
"Keelua ke mana, sih? Kok enggak diangkat," gumam Bumi pelan.
Untuk ke sekian kalinya, Bumi mencoba menelepon Keelua lagi namun kali ini ponsel gadis itu sepertinya mati.
Tak ada cara lain, Bumi sepertinya harus menghampiri Keelua ke kelasnya, mungkin saja ada sesuatu yang terjadi pada gadis itu.
Sesampainya di depan kelas Keelua, Bumi langsung membuka pintu kelas tersebut namun seseorang langsung keluar dari sana dan menghalangi langkah Bumi.
"Halo, Bumi. Mau ke mana nih?" tanya seorang gadis berambut sebahu.
"Gue mau ke dalam, ada urusan. Lo boleh minggir bentar, enggak?" balas Bumi, ia tampak terburu buru.
"Nyari siapa, sih? Mending di sini aja sama gue, ngapain ke dalam coba?" Si gadis masih menahan langkah Bumi dan seolah tak membiarkan pemuda itu masuk ke dalam kelas.
"Gue mau ketemu sama Keelua, dia ada di dalam?" tanya Bumi.
"Keelua? Keelua siapa, ya? Kayaknya lo salah kelas deh," tampik gadis itu lagi.
"Salah kelas gimana? Ini udah bener, enggak mungkin Keelua tiba tiba pindah kelas." Bumi kebingungan, padahal ini sudah benar kelas Keelua, ia tak mungkin salah.
"Ya emang enggak ada. Ngomong ngomong gue boleh minta nomer lo, enggak?" Gadis itu tersenyum manis untuk menggoda Bumi.
Tapi Bumi tetaplah Bumi, pemuda itu tak gampang tergoda.
"Enggak usah ngalihin pembicaraan, bisa panggilin Keelua dulu, enggak?"
"Di sini ada yang namanya Keelua, enggak?!" seru gadis itu ke dalam kelasnya.
"Enggak ada!" balas seluruh penghuni kelas bersamaan.
Bumi menggaruk pelipisnya yang sebenarnya tidak gatal, bagaimana mungkin ia salah?
"Keelua enggak ada di dalam?" Bumi bertanya sekali lagi.
"Enggak ada."
"Boleh gue cek?"
"Enggak boleh."
"Ya udah deh, makasih kalau gitu."
"Sama sama, Bumi-ku."
Bumi berbalik, ia hendak pergi dari sana namun saat si gadis tadi lengah, pemuda tersebut langsung menerobos pintu kelas hingga akhirnya ia berhasil masuk ke dalam ruang kelas tersebut.
"Bumi, lo enggak boleh masuk!" teriak gadis yang sejak tadi menghalangi langkah Bumi.
"Keelua mana?" tanya Bumi pada seluruh penghuni kelas.
Tidak ada yang menjawab, mereka seperti kebingungan dan tidak mengerti apa yang Bumi bicarakan.
"Kok diam? Keelua mana? Enggak mungkin kalian semua enggak kenal sama Keelua," tutur Bumi dengan napas yang tersenggal senggal.
"Enggak ada Keelua di sini," ucap seorang pemuda dari barisan bangku belakang.
Bumi mendecak, pemuda itu frustrasi. Tanpa mengatakan apa pun, ia pun langsung keluar dari kelas itu meskipun ia masih kebingungan.
Setelah Bumi benar benar menghilang dari pandangan, semua siswa yang ada di kelas itu menghela napas lega.
Sosok Keelua pun muncul dari bangku belakang, ia bersembunyi sejak awal kedatangan Bumi hingga pemuda itu benar benar pergi.
"Ngerepotin," sambung seorang pemuda yang sedang berbaring santai di kursi paling belakang, itu sebabnya Bumi tak melihatnya tadi. Setelah semuanya aman, lantas bangkit dan berdiri di hadapan Keelua. ia
"Akting kalian bagus juga," ujar pemuda itu sambil menoleh ke arah semua siswa yang ada di dalam sana dengan tatapan datarnya.
"Kenapa Bumi enggak boleh masuk sih, Rak? Padahal gue pengen banget ketemu sama dia," tanya Sarah, ia sedang duduk di bangku paling depan.
