
"Dia, Bumi."
"Oh, si Bumi."
"Eh?! Kok lo enggak kaget?" tanya Keelua dengan mata yang melebar.
"Kenapa harus kaget? Gue kira juga siapa, ternyata si Bumi doang." Lula berjalan lebih dulu meninggalkan Keelua yang mematung.
Keelua kemudian mengejar Lula yang berjalan bagai tanpa dosa di depannya, gadis itu sangat bingung dengan sikap Lula yang suka berubah berubah.
"Kok lo biasa aja, sih? Lo 'kan suka sama Bumi? Iya, 'kan?" tanya Keelua.
Tanpa di duga duga Lula malah tertawa cekikikan saat melihat wajah Keelua yang tampak memerah, seolah seolah sahabatnya ini sangat takut ia marah, padahal tidak sama sekali.
"Lo tau kan ada berapa cewek yang suka sama si Bumi di sekolah ini? Enggak terhitung! Banyak banget yang suka dan mungkin udah sampai cinta banget sama tuh cowok. Kalau misalkan gue bersaing sama mereka, gue enggak bakal dapat apa apa karena mereka udah pasti lebih segala galanya dari gue." Lula bersenyum getir.
"Jadi lo bener bener enggak suka sama dia? Jadi selama ini pas lo muji muji dia tuh apa? Masa lo enggak suka sama dia tapi muji muji sampai terkagum kagum gitu?" Keelua benar benar tak percaya dengan jawaban Lula, bisa bisanya Lula berubah seperti ini.
Setau Keelua, Lula sangat menyukai Bumi sampai gadis itu selalu memperhatikan akun instagram pemuda itu setiap hari, mengecek apakah pemuda tersebut membuat cerita terbaru atau postingan terbaru di hari itu. Sangat tidak bermanfaat namun Lula terus melakukannya setiap hari tanpa punya niat untuk berhenti.
Itulah sebabnya mengapa Keelua sangat heran dengan sikap Lula.
"Gue itu suka sama semua cowok ganteng. Bukan cuma Bumi aja, gue juga ngefollow dan ngestalk akun instagram semua anggota geng EX. Bumi, Gibran, Romeo, Ganta dan yang udah pasti ... Anraka Pranata!" Lula berseru senang sambil memeluk ponselnya dengan erat.
Keelua menyeka sedikit peluh di pelipisnya, ia benar benar tidak tau ini akan terjadi, padahal gadis itu sudah bersiap siap untuk menghadapi Lula yang mungkin saja tiba tiba mengamuk setelah ia mengatakan hal tadi.
Namun pada akhirnya, semuanya baik baik saja. Lula tidak terlihat terluka bahkan ia tak keberatan sama sekali, raut wajah dengan senyum indah itu masih tetap terpatri di bibir tipis Lula.
"Jadi gimana? Lo mau terima apa enggak?" tanya Lula.
"Gue masih bingung, La. Lo yakin kalau lo enggak akan marah? Lo yakin kalau lo baik baik aja?" Lagi lagi Keelua menanyakan hal yang sama berulang kali.
Gadis itu benar benar tidak percaya dengan apa yang ia lihat, sikap Lula sangat membingungkan hingga membuat Keelua maju mundur untuk menerima ajakan nonton Bumi.
"Gue pukul juga lo! Gue bilang, gue enggak apa apa, gue enggak beneran suka sama Bumi. Kalau mau, ambil aja." Tangan Lula naik kemudian merangkul bahu Lula dengan sangat akrab.
"Ambil aja gimana? Nerima ajakannya aja gue masih ragu. Gue takut nanti jalan jalannya enggak sesuai ekspetasi." Keelua mengeluh di depan Lula bagai anak kecil yang kehilangan ibunya.
"Ya enggak apa apa, jalanin aja dulu." Dengan santainya Lula mengatakan hal yang sanggup membuat Keelua terdiam.
Perasaan bukan untuk dicoba coba, akan bagus jika keduanya bisa sama sama saling suka. Jika tidak? Ini akan menjadi petaka untuk Keelua.
"Jalanin aja? Enak banget lo ngomong, lo pikir perasaan bisa dicoba coba? Gimana kalau si Bumi beneran suka sama gue? Gue enggak tau lagi harus kayak gimana." Keelua pusing, ia merasa sangat serba salah.
"Yang intinya gue dukung lo sama siapa aja, lo bebas bersenang senang sama pilihan lo. Gue sebagai teman cuma bisa ngedukung." Lagi lagi Lula tersenyum manis ke arah Keelua yang memasang wajah tegang.
"Siapa aja?" tanya Keelua mengulangi pernyataan Lula.
