
"Kita bukan hantu."
Mata Keelua melebar, ternyata para hantu ini bisa bicara!
"Kalian kok bisa ngomong? Hantu harusnya cuma ketawa ketawa doang, bukannya ngomong bahasa manusia," sahut Keelua.
"Mereka udah bilang kalau mereka bukan hantu. Lo budek?" celetuk Anraka.
"Tadi di sana gue ajak kalian ngomong kok enggak ada yang nyahut? Harusnya kalau kalian emang bukan hantu, kalian pasti ngejawab pertanyaan gue atau apa gitu." Keelua mengeluarkan semua unek uneknya.
"Kami enggak terbiasa bicara dengan orang baru, makanya pas lo noleh lama ke belakang, kita langsung balik ke kamar lagi," balas salah satu dari beberapa sosok laki laki itu.
"Kita juga napak di tanah kok, kalau kita melayang, baru lo bisa bilang kita hantu," timpal pemuda lainnya.
Anraka akhirnya berani menoleh ke arah tiga pemuda itu setelah mendengar suara mereka yang memang terdengar seperti manusia asli.
"Emangnya tadi gue noleh ke belakang lama banget? Perasaan cuma sedetik doang abis itu gue noleh ke kalian lagi tapi kalian udah ngilang gitu aja," ucap Keelua dengan alis yang terangkat sebelah.
"Enggak. Lo nolehnya lama." Pemuda lain yang pun buka suara. sedari tadi diam
Keelua mendengus, "Ya udah, lain kali jangan nakutin orang lagi, apalagi gue. Tadi gue kira kalian beneran hantu, soalnya pucat banget."
"Kita bertiga lagi enggak enak badan," balas pemuda yang paling tinggi.
Mata Keelua terbuka sedikit lebih lebar, "Oh, kalian lagi sakit, ya? Semoga cepat sembuh. Kalian ini saudaraan bertiga?" tanya gadis itu kemudian.
Anraka menghela napas tipis, bisa bisanya ada manusia yang bisa mengobrol santai dan tampak sangat akrab dengan orang orang asing yang tidak pernah ia kenal sama sekali. Hanya Keelua saja, satu satunya di bumi. Lebih parahnya, orang orang ini adalah orang orang yang sama yang gadis itu kira hantu beberapa menit tadi.
Keelua memang aneh dan punya begitu banyak kejutan.
Pintu lift pun terbuka, Anraka bersorak senang di dalam hati lantas melangkah lebih dulu untuk masuk ke dalam lift tersebut.
"Iya, kita saudara. Saudara kembar tiga, cuma wajah kami emang enggak begitu mirip," jelas salah seorang pemuda yang berdiri paling dekat dari Keelua.
Keelua manggut manggut, ia cukup terkejut dengan pernyataan pemuda barusan. Baru kali ini Keelua bertemu dengan orang kembar tiga.
"Oh, gitu, ya. Terus kalian mau ke mana? Gue sama teman gue mau naik ke lantai lima, balik ke ruangan adik dia yang sakit. Kalian mau naik lift juga?" tanya Keelua dengan begitu ramah.
Ketiga pemuda itu sontak menggeleng, ternyata mereka tidak mau ke mana mana, ruangan mereka juga sepertinya berada di lantai dasar ini.
Anraka berdecak kesal, sudah beberapa detik ia menahan pintu lift ini agar tidak tertutup karena dia harus rela membuang buang waktu untuk menunggu Keelua yang masih asik mengobrol dengan para pemuda asing itu.
"Enggak. Ruangan kita di lantai dasar, kita cuma mau ngasih tau kebenaran kalau kita bukan hantu kayak yang lo pikir," sahut salah satu dari mereka lagi.
"Kita juga enggak mau tiba tiba ada rumor kalau rumah sakit ini berhantu cuma gara gara kesalahpahaman ini." Yang lain menimpali.
"Kayaknya lo harus pergi sekarang, teman lo udah nungguin dari tadi." Pemuda terakhir melirik ke arah Anraka yang berdiri di belakang Keelua, ia sudah berada di dalam lift sambil menahan pintu lift tersebut menggunakan kakinya.
"Astaga, iya! Gue lupa, kalau gitu gue pergi dulu, ya! Semoga cepat sembuh kalian!" seru Keelua sambil melambaikan tangannya dan masuk ke dalam lift yang sudah ada Anraka di dalamnya.
"Oh, iya, nama gue Keelua," kata Keelua bersamaan dengan gerakan Anraka yang menarik kakinya dan pintu lift tersebut itu pun mulai tertutup.
"Gue Bara."
"Gue Bama."
"Gue Bava."
...****************...
Sesampainya di ruangan Angel, Keelua tak habis habisnya menertawakan video yang telah berhasil ia dapatkan di lorong rumah sakit tadi. Video yang menunjukkan aksi Anraka yang berlari ketakutan ketika Keelua menakutinya lagi.
