
"Iya, Ma. Kenapa nelpon malam malam?"
Anraka terbangun saat ponselnya berbunyi Ketika ia sedang bermain laptop, ternyata ada sebuah panggilan dari Regina, sang Ibu.
"Kamu apa kabar di sana, sayang? Kamu sama Keelua baik baik aja. 'kan?" tanya Regina dengan penuh kekhawatiran.
Anraka memperbaiki posisi duduknya, ia meletakkan laptopnya di atas meja nakas kemudian mulai mendengar apa yang ingin Ibunya katakan.
"Anraka sama Keelua baik baik aja, Ma. Kami nyaman di sini, enggak ada yang perlu Mama cemasin, kami selalu baik dan ngerasa bahagia karena enggak ada yang berniat buat misahin kami."
Terdengar suara Regina yang mulai parau, sepertinya wanita itu sedang menangis. Anraka hanya diam saja, ia tau sang Ibu sangat sedih karena keputusannya untuk pergi dari rumah yang sejak kecil ia tempati lalu hidup berdua bersama Keelua di rumah yang sudah ia beli menggunakan uang pribadinya sendiri.
"Mama jangan nangis, Anraka benar benar baik di sini. Kalau Mama sedih, Raka sama Keelua jadi enggak tenang, Mama tenang, ya." Anraka mengusap wajahnya, ia tak mau Ibunya sedih seperti ini namun apa lagi yang harus ia lakukan? Hanya ini cara yang bisa ia lakukan agar hubungannya dengan Keelua bertahan dan mereka tidak harus berpisah hanya karena ego keluarga.
"Mama yakin kalian pasti baik baik aja dan kamu pasti bisa menjaga Keelua tapi yang Mama enggak bisa tahan itu rasa rindu Mama ke kalian. Mama enggak bisa jauh dari kalian, Angel juga gitu, dia kayak sedih banget karena enggak punya kakak kakak yang bisa nemenin dia lagi. Adik kamu kesepian di sini, Raka," ungkap Regina, ia masih mengusap air mata yang terjatuh tanpa sengaja.
“Kasih tau sama Angel, dia bisa ke sini kapan aja. Atau kalau dia mau, Raka bisa jemput dia di sana, jangan sungkan buat datang ke sini, Raka sama Keelua juga kangen banget sama dia." Hanya kata kata manis yang dapat Anraka beri untuk Ibunya saat ini.
"Mama sama Papa bakal selalu nunggu kalian datang ke rumah ini lagi, sayang. Kami akan selalu dukung kalian, kalian enggak boleh pisah. Jangan biarin siapa pun misahin kalian," pesan Regina pada putra sulungnya itu.
"Mama tenang aja, Anraka di sini buat mertahanin itu semua, Mama sama Papa harus dukung kami, ya. Hanya kalian yang kami punya, hanya kalian harapan kami satu satunya." Anraka tak mampu berkata kata, cukup dirinya dan istrinya saja yang mengerti bahwa mereka juga terluka dan sedang ada di masa yang paling sulit.
"Selalu, sayang. Keelua mana? Mama mau ngomong."
"Keelua udah tidur, Ma," balas Anraka sambil menoleh ke arah sang istri yang sudah tertidur pulas di sebelahnya.
"Udah tidur, ya? Mungkin dia capek banget atau emang udah waktunya dia buat tidur." Regina memaklumi, ia tau bahwa menantunya juga terpukul dengan semua hal yang sedang ia dan suaminya lewati.
"Iya, Ma. Capek nangis dia," balas Anraka.
"Oma Arum udah datang ke sana ya tadi?" tanya Regina lagi.
Anraka menghela napas panjang, "Iya," jawabnya singkat.
Regina melakukan hal yang sama, ia juga menghembuskan napas seolah ia sangat lelah.
"Pantas aja, Oma Arum bilang apa sama kalian?" Regina tau bahwa semua ini pasti ada hubungannya dengan Ibu mertuanya.
"Sama kayak yang terakhir kali, Ma. Oma Arum nyuruh Raka sama Keelua pisah tapi Raka masih enggak tau alasannya apa. Padahal dulu Oma yang maksa kami nikah, sekarang dia juga yang maksa kami pisah. Oma Arum mungkin enggak tau gimana rasanya maksain perasaan dan bikin perasaan cinta benar benar tumbuh dengan sendirinya. Ini enggak mudah," ungkap Anraka, ia harap Ibunya bisa mengerti.
"Mama tau, sayang. Mama sangat tau perasaan kamu. Jangan nyerah, kamu udah ada di jalan yang benar, tetap pertahanin apa yang menurut kamu benar karena kehidupan kamu udah ada di tangan kamu sekarang, bukan di tangan orang lain lagi. Kamu sudah besar, sudah tau yang mana benar dan yang mana yang salah." Regina menjelaskan sedikit tentang apa yang harus Anraka lakukan dan memberikan petuah untuk anaknya.
"Terima kasih udah mau ngertiin dan ngedukung kami, Ma. Ini berarti besar banget buat kami," ucap Anraka akhirnya.
