BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
24. Tribun



"Halo, Oma?"


"Halo, Keelua. Kamu lagi di mana, Sayang?"


"Keelua lagi di sekolah, Oma. Oma kenapa telepon Keelua? Oma butuh sesuatu, ya?" tanya Keelua dengan sopan.


Terdengar suara kekehan dari ujung sana, "Enggak kok, sayang. Oma cuma mau tanya, hari ini Raka ke sekolah atau enggak?"


"Iya, Raka datang ke sekolah kok, Oma. Tadi Keelua lihat dia sama teman temannya di kantin," kata Keelua.


"Oh, gitu, ya. Ya udah, Oma cuma mau nanya itu aja. Kamu sekolah yang benar, ya. Calon cucu Oma harus pinter." Oma Arum tertawa pelan.


"I-Iya, Oma."


Panggilan pun diputuskan oleh Oma Arum.


Dahi Keelua spontan mengernyit. Calon cucu? Ada ada saja. Mana mungkin Keelua menjadi cucu Oma Arum? Mama dan Papa Keelua kan bukan anak Oma Arum.


Keelua pun keluar dari kelasnya, lalu bertemu dengan Lula yang baru saja ingin masuk ke dalam kelas.


"Mau ke mana lo?" tanya Lula.


Keelua mengangkat kedua bahunya. "Enggak tau. Bosan aja di dalam kelas mulu."


"Di lapangan indoor bakal ada tanding dance anak anak ekskul dance. Lo mau nonton, enggak?" tanya gadis bertubuh semampai itu.


Keelua berpikir sebentar. Ia pasti akan bertemu dengan Isabella yang wajahnya selalu tampak menyebalkan di matanya namun jika Keelua tidak ke sana untuk menonton, ia pasti akan merasa sangat bosan.


"Ya udah deh. Ayo."


Keelua dan Lula pun langsung melangkahkan kaki menuju lapangan indoor untuk menonton tanding dance mingguan itu.


Sangat jarang Keelua ingin ke sana, tapi sekarang ia hanya tidak tau harus ke mana jadi gadis itu tidak punya pilihan lain.


Setibanya di lapangan, tribun sudah di penuhi oleh siswa dan siswi yang sudah tak sabar menunggu pertandingan dari ekskul yang menjadi unggulan di SMA Bintang setelah ekskul basket tersebut.


Mata Keelua juga menangkap kehadiran geng EX di ujung paling atas tribun, sedangkan Lula menarik tangan Keelua untuk mencari tempat duduk.


Tidak ada tempat duduk yang tersisa kecuali di bagian paling atas dan sejurusan dengan geng EX, Keelua bingung kenapa tidak ada yang mau duduk bersama para most wanted sekolah itu. Keelua pun melangkah naik ke atas dan mendekati kelima pemuda tadi.


"Eh, kok enggak ada yang duduk di sini?" tanya Keelua penasaran.


Romeo menoleh, "Si Gibran tuh, dari tadi cewek cewek yang mau duduk di sini diurusin mulu. Gue jadi enggak bisa pedekate deh." Lantas menekuk wajahnya, tampak menggemaskan.


Keelua memutar bola mata malas. Dasar Romeo **** boy!


"Kenapa lo usir, Gib?" tanya Keelua lagi.


"Mereka pasti berisik, gue males dengarnya." Gibran duduk di paling ujung, bersebelahan dengan kursi kursi yang kosong.


"Terus kenapa kalian ada di sini? Padahal kalian tau sendiri kalau di entar pasti bakal berisik banget." Keelua mengernyit.


"Bacot banget, sih, Keel. Udah duduk aja." Bumi buka suara.


Keelua pun mendengus lalu duduk di sebelah Gibran kemudian Lula menyusul.


"Gue sebenarnya malas ke sini," bisik Gibran.


Keelua menoleh, "Terus?"


"Tapi si Romeo tuh maksa banget. Selalu aja kalau ada battle dance anak anak ekskul dance dia pasti mau nonton. Gue yakin dia bukan nonton dancenya, tapi nontonin badan cewek ceweknya." Gibran melirik Romeo dengan mata julidnya.


Keelua tertawa geli, "Kayak lo enggak tau si Romeo aja."


"Lo enggak minat ikut ekskul dance gitu, Keel?" tanya Gibran.


"Enggak. Kenapa?" balas Keelua singkat.


"Yah, sayang banget. Kalau lo ikut, gue pasti bakal semangat nontoninnya," ujar Gibran lalu pemuda itu tertawa.


"Aduh!"


Keelua memukul lengan Gibran keras keras hingga membuat pemuda itu mengaduh. Gibran mendecak lantas mengusap usap lengannya.


"Sakit, Keel," kata Gibran.


"Otak lo tuh yang sakit."