"Bumi enggak boleh ketemu sama Keelua," jawab Anraka tanpa basa basi.
Keelua hanya diam, ia tak membantah perkataan Anraka sama sekali karena ia juga bingung apa maksud Anraka melakukan ini sebenarnya.
"Kenapa Bumi enggak boleh ketemu Keelua?" tanya murid lain.
Anraka melangkah santai ke arah bangku Keelua lalu mengambil tas gadis itu yang tersembunyi di bawah meja kemudian menggendong tas tersebut di bahunya.
"Karena Keelua punya gue."
Bukan hanya para murid yang ada di dalam kelas itu yang terlonjak kaget karena beberapa diksi yang Anraka katakan, Keelua pun sontak saja kehabisan kata kata.
Anraka ini benar benar gila.
Kelas berubah riuh apalagi saat Anraka menarik Keelua untuk keluar dari dalam kelas itu, mereka sepertinya akan pulang lebih awal.
"Lepasin gue!" Keelua memberontak, ia meminta Anraka untuk melepaskan cekalannya.
Anraka tidak mendengarkan, ia tetap menyeret Keelua di sepanjang koridor yang mereka lewati.
"Lo enggak dengar, hah?! Gue bilang lepasin gue!" pekik Keelua, suaranya itu menarik perhatian beberapa orang yang ada di dekat mereka.
Anraka berhenti, kemudian ia melepaskan cekalannya dari lengan Keelua. Sang gadis yang sudah sangat kesal hingga matanya berair pun berbalik lalu berlari sekuat tenaga meninggalkan Anraka yang terdiam di tempatnya.
Keelua terus berlari, ia hanya ingin menghindar dari Anraka yang entah sedang kemasukan jin apa. Mengapa pemuda itu mengatakan hal hal yang seharusnya tidak ia katakan di depan semua orang? Anraka sudah kelewatan.
Di depan toilet, beberapa saat sebelum Keelua hendak masuk ke dalam sana, seseorang tiba tiba saja menarik tangan Keelua hingga membuat gadis itu mundur beberapa langkah. Keelua mendongak dan mendapati sosok seorang pemuda yang sejak tadi ia hindari. Matanya melebar.
"B-Bumi?"
"Lo ke mana aja? Gue nyariin lo ke mana mana, Keel." Bumi menatap mata Keelua dengan begitu intens, membuat sang gadis sontak salah tingkah.
Keelua tidak menjawab, air matanya menetes tanpa aba aba.
"Lo kenapa? Kok nangis?" tanya Bumi lagi, ia sadar betul bahwa Keelua sedang tidak baik baik saja.
"Gue enggak apa apa, gue enggak ke mana mana, Bum." Dengan cepat Keelua langsung menyeka sisa sisa air mata di pipinya.
"Tadi gue enggak bisa nemuin lo di mana mana, gue bahkan udah nyariin lo ke semua kelas, tapi lo enggak ada. Lo sengaja menghindar dari gue? Salah gue apa, Keel?"
Si gadis berkuncir itu menggeleng kukuh, "Lo enggak ada salah apa apa, ini cuma salah paham, Bumi. Kita bicarain ini nanti aja, ya. Gue harus pergi dulu," ujarnya, ia hendak melangkah pergi namun Bumi menahan pergerakannya.
"Lo mau ke mana? Kita belum selesai ngomong, jangan tinggalin gue gitu aja, Keel."
Bumi tetap mencekal tangan Keelua meskipun gadis itu terus mencoba melepaskan diri. Bumi tidak ingin digantung seperti ini, ia harus mengatakan apa yang ingin ia katakan pada Keelua sebelum terlambat.
"Kita bisa ngomong nanti aja, gue harus tenangin diri gue dulu, ya. Please, ngertiin gue." Keelua menatap mata Bumi dengan tatapan sayu, gadis itu mencoba mengatakan bahwa ia harus segera pergi dan mencari ketenangan.
"Enggak bisa, lo enggak bisa pergi dari gue, Keel. Lo harus dengar dulu apa yang mau gue kasih tau ke lo, ini penting banget buat gue."
Setetes air mata kembali luruh dari pelupuk mata Keelua dan dengan cepat ia kembali menyekanya.
"Lo enggak dengar dia bilang apa? Lepasin."