
"Akhirnya sampai juga!"
Dengan bahagianya Keelua turun dari mobil lalu menghirup aroma peternakan dalam dalam.
"Bau tai," kata Keelua lalu menutup hidungnya sendiri.
Ravi terkekeh pelan ketika melihat tingkat bodoh kakaknya lalu berjalan lebih dulu memasuki area peternakan.
"Eh, Aden Ravi sama Non Keelua." Seorang pria dewasa datang menghampiri dan menyambut dua anak pemilik peternakan tempatnya bekerja.
"Halo, Kang Imran!" Keelua melambaikan tangannya sambil berlari kecil ke arah pria itu.
"Halo, Non Keelua." Imran tersenyum membalas lambaian tangan Keelua padanya.
"Akhirnya anak anaknya Bos Bambang datang ke sini juga. Udah lama banget enggak ketemu, ya." Seorang pria lain lagi datang mengampiri. Masih dengan sarung tangannya, pria itu melambai ke arah Ravi dan Keelua.
Ravi membalas lambaian tangan itu diikuti dengan Keelua yang terus saja tersenyum lebar.
"Halo, Kang Ujang! Udah lama enggak ketemu sama Keelua yang cantik ini, ya?" seru Keelua sambil tertawa pelan.
Ravi memutar bola matanya malas. Kakaknya ini memang benar benar selalu membuatnya malu di mana saja. Singkatnya, Keelua itu malu maluin.
Sambil terkekeh Ujang mengangguk, "Iya, neng. Udah lama saya enggak ketemu sama Neng Keelua."
"Senang juga bisa ketemu sama Kang Ujang," balas Keelua.
"Gimana kabarnya Mas Ravi? Udah makin tinggi, ya," tanya Ujang pada Ravi yang berdiri di sebelah Keelua sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
Ravi tersenyum tipis, "Baik, Kang. Enggak usah pakai panggilan Mas ah, saya ngerasa tua. Panggil Ravi aja."
Keelua tertawa mendengar itu, "Muka dia emang tua, kang. Pantes banget dipanggil Mas Mas," ejeknya lalu mendapat tatapan tajam dari Ravi.
Imran dan Ujang hanya tertawa saja melihat tingkah kedua anak bos mereka itu. Sejak dulu Keelua dan Ravi memang tidak pernah akur namun merasa terus saja bersama dan tidak ingin terpisah satu sama lain.
"Masuk dulu, Den, Non. Mau lihat sapi sapinya?" Imran mempersilahkan Keelua dan Ravi untuk masuk ke dalam kandang sapi yang ada di depan mereka.
Keelua tentu saja akan mengangguk senang lalu tanpa disuruh lagi ia langsung melangkah masuk. Sedangkan Ravi masih memandang tempat berkumpulnya para sapi itu dengan ragu ragu.
"Enggak apa apa, Ravi. Itu kandangnya udah dibersihin kok, enggak kotor." Ujang seperti tau apa yang ada di dalam pikiran Ravi.
Ravi pun tersenyum kikuk lalu perlahan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kandang.
"Makasih, kang."
Di peternakan itu ada beberapa orang yang bekerja sebagai pemeras susu berganti gantian setiap harinya namun Imran dan Ujang adalah pekerja tepat yang sudah bekerja di peternakan milik Ayah Keelua dan Ravi sejak lama sekali bahkan sebelum Ravi lahir.
Tugas mereka sendiri berbeda, masing masing dari kedua orang itu punya pekerjaannya sendiri sendiri.
Imran bertugas dibagian produksi susu, ia yang mengatur jalannya jual beli susu di peternakan yang akan dibawa ke kota dan juga mengawasi semua pekerja yang datang setiap harinya untuk memeras susu sapi agar menghasilkan susu yang baik dan berkualitas.
Sedangkan Ujang bertugas di bagian kebersihan kandang bersama dua orang anak buahnya yang sehari hari membantunya membersihkan kandang dan memberi makan sapi sapi yang ada di sana.
"Sapi punya saya mana, Pak?" tanya Keelua pada Imran.
Dulu, Keelua pernah bilang pada Imran bahwa ia ingin punya sapi miliknya sendiri yang tidak boleh dijual tapi boleh diambil susunya. Keelua juga sudah meminta sapi itu pada Ayahnya dan ia diizinkan.
Sapi itu berwarna hitam putih dan dulu tubuhnya masih mungil. Karena sudah beberapa bulan tidak datang ke peternakan, Keelua jadi tidak bisa mengenali sapi miliknya itu jadi ia ingin meminta Imran untuk mencarinya.