Gibran hanya tertawa saja.


"Kalian lagi bahas apaan, sih? Kayaknya seru banget sampai ketawa tawa gitu." Bumi menyelutuk.


"Biasalah, lagi bahas masa depan." Gibran mengangkat sebelah alisnya.


Bumi mengangkat kedua alisnya lalu bangkit dan membuat jarak antara Keelua dan Gibran, pemuda itu duduk di tengah tengah mereka.


"Eh, apa apaan, sih? Kok lo duduk di sini? Udah bagus agak jauhan di sana!" seru Gibran tidak terima.


"Enggak tau nih si Bumi! Udah tau sempit, malah nyempil di sini lagi." Keelua juga ikut protes seraya menggeser duduknya agar lebih lega.


Bumi tersenyum lebar, "Enggak apa apa, gue mau ikutan ngobrol juga." Dan tetap duduk di sana tanpa menghiraukan kekesalan temannya.


"Kalau mau ngobrol jangan sama kita, sama Ganta aja tuh. Kayaknya dia pengen diajak curhat comel," saran Gibran.


Bumi kemudian mendecak, "Ngomong sama Ganta sama aja ngobrol sama tembok, enggak usah nyuruh gue ngobrol sama dia," tuturnya.


Gibran hendak mengumpat namun dengan kebesaran hatinya ia menahannya karena pemuda itu masih menganggap Bumi sebagai teman, andai tidak, Gibran mungkin sudah mendorong Bumi dan membiarkan manusia itu terjun bebas ke bawah.


"Ya udah, ah, terserah lo. Malas gue." Gibran akhirnya menyerah, ia biarkan saja Bumi duduk di antara dia dan Keelua.


Sedangkan Keelua, gadis itu hanya tertawa saja melihat Gibran dan Bumi bertengkar hanya karena tempat duduk. Padahal tribun ini luas, mereka bebas duduk di mana saja.


Dari tempat duduk tribun yang ada di depan Geng EX, Keelua dan Lula terdapat beberapa gadis yang sejak tadi menoleh ke arah mereka, entah apa yang mereka lihat namun sepertinya mereka beramai ramai menatap sinis ke arah Keelua.


Seperti biasa, Keelua tidak begitu mempedulikan tatapan tatapan tidak suka orang orang padanya, gadis itu cuek saja. Ini memang risiko yang harus Keelua tanggung sejak dulu karena ia begitu dekat dengan geng EX, jadi mau tidak mau, ia harus terbiasa.


Terdengar suara bisikan demi bisikan dari para gadis itu, mereka sudah jelas sedang menggosipi Keelua namun hanya Keelua saja yang sadar akan hal itu, yang lain bahkan Lula sepertinya tidak memperhatikan.


Keelua memutar bola mata malas, dan tatapannya kini bertemu dengan mata elang milik Anraka yang ternyata sejak tadi memperhatikannya namun Keelua tidak sadar.


Gadis itu menyipitkan mata, berniat untuk menggoda Anraka. Anraka yang sadar bahwa Keelua sedang balik menatapnya spontan memalingkan wajah. Hal itu membuat Keelua terkekeh.


"Keel, Keel." Lula menyenggol lengan Keelua beberapa kali.


Keelua menoleh, "Apaan?"


Bibir Keelua menyunggingkan senyum, "Masa, sih?" tanyanya.


"Iya! Gue lihat banget tadi dia tuh ngeliatan gue!" Lula mencengkram lengan Keelua keras keras, tampaknya ia sangat senang dengan apa yang dilakukan oleh Anraka.


gembira ketika temannya mengatakan itu, ia seolah olah heboh dan tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan oleh pemuda yang sangat disukai oleh Lula tersebut. Padahal, Keelua tau betul bahwa Anraka tadi melihat ke arahnya, namun ia akan diam saja. Keelua tidak mau merusak kebahagiaan teman paling dekatnya ini.


Berbohong demi kebaikan boleh saja, 'kan?


Pertandingan pun sudah akan dimulai, dua kelompok berdiri di tengah tengah lapangan. Salah satu dari kelompok itu diketuai oleh Isabella, pacar Anraka.


"Rak, Rak, pacar lo tuh," goda Gibran.


Anraka tidak menjawab apa apa, pemuda itu hanya tetap melihat ke depan dengan tatapan datar.


"Lo yakin si Raka peduli? Semalem aja dia bodo amat pas si Isabel main sama cowok lain di depannya. Kayak orang enggak kenal," ujar Romeo.


"Lo tau? Gue kira lo udah mabuk kencang semalem," timpal Bumi.


"Gue masih sadarlah, dikit," balas Romeo.


Gibran tertawa, "Iya, sih. Tegar banget hati si Raka lihat pacarnya gituan sama cowok lain tanpa ngomong apa apa." Lantas terkekeh kecil, niatnya memang mengejek.


