
"Ikut gue."
"Lepasin gue!"
Keelua terus berusaha melepaskan cekalan tangan Anraka yang terus saja menariknya ke belakang bangunan kelas yang sepi saat waktu pulang tiba. Kejadian di kantin tadi membuat Keelua benar benar kesal dan suasana hatinya hancur.
Tidak peduli apa yang dikatakan orang orang, gadis itu sudah melepas seragam sekolahnya dan hanya memakai kaos putih saja. Untung ada Bumi yang membantu Keelua tidak ingin mengganti baju seragamnya yang benar benar masih layak pakai dengan baju seragam baru.
"Jangan bikin gue emosi, lo cuma perlu nurut."
"Gue enggak mau nurut sama lo, lo mau apa emang? HAH?!"
"Pulang sama gue," titah Anraka tanpa bantahan.
Keelua terdiam. Ia memang harus pulang ke rumah Anraka karena hal itulah yang Ibunya inginkan, ia juga tak mungkin merepotkan Lula dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Buat apa? Buat lo tinggalin di jalanan lagi? Lo pikir gue ini apa, Rak? Gue juga sama kayak lo, gue juga enggak mau pernikahan sialan ini, gue enggak mau tinggal serumah, sekamar sama lo. Kita terpaksa, gue sama lo sama sama terpaksa. Jangan egois, bukan cuma lo yang tersakiti di sini." Keelua mendongak dan menatap manik legam Anraka dengan mata yang sudah berair.
Rasanya ingin sekali Keelua memaki Anraka yang benar benar tidak paham dengan situasi.
Selama ini Keelua terus saja bersabar dan tidak menuntut apa apa dari Anraka karena ia tau bahwa pemuda itu sedang menanggung perasaan sedih yang sama seperti apa yang ia rasakan. Namun, bukannya ikut memahami dirinya, Anraka malah bertindak seperti anak kecil dan berlaku seenaknya.
"Gue juga pengen hidup kayak dulu, gue juga pengen bebas. Andai waktu bisa diputar, gue bakal milih untuk enggak pernah kenal sama lo, Rak. Gue udah capek, capek banget." Keelua menundukkan kepalanya.
Anraka baru menyadarinya, Keelua lebih sering menangis belakangan ini. Gadis yang berdiri di depannya ini bukanlah gadis yang dulu selalu menentangnya dengan sorot mata tajam. Keelua yang sekarang sangat rapuh dan tidak punya kekuatan lagi untuk memberontak.
Jujur saja, Anraka lebih suka Keelua yang keras daripada Keelua yang selalu menangis dan menunduk seperti sekarang.
"Gue minta lo balik karena Oma Arum," kata Anraka. "Dan karena Mama lo juga yang udah nelpon gue dan marahin gue," lanjutnya.
Keelua terdiam, ia terkejut begitu mendengar mengakuan Anraka lantas kembali menatap mata pemuda itu meskipun sulit.
"Semua orang marahin gue kalau lo enggak ada, jadi ... gue rasa lo harus selalu ada di samping gue."
Anraka memutuskan kontak matanya dengan Keelua lalu melangkah lebih dulu, meninggalkan Keelua yang masih mematung di tempatnya. Baru beberapa langkah yang pemuda itu tapaki, tiba tiba saja ia berbalik kemudian menatap Keelua lagi.
"Gue tau gue salah tapi ..." Pemuda itu sengaja menggantung ucapannya. "... lo lebih salah."
...****************...
"Iya, sorry banget, ya. Gue enggak jadi nginap soalnya Mama gue tiba tiba nyuruh gue pulang dan katanya ada hal penting yang harus dibahas. Kapan kapan aja ya, La. Makasih banyak karena lo udah mau bantuin gue."
Sejak beberapa menit yang lalu Anraka terus saja mendengar perdebatan antara Keelua dan Lula dari telepon. Pemuda itu menduga bahwa Keelua sudah membuat janji dengan Lula untuk menginap di rumah Lula namun terpaksa dibatalkan. Pasti penyebabnya adalah dirinya yang sudah mengajak Keelua pulang lebih dulu sebelum gadis itu pergi ke rumah Lula untuk menginap.
"Iya, janji. Abis ini gue cerita ada apa sebenarnya. Lo emang teman gue yang paling baik deh, gue sayang banget tau enggak sih sama lo."
Anraka memutar bola matanya malas. Persahabatan antar perempuan dan perempuan memang terlalu banyak drama dan naif, dengan geng EX; Anraka tidak pernah mengatakan hal menjijikan semacam itu, mereka tidak pernah saling memuji atau mengungkapkan perasaan sayang satu sama lain. Itu akan terdengar sangat menggelikan dan tidak patut untuk dicontoh.
