
"Balikin hape gue!"
"Lo turun dulu!"
"Enggak mau,
balikin!"
100
"Lo turun dulu!"
"Balikin!"
"Ambil nih, ambil!"
Anraka langsung melempar ponsel Keelua ke atas kasur lalu mendorong tubuh gadis itu agar menjauh darinya. Setelah itu, entah mengapa Anraka langsung berlari masuk ke dalam toilet seperti orang yang terburu buru.
"Nyebelin lo!" teriak Keelua.
Kemudian Keelua melanjutkan aktivitas menontonnya, ia tak mempedulikan Anraka yang entah sudah berapa lama di dalam kamar mandi. Ia tak peduli, yang penting ponselnya kembali.
Saat sedang asik menonton video video lucu di ponselnya, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Anraka keluar dari sana dengan raut wajah aneh.
Keelua tidak bertanya atau mengatakan apa pun, ia hanya sebal pada pemuda itu. Anraka berbaring di atas kasur, tidak cerewet atau mengganggu Keelua lagi. Si gadis yang diacuhkan pun hanya melirik saja, lantas menemukan pemuda itu sudah memejamkan mata.
"Ngapain lo di toilet lama banget? Mencret, ya?" tanya Keelua.
Anraka hanya membalas dengan gumaman saja.
"Makanya jangan nyebelin jadi orang, karma tuh." Keelua tetap fokus pada ponselnya.
Anraka tidak menjawab, tapi Keelua masih belum sadar bahwa ternyata pemuda itu sudah tertidur pulas.
"Ngomong ngomong Mama sama Papa gue belum tau kalau gue ada di sini. Gue juga belum ngabarin mereka, menurut lo gimana? Gue kabarin aja? Soalnya takutnya nanti mereka nyariin gue ke rumah lo, gue emang sengaja enggak hubungin mereka sih beberapa hari ini, gue enggak mau mereka tau kalau kita sama Oma Arum lagi ada masalah."
Panjang lebar Keelua bertanya, Anraka masih tetap tidak buka suara. Keelua akhirnya memilih untuk menoleh ke arah pemuda yang berbaring di sebelahnya dan memperhatikan wajah pemuda itu.
"Anjir, udah tidur. Cepet banget."
Keelua lantas menghela napas, sepertinya ia harus tidur juga. Setelah mematikan ponselnya dan meletakkannya di atas nakas, gadis itu kemudian mendekat ke arah Anraka lalu tidur di dalam dekapan pemuda itu, Anraka yang sudah hampir tidak sadarkan diri itu dengan spontan memeluk pinggang Keelua begitu merasakan tubuh gadis itu mendekapnya.
Keduanya akhirnya memilih akan segera tertidur dengan pulas tapi di balik itu tanpa Keelua sadari, Anraka menyematkan senyum di bibirnya karena ini adalah kali pertama Keelua memeluknya seperti ini tanpa malu malu.
...****************...
"Keel, ambilin hape gue di kamar. Ada yang nelpon kayaknya!"
"Ambil sendiri lah, lo 'kan punya kaki."
"Gue lagi makan, cepetan!"
"Ngerepotin lo!"
Keelua yang sedang duduk manis di atas sofa ruang tengah terpaksa harus bangkit dari posisi nyamannya hanya untuk mengambilkan ponsel milik Anraka di kamar. Mereka berdua sedang bersiap untuk pergi ke sekolah, Keelua sudah memakai seragam lengkap, sedangkan Anraka memilih untuk sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat. Jadi, Keelua harus menunggu Anraka selesai dulu.
"Angel nih yang nelpon," kata Keelua seraya menaruh ponsel Anraka di atas meja makan.
"Angkat aja," titah Anraka.
Keelua mengangguk lalu mengangkat telepon dari adik iparnya itu dengan cepat.
"Halo, Angel?"
"Halo, Kak Keel. Kakak sama Bang Raka di mana?" tanya gadis kecil itu.
"Kayaknya dia nangis," bisik Keelua pada Anraka.
Suara Angel memang terdengar seperti orang yang sedang menangis. suaranya parau dan lebih berat.
"Kakak sama Bang Raka ada di rumahnya Bang Raka, kamu kenapa? Kamu nangis?" tanya Keelua mulai risau.