Anraka kembali duduk dengan wajah kesal di sofa yang tadi ia duduki sebelum kedua orang itu pergi ke kantin rumah sakit.
"Lo tadi kenapa ikut keluar? Bukannya pas gue ajak lo bilang enggak mau ikut?" tanya Keelua.
Anraka mendecih, "Gue cuma enggak mau lo hilang aja, males nyarinya. Pasti ngerepotin," balas pemuda itu.
Keelua mengangkat sudut bibirnya, "Masa, sih? Paling lo cuma takut sendirian di sini, 'kan? Lo kan penakut banget," cibirnya.
"Ngapain gue takut? Di sini kan ada Angel," ujar Anraka menyanggah perkataan Keelua.
"Tapi Angel kan belum siuman," balas Keelua lagi.
Anraka mendecak, "Terserah lo deh, gue enggak peduli." Lalu pemuda itu menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.
Pemuda itu memilih untuk tidur sekarang. Jika ia tidak melakukannya itu, mungkin besok ia tidak punya tenaga untuk pergi ke sekolah. Sebenarnya, Anraka berniat untuk tidak masuk besok, karena alasan harus menjaga Angel saat orang tua mereka sibuk bekerja.
'Lo mau ke sekolah enggak besok?" tanya Keelua kembali membuka suara.
Anraka tidak menjawab, pemuda itu hanya mengangkat bahunya tanda acuh atau mungkin tidak tau.
"Kayaknya besok gue enggak akan ke sekolah deh," tutur Keelua. "Ini udah hampir pagi, enggak mungkin juga gue datang ke sekolah pakai muka kusut gue yang enggak tidur semaleman," lanjutnya.
Pemuda yang tadi memejamkan matanya pun spontan membuka matanya.
Keelua bisa membaca pikirannya atau apa? Ia juga sedang memikirkan hal yang sama.
Entah karena apa, Keelua bangkit dari duduknya lalu melangkah mendekat ke arah Anraka yang kembali menutup matanya sembari menaruh kepalanya di atas sandaran sofa. Kepalanya mulai sakit karena kurang tidur.
"Gue duduk di sini aja," kata Keelua lalu duduk di sebelah Anraka.
Pemuda yang sedang memakai kaos berwarna biru tua dan celana jeans hitam itu membuka matanya kembali secara perlahan lahan, lalu melirik ke arah gadis yang tiba tiba sudah duduk di sebelahnya.
"Lo ngapain ke sini? Sofa di sana kosong," tanya Anraka sembari menunjuk sofa yang baru saja ditinggalkan oleh Keelua.
"Enggak apa apa, sih. Gue cuma takut aja kalau nanti tiba tiba ada makhluk yang duduk di samping lo gitu dan gangguin lo pas lo udah tidur. Tapi kalau lo enggak suka gue di sini, gue pergi aja deh," terang Keelua lalu gadis itu berniat untuk bangkit dari tempatnya.
"Udah, enggak usah. Lo di situ aja," kata Anraka sambil memejamkan matanya.
Keelua tersenyum miring lalu kembali duduk di sofa yang yang juga diduduki oleh Anraka.
Bukannya apa apa, hanya saja Keelua malas duduk sendirian. Ia ingin duduk di sebelah Anraka karena bagian tempat duduk Anraka itu cukup stategis untuk dijadikan tempat tidur.
Namun bukannya tidur, gadis itu malah mengkhayal dan menatap langit langit ruangan bercat putih tersebut. Ia memikirkan tentang hal yang hari itu diberitahu oleh kedua orang tuanya. Tentang rencana perjodohannya dengan seorang pemuda yang tak ia kenal.
Keelua tidak tau bagaimana cara mengungkapkannya namun sebenarnya ia sangat tidak mengingatkan itu. Ia bahkan belum lulus sekolah dan belum cukup umur untuk menikah. Menikah belum ada di list apa saja yang ingin Keelua lakukan semasa sekolah. Apa yang harus gadis itu lakukan agar perjodohan bodoh ini bisa dihentikan?
Tanpa sadar air mata pun m mengalir di pelupuk mata gadis itu, ia benar benar tidak menginginkan ini semua namun orang tuanya seperti menaruh harapan besar pada perjodohan ini. Keelua di hadapkan dengan dua pilihan yaitu; mengakhiri masa mudanya atau menghancurkan hati kedua orang tuanya.
Pilihan yang sangat mudah, bukan?
Sesekali gadis itu menghela napas lalu menyeka air matanya namun setelah itu ia kembali meneteskan air mata.
Anraka yang semulanya tidur tiba tiba membuka mata namun Keelua tidak menyadarinya. Pemuda itu tau bahwa gadis di sebelahnya sedang menangis dan itu cukup mengganggunya tapi menyuruh gadis itu diam dengan paksa pun tidak kedengaran seperti ide yang bagus.
