BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
30. Nonton Drama



Tidak ingin ambil pusing, akhirnya Ravi pun ikut menonton drama di sebelah Keelua. Mereka berbagi coklat dan berbagi ranjang untuk menonton.


"Kayaknya omongan gue beneran kejadian." Di tengah tengah film, Ravi tiba tiba membuka obrolan.


"Omongan lo yang mana? Perasaan kalau lo ngomong selalu ngelantur enggak jelas," balas Keelua.


Ravi mendecih. "Itu lho yang gue omongin kemarin di mobil pas perjalanan ke peternakan."


Dahi Keelua mengernyit, "Yang mana?"


Anak laki laki di dalam ruangan itu pun menghela napas, bagaimana bisa Keelua melakukan hal itu begitu saja?


"Gue bilang mending lo cepetan nikah biar gue enggak perlu satu rumah lagi sama lo." Ravi mengulangi perkataannya saat di mobil kemarin.


"Oh yang itu. Iya, lo emang adik durhaka," kata Keelua sambil mengunyah coklatnya yang tersisa sedikit.


Beginilah Keelua, ketika ia sedang sedih, ia pasti akan makan banyak coklat sampai ia ingin muntah. Menurut gadis itu, makan coklat akan membuat suasana hatinya lebih baik dan ia bisa melupakan rasa sedih itu sejenak, walau pun ia tau ia tidak akan bisa lari dari masalah yang sedang ia hadapi tapi setidaknya ia bisa menenangkan dirinya terlebih dahulu.


"Tapi kan gue ngomong kayak gitu enggak serius. Spontan aja gitu keluar dari mulut gue," kata Ravi.


Keelua mendecak, "Emangnya lo enggak inget kata Papa kalau omongan itu doa? Makanya jangan ngomong sembarang, anjir!" Lalu memukul lengan Ravi keras keras.


Anak laki laki itu mengaduh lalu mengusap lengannya yang terasa nyeri setelah dipukul oleh sang kakak.


"Gue enggak beneran mau lo pergi dari rumah ini dalam waktu dekat. Gue masih butuh lo." Tiba tiba Ravi bergumam kecil.


Keelua menghentikan drama yang sedang terputar di laptopnya lebih dulu lalu menoleh ke arah adik satu satunya itu.


"Rav, lo sakit?" tanya Keelua tidak percaya.


"Gue masih butuh babu."


"Sialan!"


"Aduh!"


Lagi lagi Keelua memukul lengan Ravi lebih keras dari pada tadi. Padahal ia sudah hampir terharu namun anaknya ini benar benar minta digelandang aparat.


"Sakit, kak!" pekik Ravi.


"Biarin! Lo pergi sana, ngapain sih di kamar gue? Abis abisin coklat gue aja!" kesal Keelua.


Raut wajah Ravi berubah masam setelah mendapat usiran secara terang terangan dari Keelua. "Tadi kan lo yang nawarin coklatnya, kok sekarang malah ngusir, sih?"


"Bodo amat. Lo emang enggak sayang sama gue, sama kakak lo yang udah ngerawat lo dari kecil," dumel Keelua.


Alis Ravi terangkat sebelah, "Dih."


"Udah sana! Lo nyebelin!" usir Keelua lagi.


Ravi ini kadang tidak menyebalkan tapi lebih sering menyebalkan.


Yang diusir malah terkekeh, "Enggak, kak. Gue becanda kali."


"Becanda mulu hidup lo."


Ravi lalu berbaring di atas kasur Keelua sambil menatap langit langit kamar gadis itu dengan nanar.


Sebenarnya ada perasaan aneh yang tiba tiba muncul di hati Ravi, seperti sesuatu yang mengganjal dan membuat anak laki laki itu gelisah. Dia benar benar tidak mau jauh dari kakaknya dalam waktu dekat ini, dia masih ingin kakaknya tinggal bersamanya. Meskipun Keelua menyebalkan, Ravi hanya punya satu kakak.


"Gue benar benar enggak siap kalau enggak ada lo." Ravi mulai buka suara lagi.


Kali ini Keelua tidak ingin menanggapi ocehan adiknya itu, ia lebih memilih terus melanjutkan drama korea yang sedang ia tonton.


"Sejak kecil, teman gue yang paling dekat cuma lo. Gue enggak punya banyak teman sejak kecil, pas di sekolah lama gue juga dibuli karena enggak mau temenan sama teman teman kelas gue. Soalnya mereka keliatannya enggak pantes buat ditemenin."


