
"Kenapa Bang Raka tiba tiba ngajakin Angel ke sini? Bang Raka tumben banget mau ngajakin Angel jalan jalan jauh, cuma berdua, enggak ngajak teman teman Bang Raka juga. Kenapa, Bang?"
"Enggak usah banyak tanya."
Angel memutar bola matanya malas lalu mengikuti langkah Anraka yang mulai masuk ke dalam villa milik keluarga mereka.
Sudah lama sekali Angel tidak datang ke tempat ini bahkan ia tak ingat kapan terakhir kali ia menghirup udara segar tempat ini yang sama sekali tidak bisa ia dapatkan di kota.
Angel begitu merindukan tempat ini bahkan barang barang yang ada di sana, tempat yang sederhana untuk Angel dan yang paling penting mentalnya akan selalu sehat saat ia berada di sini. Satu satunya pengaruh terburuk untuk Angel adalah sikap Oma Arum yang terus saja mencoba untuk membunuh jiwanya yang sudah lemah, mungkin Angel tidak pernah mengakui ini kepada keluarganya tapi ia bisa sangat merasakannya.
Kejadian terakhir yang menyebabkan Angel masuk rumah sakit masih sangat berbekas di dalam benak gadis itu, ia tak tau lagi apa yang harus ia lakukan agar traumanya tidak begitu mengganggu kesehatan mentalnya.
Hidup di dalam keluarga yang punya komunikasi yang buruk antar anggotanya adalah petaka untuk Angel. Mungkin ia terlihat baik baik saja dari luar tapi yang orang orang tidak pernah tau adalah gadis kecil itu sudah beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri namun selalu gagal.
Begitu sulit untuk Angel menerapkan semua kata kata yang disampaikan oleh ibunya. Nasihat demi nasihat yang selalu Regina ucapkan pada Angel sam sekali tak memberi efek apa pun. Jiwa Angel sudah terlanjur rapuh, tidak ada lagi yang bisa gadis itu lakukan selain menguatkan dirinya sendiri yang sudah dipatahkan berkali kali.
Dipaksa dewasa oleh keadaan mungkin adalah kalimat yang cocok untuk Angel, mungkin terdengar berlebihan tapi itulah kenyataannya. Angel sudah mencoba dan ia tak mau gagal untuk itu tapi sekali lagi, ia tak mampu.
Untung saja ia masih punya Anraka sebagai tameng yang mampu melindunginya dari keinginan keinginan mengakhiri hidupnya. Angel tau Anraka tidak punya cukup keberanian untuk membelanya di depan Oma Arum tapi gadis kecil itu bisa merasakan bahwa kakak satu satunya ini sangat menyayanginya.
Lantas bagaimana jika Anraka benar benar menikah dan hidup berjauhan darinya? Apa gadis kecil itu mampu menyelamatkan dirinya sendiri? Apa ia tak akan melakukan hal hal bodoh lagi? Tidak ada yang bisa menyelamatkannya jika Anraka tidak ada, jadi satu satunya hal yang harus Angel lakukan adalah membuang semua rasa yang merugikan itu dan hidup normal seperti orang lain. Jika ia mampu.
"Udah lama banget enggak ke sini ya, Bang. Angel kangen banget sama tempat ini, Bang Raka kangen juga, enggak?" tanya Angel dengan senyumnya.
Anraka mengangguk kecil lantas masuk ke dalam kamar yang memang tersedia di dalam villa itu untuk mereka tempati selama di sana.
Pemuda itu memasukkan semua barang barang miliknya dan Angel ke dalam kamar, sepasang kakak beradik itu akan tinggal di dalam kamar tersebut selama mereka berada di tempat ini.
Anraka tau betul bahwa Angel tidak akan mau tidur sendirian, setiap mereka datang ke villa ini, Angel selalu ingin tidur bersama kakaknya walaupun Anraka sudah berusaha keras untuk mengusirnya.
Sekarang Anraka tau bahwa Angel bukanlah orang yang gampang diusir, meskipun sudah pergi jauh, ia pasti akan datang kembali dan hal itu juga yang membuat Anraka senang karena Angel tidak pernah meninggalkannya sendirian.
