
"Masa gue enggak boleh ke rumah lo, sih?" Lula yang berdiri bersebelahan dengan Keelua sejak tadi hanya bisa mencebik bibir.
Keelua bilang, ia tak bisa membawa Lula datang ke rumahnya karena ada beberapa keluarganya datang dan menginap di sana. Sedangkan Lula tak langsung percaya karena tidak seperti biasanya Keelua seperti ini, siapa pun yang ada di rumahnya, Keelua pasti akan selalu mengizinkan Lula datang dan bahkan bertemu mereka.
"Di rumah gue lagi ramai, La. Jangan sekarang deh, nanti aja. Gimana?" Keelua tersenyum kikuk, sebenarnya ia merasa tak enak namun apa lagi yang bisa ia lakukan? Tidak ada, tidak mungkin ia membiarkan Lula ke rumahnya sekarang karena Keelua harus pulang ke rumah Anraka.
"Kok gitu, sih? Lo enggak asik banget." Lula memalingkan wajah.
Keelua berpikir sebentar, ia mencari ide agar Lula tak kesal lagi padanya. Lula adalah tipe gadis yang mudah di bujuk saat marah, itulah sebabnya Keelua mau berteman dengan Lula. Kebanyakan gadis terlalu banyak drama, Keelua tidak menyukainya.
"Gini aja, nanti kalau lo datang ke rumah gue, gue bakal buatin lo makanan yang paling enak sedunia." Keelua merangkul bahu Lula.
Ini sudah jam pulang namun Lula dan Keelua harus berdebat dulu tentang hal ini.
"Dimasakin sama lo? Ogah banget, yang Lula.
"Kurang ajar lo, udah bagus mau gue kasih makan." Keelua meremas kuat bahu temannya itu.
Lula tertawa kecil, "Percuma makan kalau bakalan keracunan, Keel."
"Enggak, bukan gue yang masak, nanti gue minta tolong sama nyokap gue buat masakin makanan terspesial buat lo. Gimana? Lo mau, 'kan?" tawar Keelua.
"Padahal gue mau banget ke rumah lo sekarang, gue pengen pamer ke Ravi kalau gue udah punya mobil pribadi sekarang." Lula mencebik bibir lagi.
Ngomong ngomong tentang Ravi, Keelua ingat bahwa ia belum menghubungi anak laki laki itu. Mungkin ia masih marah atau semacamnya, Keelua tidak mengerti. Sepertinya Keelua harus segera mengunjungi adik kecilnya itu, ia tak ingin masalah ini berlarut larut dan membuat hubungan persaudaraannya dengan Ravi renggang.
Ravi mungkin marah namun anak laki laki itu tidak akan membenci kakaknya sendiri.
"Iya, nanti aja. Ravi enggak bakal ke mana mana kok."
Lula mendecak, "Ya udah deh, asal gue dimasakin sama Mama lo. Masakan mama lo kan yang paling enak sedunia."
"Iya dong, makanya anaknya cantik banget kayak gue." Keelua tersenyum bangga.
"Enggak ada urusannya sama itu, ya. Lo jangan ngada ngada," tepis Lula.
Setelah selesai dengan perdebatan itu, akhirnya kedua gadis yang sedang bersama sama menenteng tas tersebut keluar dari ruang kelas kemudian melangkah menyusuri koridor untuk keluar dari bangunan sekolah.
Ketika masih di dalam perjalanan keluar, Keelua teringat satu hal. Ia sangat ingin menceritakan hal tersebut pada Lula namun ia ragu.
Keelua tau bahwa Lula adalah orang yang dapat dipercaya namun di sisi lain, Lula adalah penyebar gosip yang sudah terkenal di sekolah ini. Sama saja seperti Gibran, bedanya Lula versi perempuan.
"La, gue pengen cerita sesuatu tapi gue pengen lo jangan kaget apalagi jadiin ini gosip. Kalau ini sampai bocor, gue uninstall lo sebagai temen gue," ancam Keelua.