"Oh, Non Keelua masih ingat sama sapinya, ya?" tanya Imran balik.
Keelua mengangguk kukuh, "Iyalah, Kang. Itu kan sapi kesayangan Keelua," balasnya.
"Sayang kok sama sapi," gumam Ravi yang masih berada di belakang Keelua. Anak laki laki itu tampak memperhatikan wajah sapi sapi yang ada di dalam peternakan milik Ayahnya ini, ia bingung mengapa wajah mereka sama semua padahal mereka dilahirkan oleh induk yang berbeda.
Terlalu lama berpikir namun tidak mendapatkan jawaban, akhirnya Ravi memutuskan untuk menyusul Keelua yang tadi katanya akan menemui sapi kesayangannya.
Kandang kandang sapi ini sangat luas hingga Keelua dibuat kelelahan ketika berjalan untuk menemui sapi miliknya. Sesampainya di sebuah kandang yang terletak di paling ujung peternakan Imran pun berhenti dan menunjuk seekor sapi besar berwarna hitam putih.
"Itu dia." Imran menunjuk sapi milik Keelua. "Saya ke sana dulu, ya, neng."
"Makasih, kang Imran!"
Keelua menutup mulutnya tidak percaya. Bagaimana bisa sapinya tumbuh dengan begitu cepat?
"Wah! Besar banget! Kelihatan lebih sehat dari pada Ravi," seru Keelua seraya mendekati sapinya yang dulu masih anak sapi dan kini sudah berubah menjadi induk sapi.
"Kok gue lagi, sih?" protes Ravi yang melangkah mendekat ke arah Keelua.
"Lihat deh, Rav. Sapi gue udah gede banget!" Keelua menunjuk sapi berwarna hitam putih yanh sedang makan itu dengan senang.
Dahi Ravi mengernyit, "Ini sapi lo? Sejak kapan?"
"Udah lama. Bocil tau apa, sih? Gue bahkan udah ngasih dia nama," balas Keelua sambil terus memperhatikan induk sapi itu.
Ravi mendecih lalu bertanya, "Namanya siapa?"
"Namanya Sapi."
Raut wajah Ravi berubah datar. Apa apaan kakaknya itu?
"Yeay! Dia mau dielus sama gue!" seru Keelua dengan senangnya.
Ravi mengidik ngeri melihat tingkah kakaknya yang sangat berani memegang sapi seperti itu, apa dia tidak takut jika tiba tiba hewan itu terganggu lalu menyerangnya?
"Eh, eh, mau ke mana?"
Mata Ravi terbelalak ketika melihat sapi yang tadinya tenang itu tiba tiba memberontak lalu berlari keluar kandang.
"Awas, kak!"
"Rav, gimana, nih?"
"Eh, itu sapinya kenapa lari?!" Ujang berteriak dari ujung kandang sambil berlari mendekat ke arah Keelua dan Ravi.
"Kang Ujang! Kang Imran! Sapi kabur!" teriak Keelua.
Bagaimana ini? Keelua panik setengah mati, apa yang harus ia lakukan sekarang?!
"Udah gue bilang kan jangan masuk ke sana!" Ravi pun ikut panik.
Imran sudah berlari lalu disusul oleh Ujang untuk mengejar sapi itu yang terus saja berlari mengelilingi peternakan. Sedangkan Keelua dan Ravi hanya bisa mematung di tempat mereka tanpa bisa melakukan apa apa.
Tiba tiba sebuah mobil yang mengangkut susu datang dan keluarlah Bambang dari dalam sana.
"Keelua, Ravi, kalian ada di sini?" Bambang terkejut ketika masuk ke dalam peternakan dan menemukan kedua anaknya ada di sana.
"Pa, sapi aku kabur!" seru Keelua seraya menunjuk Imran dan Ujang yang berlari mengejar Sapi.
Setelah berlelah lelah Imran dan Ujang mengejar Sapi, akhirnya mamalia itu bisa dijinakkan juga. Untung saja sapi itu tidak melukai orang lain karena cepat dijinakkan dan akhirnya bisa dimasukkan ke dalam kandang lagi.
"Kamu harus minta maaf sama Kang Ujang dan Kang Imran," titah Bambang pada Keelua.
Gadis itu mengangguk, "Kang Ujang, Kang Imran, maafin Keelua, ya, karena udah ngerepotin."
Keelua sangat merasa bersalah, ia tidak bermaksud untuk membuat Imran dan Ujang kesusahan mengejar sapi, gadis itu hanya ingin menyentuh Sapi saja. Tidak lebih dan tidak kurang, hanya penasaran.
