
"Hah? Anraka? Nunggu saya? Di mana?" tanya Keelua heran.
"Mari saya antar," ucap satpam itu lalu melangkah lebih dulu sembari menuntut langkah Keelua yang masih kebingungan.
Mata sembab gadis itu masih ada, penampilannya pasti akan di kritik oleh Anraka dan ia tidak mau itu terjadi.
"Silakan," ucap si satpam lantas membukakan pintu mobil Anraka dengan sopan.
Wajah Keelua seperti belum bisa mencerna situasi namun ia tetap mengangguk dan berterima kasih pada satpam tersebut lantas masuk ke dalam mobil Anraka.
"Udah?"
Keelua menoleh, benar benar ada Anraka di sana.
"Udah apanya?" tanya Keelua balik.
"Udah jadian sama dia?"
"Jadian apa, sih? Gue 'kan udah jelasin di sekolah tadi kalau gue nerima ajakan dia cuma supaya gue bisa ngomongin apa yang harus gue omongin ke dia," jelas Keelua. "Lagian gue sama dia udah selesai kok, gue udah bilang kalau gue enggak bisa ngebalas perasaan dia," lanjutnya.
Anraka manggut manggut, "Terus lo nangis?" tanyanya.
"Enggak," tepis Keelua. Beberapa detik setelahnya, "Dikit," katanya.
"Sama aja. Mungkin lo udah terlanjur sayang sama dia, lo enggak mau punya hubungan lagi sama dia? Kayaknya lo kasian banget sama dia."
Anraka mulai bertingkah menyebalkan, Keelua mendecak kemudian menatap pemuda itu dengan tatapan sinis.
"Bacot banget. Gue cuma ngehargain perpisahan, setiap perpisahan butuh peratapan, jadi gue mencoba untuk ngelakuin itu.
Lagi pula gue nangis bukan karena enggak bisa sama dia, tapi karena gue tau kalau gue udah nyakitin dia," terang gadis berbaju biru tua itu.
"Kenapa enggak bisa? Bisa kok? Lo mau sama dia?"
"Cukup deh, Rak. Gue buang juga lo keluar mobil!" kesal Keelua.
Ia tak peduli ini mobil siapa, kalau Anraka menyebalkan, ia benar benar akan mendorong pemuda itu keluar dari mobil.
"Lo yakin udah nyakitin dia?" tanya Anraka lagi. Hari ini pemuda itu sering sekali bertanya.
"Kayaknya yakin, sih. Soalnya dia juga sempat minta kejelasan dari gue tapi karena niat gue emang cuma mau mutusin hubungan pendekatan gue sama dia makanya gue bilang kalau gue sama dia benar benar enggak bisa. Terus dia pergi gitu aja plus mukanya kayak kecewa banget. Gue sampai enggak tega."
Keelua sangat yakin bahwa ia sudah menyakiti hati Bumi, ia tau betul apa yang sudah ia lakukan dan itu memang sangat menyakitkan untuk siapa saja. Keelua harap Bumi tidak marah terlalu lama padanya.
"Jadi lo yakin? Coba lo lihat ke depan sana," titah Anraka.
Dahi Keelua mengerut lantas mengikuti arah pandangan Anraka, mata gadis itu menyipit begitu menemukan sosok yang sepertinya ia kenal di ujung jalan tempat mobil Anraka terparkir.
"Itu ... Bumi?" tanya Keelua seraya terus memperhatikan sosok seorang pemuda yang sedang bercumbu dengan seorang gadis.
"Yang kayak lo lihat aja, lo 'kan punya mata," balas Anraka santai.
Wajah Keelua tiba tiba memerah, ia yakin bahwa sosok pemuda yang ia lihat itu adalah Bumi. Pemuda yang sudah membuatnya menangis di dalam studio bioskop seperti orang bodoh hanya karena memikirkan perasaannya kini bisa bisanya bermesraan di depan mall seperti ini bagai tak punya malu.
Laki laki kurang ajar!
"Wah, tuh cowok udah keterlaluan!" seru Keelua kesal.
"Keterlaluan apa-lo mau ke mana?"
Keelua bergerak turun dari mobil dengan wajah yang merah karena marah, andai gadis itu hidup di dalam serial kartun, api pasti sudah keluar dari telinganya dan muncul tanduk merah di kepalanya.
Dengan langkah mantap, Keelua mendekat ke arah dua manusia yang sedang tertawa tawa bagai tanpa dosa.
"Bumi!"
"K-Keelua?"
Bumi menyadari kehadiran Keelua, ia tampak langsung menjauh dari gadis yang sedang ia temani kemudian menunduk dan memperbaiki posisi berdirinya.
"Lo kenapa ada di sini? Gue lagi nungguin lo dari tad-argh!"
PLAK!
"Kurang aja lo, ya! Gue udah nangis nangis di dalam studio bioskop cuma gara gara mikir kalau gue udah nyakitin lo tapi nyatanya lo malah mesra mesraan sama cewek ini di sini, di tempat umum, lo enggak malu apa?" marah Keelua seraya menunjuk wajah Bumi yang kebingungan sehabis di tampar oleh gadis bertumbuh kecil tapi pukulannya sangat kuat.
