
Angel melangkah dengan grasa grusu di sebelah Anraka, tangannya terkepal kuat di kedua sisi tubuhnya. Angel kesal sekali!
Bagaimana tidak? Sekarang gadis itu tengah berjalan di tengah tengah Mall bersama Anraka dengan piyama bergambar karakter kupu kupu, rambutnya dicepol tinggi dan wajahnya berantakan sekali.
Angel lagi lagi mendengus kesal.
Kenapa Anraka tiba tiba mengajaknya ke Mall malam malam begini? Jika ingin mengajaknya jalan jalan harusnya dilakukan besok saja, ketika Angel sedang rapi dan cantik.
"Kita mau ke mana sih, Bang! Aku males banget jalan ke Mall malem malem gini, aku pasti dikira pengemis yang tersesat."
Anraka tidak menjawab, pemuda itu hanya terus berjalan.
"Aduh!" Angel memekik pelan. Seseorang menabrak tubuh gadis kecil itu.
Anraka dengan sigap menarik tubuh Angel yang hampir saja terhuyung ke belakang, lantas menoleh dan mendapati sosok yang baru saja menabrak tubuh adiknya.
"Kalau punya mata dipakai, jangan cuma dipajang doang."
Orang itu berbalik lalu membalas tatapan Anraka, "Apa lo?"
"Lo nabrak adik gue, sialan."
Tanpa rasa bersalah orang itu malah terkekeh mengejek lalu melangkah mendekat ke arah Anraka yang menatapnya dengan datar.
"Terus kenapa kalau gue nabrak adik lo? Lo enggak suka?" tantang orang itu, tubuhnya tinggi dan lebih besar dari pada Anraka.
"Gue bisa pukulin lo sampai babak belur ri sini sekarang juga kalau lo sengaja nabrak adik gue." Anraka menatap pemuda itu tajam.
Angel yang ada di sana tidak bisa melakukan apa apa, ia tau betul kalau sekarang kakaknya itu sedang sangat marah. Orang yang menabraknya tadi pasti akan terkena masalah jika tidak segera pergi dari tempat itu.
"Udah udah. Pergi aja sana, enggak usah ribut di sini," ucap Angel pada pria yang berdiri tegap di hadapan Anraka.
"Diam aja lo."
"Aw!"
Orang yang tidak dikenal itu lalu mendorong tubuh Angel dengan kasar, Angel memundurkan langkahnya spontan.
BUGH!
Satu bogem mentah langsung mendarat tepat di wajah orang tadi, tanpa segan Anraka langsung menghajarnya.
Angel memekik kaget saat Anraka terus membogem wajah pria yang tampak lebih tua darinya itu dengan liar, semua orang sudah berkumpul untuk melihat adegan itu.
Pria yang dipukuli sudah terbaring di lantai, sesekali membalas dengan mencoba membalas pukulan Anraka namun tidak bisa, Anraka sudah memimpin perkelahian sejak tadi. Walau pun sudah menjadi pusat perhatian, namun Anraka masih tetap melanjutkan aksinya.
Tidak ada yang memcoba melerai, bahkan teman pria itu pun hanya geming di tempatnya tanpa niat membantu temannya yang sudah kewalahan.
Angel yang masih syok mulai mengatur deru napasnya dan berniat untuk menghentikan perkelahian itu.
"Bang Raka! Udah!" pekik gadis itu.
Anraka masih terus memukul wajah si pria tadi tanpa mendapatkan balasan sekali pun, Angel menghela napas kasar.
"Bang! Udah!" Angel mendekat lalu mencoba menarik tangan Anraka.
"Minggir!"
"Aduh."
Tanpa sengaja Anraka menepis tangan Angel dengan kasar hingga membuat gadis itu kesakitan. Anraka menoleh ke arah adiknya lalu menjauhkan diri dari pria yang sudah terkapar tadi namun tatapannya masih tajam menusuk.
"Ada apa ini?"
Tiba tiba petugas keamanan Mall datang menghampiri kerumunan itu, ternyata banyak sekali yang menonton adegan perkelahian dadakan Anraka.
"Dia mukulin saya, Pak! Tangkap aja, keluarin dari Mall ini! Dia preman, Pak!" teriak pria yang masih menahan sakit di lantai.
Sang petugas keamanan menoleh ke arah Anraka dan Angel, lalu menundukkan kepala pelan dan memberi isyarat maaf dengan kedua tangannya.
"Maaf atas ketidaknyamanannya Mas Anraka dan Mba Angel."
Semua orang tersentak kaget, termasuk pria yang tadi dipukuli oleh Anraka. Kenapa petugas keamanan malah meminta maaf kepada Anraka yang sudah membuat keributan?
"Lain kali pastiin orang kayak dia enggak bikin masalah di sini," tekan Anraka seraya melirik ke atas pria yang sudah mencoba bangkit.
"Lain kali juga jangan panggil Angel dengan sebutan Mba, ya! Angel bukan Mba Mba," sambung Angel.
Petugas keamanan Mall itu mengangguk, "Baik. Silahkan kembali menikmati waktu berbelanjanya."
"Lho, kok dia enggak ditangkap, Pak?" protes pria itu.