Dua pria itu mengangguk lalu tersenyum.
"Enggak apa apa, neng. Kan neng Keelua enggak tau bakal kejadian kayak gini," ujar Ujang.
"Sapi sapi di sini emang suka gitu kalau disentuh sama orang baru. Agak bar bar," kata Imran.
Keelua mencebik bibir, "Sekali lagi maafin Keelua."
"Enggak cuma maaf aja, kamu juga harus dihukum," ujar Bambang.
"Iya, Pa. Maaf," balas Keelua.
"Ravi, sekarang kamu sama kakak kamu pulang, ya. Hati hati di jalan, lain kali bilang dulu kalau mau ke sini." Bambang memperingati.
Ravi mengangguk, "Iya, Pa. Kita pamit dulu." Lalu menarik lengan Keelua untuk menjauh.
"Dadah, Papa. Dadah, kang Ujang, Kang Imran!" Keelua melambaikan tangannya.
"Ini alasannya gue males bawa bawa lo," kesal Ravi sambil terus menyeret tubuh Keelua.
Sesampainya di dalam mobil, Ravi beberapa kali mendecak kesal, ia begitu jengkel dengan tingkah Keelua hari ini. Padahal, gadis itu adalah kakaknya namun Ravi merasa dia lah yang harus menjaga Keelua karena sikap kakaknya itu seperti bayi kecil.
"Lo marah sama gue? Udah sih, Vi. Gue 'kan udah minta maaf, Papa juga mau ngasih gue hukuman. Itu belum cukup buat lo?" tanya Keelua yang sejak tadi memperhatikan setiap mimik wajah Ravi. Anak laki laki itu sangat kentara saat marah.
Ravi mendecak, "Gue enggak marah, gue males aja sama lo. Kalau lo kenapa kenapa tadi gimana? Gue juga yang repot, Papa sama Mama juga pasti bakalan khawatir, harusnya lo tau mana yang salah dan mana yang bener, bukan ngelakuin apa aja sesuka hati lo. Lo kakak gue tapi gue ngerasa gue yang harus jagain lo," tutur anak laki laki itu panjang lebar.
Keelua tau, Ravi benar benar marah sekarang, mungkin apa yang sudah ia lakukan sangat fatal untuk Ravi dan mampu membuat anak laki laki itu jengkel seperti ini.
"Iya, iya. Gue emang udah salah banget, gue harusnya enggak ngelakuin itu tadi. Lain kali, gue bakal jaga sikap dan enggak bakal malu maluin lo lagi. Gue emang enggak ada gunanya jadi kakak, gue tau lo pasti malu punya kakak kayak gue. Maafin gue ya, Rav." Keelua menundukkan kepala, ia sadar akan kesalahannya yang sangat fatal.
Ravi melirik ke arah kakaknya sebentar, apa apaan gadis itu? Tumben sekali dia berkata seperti itu dan terdengar begitu menyedihkan.
"Iya," balas Ravi singkat.
Setelah pembahasan itu berakhir, Keelua hanya diam saja dan tidak mengatakan apa pun. Tatapannya menjelajah keluar jendela dan kedua tangannya tampak bertaut, keliatan kalem sekali, seperti bukan Keelua yang Ravi kenal.
Suasana mobil mendadak sepi karena tidak ada suara atau tawa dari Keelua yang biasanya akan bercerita atau bernyanyi kecil di sepanjang perjalanan. Ravi merasa ada sesuatu yang hilang dan ia tau bahwa itu adalah suara berisik kakaknya.
Ravi ingin menegur Keelua namun ia ragu, sepertinya kakaknya itu sedang tak mau diganggu. Anak laki laki itu lantas merasa bersalah, ia tak tau harus bagaimana agar kakaknya mau bicara lagi dan mengajaknya mengobrol tentang hal yang tidak jelas seperti biasanya.
"Lo kenapa?" tegur Ravi setelah begitu banyak pertimbangan.
"Enggak apa apa." Keelua menyahut.
Ravi mengumpat dalam hati, Keelua memakai jurus andalan pada perempuan, yaitu kata 'enggak apa apa'. Anak laki laki itu kemudian terdiam lagi, kembali berpikir kira kira apa lagi yang harus ia katakan agar bisa mencairkan suasana.
Astaga. Rumit sekali para kaum perempuan ini.
"Gue pengen cepet cepet lulus abis itu nikah deh, biar enggak ngerepotin lo lagi." Keelua bergumam pelan.
.