
Keelua mengeram tertahan saat masuk ke kamarnya dan buru buru mengunci pintu itu. Air mata yang tumpah bagai sungai yang mengalir, tak dapat di tahan dan terasa begitu menyakitkan.
Sekarang Keelua benar benar sah menjadi seorang istri dari pemuda yang ia benci, pemuda bad boy yang masalahnya ada di mana mana, dan pemuda yang tak pernah bersikap baik padanya.
Ia takut pernikahan ini tak bertahan lama, tidak ada cinta di dalamnya, hanya sebuah paksaan dan ancaman yang memaksa keduanya untuk melakukan apa yang sebenarnya tidak ingin mereka lakukan.
Kaki Keelua berdiri gemetar, tangannya mengepal erat, ia tak bisa menerima perjodohan ini tapi, ia sudah menjadi istri Anraka sekarang.
"Gimana bisa gue nikah sama cowok kayak dia?" gumam Keelua dalam hati.
Tapi di balik semua perasaan kecewanya, gadis itu sedikit lega karena akhirnya orang tuanya mendapatkan apa yang mereka mau. Keelua sadar, selama ini ia tak pernah memberi apa apa untuk kedua orang tuanya, ia belum bisa membuat mereka bangga dan mungkin ini lah satu satunya cara agar ia bisa membalas sedikit jasa orang tuanya.
Keelua menarik napas panjang, ini adalah kali terakhir ia menangis, setelah ini tidak boleh ada lagi tangisan dan rengekan yang menyalahkan keadaan. Gadis itu tau bahwa apa yang telah terjadi memang jalannya dan tidak ada yang bisa ia salahkan untuk itu.
Seputus asa apa pun Keelua sekarang, gadis itu tetap akan menjalani hidupnya. Walaupun ia benci hidupnya yang sekarang, namun hanya ini yang ia punya.
"Enggak apa apa, asal Mama sama Papa senang setelah ini."
...****************...
"Enggak kerasa, anak anak kita udah besar, ya," kata Regina.
"Iya, Na. Aku senang banget akhirnya anak kita bisa jadi pasangan suami istri dan pasangan seumur hidup," balas Sekar.
"Aku juga senang bisa punya menantu sebaik dan secantik Keelua. Makasih, ya, sudah menerima kami," ucap Regina lagi.
Sekar dan Regina pun berpelukan singkat sebagai tanda bahwa mereka memang benar benar senang akan terbentuknya dua keluarga yang sekarang menjadi satu keluarga besar ini.
"Akhirnya sekarang kita jadi keluarga besar, ya, Pak Bambang," sambung Arya.
Bambang menepuk pelan pundak besannya, "Iya, Pak Arya. Semoga banyak kebahagiaan setelah ini."
"Semoga." Keduanya kemudian berpelukan singkat seperti para ibu ibu tadi.
"Kalian enggak mau nginap dulu?" tanya Bambang.
"Enggak apa apa, Papa Keelua. Biarin Keelua ikut sama kami sekarang aja, biar sekalian," sahut Oma Arum.
Keelua tidak mengatakan apa apa, gadis itu tidak memberikan ekspresi bahagia sama sekali. Datar dan hambar.
"Ya udah, enggak apa apa. Kamu baik baik, ya, di sana. Sering sering main ke sini sama Raka. Oke?" kata Sekar seraya mencubit pelan pipi anak perempuannya yang kini sudah akan dibawa oleh keluarga suaminya.
"Angel bakal jagain Kak Keelua, Angel senang sekarang udah punya teman buat ngobrol, enggak sendirian lagi," celetuk Angel.
Sekar terkekeh pelan lalu tangannya naik mengusap pucuk kepala Angel, "Mama Sekar ikut senang, ya. Memangnya selama ini enggak ada yang bisa Angel ajak ngobrol di rumah?" tanyanya.
Gadis kecil itu menggeleng, "Enggak ada, semua orang sibuk."
"Oh, gitu, ya." Sekar tampak prihatin dengan Angel, gadis kecil itu sepertinya benar benar kesepian.
"Apa, sih, Angel? Enggak kok, anak ini emang suka ngomong sembarangan. Dia punya banyak teman ngobrol kok di rumah," sela Oma Arum.
Angel terlihat menundukkan kepala lantas mencium tangan Sekar dan Bambang sebelum masuk ke dalam mobil.
"Angel pamit ya, Mama Sekar, Papa Bambang! Nanti Angel bakal sering main ke sini juga sama Kak Keelua," ucap gadis itu sebelum benar benar masuk dan duduk di jok mobil keluarganya.
"Saya pamit, Om, Tante," kata Anraka seraya mencium tangan kedua mertuanya bergantian.
