BAD BOY IS MY HUSBAND

BAD BOY IS MY HUSBAND
27. Perjalanan



"Lo mau bangun apa enggak!"


Lagi lagi Keelua melempar bantal ke arah Ravi yang tengah tertidur pulas di atas kasurnya. Hari ini adalah hari minggu, sekolah libur namun Keelua tetap tidak bisa membiarkan adiknya tidur dengan nyaman di minggu pagi yang penuh dengan kemalasan ini.


"Ravi!"


"Apaan, sih, bangs-"


"Hayo, lo mau ngomong apa?! Gue aduin Mama lo, ya!"


"Apaan, sih, kak?" pekik Ravi.


Keelua terkekeh, "Ke mall, yuk!"


"Lo udah gila apa? Pagi pagi buta gini lo mau ke mall? Lo mau buka pintu mallnya apa gimana?!" cercah Ravi sambil menutupi telinganya dengan bantal kepala.


Keelua membanting kakinya ke lantai beberapa kali, "Gue gabut!" serunya.


"Mending lo tidur sana, jangan gangguin hidup tenang gue." Ravi mencoba mengusir Keelua dengan cara halus, karena jika dengan cara kasar, kakaknya itu pasti tidak akan pergi.


"Enggak mau ah, tidur mulu kayak kebo," kata Keelua.


"Bodo amat ah, jangan ganggu gue!" Ravi lalu menutup tubuhnya dengan selimut.


Dengan kesal Keelua menarik selimut itu hingga merosot lagi.


"Ayolah, Vi! Nanti gue traktir deh!" bujuk Keelua.


"Enggak."


"Gue beliin paket data?"


"Enggak."


"Gue pijitin seharian?"


"Enggak."


"Gue top up in?"


"Enggak."


"Ya udah, gue kasih tau ke Mama semua rahasia lo."


"Gue mandi dulu." Ravi langsung bangun dari tidurnya dan beranjak ke kamar mandi.


"Good boy!" Keelua bersorak senang lalu keluar dari kamar adiknya dengan wajah yang ceria.


Setelah beberapa saat kemudian, Ravi pun keluar dari kamarnya dengan pakaian santai ala Ravi. Kaos hitam polos dengan celana selutut berbahan jeans yang berwarna abu abu. Keelua duduk di sofa sembari menonton TV menoleh begitu suara pintu Ravi terdengar.


"Udah siap?" tanya Keelua.


Dengan malas, Ravi menjawab, "Udah."


"Kok muka lo kusut gitu kayak pakaian belum di setrika, sih? Senyum dong, yang tulus." Keelua mencontohkan senyum yang ia maksud.


Ravi mencebik bibir lalu kemudian tersenyum paksa.


"Gitu dong! Ayo!"


Keelua keluar dari rumah lebih dulu tanpa mematikan TV, jadi mau tak mau Ravi lagi yang harus mematikannya. Benar benar tak henti henti Ravi mengumpati Keelua di dalam hati.


Sekar masih berada di kamarnya dan tak melihat kedua anaknya pergi namun Keelua sudah meminta izin lebih dulu. Keelua dan Ravi tidak mungkin pergi keluar tanpa izin terlebih dahulu pada Ibu mereka. Meskipun tak dilarang pergi ke mana mana tapi Keelua hanya ingin Ibunya tidak khawatir jika mendapati kedua anaknya tiba tiba tidak ada di rumah.


"Kita naik mobil kan, ya?" tanya Keelua.


Ravi yang baru saja keluar dari pintu utama mendengus kesal, "Iyalah, masa naik kuda."


"Tolol banget. Adik siapa sih lo?" maki Keelua.


"Yang jelas gue bukan adik lo," balas Ravi lalu masuk ke dalam mobil.


"Kurang ajar lo, ya!"


...****************...


"Lo tau apa? Gue seneng banget!"


Ravi yang duduk di sebelah Keelua hanya melirik malas ke arah kakaknya itu.


"Gue tuh seneng banget gara gara sekarang kita mau ke peternakan dan ketemu sama sapi sapi gemoy!" seru Keelua dengan gembira.


"Enggak ada yang nanya."


"Orang gue ngomong sama tangan gue." Keelua memutar bola mata malas.


"Apa bagusnya ke kandang sapi? Banyak tai sapi," cela Ravi.


Tangan Keelua langsung terangkat dan mendorong kepala Ravi ke samping hingga pemuda itu mengaduh.


"Ya kalau di kandang sapi pasti ketemunya tai sapi lah, enggak mungkin tai gajah," balas Keelua dengan kesal.


Ravi mendecak, "Emang lo pernah lihat tai gajah?" tanyanya.


"Enggak, sih. Lo pernah?" Keelua menjawab lantas balik bertanya.