Lula mengangguk kukuh, wajahnya penuh keyakinan.
"Eh, siapa aja boleh tapi ada satu orang yang enggak boleh lo deketin apalagi sampai lo jadiin pacar," kata Lula.
"Siapa?" tanya Keelua.
"Anraka. Dia cinta pertama gue."
...****************...
"Satu.. dua.. tiga!"
BRAK!
"JANGAN ADA YANG KABUR! TETAP DI TEMPAT KALIAN!"
"APA APAAN NIH?!"
Geng EX mendobrak masuk dan mereka menemukan beberapa orang di dalam sana. Mungkin hanya sekitar sepuluh orang saja.
"Kalian udah macam macam sama kita, jadi karena kita baik, kita datangin kalian ke sini."
Romeo berdiri di depan pintu masuk, tugas pemuda itu adalah menjaga akses keluar agar para musuh tidak melarikan diri dan menjaga jaga jika ada serangan dari luar.
"Macam macam? Kita enggak pernah macam macam sama orang orang kayak kalian!" teriak salah seorang dari mereka.
Mereka yang ada di dalam ruangan itu seketika berkumpul, sedangkan geng EX hanya berjumlah lima orang saja.
"Jangan pura pura bego, kemarin salah satu dari kalian nyoba nerobos area sekolah kami dan dengan berani beraninya mukulin teman kami yang cuma sendirian waktu itu. Kalian enggak punya nyali kalau enggak keroyok, ya?"
Romeo dengan gaya kalemnya bersandar di daun pintu dan menatap wajah musuhnya itu satu persatu, tidak ada yang terlewatkan.
"Kita datang ke sini cuma mau jalan jalan aja dan ngelihat emangnya kayak apa sih wajah wajah orang paling berani nantangin EX." Gibran buka suara.
"Si paling berani." Bumi menyeletuk.
"Jangan banyak basa basi, maju kalian satu satu," tantang Anraka.
Kelima pemuda itu sama sekali tidak memperlihatkan gerak gerik orang yang ingin berkelahi dengan profesional. Lihat saja gaya mereka yang sangat santai, kedua tangan yang mereka masukkan ke dalam saku celana dan tatapan teduh yang sangat tenang dan tidak membara sama sekali.
"Berani beraninya kalian datang ke sini."
Suara seseorang membuat seluruh atensi di tempat itu teralihkan.
Geng EX menunggu kemunculan seseorang itu dari kerumunan orang yang berdiri di depan mereka.
Beberapa saat menunggu, akhirnya salah seorang dari musuh geng EX itu maju dan berdiri tepat di depan Gibran yang gayanya paling tengil di antara anggota geng EX yang lain. Jika di lihat dari penampilan, Gibran sepertinya bukan orang yang begitu pandai berkelahi, pemuda itu mungkin hanya pandai menghindar karena tubuhnya yang ramping.
"Kalian mau apa?" tanya orang itu, baju seragamnya tidak bisa Bumi kenali dari mana.
"Kita mau balas dendam ke lo dan semua teman teman lo yang udah lancang masuk wilayah kita. Geng EX udah ngasih tau semua geng anak sekolah yang ada di kota ini; jangan pernah ngusik daerah kekuasaan kami." Gibran menjawab dengan santai saat orang di depannya sudah naik phitam.
"Gue sama teman teman gue enggak masuk ke daerah kekuasaan kalian. Kita cuma mau datang dan berkunjung, gue rasa itu enggak salah."
"Salah. Kalian udah mukulin teman kami, itu yang paling salah." Bumi menyeletuk.
"Memangnya kenapa kalau kami mukulin salah satu dari teman kalian? Apa untungnya kalian datang ke sini terus marah marah ke kami? Enggak ada untungnya kalian ngebela teman kalian yang cupu itu, berantem aja enggak bisa, untuk apa masih dijadiin teman? Hm?" Orang itu tertawa, ia terkekeh karena perkataannya sendiri.
"Siapa aja yang udah jadi anggota geng EX, siapa pun dia, kita bakalan selalu ngelindungin dia dari siapa pun, apalagi kalau sampai ada hubungannya sama geng EX. Lo bisa nyebut itu dengan kata solidaritas." Gibran kembali angkat bicara, dengan gayanya yang seperti bocah SMA pada umumnya sedang menatap orang di depannya sedikit senyum tipis yang sengaja ia pasang.
"Solidaritas kalian bilang? Untuk apa? Gue ketua dari mereka semua tapi gue enggak bakalan mau susah payah ngebela mereka satu persatu karena mereka semua pasti bisa ngebela diri mereka sendiri," jelas orang itu dengan santainya.
"Kalau begitu, lo adalah ketua yang mengecut." Setelah sekian lama diam, akhirnya Ganta mau buka suara juga.