Anraka menebak pasti Keelua sedang memiliki masalah yang cukup serius hingga membuatnya harus berpikir keras di malam hari atau orang orang menyebutnya overthinking. Percayalah, Anraka juga sering merasakannya. Dan tidak ada orang yang tau bahwa ia punya masalah yang sangat besar, hanya dirinya sendiri, juga bantal yang ada di kamarnya yang setiap malam selalu melihatnya menangis dan mengeram frustrasi.
Itu pasti sangat menyakitkan. Ketika kau membutuhkan seseorang namun tidak ada seorang pun yang bisa berada di sebelahmu. Tidak perlu orang yang bisa menyelesaikan masalahmu, hanya butuh seseorang yang bisa menyakinkanmu bahwa semuanya akan baik baik saja. Anraka tidak memiliki seseorang seperti itu, ia hanya memiliki dirinya sendiri sebagai penyemangat hidupnya.
Hidupnya yang selalu abu abu dan tidak membutuhkan orang lain, ia akan selalu mampu.
Keelua masih terisak di sebelah Anraka. Pemuda itu akhirnya tidak memiliki cara lain selain bangkit dan mendekap tubuh Keelua yang sepertinya sangat kelelahan. Isakannya perlahan mereda, lalu perlahan lahan tangan gadis itu membalas pelukan Anraka.
Anraka merutuki dirinya berkali kali kita ia baru saja menyadari apa yang telah ia lakukan. Ia memeluk seorang gadis tanpa persetujuan dari gadis tersebut, tapi ini adalah satu satunya cara agar Keelua berhenti terisak dan ia bisa tidur kembali.
Waktu terasa berlalu agak lambat, setelah beberapa menit, posisi keduanya masih bertahan. Anraka pun berpikir untuk memindahkan tubuh Keelua ke sofa satunya agar gadis itu bisa tidur dengan nyaman. Tak masalah dengan apa yang dikatakan oleh gadis itu tadi, soal makhluk atau semacamnya. Anraka sudah tidak peduli, ia hanya ingin tidur sekarang juga.
Dengan sangat mudah Anraka mengangkat tubuh Keelua dan perlahan lahan menaruhnya di atas sofa. Setelah itu, si pemuda pun kembali ke sofa miliknya untuk tidur juga.
Anraka menghela napas, "Ternyata cewek gila kayak dia bisa sedih juga."
...****************...
"Raka! Bangun!"
"Keelua! Bangun, woi!"
Samar samar Keelua mendengat suara gaduh ketika ia sedang memejamkan mata. Perlahan lahan gadis itu pun membuka matanya.
"Eh, kok gue pindah di sini? Bukannya semalem di sebelah si Raka, ya?" gumam gadis itu sembari mengucek matanya.
"Cie, semalem duduk berduaan gitu?"
Mata Keelua terbelalak ketika ia mendengar suara yang sangat ia hafal itu. Suara Gibran.
Gadis itu akhirnya bangkit dari posisi tidurnya lalu melihat situasi ruangan Angel sekarang.
"Pagi, Kak Keel."
"Angel, kamu udah bangun?" tanya Keelua dengan suara parau khas orang baru bangun tidur.
Angel mengangguk, "Iya, Kak." Lalu gadis kecil itu tersenyum.
Wajahnya masih pucat namun tampak lebih baik dari pada saat ia tidak sadarkan diri.
"Kalian ngapain ke sini?" Mata Keelua terbelalak ketika mengetahui bahwa anggota geng EX berada di ruangan Angel, ruangan yang tadinya terasa luas langsung terasa sempit begitu para bujang bujang itu datang.
"Kenapa lo enggak bilang sih kalau semalem lo sama Raka nginep di sini? Kalau gue sama EX tau kan kita bisa ikutan nginep juga," kata Romeo.
Gibran mengangguk, "Bener tuh. Tapi kayaknya kalian sengaja deh, supaya kalian berdua bisa berdua duaan di sini tanpa ada yang ganggu," goda pemuda itu.
"Sekali lagi lo ngomong gue tabok kepala lo pakai tabung oksigen, ya, Gib," ancam Keelua masih dengan mata mengantuknya.
Pemuda yang diancam malah tertawa.
Keelua pun bangkit dan melangkah menuju kamar mandi yang tersedia di ruangan VIP yang sedang Angel dan para penjaganya ini tempati. Termasuk Keelua.
Gadis itu akan membersihkan wajahnya dan menyikat giginya terlebih dahulu. Itu merupakan kebiasaan yang selalu ia lakukan setiap pagi. Itulah alasannya mengapa ia membawa sikat gigi dan juga pasta gigi dari rumah.
Anraka pun ikut bangun, si pemuda mendudukan diri di atas sofa masih dengan wajah setengah sadarnya.
"Rak, semalem kalian ngapain?" bisik Gibran.
"Seru, sih," balas Anraka, matanya masih setengah terpejam.
Bumi yang sedari tadi fokus bermain game bersama Ganta melirik ke arah Anraka.
"Seru? Kalian ngapain?" tanyanya.
"Kejar kejaran sama hantu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.