BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
26. Mie Untuk Bang Raka



"Gue duluan enggak apa apa, ya? Ayah gue udah jemput," kata Lula sambil menunjuk ke arah mobil hitam yang baru saja berhenti di depan gerbang sekolah.


Gadis kuncir kuda ikut menoleh ke arah yang sama, "Iya, hati hati, ya." Keelua melambaikan tangan.


"Lo enggak apa apa gue tinggal di sini? Nanti lo balik sama siapa?" tanya Lula sebelum ia beranjak dari tempatnya berdiri sekarang.


"Gampang. Gue bisa naik taksi online atau bus, enggak usah dipikirin." Keelua tersenyum manis sambil memperlihatkan gigi rapinya.


Lula tersenyum getir, "Beneran, ya? Andai kita searah pasti gue bakal nganter lo balik, sorry banget ya, Keel." Kemudian memeluk tubuh sabahatnya itu sebentar.


"Iya, santai aja, sih. Udah biasa juga gue," balas Keelua.


"Ya udah kalau gitu, gue pergi, ya! Dadah, Keel!"


"Dadah!"


Akhirnya Lula pun melesat cepat menuju mobil Ayahnya dan meninggalkan Keelua dengan berat hati, mereka tak searah, andai saja mereka searah tanpa Lula tawari pun, Keelua pasti sudah lebih dulu meminta Lula untuk mengantarnya pulang.


Keelua sangat malas memesan taksi online atau naik bus sebenarnya, tapi mau tak mau ia harus mau, tidak ada pilihan lain.


Setelah beberapa saat diam, suara seseorang tiba tiba mengagetkan gadis yang sedang melamun itu.


"Naik "


Keelua menoleh, "Ganta?"


Tampak seorang pemuda dengan motor sportnya sudah ada di depan Keelua, wajahnya ditutupi helm full face namun gadis itu langsung bisa menebak siapa orangnya.


"Lo ngapain di sini? Kok belum balik?" tanya Keelua penasaran.


"Gue suruh lo naik bukan nyuruh lo nanya," balas Ganta ketus.


Keelua mendecih, "Gue nanya baik baik, gitu aja sensi banget." Lantas


melangkah mendekat ke arah motor Ganta dan langsung naik begitu saja tanpa ragu.


"Untung lo ada, Gan. Kalau enggak, terpaksa gue harus naik taksi online atau bus, uang gue jadi kurang deh. Kalau sama lo, gratis, 'kan?" tanya Keelua pada Ganta yang mulai menaikan gas motornya dan bergerak keluar dari gerbang sekolah.


"Bayar." Ganta bergumam pelan.


Gadis kuncir kuda itu mendecak, "Masa bayar, sih? Enggak asik banget! Ya udah, gue ucapnya. turun deh,"


Tanpa perundingan dan basa basi, Ganta langsung menghentikan laju motornya.


"Eh, kok berhenti?" seru Keelua heran.


"Turun."


Mata Keelua melebar, "Lo nyuruh gue turun beneran? Parah banget, sih! Jadi lo tega tinggalin gue sendirian di tempat sepi kayak gini? Kalau ada yang nyulik gue gimana? Kalau ada yang punya niat jahat sama gue gimana? Kalau gue dibawa kabur sama om om pedo gimana? Kalau gue jadi gembel di jalanan gimana? Kalau gue tersesat terus enggak tau arah jalan pulang gimana? Kalau gue ditabrak angkot gimana? Kalau gue_"


"WOY, GANTOD!"


"Berisik."


Tanpa aba aba Ganta langsung menancap gas kembali, kali ini ia sampai membuat Keelua memekik kaget karena aksinya.


"Lo tuh emang nyebelin, ya. Keren banget geng EX bisa temenan lama sama lo. Walaupun lo ganteng plus tajir melintir tapi kalau tingkah lo kayak jamet sih sama aja, tetap ganteng juga." Keelua mulai mengoceh tidak jelas.


Dan seperti seorang Ganta yang semua orang kenal, pemuda itu hanya diam saja meskipun Keelua terus berbicara di jok belakang motornya.


"Kok lo jam segini masih ada di sekolah, sih? Teman teman lo mana? Kenapa lo enggak bareng mereka? Atau jangan bilang lo enggak diajak? Siapa suruh nyebelin, makanya kalau jadi orang itu-"


"Stop ngomong atau gue lempar lo ke jurang."


Keelua terdiam. Dasar kulkas dua pintu menyebalkan!


...****************...


"Cukup, Ma."


