka jika pemuda itu terus memendam semua yang ia rasakan.


"Bang, kita ke pulau, yuk!"


"Ke sana? Naik apa?" tanya Anraka.


Sebuah lahan dan sebuah daratan kecil di tengah pantai yang dibeli oleh Regina waktu itu adalah tempat yang sedang Angel dan Anraka tempati sekarang.


Kedua anak itu menyebut tempat ini dengan sebutan pulau walaupun sebenarnya ini bukan pulau seperti pulau yang sesungguhnya tapi mereka senang menggunakan kata itu.


"Kan ada perahu karet di villa, kita pakai itu aja. Kayak biasanya," kata Angel.


"Tapi lo ikut kayuh juga, jangan nyuruh gue ngayuh sendirian."


Angel mengangguk kukuh, "Iya, tenang aja. Angel bantuin sampai kita tiba di pulau Mama. Ayo ah, cepetan." Kemudian menarik lengan Anraka dan membuat pemuda itu ikut berlari bersamanya.


Angel lincah sekali, Anraka sampai kelelahan melihat tingkah dan mengikuti semua gerakan Angel yang tidak pernah mau berhenti.


Saat perjalanan menuju villa, Angel memperlambat laju larinya lantas berjalan santai di sebelah Anraka, tangannya masih menggenggam erat lengan kakak laki lakinya itu.


"Bang, kalau misalnya Bang Raka dikasih kesempatan buat milih cewek yang Bang Raka suka buat dijadiin istri, Bang Raka bakal milih siapa?" tanya Angel tiba tiba.


Anraka menatap datar, pertanyaan yang sangat tidak jelas dan tidak mendasar. Anraka ingin heran tapi ini Angel.


"Kalau menurut Angel, mending Kak Keelua aja. Dia cantik dan baik banget."


"Enggak mau."