"Jangan panggil Tante dan Om dong, panggil Mama Sekar dan Papa Bambang aja kayak Angel tuh, pinter dia," sahut Sekar.
Anraka mengangguk sekali, "Iya, Ma, Pa. Raka pamit," katanya.
"Kami titip Keelua, ya. Tolong di jaga baik baik," pesan Bambang.
Tanpa ragu Anraka mengangguk padahal Keelua tau bahwa Anraka tidak akan melaksanakan janjinya itu.
Keelua menoleh ke sana dan ke sini, ia mencari sosok adiknya yang sejak tadi tidak tampak di mana pun.
Di ambang pintu rumahnya, ia akhirnya menemukan seorang anak laki laki yang juga sedang menatapnya dengan tatapan datar. Dari sorot matanya, seolah ia menjelaskan sesuatu yang tak mampu Keelua baca. Di menit selanjutnya, Ravi berbalik dan masuk ke dalam rumah.
Keelua hendak mengejar adiknya namun seseorang sudah menarik tangannya untuk masuk ke mobil. Tak ingin terlupa, Keelua mencium tangan kedua orang tuanya terlebih dahulu lalu masuk ke dalam mobil dengan berat hati.
"Mama, Papa, Keelua titip salam sama Ravi, ya."
Hanya itu yang mampu Keelua katakan sesaat sebelum mobil keluarga Anraka melaju meninggalkan rumah yang sudah ia tempati sejak lahir sampai sebesar ini.
Semua anggota keluarga Anraka dan juga Keelua sudah masuk ke dalam mobil, sedangkan Sekar dan Bambang masih setia berdiri di sana dan menunggu mobil itu menghilang dari pandangan.
Hati Keelua menangis namun matanya tidak basah, ia menahan semuanya, ia tak akan menangis di hari bahagia untuk semua orang ini tapi tidak untuknya dan mungkin untuk beberapa orang termasuk Anraka.
Keelua bisa tau isi hati Anraka, tidak jauh berbeda dengan apa yang ia rasakan sekarang. Mereka sama sama terpaksa, sudah pasti mereka ada di dalam tekanan, Anraka juga tidak suka.
"Senang, ya, anggota keluarga kita nambah satu." Regina tersenyum manis lantas menoleh ke belakang, menatap Keelua yang duduk di belakangnya.
"Seneng banget!" seru Angel.
"Angel senang sekarang udah punya teman di rumah, ya?" tanya Regina dengan senyuman manisnya.
Angel mengangguk dengan begitu manis dan bersemangat.
"Coba kamu ajarin anak kamu itu, Regina. Jangan suka ngomong yang macam macam di depan orang lain, nanti mereka mikir macam macam juga tentang keluarga kita. Ngurus anak itu yang benar, seperti saya ngurus Anraka." Oma Arum menyeletuk.
Regina otomatis terdiam namun tetap tersenyum ke arah Angel yang duduk di jok mobil belakang. "Enggak apa apa," bisiknya kemudian kembali menoleh ke depan.
"Mungkin Angel terlalu senang, Ma. Enggak apa apa, dong. Papa juga sama senangnya kok karena sekarang udah punya menantu." Arya ikut berkomentar.
"Tapi tetap aja, Arya. Angel harus jaga sikap," balas Oma Arum.
"Udah, enggak usah dibahas lagi. Angel pintar kok, pasti dia paham." Arya yang mengemudikan mobil melirik wajah istrinya dari spion, wanita itu mendadak kesal. Ia selalu tau bahwa Regina tidak pernah suka jika anak mereka dikritik.
Keelua tiba tiba merasakan sesuatu yang aneh, gadis itu seperti melihat sebuah perang dingin di tengah keluarga hangat yang selalu ia lihat.
Saat masih hanyut dalam lamunannya, tiba tiba seseorang memegang tangan Keelua. Gadis itu pun tersentak kecil lalu menoleh ke arah Angel yang duduk di sebelahnya.
"Kenapa, Angel?" tanya Keelua dengan lembut.
"Angel tadi sempat ngeliat Ravi sebelum kita pergi, kayaknya Ravi enggak senang gitu. Dia cuma berdiri aja di depan pintu abis itu masuk lagi, enggak ada niatan mau datang ke kita. Angel niatnya mau pamitan sama dia pas di dalam rumah tadi cuma dia tiba tiba ngilang gitu aja. Ravi kenapa, ya, Kak Keel?"
Keelua kembali terdiam lagi, ia tau adiknya benar benar kecewa karena semua ini. Mungkin lebih kecewa darinya karena sejak awal yang mendukungnya untuk menolak perjodohan ini hanya Ravi. Hanya adik laki lakinya.