"Oke, La. Bye bye, nanti gue kabarin, ya. See you tomorrow!"
Keelua mematikan panggilan kemudian menghela napas panjang. Raut wajahnya berubah, tidak seceria tadi.
"Lo fake."
Keelua menoleh, alisnya terangkat saat mendengar Anraka mengatakan sesuatu.
"Jangan pura pura bahagia di depan orang lain kalau emang lo enggak bahagia. Lo ngebohongin diri lo sendiri." Anraka mengatakan itu tanpa menoleh ke arah Keelua yang sedang menatapnya dengan lekat.
"Gue lebih milih buat ngebohongin diri gue sendiri daripada nunjukkin ke orang lain kalau gue enggak bahagia. Itu sama aja kayak gue ngasitau orang orang gue udah enggak nemuin kebahagiaan di dalam diri gue sendiri. Itu lebih menyedihkan dari apa pun." kalau
Anraka membisu, sekarang ia bisa melihat apa yang selama ini tidak dapat ia lihat. Keelua sedang memaksakan diri untuk terlihat bahagia agar tidak ada siapa pun yang bisa meremehkannya, gadis itu juga tidak menceritakan kepada siapa pun tentang mengapa ia merasa tidak baik baik saja belakang ini karena gadis itu tau bahwa kebahagiaan itu di temukan di dalam diri sendiri bukan dari orang lain atau apa pun itu.
"Bentuk kebahagiaan lo sendiri," kata Anraka.
"Gue udah benar benar bahagia sebelum semua ini terjadi. Kebahagiaan gue hilang setelah gue sadar bahwa gue juga udah kehilangan diri gue sendiri."
Perjalanan pulang menuju rumah kediaman keluarga Pranata itu sangat hening, tanpa obrolan dan hanya sibuk dengan pikiran masing masing. Keelua terus saja melihat ke luar jendela sedangkan Anraka fokus menyetir.
Beberapa lama bergelut dengan isi kepalanya sendiri, tiba tiba muncul sebuah pertanyaan di dalam kepala Anraka. Pemuda itu menebak nebak, kira kira hubungannya dengan Keelua ini akan bertahan sampai mana? Mungkinkah mereka akan berpisah setelah benar benar muak atau akan ada sebuah keajadian yang membuat mereka terus bertahan satu sama lain atau mungkin bisa saling mencintai.
Tapi saling mencintai itu terlalu mustahil.
Entahlah, rasa rasanya Keelua dan Anraka terlalu jauh, bagai langit dan bumi. Hanya cinta yang benar benar tumbuh yang mampu membuat mereka bersatu. Namun jika dipaksa, sekeras apa pun usahanya, mereka tidak akan bisa menjadi satu yang padu.
Anraka masih terdiam. Ia ingat betul bahwa ia pernah mengatakan itu pada Keelua dan gadis yang duduk di sebelahnya ini ternyata masih mengingatnya juga.
Ya, dulu Anraka menganggap Keelua itu musuh karena anak dari Sekar dan Bambang ini selalu membuatnya kesulitan bergerak. Keelua selalu mengintai dan menghalangi Anraka ketika pemuda itu akan melakukan sesuatu yang melanggar aturan atau berbahaya. Orang orang sampai mengira bahwa Anraka takut pada Keelua karena ia selalu menuruti perkataan gadis itu padahal yang Anraka takuti sebenarnya adalah Oma Arum, sosok yang menyuruh Keelua melakukan hal menyebalkan tersebut.
"Iya," balas Anraka singkat.
"Gue bakal cari cara supaya kita bisa pisah, yang penting gue udah penuhin apa keinginan Mama sama Papa gue buat nikah sama lo. Perjanjiannya udah selesai jadi sekarang kita bebas buat ngelakuin apa aja yang kita mau termasuk pisah," jelas Keelua lagi.
Anraka berpikir sejenak, ia tau ini memang salah tapi sudah sebaiknya mereka berpisah saja daripada terus hidup dalam tekanan seperti ini.
"Oke."
...****************...
"Keelua, kamu udah pulang, sayang?"
Oma Arum buru buru menghampiri Keelua yang baru saja masuk ke dalam rumah kediaman Pranata dan langsung memeluk tubuh istri dari cucu kesayangannya tersebut.
"Oma kangen banget sama kamu, sayang. Kamu baik baik aja, 'kan?" tanya Oma Arum lagi.
Keelua mengangguk, "Keelua enggak apa apa, Oma. Makasih udah perhatian sama Keelua," jawabnya.