"Pengecut?!" Orang itu memekik.
"Enggak usah teriak teriak, bangsat." Anraka menegur pemuda yang berbau alkohol itu, baunya sangat menyengat hingga Romeo yang berdiri di paling belakang saja bisa menciumnya.
"Buat apa kalian tetap mau jadi anggota dari geng yang ketuanya kayak dia? Kalian dengar sendiri apa yang dia bilang tadi, 'kan? Dia enggak peduli sama kalian, orang ini sama sekali enggak peduli kalau semisal apa hal buruk yang terjadi sama kalian! Apa masih pantas kalian nyebut dia ketua?!" Gibran memekik nyaring, suaranya bergema di dalam bangunan yang mereka sebut markas ini.
Ketua dari geng musuh itu mengeram kesal kemudian hendak melayangkan satu pukulan ke wajah Gibran namun dengan santai Gibran menahan pukulan tersebut lalu meninju rahang bawah orang itu hingga ia mundur beberapa langkah.
"Jangan nyerang pas gue belum siap, dong. Ayo, ulang lagi," kata Gibran sambil terkekeh pelan.
Orang itu memegangi rahangnya yang terasa hampir patah, ia hampir akan terhuyung namun dengan susah payah ia mencoba untuk tetap berdiri tegak.
"Gue adalah orang yang ngeroyok teman lo waktu itu, gue mau tau sehebat apa geng EX. Ternyata kalian enggak ada apa apanya," ejek orang itu, bahkan setelah ia oleng dengan satu pukulan saja.
Anraka maju ke depan orang itu, Gibran spontan memundurkan langkahnya. Anraka tidak mengatakan apa pun di beberapa detik setelah bertatapan mata dengan orang itu, napas pemuda yang merupakan musuh EX itu terdengar terengah engah.
"Apa-"
BUGH!
"ARGH!"
Anraka melompat kemudian menendang wajah pemuda yang sudah berani mengejek dirinya dan teman temannya itu hingga berhuyung ke belakang dan terjatuh.
"Jangan banyak bacot, bangsat."
Masih dengan tatapan datar dan gerak tubuh yang tenang, Anraka mampu mengontrol emosinya dengan baik bahkan di keadaan Masih dengan tatapan datar dan gerak tubuh yang tenang, Anraka mampu mengontrol emosinya dengan baik bahkan di keadaan seperti ini.
"Maju kalian satu satu, keroyokan juga boleh," tantang Anraka sembari menatap anak buah pemuda yang sudah terbaring di ubin itu dengan tatapan elangnya.
Tidak ada yang berani maju, mereka semua hanya diam bahkan ketua mereka pun hanya bisa pasrah saat dipukuli.
"Bang, saya mau ikut sama geng EX. Saya mau keluar dari geng busuk ini!" Seseorang berteriak dari barisan belakang.
"Pengkhianat!" pekik ketua geng yang sudah hampir tak sadarkan diri.
"Kalian bisa ikut sama kita, dengan satu syarat ..." Gibran tersenyum miring kemudian melirik ke arah pemuda yang sudah terbaring di lantai tadi. "... siapa pun yang mau jadi bagian dari geng EX, harus mukulin dia dulu sebelum pergi dari sini atau gue yang bakal ngehajar kalian satu persatu."
Tanpa diduga duga, beberapa orang dari mereka maju dan langsung memukuli ketua mereka yang sudah terbaring lemah di lantai tanpa rasa kasian sama sekali.
"Setidaknya kita enggak perlu ngotorin tangan kita buat mukulin si brengsek ini," kata Bumi.
"Perseteruan antar kelompok, ini seru." Romeo juga tersenyum licik.
"Cabut, gue enggak mau jadi saksi kematian orang," ujar Anraka kemudian berbalik dan melangkah keluar dari bangunan itu, tangannya masih setia tenggelam di dalam saku celananya.
Siapa yang bisa mengalahkan aura dari anggota inti geng EX? Gaya mereka yang tenang membuat musuh selalu salah kaprah. Orang orang sering mengira geng EX adalah geng yang tidak pandai berkelahi karena mereka memang tidak pernah berkoar koar saat marah, mereka hanya tetap tenang. Seperti air laut yang tenang, mereka juga bisa dengan diam diam menghanyutkan.
"Mereka enggak seru, harusnya kita adu jotos dulu. Ini malah mereka yang ngeroyok ketua mereka sendiri," kata Gibran sambil melangkah santai dengan kedua tangan di belakang kepala seperti gaya klasik tokoh tokoh di kartun anime.
"Udah cukup buat hari ini, mereka enggak sebanding sama kita."