BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
Mematahkan hati



"Kita mau ke mana dulu, nih?" tanya Bumi saat dirinya dan Keelua baru saja melangkahkan kaki masuk ke dalam pusat perbelanjaan.


"Kita makan dulu kayaknya, gue laper banget," balas Keelua.


Bumi memasang raut wajah aneh, sepertinya dia terkejut, "Kayak ada yang kurang," ucapnya.


"Apa?" Keelua menoleh ke arah Bumi.


"Kenapa lo enggak bilang terserah kayak cewek cewek lain? Harusnya lo bilang terserah dulu terus gue tawarin beberapa hal baru deh lo milih." Bumi menjelaskan.


Keelua memasang tampang bingungnya kemudian membalas tatapan Bumi, "Apaan, sih? Enggak jelas banget lo."


Bumi terkekeh, di detik selanjutnya senyuman di bibirnya lenyap. Keelua menoleh ke arah pemuda itu, alisnya mengerut.


“Keel, gue mau nanya deh.”


Tiba tiba pemuda itu buka suara.


"Apa?" Sambil menatap ke arah keramaian, Keelua menjawab.


Perasaan gadis itu mulai tidak enak.


"Lo sebenarnya ada hubungan apa sih sama Raka? Kayaknya kalian dekat banget, ya?"


Sudah Keelua duga.


Keelua tidak langsung menjawab, ia diam beberapa saat lalu terkekeh pelan, "Kayaknya itu bukan topik yang bagus buat dibahas sekarang, deh." Lantas kembali memalingkan wajah.


"Kenapa?"


"Filmnya bentar lagi mulai, ayo buruan!"


Keelua menarik tangan Bumi untuk berjalan lebih cepat, gadis itu berusaha untuk mengikis canggung yang terus mendera mereka. Keelua tau ini bukanlah saat yang tepat untuk menjawab pertanyaan Bumi tadi, ia hanya bisa menjauhi semua pertanyaan yang terus berputar di dalam kepala Bumi itu.


Mereka sudah ada di dalam bioskop sekarang, bersama sama menikmati film yang sedang berputar di layar. Saat semua orang sedang hanyut dalam alur film, Keelua malah hanyut dalam pikirannya sendiri, ia tak bisa menikmati apa yang ada di hadapannya.


Sungguh, di dalam ruangan itu sangat hening tapi dalam kepalanya sangat ramai.


Beberapa jam berlalu, lampu bioskop menyala, semua orang berdiri dari kursi mereka. Keelua menoleh, tampaklah wajah Bumi, pemuda yang sangat menyukainya, pemuda yang begitu baik dan tulus padanya, pemuda yang hari ini harus ia suruh pergi, pemuda ceria yang akan ia hilangkan senyumannya, lagi dan lagi.


"Gimana filmnya, Keel? Lo suka?" Bumi bertanya setelah membalas tatapan Keelua, di bibirnya terdapat senyum yang benar benar manis, seperti biasanya.


"Lo suka sama gue?"


"Apa?"


"Gue nanya, lo suka sama gue?" tanya Keelua lagi.


Dengan ragu, Bumi menganggukkan kepala, pipinya memerah.


"Jangan suka sama gue, please."


Keelua mengatakan itu dengan berat hati, ia tau bahwa apa yang ia katakan barusan benar benar akan menyakiti hati Bumi. Keelua tidak punya cara lain, ia harus segera menyelesaikan segala kesalahpahaman yang membuat ia harus terus berpura pura.


"Kenapa? Gue cuma mau minta kejelasan dari lo," tanya Bumi.


"Kejelasan apa? Dari awal hubungan ini emang udah enggak jelas." Keelua tidak dapat menatap mata Bumi saat ini, ia tidak sanggup melihat raut kecewa dari wajah pemuda itu.


"Tapi gue harap hubungan kita bisa jelas, Keel."


"Maaf, tapi kita benar benar enggak bisa jelas, Bumi. Kita enggak bisa sama sama, sampai kapan pun. Mau sekeras apa pun lo berusaha supaya kita sama sama, tetap aja enggak bisa."