"Kamu itu udah jadi cucu Oma sekarang, kamu enggak boleh pergi ke mana mana lagi, ya. Kasitau dulu kalau kamu mau nginap di rumah Mama kamu, ajak Anraka, jangan pergi sendirian, ya." Oma Arum melepas pelukannya lalu membelai pelan pipi merona Keelua.
Keelua lagi lagi hanya mengangguk, ia kehabisan kata kata, sebenarnya ia juga gugup setelah kejadian kemarin yang membuatnya lari ke rumah orang tuanya.
"Maafin Anraka, ya. Mungkin kemarin dia cuma emosi aja, Mama tau dia pasti enggak punya maksud buat ninggalin kamu. Dia udah minta maaf 'kan, Keel?" Regina datang dan ikut menyapa Keelua yang akhirnya pulang ke rumah mereka.
"Iya, Ma. Raka udah minta maaf kok," kata Keelua walaupun ia tidak yakin yang tadi Anraka katakan itu permintaan maaf atau pemaksaan.
Beberapa detik kemudian Anraka menyusul dan ikut masuk ke dalam rumah, kedatangan pemuda itu mengalihkan atensi semua orang yang ada di ruang tamu.
"Terima kasih karena kamu udah ngebawa pulang Keelua ya, Raka," tegur Oma Arum.
Anraka hanya mengangguk kecil lalu tanpa basa basi langsung melangkah masuk ke ruang tengah.
"Raka.." panggil Regina begitu Anraka melewati tubuhnya.
Anraka berhenti namun ia tidak berbalik.
"Kamu jangan kayak gini lagi, ya. Jangan ninggalin Keelua di pinggir jalan kayak kemarin. Ingat, kamu itu suaminya, jangan berlaku seenaknya walaupun dia ini udah jadi tanggung jawab kamu, kamu harus hormati dia dan sayang sama dia," petuah wanita itu pada anaknya.
Entah mendengarkan atau tidak, Anraka langsung melangkah lagi setelah Regina selesai berbicara. Hal itu membuat hati Regina begitu hancur, ternyata Anraka tidak banyak berubah, ia masih sama saja, masih dingin dan tidak tersentuh.
"Oma 'kan udah bilang, dia pasti enggak bermaksud. Kamu enggak usah ngoceh ngoceh lagi, dia capek abis pulang sekolah, kamu ini enggak ngerti banget." Oma Arum angkat bicara, ia membela sikap kurang ajar Anraka.
"Ganti baju dulu, sayang. Abis itu ajak Anraka makan bareng, kalau mau bawa aja makanannya ke atas, minta tolong sama Bibi Maryam, ya," kata Oma Arum pada Keelua yang hanya mampu diam dan memperhatikan perdebatan kedua orang yang sama sama merupakan orang tua suaminya ini.
"Baik, Oma."
"Oma tinggal dulu." Oma Arum melangkah masuk setelah membelai pipi Keelua lagi.
Keelua menyadari bagaimana perasaan Ibu mertuanya sekarang, ia tau perasaan Regina pasti sangat tidak baik baik saja. Dengan senyuman yang begitu manis dan juga wajah cerianya, Keelua perlahan lahan memegang tangan Regina dan membuat wanita itu melihat ke arahnya.
"Mama jangan sedih, Keelua ada buat Mama di sini. Yang Mama lakuin udah bener, kok, Raka harusnya bersyukur banget bisa punya Mama kayak Mama Regina yang selalu perhatian dan enggak manjain dia berlebihan. Mama Regina Mama yang hebat, Keelua sayang sekali sama Mama."
Mata Regina seketika berair, wanita itu langsung membawa Keelua ke dalam pelukannya lalu memeluk menantunya itu erat erat.
"Makasih banget ya, Keel. Kami emang enggak salah milih kamu sebagai menantu, Mama harap kamu selalu bisa senang dan langgeng sama Anraka. Kehadiran kamu menambah kebahagiaan di rumah ini. Makasih banyak, ya," kata Regina.
Seraya membalas pelukan Regina, Keelua membalas, "Iya, Ma. Sama sama, Keelua juga senang bisa jadi anak Mama." Meskipun hatinya dilema.Demi Ibu mertuanya yang sangat baik, Keelua harus berpura pura senang juga, ia tak mau membuat Regina sedih dan banyak pikiran.
"Mama juga senang bisa punya anak perempuan yang baik dan cantik seperti kamu."
Belum beberapa minggu Keelua menjadi menantu di keluarga itu, ia sudah bisa mengambil hati seluruh anggota keluarga Anraka.
"Bakal banyak orang yang terluka kalau kita pisah, Keel."
Tanpa Keelua dan Regina sadari, seorang pemuda sedang memperhatikan kehangatan mereka dari lantai atas.