Anraka memutar bola mata malas lalu berbalik dan melenggang pergi bersama Angel.
"Dia siapa, sih? Gayanya kayak yang punya Mall ini aja," oceh pria tadi.
Petugas keamanan tadi mengangguk, "Iya, Mas Anraka memang pemilik Mall ini."
...****************...
"Ke toko buku? Ngapain?" Angel melangkahkan kakinya masuk ke dalam tempat yang dipenuhi banyak sekali buku.
"Cepetan ambil semua yang lo mau, gue males nunggu lama lama," ucap Anraka.
"Aaaaa makasih!" pekik Angel senang lalu memeluk tubuh Anraka erat erat.
Anraka tidak membalas pelukan itu, ia hanya menyunggingkan senyuman tipis di bibir tebalnya. Tidak ada yang bisa melihat senyuman itu saking tipisnya.
Dengan bahagia yang menyelimuti seluruh jiwanya, Angel berlarian ke sana sini untuk mengambil semua buku dan novel yang ia inginkan. Padahal hanya ada beberapa novel saja yang menjadi incarannya, tapi karena Anraka sedang berbaik hati, jadi Angel tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
Angel harus menguras habis isi dompet Anraka malam ini. Harus!
Berbeda dengan pemuda yang
hanya bisa berdiri dan memperhatikan isi toko buku, ia tampak tidak bersemangat. Menunggu adalah hal yang paling menyebalkan untuknya, tapi untuk menebus kesalahannya dan mengembalikan senyuman di bibir adiknya, ia pasti akan rela melakukan apa pun.
"Eh, kodok!"
Anraka menoleh, ia mendapati seorang gadis tengah mengambil beberapa novel yang jatuh ke lantai akibat menabrak punggungnya.
"Maaf, saya enggak senjaga," ucap gadis itu, wajahnya tidak terlihat karena masih sibuk mengumpulkan novelnya.
Anraka bermasa bodoh, ia juga tidak berniat untuk membantu orang yang tidak ia kenal. Pemuda itu lalu berbalik dan tidak menghiraukan gadis itu lagi.
"Sekali lagi, Maaf-Lo?"
Dahi Anraka mengerut halus, ia sepertinya tau suara pekikan seperti itu tapi sepertinya lebih baik tidak menoleh dan tidak mempedulikan suara itu.
"Lo ngapain di sini? Anak geng motor baca buku juga?" tanya gadis itu.
"Eh, kak Keelua! Hai, kak!"
Angel tiba tiba datang entah dari mana dan langsung memeluk tubuh Keelua dengan satu tangan karena tangan yang lain ia gunakan untuk memegang novel novelnya.
"Eh, Angel. Kamu ke sini sama Raka?"
Angel mengangguk, "Kakak ke sini sama siapa? Sendirian?" tanyanya balik.
"Tadi sama teman tapi teman kakak katanya ada urusan mendadak jadi pulang duluan. Akhirnya kakak sendirian deh di sini," balas Keelua.
Bibir Angel membulat, "Kak Keelua novel juga, ya?"
Keelua mengangguk kukuh, "Iya, nih. Bosen sama yang sama, udah kakak baca ulang ulang. Malas juga, 'kan? Jadi ya udah beli yang baru."
"Wah, sama. Beli apa aja, kak?"
Keelua mulai menunjukkan novel apa saja yang ia beli kepada Angel, begitu pun sebaliknya. Anraka yang ada di sana hanya berdiri saja tanpa mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh kedua perempuan itu.
Menyebalkan sekali.
"Udah? Ayo, bayar." Anraka melangkah lebih dulu menuju kasir.
"Ayo, Kak Keelua!" Angel lantas menggandeng tangan Keelua agar ikut bersamanya.
"Kakak pulang bareng Angel sama Bang Raka aja, ya?" tawar Angel.
"Jangan deh, nanti si singa ngamuk," balas Keelua.
"Enggak, tenang aja! Ayo, kak!" Angel terus menarik tangan Keelua untuk ikut dengannya menuju kasir.
Angel pun menaruh semua novel yang sudah ia pilih ke atas meja kasir, lalu tersenyum manis ke arah Anraka yang hari ini akan menjadi bank berjalannya.
"Ini aja?" tanya Anraka sambil melirik beberapa novel milik Angel yang jumlahnya ada delapan buah.
"Oh, masih ada!" seru Angel lalu mengambil semua novel yang ada di tangan Keelua dan menaruhnya ke atas meja kasir.
"Eh, itu punya kakak, Angel!"
"Enggak apa apa, Kak. Biar Angel yang traktir," ucap Angel pada Keelua.
Lalu gadis kecil itu menepuk lengan Anraka pelan, "Bang, bayar."
Tanpa ambil pusing Anraka langsung memberikan kartu debitnya lalu membayar semua novel milik Angel dan juga milik Keelua.
Keelua tidak bisa mengatakan apa apa hingga semua novel itu selesai dibayar. Setelah beberapa saat diam, dan kegiatan membayar pun selesai, Angel dan Anraka pun melangkah keluar, Keelua menyusul mereka dari belakang.
"Sultan mah bebas," gumam Keelua dengan senyum tengilnya.
.
.
.
.
.
.
.
.