Yang paling mengerti Anraka di dunia ini adalah Angel, gadis kecil yang manis itu selalu melakukan apa yang terbaik untuk kakaknya dan apa yang disukai oleh kakaknya. Itu sudah menjadi kebiasaan Angel untuk selalu berusaha membuat kakaknya bahagia walaupun terkadang Anraka memberikan respon yang biasa saja.
Angel juga bisa menebak suasana hari Anraka tanpa perlu pemuda itu mengatakannya apalagi meminta untuk dimengerti.
Anraka punya gengsi yang sangat tinggi, tidak semua orang mampu bertahan dengan sikapnya yang sangat dingin dan acuh tak acuh, jika sudah mengenalnya dengan baik, orang orang pasti akan kagum saat tau betapa baiknya Anraka.
"Abis ini kita mau ke mana, Bang?" tanya Angel seraya mendaratkan bokongnya ke arah sofa yang tersedia di ruang tengah villa.
Villa ini sangat luas namun designnya sangat sederhana. hingga membuat siapa saja yang ada di dalamnya betah dan sanggup berlama lama. Bangunan ini sangat menyatu dengan alam, suasana pinggir pantai sangat terasa hingga membuat siapa saja merasa tenang dan damai.
Suara ombak yang mengayun lembut terdengar seperti irama indah yang memanjakan telinga, perasaan tenang seketika menghujani Angel saat gadis kecil itu memejamkan mata dan membiarkan seluruh panca inderanya yang merasakan.
"Kita di sini dulu sampai sore, gue malas keluar panas panas." Anraka datang dan ikut duduk di depan Angel sambil membawa laptop andalannya.
Angel manggut manggut lalu tersenyum lebar, ia menemukan ide yang cemerlang dan harus melibatkan Anraka di dalamnya.
"Bang, ikut Angel bentar deh," ajak Angel.
"Ke mana? Enggak mau, malas, mager." Anraka tidak menoleh ke arah Angel sama sekali namun ia sudah bisa menolak gadis kecil itu tanpa melihat senyuman manisnya.
"Apaan sih, Bang? Ayo dulu, masa gitu aja enggak mau. Angel aja diajak ke sini sama Bang Raka langsung mau mau aja, supaya Bang Raka senang. Sekarang Angel ngajak ke depan doang enggak mau, malas banget, mending Angel pulang aja." Angel menekuk wajahnya, tidak ingin menatap Anraka yang sama sekali tak merasa bersalah.
Terdengar suara Anraka menghela napas pendek lantas pemuda itu berdiri walaupun sebenarnya ia tak mau, tapi apa boleh buat? Ini untuk adiknya.
"Ke teras, Bang!" seru Angel kemudian mengikuti langkah Anraka yang sudah keluar lebih dulu bersama laptop di tangannya.
Keduanya akhirnya sampai di teras, teras villa yang langsung menghadap ke pantai berpasir putih yang begitu cantik.
Angel lagi lagi mendaratkan bokongnya ke atas kursi dari kayu yang ada di teras villa mereka, Anraka ikut duduk di kursi lainnya kemudian menatap datar ke arah adiknya yang entah mengapa terus saja mengembangkan senyum.
"Ngapain ke sini?" tanva Anraka.
"Enggak ada, cuma mau duduk aja. Di sini udara sama pemandangannya bagus dan enak banget, Angel mau duduk di sini sama Bang Raka terus ngobrolin hal hal yang enggak begitu penting. Asal kita punya waktu berdua aja, gimana kalau tiba tiba Bang Raka harus ninggalin Angel? Angel enggak mau ngelewatin waktu berharga Angel sama Bang Raka," ucap Angel dengan senyum teduhnya, tiba tiba tatapan gadis itu menjadi redup, tidak seceria biasanya.
"Kenapa gue harus ninggalin lo?" tanya Anraka acuh.