"Sama sama, sayang. Ya udah, kalian istrahat dulu. Mama titip sama aja buat Keelua, ya. Semoga kalian sehat terus, jaga kesehatan fisik dan mental, kalian harus bahagia terus juga, ya," pesan Regina sebelum ia menutup telepon.
"Iya, Ma. Mama juga, ya."
"Kalau gitu, Mama tutup dulu teleponnya. Ingat pesan Mama dan jagain Keelua terus, dia itu tanggung jawab kamu, sayang." Lagi lagi Regina memberi petuah pada sang anak.
Anraka menganggukkan kepala meskipun tidak ada yang bisa melihatnya selain Keelua yang juga sedang tertidur.
"Iya, Ma. Pasti."
"Selamat malam, Mama."
Panggilan terputus, Anraka hendak memulai pekerjaannya namun sosok Keelua yang sudah tertidur pulas di sebelahnya ini mengalihkan perhatiannya.
Wajah Keelua terlihat sangat lelah, gadis itu sudah tak sunggup menangis hingga ia ketiduran. Seperti biasa, gadis cantik itu selalu tertidur di dalam dekapan Anraka dan tidak bisa jauh dari sang suami.
Anraka pun sudah terbiasa dengan sikap manja Keelua hingga menganggap itu adalah sebuah hal termanis yang pernah seseorang lakukan padanya.
Anraka selalu suka ketika Keelua bermanja manja dengannya dan merengek agar ia tak ke mana mana, ia tak menyangka bahwa Keelua-gadis yang dulu sangat ia benci ini bisa menjadi istri yang sangat ia cintai sekarang.
Cinta memang membingungkan. Cinta bisa jadi benci dan benci bisa jadi cinta, tidak ada yang tidak mungkin dan apa saja bisa terjadi. Tidak perlu heran lagi tentang itu.
Salah satu alasan Anraka tidak bisa melepaskan Keelua bahkan ketika Oma Arum yang menyuruhnya adalah karena Keelua bukanlah tipe perempuan yang kerap Anraka temui.
Keelua berbeda, gadis itu tidak terlalu baik namun dapat mengerti situasi dengan baik, ia mampu memahami tanpa mengeluh dan banyak permintaan. Ia akan menjalani kehidupan sederhana dan tidak neko neko.
Bahkan di saat seperti ini, Keelua hanya diam dan terus berdiri di sebelah Anraka meskipun ia tau segala risiko yang mungkin akan ia dapat karena tetap bertahan dengan pemuda itu.
Oma Arum tidak akan berhenti begitu saja, ia pasti akan melakukan sesuatu agar Anraka dan Keelua mau berpisah. Hal itulah yang Anraka jaga, ia tak ingin membuat dirinya terpengaruh dengan apa pun tipu daya Omanya, ini adalah pertama kalinya ia menentukan sesuatu dalam hidupnya tanpa campur tangan Oma Arum yang memang selalu mengatur segala galanya tentang kehidupannya.
Sebenarnya Anraka juga muak tapi karena ia menyayangi Omanya, maka dari itu ia berusaha untuk menerima segala keputusan Omanya. Tapi sekarang ia sudah tak mampu lagi.
"Tugas gue sekarang adalah jagain Keelua, enggak ada lagi."
...****************...
"Selamat pagi!"
Anraka mengusap matanya ketika suara ceria itu menyapanya di pagi hari yang indah, ia mencoba membuka matanya dan menemukan seorang gadis cantik yang tampaknya sudah mandi dan berganti baju menatapnya dengan penuh senyuman dari sisi kasur.
"Pagi, Keel. Udah bangun lo?" tanya Anraka sambil merenggangkan tubuhnya.
"Udah, dong. Udah mandi, udah bikin sarapan juga. Bangun dulu, yuk. Sarapan bareng." Keelua menarik tangan Anraka untuk bangun, ia berusaha agar tidak kembali terlelap lagi.
"Lima menit!" seru Anraka.
"Enggak ada lima menitan, ayo buruan!" titah Keelua dengan begitu galak.
Anraka belum juga bergerak, Keelua melipat tangannya di depan dada lalu berbalik dan membelakangi Anraka yang masih terlentang di atas kasur.
"Ya udah kalau gitu, sarapan yang udah gue buat mending gue makan semuanya atau gue kasih kucing aja. Percuma udah capek capek bikinnya malah enggak ada yang makan," omel Keelua sambil berjalan keluar dari kamar.
Saat sudah sampai di meja makan, Keelua duduk dan terdiam. Mendadak perasaan rindu kembali muncul di dadanya, meja makan adalah tempat dirinya dan keluarganya berkumpul bersama dan menceritakan banyak hal.
Sekarang, ia melihat meja makan yang ia tempati kosong dan tidak ada acara berebut makanans seperti di rumahnya. Sekarang meja makan yang ia tempati benar benar kosong dan hanya ada dirinya yang duduk di sana. Memandangi makanan yang dia buat sendiri juga.
Rasanya sangat menyedihkan.
Keelua merindukan rumahnya yang hangat dan selalu punya secangkir teh hangat di atasnya. Sehangat ikatan keluarga yang telah mereka bentuk dengan penuh kasih sayang.