"Lho, kok kamu malah nyuruh Mama diam? Kan Mama cuma ngasih tau kamu aja supaya enggak manjain dia, nanti dia makin kurang ajar. Lihat tuh cara kamu ngedidik dia, dia sampai berani nguping pembicaraan orang tua." Oma Arum melirik sinis ke arah Angel.


Regina menghela napas, "Enggak gitu, Ma. Mama udah dengar sendiri tadi Angel bilang kalau dia enggak sengaja dengar obrolan kita semalam, dia juga udah minta maaf kok." Ia juga ingin membela anak perempuannya.


"Kalian tuh terlalu manjain dia."


"Gimana sama Anraka, Ma? Dia juga udah kurang ajar. Kenapa Mama enggak nasehatin dia?" Arya ikut angkat suara.


"Anraka itu Mama yang ngerawat, Mama yang ngebesarin dia sampai sekarang. Enggak mungkin dia kurang ajar, kalau pun dia bersikap kayak gitu, itu cuma pas dia lagi kesal aja. Kalian sebagai orang tuanya harus ngerti dong," balas Oma Arum dengan nada suara yang ditinggikan.


Regina menghela napas pasrah. Mertuanya itu tidak mungkin menyalahkan Anraka apa lagi sampai memarahi pemuda itu, Anraka adalah cucu kesayangan dan kebanggaan Oma Arum sejak dulu. Bahkan saat Angel lahir pun, seluruh perhatian Oma Arum hanya tertuju untuk Anraka. Angel juga tidak begitu dekat dengan Oma Arum karena wanita paruh baya itu hanya mengutamakan Anraka tanpa mempedulikan Angel padahal Angel juga cucunya.


"Mama enggak boleh terus terusan pilih kasih kayak gini, Ma. Mau Anraka ataupun Angel, mereka berdua itu sama sama cucu Mama." Arya mencoba memberi pengertian pada Ibunya yang tampak terus saja membeda bedakan antara Anraka dan Angel.


Oma Arum mendecak kesal, "Mereka beda. Anraka itu Mama yang didik, makanya sopan. Kalau dia itu kalian yang didik, makanya dia jadi enggak sopan." Lalu wanita paruh baya itu berdiri lalu meninggalkan Arya, Regina dan juga Angel lantas masuk ke kamarnya.


Arya menghela napas panjang lalu memijat pangkal hidungnya. Ia tidak tau lagi bagaimana caranya agar Mamanya mau menyamakan Anraka dan Angel, juga berhenti membanding bandingkan kedua anak itu.


"Angel enggak apa apa kok, Pa. Angel udah biasa sama perlakuan Oma Arum, Papa enggak usah mikirin itu lagi." Angel ikut buka suara sembari terus menyematkan senyum tipis di bibir mungilnya.


"Maafin Papa ya, sayang." Tangan Arya terangkat lalu sekali lagi mengelus pucuk kepala anak perempuannya itu dengan sayang.


Angel mengangguk lalu mengecup cepat pipi kanan Ayah dan Ibunya bergantian.


"Angel naik dulu, ya! Angel sayang Mama sama Papa! Semangat kerjanya!"


Terlihat Arya dan Regina masih memakai pakaian kantor mereka. Arya masih rapi dengan jasnya, dan Regina selalu tampak cantik dengan balutan kemeja berwarna putih dan juga rok hitamnya. Sebentar lagi mereka pasti akan


kembali kantor untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.


Regina membelai pipi anak perempuannya yang tak terasa sudah semakin besar itu sebelum mengangguk dan membiarkan anaknya itu berlari ke arah tangga dan masuk ke kamarnya.


Mungkin benar kata Anraka waktu itu, Arya dan Regina terlalu sibuk dengan semua bisnis yang mereka punya hingga mereka lupa bahwa mereka punya anak yang harus diberi perhatian dan kasih sayang.


"Apa kita gagal jadi orang tua, Ma?"


Regina menoleh lalu melihat wajah suaminya dari samping. Sebuah senyum tipis dan tatapan nanar tampak dari wajah wanita itu.


"Enggak, Pa. Kita enggak gagal," kata Regina. "Selama kita masih bisa ngeliat senyum di bibir anak anak kita, kita sama sekali enggak gagal."


...****************...


Angel masuk ke dalam kamarnya lalu menutup pintu kamarnya itu dengan cepat. Tubuh gadis kecil itu merosot setelah ia melepaskan tasnya lalu menaruhnya ke sembarang tempat.


Senyum ceria gadis kecil itu mendadak lenyap, matanya yang bercahaya kini tampak berair, pipinya yang merah merona kini telah basah oleh air mata. Angel menelungkup di balik pintunya sambil membenamkan wajahnya di atas kedua tangannya yang terlipat.


