BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
Kasih sayang palsu



"Apa yang Regina katakan itu benar? Oma yang nyulik dan bawa Angel pergi dari rumah?" tanya Arya.


"Tidak! Jangan ngaco kalian, untuk apa saya membawa anak itu ke tempat lain sedangkan di sini saja dia sudah merepotkan? Oma tidak punya alasan untuk nyulik dia, Oma enggak akan ngelakuin hal hal yang buang buang waktu seperti itu. Kalau memang ingin, kenapa saya tidak menyuruh orang lain saja untuk melakukannya?"


Regina geleng geleng kepala, untuk sekali ini saja, ia ingin berteriak di depan wajah Oma Arum dan mengatakan bahwa anak perempuannya juga sangat tersiksa hidup di dalam rumah ini.


Andai bisa dan andai Arya mengizinkan, sudah sejak lama Regina ingin membawa Angel keluar dari rumah ini. Sejak Regina sadar bahwa Oma Arum memperlakukan kedua anaknya dengan cara yang berbeda, wanita itu sudah sangat kesal hingga tak terima karena menurutnya, semua anak sama saja dan tidak ada yang perlu di beda bedakan.


Tiap anak harus mendapatkan kasih sayang yang sama dan rata.


Bukan seperti yang Oma Arum lakukan pada Angel, membedakan gadis kecil itu dan menunjukkan secara terang terangan bahwa ia lebih menyayangi Anraka.


Mungkin Angel tidak menunjukkan pada semua orang bahwa ia kecewa tapi tentu saja siapa pun yang melihat perlakuan Oma Arum langsung, orang itu pasti bisa membayangkan betapa sakitnya hati Angel.


"Kayak yang aku bilang tadi, aku ulangi, ya. Teman sekolahnya Angel ngelihat Angel masuk ke dalam mobil Mama, untuk apa lagi Mama ngelak? Cukup kasih tau di mana Angel, aku akan diam, aku enggak akan ngomong apa apa lagi, aku akan keluar dari rumah ini kalau perlu!"


"Regina!" seru Arya. "Kamu enggak akan ke mana mana, tetap di sini. Ini rumah kita, rumah aku, kamu dan anak anak kita. Kamu enggak akan ninggalin aku di sini, aku akan ikut sama kamu," katanya. kamu


"Bisa saja itu cuma fitnah, kalian enggak punya bukti apa apa. Jangan menuduh yang macam macam, saya bisa laporin kamu ke polisi. Ada atau tidak adanya Angel di rumah ini, kepergian kamu dari rumah ini memang hal yang terbaik. Pergi saja, anak saya dan cuci saya; Anraka juga tidak akan butuh kamu di sini, yang mereka butuhkan cuma saya," balas Oma Arum.


Arya mengeram kesal, "Mama ini apa apaan, sih? Sudah jelas Arya dan Anraka sangat membutuhkan Regina, Regina ini istri aku dan Ibu Anraka, kami butuh Regina di sini. Mama jangan egois. Mama enggak bisa ngomong seenaknya saja tanpa memikirkan perasaan orang lain," bantahnya.


"Kamu dan Anraka sudah sama sama terpengaruh dengan rayuan dua perempuan jahat ini, Regina dan Keelua sudah membuat kalian tidak mau lagi mendengarkan semua perkataan saya yang sudah jelas jelas itu yang terbaik buat kalian. Kalian jangan mau dibodoh bodohi sama perempuan perempuan yang hanya mengincar harta kalian saja."


Begitu tega Oma Arum mengatakan itu di depan Regina dan Keelua langsung. Tapi karena sudah terbiasa, Regina tampak biasa saja, yang ia pikirkan hanya nasib anak perempuannya saja yang entah ada di mana sekarang.