"Enggak juga, sih."


Keelua memutar bola matanya malas untuk yang kesekian kali sembari mendecak kesal. Dua orang kakak adik itu sedang berada di dalam mobil yang dibawa oleh Ravi. Ya, memang, Ravi belum cukup umur untuk menyetir mobil sebenarnya namun anak laki laki itu sudah mahir sekali dalam urusan ini.


Keelua pun tidak melarang adiknya yang masih di bawah umur itu untuk membawa mobil, karena jika ia melarangmya, gadis itu pasti tidak akan bisa ke mana mana. Ravi sudah diajari menyetir mobil oleh Bambang sejak beberapa bulan lalu, sedangkan Keelua yang memohon mohon untuk diajari tidak pernah mendapat izin untuk itu.


Bambang bilang, ia ingin mengajari Ravi menyetir mobil lebih dulu karena anak laki laki itu lebih bisa dipercaya dari pada Keelua. Walau pun keliatan nakal dan keras kepala, namun Ravi adalah anak yang penurut dan tetap mau mendengarkan perkataan orang tuanya meskipun harus dipaksa, ia juga sangat sulit disuruh bergerak jika sudah bermain game. Sedangkan Keelua, dia adalah anak perempuan yang keinginannya harus selalu terpenuhi dan dia juga sangat ambisius.


Walau pun sama sama keras, Ravi punya sisi yang tidak dimiliki oleh Keelua dan hal itu membuat Bambang akhirnya memutuskan untuk mempercayakan mobil keluarga kepada Ravi.


Keelua sangat suka bepergian dan jalan jalan ke mana saja sedangkan Ravi tidak. Anak laki laki itu lebih suka berada di rumah, bermain game atau pun tidur, ia akan tetap di rumah dan tidak berniat untuk ke mana mana.


Bayangkan saja jika Bambang mempercayakan mobil kepada Keelua, gadis itu pasti akan keluar rumah setiap hari dan tidak ingat pulang.


"Kita mau ngapain, sih, ke peternakan? Kayak enggak ada kerjaan lain aja," omel Ravi.


"Emang kita enggak ada kerjaan. Jadi beban keluarga aja di rumah," balas Keelua.


Keelua memasang tampang jijik sambil melirik ke arah Ravi, "Emang kalau gue ajak lo ke mana gitu lo mau?" tanyanya.


"Enggak juga, sih," sahut Ravi dengan santai.


"Makanya! Enggak usah sok sok an. Tadi gue ajak ke mall aja susah banget." Keelua berseru.


"Tapi akhirnya gue mau, 'kan? Walau pun terpaksa," kata Ravi.


"Untung mallnya belum buka, jadi kita bisa ke peternakan," ujar Keelua.


"Untung apanya? Lagian siapa sih yang mau pergi ke mall pagi pagi? Cuma lo doang."


Ravi tidak mengerti dengan isi kepala kakaknya ini, tidak hanya menyebalkan namun juga bodoh. Sudah jelas ini masih sangat pagi tapi ia sudah berpikir untuk pergi ke mall, entah ingin melakukan apa di sana. Padahal gadis itu selalu bilang bahwa ia tak pernah mau membeli baju atau berbelanja di mall karena harganya yang mahal, masih mending berbelanja di toko pinggir jalan katanya.


Meskipun begitu, hal tersebut tidak membuat Keelua malas ke mall. Gadis itu akan tetap pergi ke mall walaupun ia tak punya uang dan hanya berjalan jalan kosong saja, asal punya uang parkir, Keelua tidak akan mempedulikan hal lain.


Setau Ravi, tak jarang kakaknya pergi ke mall atau tempat ramai lain seorang diri. Gadis itu jalan jalan dengan dirinya sendiri alias tidak pergi dengan siapa pun, mungkin niatnya untuk menikmati me time. Tapi menurut Ravi itu sulit dan mustahil untuk dirinya karena Ravi tidak akan mau pergi ke suatu tempat yang dikunjungi banyak orang seorang diri.


Itu akan tampak aneh dan sangat kesepian, bayangkan saja saat berada di tengah tengah riuhnya manusia, Keelua berjalan sendirian tanpa memiliki teman untuk bicara.


Itu menyeramkan.


Di luar dari itu semua, Ravi tau bahwa kakaknya memang aneh.


Buktinya sekarang gadis itu sudah mengajak Ravi pergi ke peternakan milik keluarga mereka karena mall masih tutup. Astaga.


"Dari pada enggak ke mana mana."


"Terserah lo dah." Ravi sudah tidak ingin lagi meladeni Keelua yang terus saja berbicara tidak jelas.