Perlahan lahan, bahu gadis itu bergetar. Suara isakan terdengar samar samar di dalam ruangan yang luas itu. Angel tidak bisa menahan untuk tidak menangis ketika mengingat perkataan Oma Arum tadi. Di depan orang tuanya, dia memang tidak mungkin memperlihatkan bahwa ia sedang sedih namun di dalam hatinya, ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri.


Di saat Angel mendengar pembicaraan Ayahnya dan Oma Arum adalah kejadian yang benar benar tidak di sengaja. Malam itu, Angel duduk sendirian di atas sofa sambil menunggu kedatangan kakaknya yang sudah dua malam tidak pulang ke rumah.


Angel sangat khawatir pada kakaknya itu karena Anraka tidak membalas pesannya sama sekali, pemuda itu juga tidak mengatakan ia akan kemana dan kapan ia pulang. Gadis kecil itu merasa bersalah karena sudah membiarkan Anraka pergi malam itu tanpa niat untuk menghentikannya.


Tapi di balik semua itu, hal yang paling menghantui benak Angel sekarang adalah fakta bahwa Oma Arum benar benar menginap penyakit kanker otak yang sudah mencapai stadium III, hal itu benar benar membuat Angel syok ketika ia mendengarnya.


Entah bagaimana keadaan Anraka sekarang, kakaknya itu pasti sangat terpukul dan tidak bisa mempercayai apa yang baru saja ia ketahui, apa lagi Anraka sangat menyayangi Oma Arum, Oma Arum adalah bagian dari keluarga yang paling dekat dengan Anraka.


"Harusnya Oma bisa sayang sama gue juga," gumam Angel sambil terus terisak.


Setelah beberapa saat terus menangis, akhirnya Angel pun merasa lelah dan bangkit dari duduknya. Ia tidak boleh seperti ini terus, walau pun Oma Arum membeda bedakannya dengan Anraka, tapi Angel tidak boleh membenci siapa siapa. Gadis itu percaya, bahwa suatu hari pasti ada keajaiban yang bisa membuat Oma Arum bersikap baik padanya.


"Kayaknya sekarang gue harus lihat keadaan Bang Raka dulu," ujar Angel ketika melihat pantulan dirinya di kaca besar yang ada di kamarnya.


Gadis kecil itu pun langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, ia sangat lelah karena saat di sekolah tadi, ia memalak begitu banyak anak dan setelah pulang dari sekolah, ia harus langsung pergi ke tempat bimble dan belajar lagi.


Hari yang melelahkan.


Setelah selesai dengan semua ritualnya di kamar mandi, Angel pun keluar dengan handuk biru kesayangannya. Angel lalu memakai baju dan merapikan rambutnya lantas keluar dari kamarnya.


Senyum cerianya sudah terbit lagi, tidak ada jejak jejak kesedihan di wajahnya. Secepat itu Angel menghilangkan semua rasa sakit yang ada di hatinya, bukan karena ia mau membohongi dirinya sendiri, namun ia harus tetap terlihat bahagia agar tidak ada orang yang tau bahwa ia sedang bersedih.


Biarkan dirinya saja yang mengetahui saat saat ketika dunianya runtuh dan berantakan. Orang lain tidak usah tau.


Sebelum melangkah ke kamar Anraka yang berada tepat di sebelah kamarnya, Angel turun ke lantai dasar terlebih dahulu. Gadis itu menuju ke dapur untuk mengambil makanan yang nanti akan ia dan Anraka makan. Ia yakin kakaknya pasti kehilangan nafsu makan dan tidak berniat untuk makan dalam waktu dekat ini, jadi Angel akan membawa makanan untuk Anraka.


Setibanya di dapur, Angel tidak melihat ada makanan. Pasti orang orang rumah hanya memesan makanan untuk makan siang tadi, seperti biasanya. Tanpa kehabisan akal, Angel lalu membuka kulkas. Di dalamnya hanya ada makanan kaleng, susu, sayuran dan buah buahan. Dahi Angel mengernyit, apa yang bisa ia makan bersama Anraka?


Manik mata gadis kecil itu menemukan banyak persediaan mie di rak paling bawah kulkas dua pintu yang sedang ia buka ini. Tangan mungil gadis itu pun terangkat dan mengambil dua bungkus mie dari sana dan meletakkannya di atas meja dapur.


Tanpa pikir panjang, Angel langsung bersiap untuk memasak makanan yang sebenarnya tidak sehat namun sangat enak itu.


Sambil tersenyum, Angel berkata, "Kalau dimasakin mie, Bang Raka pasti enggak akan nolak."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.