Selain cuek dan tidak mau berurusan dengan banyak orang, Ravi juga tipe orang yang pilih pilih dalam hal pertemanan. Tidak sembarang orang bisa menjadi teman Ravi atau akan anak laki laki itu anggap sebagai teman.


Bukannya sombong, Ravi tau bahwa teman adalah pembawa pengaruh terbesar dalam hidup setelah keluarga. Maka dari itu, Ravi harus selektif ketika mencari teman apalagi bergaul. Tidak masalah untuk Ravi jika ia tidak punya teman atau sampai dijauhi oleh teman sekelasnya.


Yang terpenting untuk anak laki laki itu adalah ilmu positif dan lingkungan yang sehat untuk masa depannya. Ravi memang gemar bermain game online seharian tapi ia masih sempat memikirkan masa depannya yang memang hanya bisa ia tentukan sendiri dan hal hal yang penting juga berpengaruh nantinya akan di mulai dari sekarang.


Itu sebabnya Ravi akan melakukan semua hal yang terbaik untuk dirinya di masa depan.


Keelua mengerjap beberapa kali lalu melirik Ravi yang masih menatap lurus ke langit langit. Raut wajahnya tampak sedih, sepertinya kali ini anak laki laki itu serius.


"Kalau enggak ada lo, gue bakal kesepian dan bakal sendirian lagi kayak di sekolah lama." Suara Ravi mulai memelan.


Keelua yakin jika bukan karena malu, anak laki laki itu pasti sudah meneteskan matanya sekarang.


Jadi setelah mengetahui segalanya dari Ravi, Keelua pun bersikeras untuk meminta kedua orang tuanya agar memindahkan adiknya itu ke sekolah yang juga di tempati oleh Angel, adik Anraka.


Ada hal tentang Angel yang tidak diketahui oleh orang orang bahkan keluarga anak perempuan itu sekali pun. Angel pernah bercerita, bahwa di sekolahnya ia berteman dengan anak anak nakal yang suka memalak anak lain, gadis kecil itu melakukan hal itu karena sebelumnya ia pernah dibuli oleh teman teman sesama perempuan di kelasnya dengan alasan yang tidak masuk akal. Anak anak perempuan itu membuli Angel hanya karena gadis kecil itu disukai oleh anak laki laki sebab parasnya yang cantik dan sikapnya yang lemah lembut.


Semenjak itu, Angel merasa harus memberi teman teman kelasnya tersebut pelajaran dengan cara berubah menjadi gadis kecil yang tidak lemah lembut lagi namun parasnya tetap saja cantik, Angel bilang hal itu tidak bisa berubah. Sudah kodrat katanya.


Angel akhirnya meminta kepada anak anak laki laki yang gemar memalak agar mau memasukkan dirinya ke dalam geng mereka, tanpa disangka, anak anak laki laki itu dengan senang hati menerima Angel ke dalam circle mereka.


Mulailah dari sejak hari itu, para anak perempuan yang awalnya suka membuli Angel menjadi takut pada gadis kecil itu karena mendadak ia punya banyak teman yang merupakan preman sekolah. Namun semua itu tidak merubah apa apa, Angel tetap disukai oleh banyak anak laki laki di sekolahnya dan semakin membuat teman teman perempuan gadis kecil itu semakin iri dan dengki tapi tidak bisa melakukan apa apa lagi.


Itulah sebabnya kenapa Keelua memaksakan dan bersikeras agar Ravi melanjutkan sekolahnya di sekolah yang ada Angel di dalamnya. Selain agar Ravi langsung punya teman yaitu gadis kecil tadi, alasan utama Keelua adalah agar Ravi juga bisa aman tanpa dibuli di sana. Sudah ada Angel yang pasti akan menjaga anak laki laki alias adik kesayangannya itu.


Kedengaran memalukan jika Keelua mengatakan bahwa Angel yang akan menjaga Ravi namun itulah kenyataannya, walau pun tampak lugu dan manis di rumah atau di luar sekolah tapi sebenarnya Angel adalah gadis kecil yang ditakuti oleh teman teman di sekolahnya.


Kini Keelua pun bisa tenang membiarkan Ravi bersekolah di SMP Permata.


"Tapi lo udah enggak dibuli lagi kan di sekolah yang sekarang?" tanya Keelua memecah keheningan yang tiba tiba menyelimuti ruangan itu.


Ravi membalasnya dengan gumaman, "Hm." Mata anak laki laki itu lalu melirik ke arah Keelua, "Enggak tau kenapa rasanya kalau gue dekat dekat sama Angel, anak anak di sekolah kayak takut gitu sama gue," ujarnya.


Keelua mengangkat kedua alisnya. Kenapa adiknya ini peka sekali?