Sedangkan Keelua, lagi lagi hatinya teriris karena semua kata kata menyakitkan yang Oma Arum katakan. Meskipun tau bahwa sikap asli Oma Arum memang seperti itu, tapi tetap saja ia belum terbiasa dan masih tidak bisa mentolerir semua hinaan seperti itu.


"Untuk pertama kalinya aku akan bilang bahwa Mama sudah keterlaluan, aku enggak nyangka kalau Mama bisa ngomong hal sejahat ini ke menantu Mama yang udah ngejagain Mama sejak lama. Ngerawat Mama kalau Mama lagi sakit, ngasih semua yang Mama butuhin dan ngurusin segala keperluan Mama. Mama enggak ingat semua jasa dan kebaikan Regina, Ma? Mama harusnya menghargai Regina, kalau bukan sebagai istri aku, setidaknya sebagai manusia."


Arya pun sudah mulai muak, setelah bertahun tahun ia sabar dan membiarkan istri dan anaknya ada di dalam tekanan batin seperti ini, akhirnya hari ini ia tak dapat menerimanya lagi.


"Maaf, tapi kami punya bukti kalau mobil yang Angel naiki sebelum hilang itu adalah mobil Oma. Kami punya rekaman CCTV-nya," kata Anraka, ia menyela percakapan Ayah dan neneknya.


Arya pun ikut penasaran, dengan napas yang terengah engah, ia menoleh ke arah Anraka yang mulai mengeluarkan ponselnya untuk menunjukkan rekaman CCTV yang ia maksud tadi.


Anraka meletakkan ponselnya ke atas meja dan menunjukkan rekaman video yang sudah ia salin ke ponselnya dari CCTV gerbang sekolah Angel tadi.


Sudah bisa terlihat dengan sangat jelas bahwa mobil yang membawa Angel pagi tadi adalah mobil milik Oma Arum, dilihat dari warna dan jenis mobilnya bahkan plat nomer kendaraannya pun sama.


Sudah tidak dapat diragukan lagi, itu memang benar benar mobil milik Oma Arum. Arya sangat mengenalinya karena dia yang membelikannya untuk hadiah ulang tahun Oma Arum tahun lalu.


"Ini beneran mobil Mama, Mama bawa Angel ke mana?" tanya Arya pada Oma Arum.


"Itu bukan mobil Mama, itu pasti cuma mirip-"


BRAK!


"TOLONG JUJUR, MA! ARYA SUDAH ENGGAK SANGGUP SAMA SIKAP MAMA!" Nada suara Arya meninggi begitu pun dengan intonasinya.


Tidak hanya Oma Arum, bahkan semua orang yang ada di ruangan itu terkejut saat mendengar suara kepala keluarga mereka itu menggelegar di dalam rumah. Ini pertama kalinya Arya membesarkan suaranya di depan Ibunya dan di depan anak anaknya.


Sebelum ini, Anraka pun tidak pernah melihat Arya semarah ini walaupun ia sangat nakal dan melakukan hal hal yang sulit di terima oleh keluarganya tapi orang tuanya tidak pernah benar benar memarahinya sampai menggebrak meja atau semacamnya.


"Apa apaan kamu ini?! Kamu sudah berani membentak Mama kamu demi perempuan yang tidak tau diri ini? Dan demi anak yang sebenarnya-"


"Cukup. Aku bakal pergi dari sini."


Regina bangkit, ia melangkah ke kamarnya dan mengambil tasnya tanpa berniat untuk membawa barang apa pun bahkan pakaian miliknya.


Tentu saja pemuda itu tidak akan membiarkan Ibunya pergi ke mana pun dengan keadaan marah seperti ini.


"Sayang, jangan tinggalin aku sama anak anak. Aku enggak akan biarin kamu pergi, tolong tetap di sini. Aku janji kita bakal nemuin Angel secepatnya, kamu enggak perlu cemas," bujuk Arya kemudian.


