BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
Kunjungan pagi



Keelua tersenyum kecil ke arah Anraka yang berjalan mendekat ke arahnya, entah mengapa Keelua merasa wajah pemuda itu memerah.


Belum sempat Anraka duduk, pemuda itu sudah menodong Keelua dengan pertanyaan.


"Ngapain lo pakai baju kayak gitu?"


Alis Keelua menekuk, "Hah? Apa?" tanyanya.


"Kenapa lo pakai baju kayak gitu?" Anraka mengulangi pertanyaannya dan menekan tiap kata yang baru saja ia katakan.


"Baju apa? Gue enggak pakai baju, ini tanktop namanya," jawab Keelua dengan santainya.


Anraka mengela napas panjang lalu mengusap wajahnya, ia tampak frustrasi.


"Iya, itu. Ngapain lo pakai itu? Talinya tipis banget, ketat banget. Lo enggak malu apa?" oceh gadis itu.


Saat Anraka mengoceh, Keelua pun ikut memperhatikan penampilannya, ia merasa ini biasa saja.


"Mau malu ke siapa? Cuma kita berdua di rumah ini, lagian lo itu suami gue. Emang enggak boleh gue kayak gini di dalam rumah? Kita udah sah, apa yang perlu dipermasalahin, sih? Aneh banget lo."


Keelua duduk di gazebo yang ada di sebelah kolam, memandangi Anraka dengan kebodohannya yang membuat hidupnya sendiri rumit. Apa pemuda itu lupa bahwa mereka ini adalah suami istri? Ada ada saja.


"Iya, gue tau tapi gue juga enggak bisa ngelihat lo kayak gini." Anraka memandang ke arah lain, ibarat menoleh ke arah sang istri adalah sebuah bencana.


"Kenapa emang? Suka suka gue dong," balas Keelua.


"Bukan gitu, tapi—"


Ding Dong!


Suara bel rumah berbunyi, Anraka mendecak.


"Tunggu, gue lihat siapa yang datang," kata Keelua kemudian ia hendak berdiri namun dengan terburu buru Anraka menahan langkahnya.


"Lo enggak usah ke mana mana, gue yang buka pintunya. Jangan bergerak, jangan ke mana mana," titah Anraka dengan sigap kembali mendudukan Keelua ke tempatnya semula.


Keelua pasrah saja dan membiarkan Anraka pergi membuka pintu, ia tetap duduk di gazebo sambil menikmati pagi yang indah.


Sementara Anraka buru buru melangkah ke arah pintu untuk mengecek siapa manusia kurang kerjaan yang datang pagi pagi begini, apa mereka tidak punya aktivitas lain selain mengganggu pagi tenang milik orang lain?


Dengan sedikit kesal, Anraka membuka pintu dan betapa terkejutnya dia begitu mengetahui bahwa yang datang adalah teman temannya, geng EX.


"Wah, tumben lo bangunnya cepet.Lagi ngapain?" tanya seorang pemuda tinggi dengan wajah bodohnya, siapa lagi kalau bukan Gibran.


"Kalian ngapain ke sini?" tanya Anraka, ia mencoba menyembunyikan kegugupannya.


"Jalan jalan aja, emang enggak boleh? Kita 'kan cuma mau nengokin sahabat kita tercinta," celetuk pemuda klinis di sebelah Gibran, ia adalah Romeo.


"Bacot kalian." Bumi menerobos masuk ke dalam rumah Anraka kemudian seenaknya duduk di depan TV lalu menyalakannya.


Mau tak mau Anraka harus membiarkan teman temannya masuk walaupun ia terpaksa, tidak ada cara untuk mengusir mereka.


"Rumah lo bersih juga, awalnya gue ragu rumah ini tetap bisa disebut rumah kalau lo cuma tinggal sendirian," kata Romeo begitu ia duduk di sofa mengikuti Bumi.


"Jangan jangan dia enggak tinggal sendirian lagi," ucap Gibran sembari tertawa dan melangkah ke arah dapur untuk mencari sisa sisa makanan yang bisa di makan.