Studio bioskop sudah hampir kosong, yang tersisa hanya ada Bumi, Keelua dan kecanggungan.


"Kenapa enggak bisa? Kita cuma perlu jalanin bareng bareng, hubungan ini bakal jelas kalau kita berdua mau ngejelasinnya kok.”


"Tapi gue enggak mau." Keelua menoleh ke arah Bumi, tatapannya sendu, matanya basah.


Bumi terdiam, ia mulai tau ke mana arah pembicaraan mereka. Ia tau Keelua sedang menolaknya mentah mentah, namun haruskah seperti ini pada akhirnya? Haruskah dia mengakhiri semua perjuangannya sampai di sini saja?


Rasanya sulit melepaskan apa yang belum pernah sempat ia miliki.


"Gue enggak bisa ngelepasin lo gitu aja, Keel. Lo yakin mau nolak gue sekarang? Lo enggak mau ngasih gue kesempatan untuk nunjukin apa yang bisa gue lakuin buat lo? Please, jangan patahin hati gue gitu aja, Keel."


Bumi menggenggam erat tangan Keelua, menatap mata gadis itu dengan penuh harap hingga Keelua bisa merasakan bahwa Bumi benar benar sedang terluka.


"Gue bakal berusaha supaya kita bisa sama sama, gue enggak akan berhenti sampai di sini, gue masih punya harapan, ‘kan?” Bumi menundukkan kepalanya, meletakkan tangan Keelua di depan dahinya, seolah olah dia sedang memohon.


"Gue enggak akan ngasih lo kesempatan apa pun. Karena kalau gue kasih, gue akan ngasih cela buat lo terluka dan gue juga. Kita bakal sama sama terluka, gue enggak mau itu sampai kejadian." Keelua menarik tangannya dari genggaman Bumi, mendongak dan menyeka air mata di pipinya.


Gadis itu bangkit, membiarkan Bumi menatapnya dengan bingung dan hati yang hancur. Untuk pertama kalinya Keelua terpaksa harus mematahkan hati seseorang yang menyukainya dan hatinya pun ikut patah.


"Kita cukup sampai di sini aja, Bumi. Jangan pernah berharap sama gue dan jangan biarin gue tetap tinggal di hati lo. Buang gue jauh jauh, maaf untuk semuanya tapi gue enggak bisa ngebalas perasaan lo lebih jauh,” kata Keelua. "Gue harap, kita bisa selalu jadi teman baik dan enggak ada masalah setelah ini," sambungnya.


Gadis itu hendak berbalik namun Bumi mencekal tangannya sebelum ia lenyap dari jangkauan.


Mau tak mau, Keelua berbalik lagi. Bumi menatap mata Keelua dengan begitu lekat hingga membuat gadis itu terhipnotis dan tak mampu berbalik.


"Kalau ini emang akhir dari kisah kita, gue harap lo bakal terus bahagia dan enggak pernah ngerasain apa yang gue rasa sekarang. Lo baik, Keel. Lo terlalu baik buat terluka," ucap Bumi dengan sisa kata yang ia punya.


Saat tubuh Keelua masih membeku, Bumi ikut bangkit dari tempatnya duduk kemudian melepaskan cekalan tangannya lalu, meninggalkan Keelua lebih dulu.


Sebelum benar benar pergi, Bumi berbalik lalu berkata, "Kalau emang bukan gue yang ada di hati lo, harusnya lo bilang dari awal." Kemudian berbalik lagi dan menghilang dari pandangan Keelua.


Keelua terdiam, ia terpaksa harus melihat kepergian Bumi dengan matanya sendiri. Pemuda itu melangkah menjauhinya, bersama luka yang dengan sengaja Keelua torehkan. Mata Keelua memanas, kemudian berair, ia menangis, sesunggukkan.


Hati Keelua sama sakitnya, bukan karena mereka berdua tak bisa bersama namun karena ia sadar bahwa luka yang ia beri pada Bumi terlalu dalam. Bahu Keelua bergetar, ia merasakan sakit yang teramat sangat, napasnya sesak hingga tak mampu mengais oksigen di sekelilingnya.