Ravi lebih memilih untuk membuka jendelanya dan menghirup udara segar di pagi hari yang cerah ini. Aroma embun yang khas sangat lembut ketika memasuki indra penciumannya, jarang sekali Ravi bepergian seperti ini.


"Kok peternakannya Papa kayak makin jauh, ya?" Keelua kembali memulai obrolan.


"Bukan makin jauh, lo aja yang jarang ke sana," balas Ravi.


"Lo juga jarang, 'kan?"


"Iya."


Kedua kakak beradik itu harus menempuh jarak yang tidak dekat jika ingin pergi ke peternakan milik keluarga mereka, harus membela jalanan kota terlebih dahulu lalu sampai di desa desa kecil yang udaranya masih sangat sejuk dan asri.


Keelua dan Ravi jarang ke sana dikarenakan tempatnya yang jauh dan juga keadaan yang tidak memungkinkan mereka datang ke sana jika di hari hari sekolah. Ibu mereka juga tidak mengizinkan kedua anak itu ke sana, katanya mereka hanya akan mengacau dan menganggu pekerjaan para pekerja di perternakan.


"Kasian ya Papa harus bolak balik ke peternakan tiap minggu, padahal tempatnya jauh gini," kata Keelua.


"Itu lo tau. Makanya enggak usah ngeluh kalau Papa sibuk, semua yang Papa lakuin juga ujung ujungnya buat kita," balas Ravi.


Keelua mencebikkan bibir, hanya kadang kadang saja ia mengeluh, itu juga hanya ketika ia sudah tidak bertemu dengan Papanya selama seminggu.


"Gue kan kangen sama Papa!" seru Keelua.


"Udah gede juga, enggak usah manja gitu," cibir Ravi.


"Bukan manja, dodol. Gue emang kangen sama Papa karena gue anak yang baik hati dan tidak sombong. Bukan kayak lo, udah miskin, sombong lagi," ejek Keelua.


Gadis itu begitu suka mengganggu adiknya, padahal Ravi sangat jarang berbicara dan tidak pernah usil mengganggu Keelua tapi karena itulah Keelua senang mengganggu Ravi karena Ravi tidak pernah mengganggunya. Keelua penasaran.


Itu memang rumit.


"Sekali lagi lo ngomong, gue turunin lo di sini," ancam Ravi.


"Durhaka banget deh lo jadi adik. Males gue." Keelua melipat kedua tangannya di depan dada.


"Lo cepetan nikah sana, biar gue enggak perlu satu rumah lagi sama lo." Ravi tetap fokus ke jalanan yang ada di depannya.


"Muka lo noh kayak jalanan rusak! Enak aja kalau ngomong. Gue masih sekolah, masih SMA. Masa gue nikah muda, sih?" kesal Keelua.


"Ya, enggak apa apa. Sapatau suami lo kaya raya, lo tinggal makan, tidur sama ngangkang aja." Ravi tersenyum jahat.


DUK!


"Aduh!"


Ravi mengelus kepalanya dengan satu tangan, lalu melirik ke arah Keelua dengan kesal.


"Apaan, sih?"


"Siapa yang ngajarin lo ngomong kayak gitu?!" tanya Keelua seraya memekik.


"Ngomong apaan?" Raut wajah Ravi menunjukkan bahwa ia sedang bingung.


"Otak lo udah enggak suci! Tunggu aja kalau kita udah sampai di rumah, gue cuci otak lo sampai glowing!" seru Keelua lagi.


Ravi mendecih, "Gue udah gede kali, stop nganggep gue anak anak yang polos dan enggak tau apa apa. Gue bukan anak bayi lagi," tutur Ravi mengungkapkan isi hatinya.


Keelua menoleh ke arah Ravi lantas menatapnya lekat, gadis itu memperhatikan wajah adiknya lamat lamat.


"Stop ngeliatin gue atau kita berdua bakal masuk ke sawah yang mungkin penuh ular sawah ini," ancam Ravi.


Keelua akhirnya memundurkan tubuhnya, namun matanya masih fokus menatap Ravi.


"Mau sampai kapan pun, lo tetap adik kecil gue. Lo bisa bilang lo udah gede, udah dewasa, udah enggak polos lagi tapi di mata seorang kakak, adik akan tetap selalu jadi bocah yang bisa disuruh suruh dan dijadiin babu. Paham, ya, dek?"


Ravi mendecak kesal untuk yang kesekian kalinya, entah harus bagaimana caranya untuk membuat Keelua alias si gadis kuncir kuda ini diam dan berhenti beromong kosong, telinga Ravi sudah panas.


"Lo tinggal bilang kiri, gue turunin lo sekarang juga." Ravi buka suara.


"Lo pikir ini angkot? Enggak akan tega juga lo."


.


.


.


.


.


.