Sosok pemuda lain masuk ke dalam rumah setelah menepuk bahu Anraka, dia adalah si dingin Ganta.


Anraka terdiam, ia baru ingat bahwa Keelua masih ada di halaman belakang dan ia tidak tau bahwa geng EX ada di rumah ini. Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana jika teman temannya menemukan Keelua di rumah ini? Yang lebih penting, teman temannya tidak boleh melihat Keelua dengan tanktop ketatnya.


Anraka yang berstatus sebagai suami gadis itu saja baru melihat Keelua berpenampilan seperti itu untuk pertama kalinya.


"Gue kebelet pipis deh, toiletnya di mana, ya?" gumam Gibran seraya celingak celinguk ke sana ke mari untuk mencari toilet.


Pemuda itu menemukan sebuah pintu kaca yang mungkin mengarah ke halaman belakang, ia berjalan santai ke sana saat semua teman temannya sedang berbincang di atas sofa yang ada di depan TV.


"Gawat!"


Anraka melihat pergerakan Gibran, pemuda itu pun buru buru menyusul pemuda itu namun dengan gerak gerik yang tidak mencurigakan agar teman temannya yang lain tidak ikut memperhatikannya.


Gibran membuka pintu, keluar ke halaman belakang. Menengok ke sana ke mari dan terkejut begitu melihat sosok seorang gadis sedang duduk di pinggir kolam namun membelakanginya.


Sebelum Gibran bersuara, tiba tiba seseorang menarik bahunya hingga membuat pemuda itu spontan berbalik.


"Gib! Lo ngapain di sini?"


Anraka datang dan langsung mengunci pergerakan Gibran dengan kedua tangannya yang memegang bahu pemuda itu.


"Bukan siapa siapa, lo enggak usah ke sini," kata Anraka.


"Tapi dia bukan Isabel, 'kan? Rambutnya beda, dia lebih mirip sama Keel-"


"Udah udah, gabung bareng yang lain sana, enggak usah banget omong." ." Anraka menarik tubuh Gibran lalu mendorong pemuda itu agar melangkah masuk ke dalam rumahnya lagi.


"Kok lo punya cewek enggak bagi bagi, sih? Biasanya kalau ada yang cantik lo oper ke kita kalau lo udah bosan," ujar Gibran dengan berbisik. "Yang tadi kayaknya cantik banget, dari bodynya aja udah bagus banget," sambungnya.


Dalam hitungan detik, Anraka sudah menarik kerah baju Gibran dan menatap pemuda itu dengan tatapan mematikan.


"Jangan berani ngomong yang enggak enggak soal dia, dia itu bukan barang yang bisa di oper oper. Anggap lo enggak pernah lihat dia dan jangan bayangin dia pakai otak kotor lo itu. Jangan sampai ada yang tau kalau ada dia di rumah gue. Ngerti?" ucap Anraka, tatapannya bagai pembunuh yang siap menerkam mangsanya.


Tubuh Gibran gemetar. ia mengangguk karena tidak berani menatap mata elang dan melihat sikap Anraka yang semenakutkan ini. Baru pertama kali Gibran melihat emosi Anraka bisa sangat cepat berubah, padahal di menit sebelumnya ia baik baik saja.


"Iya, Rak."


"Eh, kalian ngapain di situ? Mau ciuman?" tegur Romeo saat melihat Anraka dan Gibran sedang berdua di depan dapur.


Anraka langsung melepaskan cengkramannya di baju Gibran kemudian berusaha mengontrol napasnya agar kembali normal. Keduanya akan bersikap seolah tidak terjadi apa apa sebelumnya.


"Mau ke mana lo?" tanya Anraka pada Romeo.


"Mau ke dapur, ambil makanan sama minuman. Lo punya, 'kan?" tanya Romeo balik.


"Balik ke ruang tengah, gue yang bawain ke depan." Anraka langsung memberi perintah.


Ia tak ingin Romeo juga ikut melihat istrinya di halaman belakang, bisa bisa semua temannya tau bahwa Keelua ada di sini.


"Enggak apa apa, gue aja," tolak Romeo, ia tidak mau merepotkan Anraka yang merupakan tuan rumah di rumah ini.


