
"Bangsat!"
BUGH!
"Enggak usah belaga jagoan lo!"
BUGH!
"Sudah, Anraka!"
Para Guru sudah susah payah mencoba menghentikan aksi baku hantam itu. Tidak bisa disebut baku hantam juga, karena di sini hanya Anraka yang memukuli seorang pemuda yang sama sama menggunakan seragam basket dengannya.
"Si Raka enggak bakalan berhenti sebelum si Iqbal bonyok, kita harus berhentiin dia," ujar Romea seraya menyenggol lengan Bumi.
Bumi hanya menghela napas, "Kalau gue misahin mereka, yang ada gue yang bonyok."
Ganta mendecak mendengar obrolan temannya itu, mau tak mau ia pun melangkah mendekat ke arah dua pemuda yang kini menjadi pusat perhatian semua orang.
BUGH!
Ganta mendaratkan satu tinjuan ke arah wajah Anraka hingga pemuda itu terhuyung ke belakang, lalu dengan cepat Ganta menarik tubuh Iqbal agar menjauh dari Anraka.
"Sialan!" umpat Anraka.
"Udah cukup." Ganta membalas tatapan Anraka dengan tatapan yang tak kalah tajam.
Para Guru buru-buru menyelamatkan Iqbal yang tampak kesulitan berdiri lantas membawa pemuda itu ke ruang kesehatan.
"Udah, Rak. Tahan emosi lo." Gibran mendekat ke arah Anraka yang masih menormalkan deru napasnya.
"Kenapa lo mukul gue, hah?!" bentak Anraka pada Ganta.
Hal itu tidak membuat Ganta merubah mimik wajahnya sedikit pun, tatapan dinginnya masih bisa tampak dengan jelas.
"Lo harus dipukul dulu biar sadar," ucap Ganta lalu berbalik dan meninggalkan lapangan basket indoor.
"Si Ganta cuma enggak mau lo kena masalah, tapi lo tau dia orangnya gimana." Bumi angkat suara.
Anraka mengeram kesal lalu beranjak dari tempat itu.
Perseteruan antara Iqbal dan Anraka awalnya terjadi hanya karena hal sepele. Tadinya Anraka dan Iqbal sedang bermain basket, mereka ada dalam satu tim namun di tengah tengah permainan, tanpa sengaja Iqbal menyandung kaki Anraka hingga membuat pemuda itu terjatuh.
Karena kesal, Anraka langsung bangkit dan membogem wajah Iqbal hingga pemuda itu terhuyung ke belakang lalu jatuh terduduk di atas lapangan. Kegiatan bermain basket pun berhenti karena adanya pertengkaran itu, Guru olahraga mereka sedang tidak hadir, kelas Anraka hanya di suruh untuk bermain basket di lapangan indoor.
"Kak Romeo, boleh minta foto, enggak?"
Setelah Anraka pergi, para gadis yang masih ada di sana buru-buru mendekati tiga orang anggota EX yang tersisa. Ada Romeo, Gibran dan Bumi.
Seperti biasa, Romeo pasti akan tersenyum ke arah para penggemarnya dan melayani siapa saja yang meminta foto padanya. Dari semua anggota EX, bisa dibilang Romeo lah yang paling ramah dan kalem. Seperti namanya, dia adalah pemuda yang bucin. Tapi masalahnya, Romeo tidak punya pacar jadi dia bucin pada dirinya sendiri saja.
Romeo adalah pemuda paling rapi dan paling menjaga penampilan di antara semua teman-temannya. Ia bisa menghabiskan banyak waktu hanya untuk berdandan, layaknya seorang gadis.
Tak jarang Gibran dan Bumi selalu menggodanya dan mengejeknya tentang penampilannya yang terlalu rapi dan bersih. Dan jangan lupa, Romeo adalah pemuda yang sangat memperhatikan kebersihan dalam bentuk apa pun. Bahkan kebersihan teman-temannya sekali pun.
"Ya udah. Yang mau foto silahkan ya tapi cepet soalnya gue mau ganti baju. Udah keringatan," ujar Romeo.
Para gadis mengangguk kesenangan, mereka buru-buru mendekati Romeo lalu bergantian mengambil gambar bersama pemuda itu.
Bumi dan Gibran pun tidak dilewatkan, walau pun agak susah tapi para gadis di sana tetap berusaha meminta foto bersama.
"Kak Gibran, aku bawain kakak minuman, nih." Seorang gadis datang ke hadapan Gibran lalu menyodorkan ke sebotol air mineral pada pemuda itu.
Gibran melirik gadis itu sebentar, lalu menerima botol yang disodorkan padanya. "Thanks," ucap pemuda itu.