Lula menoleh, "Kalau mau cerita ya tinggal cerita aja, sih. Lebay banget, gue enggak akan jadiin itu gosip kecuali ceritanya seru dan menyangkut orang orang terkenal di sekolah ini. Tapi kalau itu masalah pribadi lo, gue juga malas jadiin gosip, itu cuma buang buang waktu berharga gue. Paham lo?" jelasnya.
"Gaya banget lo." Keelua memutar bila mata malas.
"Cerita aja sih, jangan bikin gue penasaran." Lula menarik lengan Keelua agar berjalan lebih dekat ke sebelahnya.
Keelua berpikir sebentar, sebenarnya ia masih ragu untuk menceritakan ini karena ia masih memikirkan perasaan Lula juga. Namun, jika ia tak menceritakan ini pada Lula, Keelua pasti akan sangat terbebani dengan pikirannya sendiri.
"Apa, sih? Cerita aja, Keel. Kayak sama siapa aja." Lula kembali menarik lengan Keelua.
"Gue takut ini bakal nyakitin lo."
Raut wajah Lula berubah, ia kemudian menatap intens sahabatnya yang tiba tiba bersikap aneh.
"Lo bikin gue deg deg an, lo harus ceritain sekarang. Gue enggak mau tau, gue enggak akan biarin lo pulang sebelum lo ngasitau ke gue apa yang pengen lo omongin." Lula menahan langkah Keelua dan akhirnya mereka berdua berdiri di tengah tengah koridor yang sudah sangat sepi karena murid murid yang lain sudah pulang lebih dulu.
"Kalau gue kasih tau lo hal ini, lo harus janji sama gue kalau lo bakalan tetap jadi teman gue dan enggak akan marah sama gue dan enggak akan kesel sama gue dan enggak akan diemin gue dan enggak akan apa pun. Lo harus tetap biasa aja dan seolah enggak tau apa apa." Keelua memegang kedua bahu Lula dan menatap tajam gadis berambut panjang itu.
"Lo bikin gue takut, beneran deh. Kayaknya ini hal yang besar banget ya buat lo?" tanya Lula dengan nada suara kecil.
"Gue janji. Gue enggak bakal jadiin. ini gosip tapi kalau ini sampai ngerugiin hati dan pikiran gue, gue enggak akan tinggal diam, gue mungkin bakal ngambek dikit sama lo. Dikit." Lula menaikkan tangannya, ia menunjukkan kata kecil dengan gerakan tangan.
Keelua menghela napas panjang kemudian ia tersenyum ke arah Lula yang menatapnya dengan tatapan serius yang jarang Keelua lihat dari gadis itu. Lula dan Keelua tidak pernah membicarakan hal hal serius, pernah namun tidak sering.
"Dari ada yang ngajakin gue nonton," kata Keelua.
Mata Lula membulat, "Siapa?" tanyanya dengan antusias.
"Ini orang yang pasti lo kenal tapi gue ragu bilangnya soalnya kayaknya lo suka sama dia." Keelua senyum kecil, ia ragu.
Raut wajah Lula benar benar tegang kali ini, seolah Keelua akan mengatakan nama seseorang yang sudah terlintas jelas di kepalanya.
"Siapa, Keel?" tanya Lula ulang.
"Dari pas di kantin, waktu gue nungguin lo yang pergi ke toilet, si cowok ini datang dan ngobrol sama gue. Sebelum dia balik, dia nanya ke gue, gue mau enggak pergi nonton bareng dia. Tapi gue enggak langsung ngeiyain karena gue mau tau gimana reaksi lo dulu, kalau misalnya lo keberatan, gue enggak akan nerima ajakan dia. Jadi please jangan marah sama gue, La." Keelua menatap Lula dengan tatapan memohon, gadis itu benar benar takut dengan reaksi yang akan Lula berikan padanya.