"Gue bisa jelasin, dia bukan siapa siapa," jawab Bumi.
"Bukan siapa siapa? Maksud kamu apa, ya? Kamu baru aja bilang kalau kamu mau nikahin aku, kita juga udah beberapa kali ma-hmmph!"
Sebelum gadis yang ada di sisi Bumi itu menyelesaikan kata katanya, Bumi sudah lebih dulu membekap mulutnya hingga ia tak bisa berbicara lagi.
"Kenapa? Udah apa?" sinis Keelua.
"Enggak, Keel. Jangan mikir macam macam dulu, gue sama dia benar benar enggak ada apa apa!" Bumi terus mencoba meyakinkan Keelua yang sudah gondok.
"Kamu ini siapa, ya? Kamu mau ngerebut Bumi dari saya? Saya sama dia udah hampir seminggu pedekatean, kamu enggak bisa asal nyerobot aja, dong! Kamu ini enggak punya malu!" pekik gadis yang bersama Bumi itu tiba tiba membuat Keelua mencemooh.
"Oh, udah seminggu?" Keelua manggut manggut. "Gue enggak akan ngambil cowok lo, sih. Ambil aja, gue juga enggak mau. Makan sana, bye!" ucapnya.
Gadis itu berbalik, meninggalkan Bumi yang terus memanggil namanya dan gadisnya yang masih merasa kesal.
Keelua terus berjalan, kembali ke mobil Anraka dengan napas yang tersenggal karena amarah yang belum sepenuhnya reda.
"Gimana?" tanya Anraka begitu Keelua duduk di sebelahnya.
"Diam lo! Ayo, cepetan. Gue mau pulang!" kata Keelua.
Anraka terkekeh, lalu menjalankan mobilnya untuk keluar dari area mall bersama rasa senang di dadanya karena sudah berhasil menunjukkan kepada Keelua bahwa Bumi adalah laki laki bajingan yang hanya berakting selama ini.
Anraka juga tidak tau mengapa Bumi melakukan itu, padahal pemuda tersebut punya banyak sekali perempuan yang selalu menemaninya bergantian. Untuk apa ia membuang buang waktu untuk mengejar hati Keelua? Untung saja Keelua adalah tipe gadis yang tidak mudah tertarik hanya dengan paras dan harta seseorang.
Di sepanjang perjalanan, Keelua hanya diam dan tidak mengatakan apa pun. Tidak seperti biasanya.
Biasanya di saat saat seperti ini, Keelua sudah sibuk mencari lagu yang ia suka di radio atau bercerita tentang apa saja pada Anraka walaupun terkadang pemuda itu tak mendengarkannya.
Anraka merasa ada sesuatu yang bilang, akhirnya ia berpikir untuk membuka topik lebih dulu agar Keelua mau berbicara dengannya.
"Lo mau makan apa?" tanya Anraka tiba tiba.
Keelua menoleh, "Tumben lo nanya, kenapa?" tanyanya balik.
"Sapatau lo laper, kita makan dulu." Anraka mencoba untuk terlihat natural.
"Enggak tau mau makan apa, gue hilang napsu makan setelah ngelihat kelakuan Bumi." Gadis itu kembali menolehkan kepalanya ke arah jendela.
Anraka tau bahwa Keelua tidak memiliki perasaan lebih terhadap Bumi, gadis itu hanya kesal saja karena selama ini ia selalu menjaga perasaan Bumi agar pemuda itu tidak merasakan sakit hati tapi ternyata Bumi mengkhianatinya.
Keelua memang gadis yang bodoh, ia terlalu baik dan selalu tidak enak pada orang lain padahal orang lain selalu seenaknya saja kepadanya.
Wajar saja Keelua kesal, ini memang sudah keterlaluan. Kalau Bumi tidak memiliki perasaan yang besar untuk Keelua, harusnya pemuda itu tidak menunjukkan sikap seolah olah terluka.
Bumi pandai bersandiwara dan Keelua yang gampang percaya. Sangat cocok.
Meskipun begitu, Anraka yakin bahwa Keelua tidak akan bisa pergi darinya. Pemuda itu akan melakukan segala cara agar Keelua tetap berada di sisinya dan tidak bisa ke mana mana apalagi direbut oleh orang lain.
Keelua aman dalam penjagaan Anraka dan juga mata matanya, Keelua tidak akan lolos walaupun hanya satu detik pun.
"Terus lo mau apa? Pilih aja supaya mood lo sedikit lebih baik," kata pemuda itu.
"Malas, ah. Pengen beli gerobak es krim!" balas Keelua dengan tidak serius.
"Oke."
"Enggak tau ah, gue mau pulang aja! Kita bisa pulang sekarang enggak, sih?" tanya Keelua, ia mulai merengek.
"Oke."
Akhirnya mau tak mau Anraka membawa Keelua menerobos jalanan sore yang ramai.
"Lo mau gerobak es krim yang kayak gimana?"
"Hah?!"