"Enggak perlu cemas kata kamu? Kamu tau siapa yang hilang, 'kan? Kamu tau siapa yang bikin aku cemas? Angel, anak aku, anak kita. Kamu bisa bayangin sekarang dia lagi di mana? Sama siapa? Dia baik baik aja atau enggak? Tolong, ngertiin aku yang cuma seorang Ibu yang enggak bisa ngelakuin apa apa tanpa anak aku."


Air mata Regina berlinang, begitu tampak bahwa wanita itu benar benar merasa kehilangan bahkan di saat baru beberapa jam Angel dikabarkan hilang.


"Aku tau. Aku sangat tau, aku sama cemasnya kayak kamu tapi kita enggak bisa ngelakuin apa apa selain tenang dan terus nyari Angel dengan berusaha buat enggak panik." Arya memegang kedua bahu istrunya, meyakinkannya bahwa semua akan baik baik saja.


Di saat semua orang sedang dilanda kesedihan dan kekhawatiran, Oma Arum tampak biasa saja bahkan wanita tua itu tampak kesal karena sikap Arya terhadapnya.


Keelua selalu memperhatikan gerak gerik Oma Arum yang duduk di depannya, ia melihat dengan jelas bagaimana raut wajah wanita itu saat menoleh ke arah Regina tadi, sorotnya benar benar seperti sorot mata benci.


Bahkan sekarang saat Regina akan keluar dari rumah karena perkataannya, Oma Arum sama sekali tidak peduli dan sesekali mengejek setiap kata yang Regina katakan. Wanita ini seperti tak punya hati, Keelua tiba tiba menyesal karena sudah menuruti semua perkataannya dulu bahkan membuang buang waktunya untuk mengawasi Anraka setiap hari di sekolah.


Sekarang saat mengetahui sikap Oma Arum yang asli serta segala kebohongan yang pernah wanita tersebut katakan, Keelua yakin bahwa ia akan sangat sulit untuk percaya pada Oma Arum lagi.


Tentu saja, siapa yang mau percaya setelah berkali kali dibohongi? Tidak ada, hanya orang bodoh saja.


"Oma Arum kayaknya emang sama sekali enggak punya hati, ya. Oma Arum harusnya sadar kalau apa yang Oma Arum lakuin itu sudah sangat keterlaluan. Oma Arum ini perempuan dan seorang Ibu juga. Bahkan, saya yang bukan siapa siapa di sini bisa melihat siapa yang benar benar punya hati yang baik dan siapa yang tidak. Itu bisa terlihat dengan sangat jelas."


Setelah beberapa menit diam saja di tempatnya, akhirnya Keelua buka suara. Tanpa rasa takut dan ragu gadis itu mengatakan apa yang sejak tadi ingin sekali ia katakan, semua perkataan itu tidak dapat sang gadis tahan walaupun ia ingin tetap menjaga sikapnya.


"Kamu juga mau ikut campur? Kamu seharusnya tau diri dan sadar posisi. Kalau bukan karena saya, kamu enggak akan pernah ada di sini sekarang, saya yang ngambil kamu dari keluarga kamu yang miskin itu. Kamu harusnya berterima kasih sama saya, hidup kamu jadi lebih baik dan kamu bisa bebas memoroti harta cucu saya sampai saat ini," balas Oma Arum dengan lebih sarkas.


Keelua terkekeh, "Saya rasa saya tidak perlu berterima kasih atau meminta maaf untuk apa pun kepada Anda. Saya rasa apa yang saya lakukan sekarang adalah sesuatu yang dapat dibenarkan, yaitu menyadarkan Anda bahwa bumi tidak berputar mengelilingi Anda jadi tolong jangan bersikap egois karena setiap orang punya kehidupan masing masing yang tidak dapat Anda atur bahkan Anda tidak punya akses untuk ikut campur apalagi memasukinya. Hargai orang lain sebagai mana Anda ingin dihargai."