"Masa, sih? Perasaan lo aja kali."


Ravi tidak boleh tau yang sebenarnya, anak laki laki itu pasti akan sangat gengsi jika tau bahwa Keelua sengaja menitipkannya pada Angel.


Ravi kembali menoleh lalu menatap langit langit lagi.


"Iya, kayaknya. Lagian mana mungkin anak kecil pendek kayak dia ditakutin sama anak anak lain di sekolah," kata Ravi.


Keelua yang pura pura tidak tau pun tersenyum miring saat Ravi tidak memperhatikan. Dalam hati, ia ingin sekali menertawai Ravi yang bisa bisanya memandang enteng Angel begitu. Dia tidak tau saja bagaimana aslinya anak perempuan yang ia katai pendek barusan.


"Udah. Lo enggak usah sedih gitu, gue yakin pasti Papa enggak akan biarin gue pergi gitu aja dari rumah," kata Keelua. "Lagian lo kan udah punya Angel sebagai teman, lo enggak akan kesepian lagi," lanjutnya.


Ravi mendengus, "Tapi gue sama Angel kan enggak serumah kayak gue sama lo," sergahnya.


"Ya udah, ajak aja dia buat serumah," timpal Keelua dengan enteng.


"Muka lo noh kayak tembok. Enak aja kalau ngomong," maki Ravi kemudian.


Keelua langsung tertawa terbahak bahak, bisa bisanya Ravi mengikuti perkataannya seperti yang di mobil kemarin.


Tapi benar juga, tidak hanya Ravi, bahkan Keelua sekali pun tak mampu jika ia harus pisah rumah dan tinggal berjauhan dari Ravi serta keluarganya. Apalagi tinggal bersama orang asing yang tidak pernah ia kenal sebelumnya, kedengaran lebih seram daripada film horor yang pernah Keelua tonton.


Bagaimana mungkin, ini terjadi begitu cepat. Rasanya baru kemarin Keelua masuk SMA dan bersenang senang bersama teman temannya, sekarang gadis itu sudah dihadapkan dengan fase hidup baru yang sudah pasti akan sangat berat untuk ia jalani dalam waktu dekat. Keelua tidak punya persiapan apa apa untuk melalui semua ini dan kegagalan adalah hal paling menakutkan untuk gadis mungil itu.


"Gampang banget bikin mood lo naik lagi, gue enggak suka denger lo nangis kayak tadi. Berisik," kata Ravi sambil bangkit dari posisi rebahnya.


Keelua sengaja memajukan bibirnya, "Bilang aja kalau lo tuh enggak mau gue sedih, 'kan?"


Anak laki laki itu berdiri lalu berjalan menuju pintu, sebelum membuka pintu kamar Keelua itu, Ravi menoleh sebentar.


"Enggak. Jelek aja kalau babu nangis."


Alih alih membuat hati Keelua sedikit senang, Ravi malah membuat kakaknya naik pitam lagi.


"Ravi!"


Keelua melempar bantal ke arah Ravi namun anak laki laki itu sudah berlari cepat keluar dari kamarnya.


"Adik sialan!"


Ravi masih ada di depan pintu kamar Keelua yang sudah ia tutup rapat, anak laki laki itu berdiri di depan pintu kamar kakaknya dengan senyum yang mendadak pudar. Baru saja ia tertawa dan menertawai kakaknya yang suka marah marah tapi sekarang ia harus menerima kenyataan bahwa kesenangan ini akan segera berakhir apabila Keelua benar benar harus pergi dari rumah tempat kedua kakak beradik itu lahir, tumbuh dan hidup sampai sekarang.


Ravi tau, cepat atau lambat, kakaknya pasti akan dibawa pergi oleh laki laki yang mempersuntingnya suatu hari tapi mengapa hari itu datang begitu cepat? Ravi masih mau menghabiskan lebih banyak waktu bersama kakaknya, semesta tidak bisa mengambil salah satu kebahagiaan Ravi begitu saja. Itu tidak adil.


"Gue enggak mau lo pergi, kak," gumam Ravi.


Yang paling menyakitkan adalah saat Ravi tau bahwa kakaknya hanya berpura pura tegar dan seolah olah tak terjadi apa apa di depannya tadi. Nyatanya, Keelua begitu terpukul dan tidak bisa menahan emosinya sendiri, buktinya sekarang Ravi sudah bisa mendengar suara isakan dari dalam kamar Keelua. Isakan itu terdengar begitu pilu dan membuat hati Ravi tersayat sayat.


"Gue janji, gue janji bakalan jagain lo kapan pun, kak."


.


.


.