Romeo dan teman teman Anraka yang lain hanya datang untuk menghabiskan semua makanan yang ada, akan terlihat tidak sopan jika mereka tidak mengambil makanan mereka sendiri.


"Balik ke ruang tengah sekarang atau keluar dari rumah gue." Tatapan mata Anraka kembali tajam, ia benci saat orang lain tidak mau mendengar perkataannya.


"Udah udah, ayo!" sela Gibran sembari menarik tangan Romeo agar buru buru berbalik dan pergi ke ruang tengah seperti perintah si tuan rumah.


"Kenapa dia?" Romeo berbisik pada Gibran.


"Biasa, lagi kedatangan akhir bulan,". balas pemuda itu dengan berbisik juga.


Mereka akhirnya berkumpul di ruang tengah rumah Anraka, dengan beberapa minuman dan cemilan yang tersedia, para anggota geng EX itu menikmati waktu kebersamaan mereka.


"Rumah lo nyaman juga, ya. Keliatan minimalis dan enggak ada apa apanya dibanding rumah keluarga lo yang kayak istana," kata Romeo.


Anraka mengangguk, "Tapi gue suka di sini, bebas."


"Iya, bebas bawa ce—' -" Gibran langsung buru buru menutup mulutnya ketika ia sadar bahwa mulutnya akan memberinya masalah jika ia melanggar janjinya pada Anraka. "Cerminnya gede banget lagi, kayak bagus gitu buat ngaca," sambungnya sembari menunjuk kaca besar yang ada di belakang mereka.


"Jadi lo enggak akan balik ke rumah lo yang dulu?" tanya Ganta.


"Mungkin nanti gue balik lagi setelah masalah gue selesai, tapi kalau masih kayak gini, mending gue di sini dulu sekalian tenangin diri gue juga," balas Anraka.


"Bagus deh kalau kayak gitu, gue juga senang ngelihat lo sekarang enggak sekaku dulu, berantem juga udah jarang. Kayaknya semua perubahan lo ini gara gara Keelua, ya?" tebak Gibran.


Suasana di tempat itu mendadak hening, entah apa yang akan dikatakan oleh teman teman Gibran yang lain. Mereka tau bahwa Bumi juga sempat menyukai Keelua namun semuanya sudah berakhir, kini Keelua tampak lebih dekat dengan Anraka.


"Gue enggak tau. Gue enggak bisa nilai diri gue sendiri tapi tuh cewek emang banyak ngasih perubahan di hidup gue. Gue beruntung bisa sedekat ini sekarang sama dia, dia mungkin cewek yang gue cari selama ini."


"Berarti si Isabel lewat, ya? Lagian gue lebih setuju lo sama Keelua, sih. Walaupun dulu kalian saling benci tapi gue yakin kalian bisa saling melengkapi." Si dewa cinta angkat suara, siapa lagi kalau bukan Romeo?


Bumi hanya diam saja, menyimak obrolan teman temannya, ia akan berusaha bersikap biasa saja.


"Enggak perlu ada dendam, mungkin Keelua emang lebih cocok sama Anraka dibanding sama Bumi. Jangan cuma gara gara perempuan pertemanan kita berantakan," petuah Ganta dengan santai.


Mata Gibran membulat, ia baru ingat bahwa gadis yang ada di halaman belakang rumah Anraka tadi sangat mirip dengan Keelua. Apa gadis itu adalah Keelua? Tapi gadis yang Gibran lihat tadi sedang menggunakan pakaian yang terbuka dan ketat, apa mungkin Keelua bisa berpakaian seperti itu di rumah seorang pemuda yang tinggal sendirian?


Itu tidak mungkin, Keelua tidak seperti itu.


"Iya, gue sama Bumi enggak ada masalah apa apa. Iya, 'kan, Bum?"


Bumi mengangguk, "Iya."


Ponsel Anraka berbunyi, ada sebuah pesan masuk. Pemuda itu buru buru mengeceknya dan ternyata ada pesan dari Keelua.


"Sampai kapan gue di sini?"