"Ya tegar lah, orang peduli aja enggak." Romeo menyelutuk.


Ketiga pemuda itu tertawa, sedangkan Ganta yang juga ada di sana hanya terkekeh pelan. Anraka tidak mengatakan apa apa, ia memang tidak peduli sama sekali dengan Isabella yang mungkin adalah pacarnya. Mau tidak mau Anraka harus mengakuinya walau pun ia sudah sangat muak dengan tingkah gadis itu.


Dahi Keelua mengernyit, obrolan geng EX barusan terdengar begitu mencurigakan di telinganya. Keelua harus segera mengetahuinya atau ia tidak akan bisa tidur nyenyak nanti malam.


"Kalian ngomongin apaan, sih?" tanya Keelua.


Suasana di dalam gedung olahraga itu pun sudah ramai karena musik untuk pertandingan sudah diputar.


"Lo yakin mau tau?" tanya Gibran.


"Enggak usah dikasitau, si Keelua kan mata matanya Oma Arum," kata Romeo.


Bumi terkekeh, "Anak kecil enggak usah tau."


"Kalian jangan rusak otak cewek polos kayak dia." Ganta menimpali.


"Enak banget kalian ngomong, ya!" ujar Keelua kesal. "Gue bukan anak kecil, gue juga enggak polos polos amat."


Keempat pemuda itu kembali tertawa, hingga suara tawa mereka mengalihkan pusat perhatian orang orang yang ada di sana.


"Enggak usah dikasitau." Anraka buka suara.


"Jadi gini, Keel."


"Udah, enggak apa apa. Ini juga bisa jadi pelajaran buat si Keelua kecil ini," kata Gibran.


Anraka menghela napas panjang. "Terserah saja," batinnya.


"Tapi lo jangan ngasitau Oma Arum, ya. Kasian nanti si ganteng Anraka dimarahin." Romeo memperingati.


"Iya. Yaelah, bacot banget," balas Keelua kesal.


Tinggal memberitahu saja, apa susahnya?


"Semalem tuh kita kan ke club malam, buat ngerayain kemenangan gue pas balapan kemarin." Gibran mulai menjelaskan.


Sambil memperhatikan gerakan para anak anak ekskul dance yang sedang menari di bawah sana, telinga Keelua tetap fokus mendengar cerita Gibran.


"Pas lagi asik asiknya tuh, tiba tiba si Isabel datang entah dari mana.


Tapi si Raka tetap nyuekin tuh cewek, bahkan si Isabel sampai ngajak Anraka ke kamar tapi si Raka tentu aja enggak mau, dong." Gibran menjelaskan cukup rinci. Tidak hanya Keelua, anggota EX yang lain dan Lula juga ikut mendengarkan.


"Nah, mungkin karena kesal, pas salah satu teman kita ngajak si Isabel buat begituan, tuh cewek malah mau aja. Gituannya di depan si Raka lagi, gila, 'kan?" seru Gibran.


Dahi Keelua mengernyit, "Gituan gituan apaan, sih, maksud lo?"


Gibran mendecak, "Part itunya harus disensor, masa gue ceritain juga? Kalau lo mau, jangan di sini, bahaya."


Otak Keelua baru saja selesai memproses. Matanya langsung terbelalak ketika memahami isi cerita Gibran.


"HAH?! GILA, YA!"


"Jangan berisik, bego!" bisik Gibran.


Keelua menutup mulutnya spontan namun orang orang sudah menatap gadis itu heran karena tiba tiba Keelua memekik begitu saja dan membuat orang orang di sekitarnya kaget. Begitu juga dengan Lula, gadis itu juga tidak percaya dengan apa yang ia dengar namun begitu ia ingat bahwa yang melakukan hal tersebut adalah Isabel, ia langsung memakluminya.


"Udah gue bilang jangan dikasih tau, dia pasti kaget." Romeo menimpali.


Keelua geleng geleng kepala lantas menatap Anraka dari tempatnya. Terlihat Anraka balas menatap Keelua, mungkin pemuda itu bingung mengapa gadis kuncir kuda itu mendadak menatapnya dengan begitu intens.


Gibran tertawa kecil, ekspresi wajah Keelua begitu lucu saat saling bertatapan dengan Anraka.


"Kenapa, Keel?" tanya Bumi yang duduk di sebelah gadis itu.


"Gue bangga sama Raka," gumam gadis itu.


"Bangga? Bangga kenapa?" Gibran bertanya, tawanya terhenti.


"Bagus, Rak! Lo jago nahan nafsu! Gue dukung seratus persen!" seru Keelua dengan semangat.


Di detik berikutnya, tawa kembali mewarnai tribun itu.


.


.


.


.


.


.


.


.