"Cepat atau lambat, Bang Raka pasti bakal nikah, entah siapa perempuan beruntung itu tapi Angel pasti enggak bisa milikin Bang Raka sendirian lagi, Angel harus berbagi. Dan Bang Raka pasti bakal punya rumah sendiri dan tinggal sama istri Bang Raka nanti." Angel mengulum senyum.
Tatapan mata Anraka tajam, mata legamnya seolah berbicara.
"Gimana pun keadaannya, gue enggak bakal ninggalin lo sendirian."
...****************...
"Mama sama Papa bukannya enggak sayang sama kamu, nak. Mama udah jelasin semuanya, Mama minta kamu paham, ya." Sekar duduk di sebelah anak perempuannya yang sedari tadi hanya diam dan tidak mengatakan apa pun.
Sekar tau ini berat untuk Keelua, bahkan sebelum pernikahan yang mereka rencanakan benar benar terjadi, sikap Keelua sudah berubah seperti ini.
Gadis itu suka tiba tiba diam dan melamun sendirian di kamarnya atau di halaman belakang, apa semua yang terjadi sangat menguncang anak perempuan satu satunya ini? Sekar frustasi, serba salah dan tidak tau harus berbuat seperti apa.
Andai bukan karena bisnis keluarganya dan juga keluarga yang melamar anaknya adalah keluarga yang mampu dipercaya, Sekar tidak akan melakukan ini kepada anaknya.
Sekar tau apa yang Keelua rasakan sekarang karena dulu ia juga merasakannya, perjodohan yang awalnya membuat Sekar sakit hati kini dirasakan juga oleh putrinya. Untungnya, pernikahan Sekar dan Bambang akhirnya berakhir baik karena cinta yang di awal pernikahan tidak pernah ada, tiba tiba muncul seiring berjalannya waktu.
Jika Keelua benar benar menikah, Sekar sangat berharap anaknya akan menjadi sepertinya, memiliki pernikahan yang bahagia sampai mereka tua dan punya anak.
Semenghancurkan inikah perjodohan yang harus Keelua alami? Sepertinya Keelua benar benar belum siap untuk ini. Orang tuanya jahat sekali, dan juga orang yang melamar Keelua dengan begitu cepat, orang asing yang sangat Ravi benci bahkan sebelum anak laki laki itu tau siapa orangnya.
"Kak, gue dengar dengar ada film Korea yang baru banget rilis, ya? Lo udah nonton belum?"
Ravi mencoba membuka obrolan dengan topik yang Keelua sukai lebih dulu, mungkin saja dengan cara ini Keelua mau buka suara dan mengatakan apa yang sedang ia rasakan.
Ravi tidak masalah jika harus mendengarkan semua keluh kesah kakaknya, meskipun menyebalkan, Ravi lebih suka Keelua yang banyak bicara dan suka menjahilinya ketimbang Keelua yang pendiam seperti ini.
Hampir tidak pernah Ravi melihat seorang Keelua yang merupakan kakaknya berada di dalam situasi yang begitu menyedihkan hingga membuat gadis itu diam sepanjang hari dan hanya menatap kosong dinding kamarnya tanpa ekspresi.
Ini yang pertama kali dan sudah mampu membuat Ravi begitu cemas.
"Gue pengen nonton filmya bareng lo, katanya rating dramanya itu tinggi banget. Pasti bagus banget, gue juga udah download filmnya, kalau lo mau, kita bisa nonton filmnya sekarang. Gimana?" tawar Ravi dengan begitu antusias.
Sebenarnya Ravi tidak begitu suka menonton film yang genrenya bukan action apalagi romance, menurutnya itu membosankan. Tapi, kali ini untuk kakaknya, mau tak mau ia harus melakukannya agar perasaan dan suasana hati Keelua bisa menjadi lebih baik.
Di luar dugaan, ternyata Keelua tidak mengubris ajakan Ravi sama sekali, gadis itu tetap diam dan menatap kosong ke depan.
"Lo enggak mau, ya?" tanya Ravi dengan suara liriknya. "Ya udah deh enggak apa apa, lo istirahat aja. Gue hapus aja filmya. Lo juga enggak tertarik, 'kan?" lanjutnya.
"Genrenya apa?"