"Mbak? Mbak enggak apa apa?"


Seseorang datang dan menghampiri Keelua yang sedang menangis di tempatnya berdiri, gadis itu mendongak dan mendapati seorang perempuan sedang menepuk bahunya, dari baju yang ia kenakan, sepertinya ia adalah staff bioskop.


"Enggak apa apa, kak." Keelua menghapus air matanya lalu tersenyum tipis.


"Kakak butuh bantuan? Mau saya bawain air minum?" tanya staff itu dengan ramah.


Keelua menggeleng, "Enggak perlu, kak. Saya mau langsung pulang kok," katanya.


"Saya antar sampai ke bawah, ya. Takut mbaknya pusing atau gimana," ujar staff bioskop itu lagi.


Keelua menurut saja, perempuan yang sedang menuntut jalannya itu membawa tubuhnya pelan pelan menuruni tangga bioskop kemudian berjalan beriringan keluar dari studio itu.


"Mau saya antar sampai parkiran, mbak?" Staff itu kembali menawarkan bantuan tapi Keelua menolak.


Keelua menggeleng, ia benar benar sungkan karena perempuan yang berdiri di depannya ini terlalu baik.


"Enggak usah, saya udah enggak apa apa, kok." Meski matanya sudah sangat sembab, Keelua tetap mampu mengatakan bahwa ia baik baik saja. Ia tak mau terlihat lemah di depan orang yang bahkan sudah melihatnya menangis tersedu sedu seperti tadi.


"Tadi yang keluar duluan itu pacarnya mbak, ya?" tanya staff itu, sepertinya ia mengetahui bahwa Bumi adalah orang terakhir yang keluar dari studio itu sebelum Keelua menangis sesunggukkan di sana.


Keelua menggeleng, "Bukan, dia teman saya," jawab gadis itu dengan jujur.


"Teman? Kenapa mbaknya nangis? Apa dia macam macam sama mbak? Apa perlu saya hubungin petugas keamanan untuk amanin dia?" tanya staff itu dengan wajah panik.


Tentu saja Keelua menolak, ia tak ingin Bumi kenapa kenapa, ini memang salahnya juga, sebagian.


"Jangan, saya kenal dia, dia enggak ngapa ngapain cuma kita tadi ada salah paham gitu makanya dia pergi terus saya nangis karena saya kesel," aku Keelua, ia tau bahwa apa yang ia katakan adalah sebuah kebohongan namun hanya itu yang bisa membantunya sekarang untuk segera pergi dari tempat ini.


Staff tadi mendekat lalu merangkul bahu Keelua sambil tersenyum,


"Saya enggak kenal sama Mbak, saya juga enggak tau masalah Mbak apa, tapi saya harap Mbak sama laki laki tadi bisa baikan lagi. Dari tatapannya, temen Mbak tadi juga lagi kecewa banget," ucapnya.


Keelua menghela napas, ia tau itu.


"Ya udah, saya pergi dulu, ya. Makasih udah bantuin saya, kak," kata Keelua sambil memaksakan senyumannya.


Staff itu mengangguk lalu membiarkan Keelua melangkah menjauhinya.


"Cewek bodoh."


Keelua berjalan sendirian untuk keluar dari mall, langkahnya gontai, ia tak seceria biasanya. Gadis itu tidak memerhatikan langkahnya, ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri, tentang apa yang akan terjadi setelah ini, akankah hubungannya dengan Bumi tetap seperti teman biasa seperti dulu.


Saat Keelua hendak melangkah keluar dari mall, seorang satpam menghentikan langkahnya lalu tersenyum ke arah gadis itu.


"Maaf, Mbak Keelua."


Keelua mendongak, ia sedikit terkejut, ia rasa ia tak mencuri apa pun di dalam mall.


"Iya, kenapa? Kok tau nama saya?" tanya gadis itu.


"Mbak Keelua sudah di tunggu sama Tuan Anraka di mobil."