Namun setelah Gibran mengambil botol tersebut, gadis itu tidak kunjung bergerak dari tempatnya, ia masih berdiri di sana dan menatap Gibran dengan tatapan aneh.
Gibran melirik gadis itu seraya menaikkan sebelah alisnya, si gadis tersenyum malu malu lalu berkata, "Aku boleh minta foto bareng enggak, kak?"
Sudah Gibran duga, pemuda itu pun hanya bisa menghela napas lalu menganggukkan kepalanya pasrah. Ia tau bahwa para gadis di sekolahnya ini tidak akan pergi sebelum keinginan mereka terwujud.
"Kak Bumi! Aku mau minta foto dong!"
"Sama aku aja, kak!"
"Kak Bumi ganteng banget."
"Kak Bumi!"
"Kak Bumi, follback instagram aku dong, kak!"
"Kak Bumi!"
Bumi menutup kedua telinganya menggunakan kedua telapak tangannya sambil melangkah cepat menuju keluar lapangan indoor. Para gadis mengikutinya dari belakang seraya berteriak memanggil namanya.
Perlu diketahui, Bumi tidak pernah menolak pada gadis yang meminta foto bersama dengannya secara gamblang, ia takut menyakiti perasaan seseorang yang menyukainya namun Bumi tidak begitu senang berfoto. Ia hanya akan terus menghindar dan kabur dari kejaran para gadis yang mengikutinya, memakai seribu alasan agar ia bisa bebas dari mereka dan bersembunyi di kelas seharian.
Intinya, Bumi tidak suka berfoto.
"Kak Bumi! Sekali aja!"
Para gadis itu pun mendekat, Bumi tidak punya pilihan lain selain menghadapi mereka.
"Kak Bumi!"
"Kak!"
"Akhirnya! Jangan kabur lagi, kak!"
"Kak Bumi, i love you!"
Gerombolan gadis itu semakin dekat, Bumi menelan salivanya kasar.
"Stop!" Bumi menahan pergerakan para gadis yang seperti akan menabraknya.
"Oke, kalian mau apa?" tanya Bumi.
"Kita mau minta foto, kak!"
"Aku mau di follback, kak!"
Bumi menarik napas pelan, "Oke. Sini satu orang."
Para gadis itu pun berebutan maju, namun seorang gadis mampu menerobos dengan lincah.
"Siniin hape lo," titah Bumi.
Dengan senyum yang merekah, gadis itu pun memberikan ponselnya pada Bumi. Bumi pun langsung menerimanya.
Bumi menyetel kamera belakang lalu mengarahkan kamera ponsel itu ke arah gadis yang berdiri tegak di hadapannya.
Cekrek!
Satu gambar di ambil. Bumi buru-buru mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya lalu segera masuk ke dalam ruang ganti dan menguncinya rapat rapat.
Para gadis yang kebingungan hanya bisa melongo. Terutama gadis yang ponselnya dipegang oleh Bumi tadi, ia langsung membuka ponselnya lalu mendapati foto dirinya sendiri sedang berdiri seperti orang bodoh.
Gadis itu mengeram kesal, "Bukan foto kayak gini, kak Bumi! Aku mintanya foto bareng kakak, bukan kakak yang fotoin aku!" Lalu dengan sangar menggedor-gedor pintu ruang ganti.
Gadis lain cekikikan setelah melihat foto gadis tadi, Bumi benar benar kurang ajar!
Sedangkan Bumi, ia sudah bernapas lega di dalam ruang ganti. Walau pun para gadis itu belum pergi, setidaknya ia bisa sendirian lagi.
Pemuda itu buru-buru mengeluarkan ponselnya, ia akan menghubungi satu-satunya orang yang bisa menyelamatkannya sekarang. Siapa lagi kalau bukan Keelua Ameera?
"Halo, Keel."
"Halo, Bum. Kenapa lo?" Suara Keelua terdengar jelas dari ujung sana.
"Tunggu tunggu! Biar gue tebak, lo pasti lagi dikejar kejar sama fans lo lagi, 'kan?" tebak gadis itu.
"I-Iya," balas Bumi gugup. "Lo bisa ke sini, enggak? Gue laper banget nih tapi mereka belum pergi juga."
Terdengar Keelua bergumam, "Gue lagi sibuk, sih."
"Sibuk apaan lo?" tanya Bumi tidak percaya.
Sejak kapan Keelua bisa sibuk?
"Sibuk enggak ngapa ngapain." Keelua terkekeh.
"Buruan, Keel."
"Iya. Sekarang lo di mana?"
"Gue di ruang ganti dekat lapangan basket indoor."
Suara gaduh dari luar masih terdengar jelas. Bumi berharap Keelua bisa cepat datang dan cepat menyelamatkannya juga.
"Oke. On the way, gas ngeeeng!"
.
.
.
.
.
.
.