"Angel mau ketemu sama kalian, Angel enggak mau di rumah ini sendirian. Angel enggak mau jauh jauh dari kak Keel sama Bang Raka. Angel kesepian di sini, Angel ngerasa enggak kuat," lirih Angel dari ujung sana.
Keelua sudah menyalakan speaker ponsel Anraka jadi si pemilik ponsel pun bisa mendengarnya sekarang.
"Angel, lo kenapa? Ada masalah di rumah?" tanya Anraka kemudian.
"Bang Raka, tolongin Angel. Angel enggak mau di sini, Angel enggak mau tinggal di rumah ini. Angel mau di sana, bareng Bang Raka sama kak Keelua." Lagi lagi suara Angel terdengar lirih, ia benar benar sedang menahan tangis.
"Kasih tau gue, lo kenapa? Ada yang jahatin lo di situ, hah?" tanya Anraka, ia buru buru menyelesaikan makannya.
"Angel capek. Oma A-"
"Eh, kok mati?"
Panggilan tersebut tiba tiba terputus saat Angel masih ingin mengatakan sesuatu. Keelua dan Anraka kebingungan kemudian mereka mencoba untuk menghubungi Angel lagi tapi ponsel gadis itu tiba tiba saja mati.
"Gimana, nih?" tanya Keelua.
"Kita tenang dulu, Angel pasti enggak apa apa. Mama ada di rumah, Angel harusnya baik baik aja kalau sama Mama." Anraka mencoba menenangkan Keelua yang tiba tiba panik.
"Coba lo telpon Mama deh, Mama ada di rumah, 'kan? Pastiin kalau Angel baik baik aja," pinta Keelua.
Anraka akhirnya menyetujui dan beralih untuk menghubungi Ibunya dan mencari tau bagaimana keadaan Angel sekarang.
Beberapa kali Anraka mencoba menghubungi, ponsel Regina yang berdering belum juga diangkat.
Setelah bermenit menit terus mencoba, akhirnya panggilan itu pun diangkat, Keelua dan Anraka akhirnya bernapas lega.
"Halo, Ma. Mama di mana sekarang? Mama sama Angel, 'kan?" tanya Anraka.
"Mama lagi di luar, sayang. Mama sama Bi Maryam lagi belanja, Angel tadi udah siap siap mau ke sekolah, kayaknya dia udah sampai di sekolahnya," jawab Regina.
"Angel baru aja nelpon Raka, dia nangis nangis. Katanya enggak mau tinggal di rumah, kirain ada apa apa. Raka mau mastiin Angel baik baik aja."
Anraka dan Keelua semakin panik, mereka akhirnya mengetahui bahwa Regina sedang tidak ada di rumah, lalu gadis kecil tadi mengapa mematikan ponselnya begitu saja?
"Angel nangis nangis? Adik kamu kenapa, Rak? Ya udah, Mama sama Bi Maryam pulang sekarang, kamu tolong singgah ke rumah dulu, cek kondisi di rumah gimana, mungkin aja Angel belum berangkat." Regina pun ikut panik, tidak ingin ada sesuatu yang terjadi pada anak perempuannya.
"Iya, Ma. Raka berangkat sekarang," ucap Anraka lantas langsung mematikan panggilan.
Buruan ambil tas lo sama tas gue, gue keluarin motor dari garasi. Kita harus ke rumah orang tua gue sekarang," ujar Anraka dengan terburu buru keluar dari rumah.
Keelua mengikuti intruksi, ia segera mengambil tas miliknya dan juga milik Anraka lalu membawanya keluar.
Di pikiran keduanya hanya ada Angel dan bagaimana kondisi gadis kecil itu sekarang. Mereka tidak tau apa yang terjadi ada anak itu dan berharap ia baik baik saja.
Anraka buru buru menyalakan motornya, Keelua naik lalu mereka melesat pergi dari kawasan rumah Anraka.
"Raka, enggak tau kenapa gue jadi ingat kejadian Angel nekat waktu itu. Gue enggak mau Angel kenapa kenapa, kita harus buru buru tolongin dia." Keelua memeluk erat tubuh Anraka.