Keelua membalas tatapan Oma Arum, mengangkat dagunya dan bersikap lugas sebagaimana seharusnya. Gadis itu bahkan merubah intonasinya agar Oma Arum bisa lebih memahami apa yang sedang coba ia jelaskan.


"Dan jika membahas tentang kehidupan saya, sayang sekali saya akan mengatakan bahwa kehidupan saya di rumah keluarga saya lebih baik daripada kehidupan saya selama di sini. Bagaimana bisa saya berkata seperti itu sedangkan rumah Anda ini begitu megah dan mewah? Jawabannya adalah karena di rumah mewah milik Anda ini saya tidak menemukan apa yang saya miliki di rumah saya. Anda ingin tau apa itu? Saya menyebutnya dengan kata kedamaian dan kasih sayang antar anggota keluarga.


Saya tidak menemukannya di sini, di sini hanya ada ego dan balas dendam. Bukan begitu?" jelas Keelua panjang lebar.


Semua kata yang baru saja Keelua katakan menarik atensi Regina, Arya bahkan Anraka yang sebenarnya sedang berdiskusi tentang kepergian Regina yang seharusnya tidak terjadi.


Pernyataan gadis mungil itu membuat mereka terdiam, mereka menyadari bahwa apa yang baru saja gadis itu ungkapkan adalah benar. Keelua tau bagaimana kehidupan keluarga Pranata berjalan padahal dari luar terlihat baik baik saja, gadis itu pandai menyimak dan membaca ekspresi orang lain.


Untuk Keelua, tidak ada yang lebih penting dari kebahagiaan bersama diri sendiri. Jika seseorang sudah kehilangan kebahagiaan di dalam dirinya sendiri, sudah dijamin bahwa orang itu akan terus berpura pura bahagia di mana pun ia berada.


Keelua menemukan kebahagiaan yang pura pura di dalam keluarga suaminya, ia menemukan itu di setiap anggota keluarga. Tidak ada yang bahagia, mereka hanya berpura pura dan saling membohongi satu sama lain.


Sebenarnya apa yang mereka cari dengan semua uang yang mereka punya? Semua aspek dalam hidup memang membutuhkan uang, tapi kebahagiaan tidak akan ditemukan hanya dengan uang saja


Ada banyak cara untuk bahagia yang paling penting adalah bersama keluarga.


"Satu lagi. Saya tidak pernah berbuat untuk memoroti harta cucu Anda atau memintanya untuk melakukan sesuatu yang akan menguntungkan saya. Selama dia bersama saya, saya selalu mengatakan bahwa dia bisa melakukan apa pun yang dia mau, apa pun yang dia inginkan tanpa ragu. Namun alih alih melakukan itu semua, dia malah memilih untuk tidak melakukannya karena dia tau bahwa apa yang dia lakukan itu tidak baik. Selama ini, Anda terlalu keras kepadanya dan menyalahkannya sepenuhnya karena sikapnya yang selalu melawan dan menentang perintah orang tua. Ini bukan kesalahannya, dia hanya ingin bebas dari rantai yang Anda ikatkan pada lehernya dan bebas dari sikap Anda yang sangat tidak mampu memanusiakan manusia."


Keelua mengatakan banyak hal dengan panjang lebar, kali ini ia menyuarakan kekesalannya tentang sikap Oma Arum yang ternyata sejak dulu memang selalu memaksa Anraka dan menyuruh pemuda itu melakukan hal hal yang tidak mau ia lakukan.


Anraka baru saja menceritakannya pada Keelua dan membuat pemuda itu hampir depresi selama ini.


Tapi syukurlah, selama Keelua ada untuk Anraka. Pemuda itu mengaku bahwa ia sudah mulai merasa senang lagi.


"Saya senang tinggal bersama orang tua saya yang miskin, walaupun mereka miskin, mereka punya hati yang tulus dan benar benar mencintai saya sebagaimana seharusnya orang tua mencintai anaknya. Bukan kasih sayang palsu seperti Anda."