"Kasih tau gue, siapa orangnya, Keel, atau gue pukul lo di sini." Lula sudah kehabisan kesabaran, ia tak tau lagi bagaimana caranya agar Keelua mau jujur padanya.
"Dia, Bumi."
...****************...
"Kita ke markas mereka sekarang?" tanya Anraka saat kelas hari ini sudah selesai dan mereka sedang duduk di cafe yang jaraknya tidak begitu jauh dari sekolah.
"Iya. Anak buah kita juga udah mantau, katanya mereka ada di sana. Kalau mau, kita bisa duluan ke sana nanti anak anak pada nyusul. Anggota mereka banyak jadi kita enggak mungkin datang cuma berlima aja." Bumi menyeletuk.
"Iya, Rak. Kita mungkin bisa aja bikin mereka babak belur tapi bahaya juga kalau mereka banyak, gue enggak yakin kita bisa ngehandle semua anggota mereka." Gibran ikut buka suara.
Romeo menjentikkan jari, "Gue setuju sama mereka, kita juga harus siapin banyak pasukan buat nyerang. Lagian mereka juga yang duluan jadi udah tugas kita buat nyerang mereka balik karena dengan terang terangan mereka udah berani ngusik kita. Iya, 'kan, Gen?"
Genta menaikkan sebelah alisnya.
Setelah banyak perbincangan, akhirnya mereka semua langsung menuju markas musuh.
"Yang mana? Yang ini?"
"Iya, yang itu, Rak. Kayaknya mereka ada di dalam, itu motornya ada di luar semua."
Anraka berhenti tepat di depan sebuah bangunan tua yang di depannya ada banyak kendaraan roda dua yang terparkir rapi.
"Oke, siap siap."
Gibran yang berhenti di sebelah Anraka langsung mengikuti arah motor pemuda itu saat ia sudah mulai bergerak maju. Anraka mengendarai salah satu motor Bumi karena hari ini Anraka menggunakan mobil untuk berangkat ke sekolah. Gibran juga bingung, tidak biasanya Anraka mau menggunakan mobilnya untuk pergi ke sekolah, pemuda itu juga pernah bilang bahwa pergi ke sekolah menggunakan mobil itu buang buang waktu karena pasti akan terjebak macet di jalanan kota yang selalu saja padat.
Ada empat motor yang mengikuti laju motor Anraka, pengendaranya tak lain dan tak bukan adalah anggota EX. Di sana ada Gibran, Bumi, Ganta dan Romeo.
Sebelum menerobos markas musuh, Anraka dan teman temannya bersiap siap terlebih dahulu dengan cara memarkirkan motor mereka di tempat yang tidak terlihat dan mudah untuk melarikan diri jika diharuskan. Namun laki laki sejati itu tidak pernah lari saat ada peperangan, mereka akan bertahan sampai perang selesai, walaupun mereka sudah tak bisa berdiri sekali pun.
Lima pemuda tersenyum berjalan mengendap endap saat akan menuju ke pintu depan markas musuhnya. Mereka tak ingin orang orang di dalam sana sampai tau kehadiran mereka, geng EX ingin mereka semua lengkap dan tidak kekurangan satu pun anggota mereka.
Mereka akan bermain tenang dan tidak terburu buru. Seperti air laut yang tenang namun menghanyutkan.
"Dalam hitungan ketiga, kita masuk ke dalam. Tetap lakuin tugas kalian masing masing, jangan sampai ada yang salah dan jangan ada yang lari duluan. Kita harus pulang bareng bareng lagi, tetap ingat kalau prinsip kita itu adalah solid."
"Oke, Rak."
Mereka menyetujui itu. Semua tugas sudah punya orangnya masing masing.
Anraka berpikir sebentar, ia mendengarkan suara suara yang terdengar dari dalam. Dengan cepat menyusun rencana yang akan mereka pakai setelah ini dengan semua tugas yang tiap geng EX punya.
"Satu.. dua.. tiga!"