Mereka berdua memakai seragam namun sepertinya tidak akan seperti ke sekolah dengan tepat waktu, yang terpenting sekarang adalah Angel.
"Gue tau, makanya gue mau ke sana segera. Gue enggak akan biarin apa pun terjadi sama dia."
Motor Anraka melaju begitu cepat, Keelua hanya bisa memejamkan matanya dan menahan perasaan takut yang terus menghantuinya. Gadis itu tak bisa berkomentar apa apa karena ia juga tau ini adalah keadaan darurat.
Hanya beberapa menit mereka berada di atas motor, keduanya akhirnya sampai di kediaman Pranata yang amat mewah. Keelua dan Anraka buru buru turun kemudian berlari secepat mungkin untuk masuk ke dalam rumah, Regina dan Bi Maryam pun sepertinya belum sampai di rumah.
"Angel!"
"Angel!"
Tempat yang lebih dulu Anraka datangi adalah kolam berenang, ia masih mengingat jelas kejadian itu. Saat di mana ia ingin mengajak Angel membuat ulang mie bersama tapi nyatanya yang ia temukan adalah Angel yang sudah pingsan di dalam kolam berenang.
Itu adalah pengalaman paling mengerikan seumur hidup Anraka.
Angel tidak ada di sana, untungnya. Kemudian keduanya kembali mencari, mereka berpencar dan terus meneriakkan nama Angel.
Keelua teringat sesuatu, ia buru buru mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
Begitu panggilannya tersambung, Keelua langsung menodong orang itu dengan pertanyaan.
"Rav, Angel udah sampai di sekolah belum? Coba lo cek ke kelasnya, kasih tau gue kalau dia udah sampai di sekolah," ujar Keelua dengan napas yang terengan engan.
"Kak? Lo ke mana aja? Kenapa beberapa hari ini enggak bisa dihubungin?" tanya Ravi dari ujung sana.
"Nanti gue jelasin. Cari Angel dulu," kata Keelua, mengabaikan semua pertanyaan adiknya.
"Oke."
Panggilan terputus.
"Rak, gue nyuruh Ravi buat nyari Angel di sekolahnya, sapatau dia udah ada di sana," kata Keelua.
"Ya udah, kita tunggu kabarnya Ravi dulu. Tapi kenapa rumah ini kosong, ya? Oma Arum ke mana?"
Anraka sudah memeriksa seluruh sudut rumah dan membuka semua ruangan yang ada. Tidak ada siapa pun yang tersisa tapi pintu depan tidak terkunci.
Beberapa menit kemudian, Keelua menerima panggilan dari Ravi, ia segera mengangkatnya tanpa pikir panjang.
"Angel belum ada di sekolah, kak. Dia belum datang kata teman temannya."
"Astaga. Ya udah, gue tutup dulu. Nanti gue kabarin lagi, ya."
"Tapi, kak. Mama bilang-"
Tut.
Keelua mematikan panggilan lalu buru buru menghampiri Anraka.
"Angel enggak ada di sekolah, katanya dia belum datang," tutur Keelua memberitahu Anraka.
"Sialan."
Anraka sudah naik ke lantai dua bahkan ke kamar Angel tapi ia tidak ada, lalu ke mana gadis kecil itu?
Terdengar suara pintu yang terbuka, Regina dan Bi Maryam sudah datang dan masuk ke dalam rumah.
"Raka, Keelua, Angel di mana?" tanya Regina dengan panik.
"Angel enggak ada, Ma. Dia enggak ada di rumah, katanya enggak ada di sekolah juga," sahut Anraka.
"Dia enggak ada? Tadi udah pamit sama Mama buat ke sekolah, enggak mungkin dia enggak ada."
Regina naik ke lantai dua untuk mengecek keberadaan putrinya namun hasilnya memang nihil, tidak ada siapa siapa di atas.
"Oma Arum mana?" tanya Regina begitu ia turun ke lantai bawah.
"Oma Arum enggak ada, rumah kosong. Enggak ada siapa siapa," sahut Keelua.
Raut wajah Regina berubah, ia tampak marah. Keelua dan Anraka menyadari itu.
"Kalau ada apa apa sama Angel, Mama enggak akan tinggal diam. Ini udah keterlaluan."