"Enggak apa apa, Angel. Kamu tau sendiri 'kan gimana awalnya perjodohan ini? Ravi emang enggak ngedukung Mama sama Papa kakak pas mau jodohin kakak jadi mungkin setelah perjodohan ini benar benar terjadi, dia ngerasa kecewa gitu. Tapi Kak Keel akan hubungi dia secepatnya, kamu enggak perlu cemasin Ravi, ya." Keelua balas mengenggam tangan kecil Angel.
Angel manggut manggut, sepertinya gadis kecil itu sedang memproses tiap kata katakan. yang Keelua
"Kalau Angel yang hubungin Ravi kira kira gimana, ya? Ravi bakal balas enggak, ya? Atau Angel malah diblok? Angel ragu," kata Angel setelahnya.
"Coba aja dulu, Angel. Kalau kak Keelua yang hubungin dia, kayaknya dia masih belum mau ngerespon. Dia pasti kecewa banget sama kakak, kakak bakal minta maaf setelah dia udah ngerasa baikan."
Angel menatap ke luar jendela, ia benar benar tak tega dengan adiknya yang sudah membelanya mati matian namun pada akhirnya tidak berhasil. Semoga Ravi tau bahwa apa yang telah Keelua lakukan sekarang adalah demi kedua orang tuanya mereka dan semua orang yang terlibat.
Keelua lebih memilih mengecewakan dirinya sendiri daripada mengecewakan orang lain. Kedengarannya memang menyedihkan namun itulah jalan yang Keelua pilih, tak ada cara lain lagi.
"Angel tau kalau Kak Keelua juga kecewa sama keadaan, tapi Kak Keelua harus percaya kalau Angel bakal selalu nemenin kakak. Jangan ngerasa kesepian apa lagi sendiri, ya."
...****************...
"Kita sampai di rumah. Selamat datang, Keelua!"
Semua keluarga Pranata menyambut Keelua dengan penuh kebahagiaan kecuali Anraka. Pemuda itu langsung masuk begitu saja tanpa menghiraukan orang lain.
"Kalau kamu capek, kamu bisa istirahat dulu di kamar. Nanti barang barang kamu dibawain sama Bi Maryam ke kamar," kata Oma Arum.
"Selamat datang, Non Keelua. Bibi senang sekali setelah tau kalau Den Raka nikah sama Non Keelua. Sangat cocok sekali," kata Bi Maryam dengan senyuman tulusnya.
"Terima kasih, Bi," balas Keelua dengan senyum yang terpaksa.
"Semoga kamu betah, ya. Kalau ada apa apa jangan ragu bilang ke orang rumah, oke? Kasih tau siapa aja atau langsung ke Bi Maryam kalau kamu punya keperluan," pesan Arya sebelum Keelua berlalu.
"Harus betah, dong. Kan udah jadi istrinya Raka sekarang. Iya, 'kan, sayang?" Oma Arum merangkul bahu Keelua.
Keelua mengangguk paham, lagi lagi dengan senyuman terpaksa dan dibuat buat.
Hanya Angel yang dapat melihat senyuman terpaksa itu, ia melihat kesedihan di dalam tiap kilau mata Keelua yang bersinar. Terlalu sering berada di posisi yang sama; yaitu berpura pura bahagia di depan orang lain membuat Angel bisa dengan mudah merasakan semua kepura puraan di sekitarnya.
"Angel anterin ke kamar Bang Raka, yuk. Kayaknya Bang Raka udah ada di atas," ajak Angel.
Gadis yang memakai terusan berwarna nude itu terdiam lalu melirik ke arah Regina.
"Keelua sekamar sama Raka?"
Regina terkekeh pelan, "Iya, dong, sayang. Kalian 'kan udah resmi jadi suami istri, kamar kalian pasti sama, sama beda, ada ada aja kamu ini. Udah sana, nanti Angel yang nemenin ke atas, abis itu kamu istirahat, ya."
Astaga, sial.
"Ini kamar Bang Raka, Kak Keelua langsung masuk aja, kakak 'kan udah jadi istrinya."
Keelua dan Angel sudah sampai di depan kamar Anraka.
Dengan ragu Keelua menatap gagang pintu itu namun ia harus tetap masuk ke sana atau Oma Arum akan mengomelinya.
"Angel ke kamar dulu, ya! Dadah, Kak!" kata Angel lantas meninggalkan Keelua di depan kamar Anraka lalu masuk ke dalam kamarnya.
Keelua menarik napas panjang lalu langsung masuk ke dalam kamar Anraka tanpa mengetuknya lebih dulu.
"Eh?!"
Keelua kembali berlari keluar setelah melihat Anraka bertelanjang dada di dalam kamarnya.
Astaga! Apa apaan ini!