
Hari yang baru, dengan perasaan yang sama. Menyedihkan.
Keelua berangkat lebih dulu, ia tak menunggu Anraka yang entah masih tidur atau apa. Gadis itu juga melewatkan sarapan paginya yang seharusnya ia lakukan bersama keluarga Pranata.
Gadis itu melangkah gontai memasuki gerbang sekolah sambil menunduk, sepertinya ini terlalu pagi untuk datang ke sekolah, belum banyak murid yang datang dan area sekolah pun masih sepi. Tak apa, ini lebih baik.
Dari jarak beberapa meter, Keelua melihat sebuah bangku kayu kosong di pinggir taman sekolah. Ia pun menghampirinya lalu duduk di sana, menikmati udara pagi yang sejuk, setidaknya untuk meredakan sedikit penat hatinya sejak kemarin.
Si gadis dengan rambut di kuncir asal itu tak mengatakan apa apa, ia hanya tersenyum getir untuk menertawai dirinya sendiri.
Mengapa ia mengeluh? Untuk apa ia mengeluh?
Masih ada ribuan orang yang diberi kehidupan lebih berat darinya, masih ada banyak orang yang bahkan tidak tau arah tujuan hidupnya atau tidak memiliki alasan lagi untuk terus meneruskan kehidupannya di bumi ini.
Keelua harusnya bersyukur, ia masih diberi kemudahan yang lebih dari pada orang orang di luar sana walaupun ya, tidak semudah itu untuk menjalaninya. Tentu saja, semunya akan terasa lebih berat dari apa yang diperkirakan.
Gadis itu hanya tak mampu menebak, kira kira akan seperti apa ia menjalani hidup jika diselimuti dengan perasaan sedih seperti ini? Berapa lama waktu yang dibutuhkan agar ia bisa terbiasa dan benar benar ikhlas menerimanya?
Bermenit menit Keelua terdiam di atas kursi kayu yang mulai usang itu, sudah banyak murid yang datang dan beberapa ada yang dengan tidak segan menyapa gadis tersebut.
Keelua akhirnya membalasnya dengan senyuman dan lampaian tangan meskipun perasaannya sedang campur aduk.
"Halo, cantik."
Keelua merasa terpanggil, ia akhirnya menoleh ke sumber suara dan ternyata ada Elvano di sana, duduk di atas motor kesayangannya.
"Cemberut gitu, kenapa, sih?" tanya Elvano sembari turun dari motornya dan ikut duduk bersama Keelua di kursi kayu tadi.
"Enggak apa apa."
"Udah gue duga, pasti jawabannya gitu. Kenapa semua cewek enggak punya jawaban lain kalau di tanya? Kenapa semuanya bilang enggak apa apa padahal lagi ada apa apa. Aneh banget, dasar cewek," dumel Elvano.
Keelua memutar bola matanya malas, tangannya yang sejak tadi diam mendadak ia lipat di depan dada.
"Lo marah sama gue?" tanya Elvano lagi.
"Enggak," balas Keelua dengan cepat.
"Marah kenapa?" Meskipun Keelua bilang tidak tapi sebagai pemuda yang baik hati dan peka; Elvano tau bahwa gadis itu sedang marah atau kesal kepadanya.
"Gue bilang enggak, pergi sana!" seru Keelua.
"Enggak marah kok ngusir? Apa apaan coba?" Elvano masih tetap di tempatnya, tidak bergerak sama sekali.
Keelua tidak menjawab, ia tetap duduk di tempatnya dan menatap ke arah lain asal bukan ke arah Elvano.
"Gue tau lo kesel sama gue gara gara masalah kemarin yang gue ngasitau lo fakta tentang geng EX. Gue tau lo marah karena itu dan akhirnya sikap lo gini ke gue. Tapi, itu kan menurut gue, gue bebas dong komentar apa aja sesuai pendapat gue?" kata Elvano lagi.
"Iya, iya. Terserah lo ah, gue mau masuk." Keelua kemudian berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Elvano lebih dulu.
Dengan buru buru Elvano langsung mengejar Keelua dan meninggalkan motornya begitu saja. Pemuda itu berusaha menyamai langkah Keelua yang entah mengapa melangkah begitu cepat seolah ada orang jahat yang mengejarnya.
"Keel, tunggu. Keelua!" Elvano menarik narik tangan Keelua namun gadis itu tak mau berhenti dan malah memberontak.
"Gue enggak mau, El. Pergi sana," usir Keelua sekali lagi.
"Tapi, Keel. Gue—"
"Lepasin dia!"
"Argh!"
"El!"
Keelua memekik kaget saat tiba tiba datang seorang pemuda yang langsung menarik kerah baju Elvano dari belakang dan melempar tubuh laki laki tersebut sampai jatuh ke tanah.
"Bumi!" seru Keelua begitu mengetahui yang baru saja membanting tubuh Elvano adalah Bumi.
"El, lo enggak apa apa?" tanya Keelua seraya menghampiri Elvano yang sudah jatuh terduduk.
Elvano menggeleng, "Enggak apa apa." Kemudian berusaha bangkit dan berdiri di depan Bumi.
"Apa apaan lo? Ngapain lo narik narik Keelua kayak gitu? Lo mau nyari masalah sama gue?" tanya Bumi dengan wajah yang benar benar tampak kesal.
"Apa hubungannya sama lo? Lo bukan siapa siapa, jangan sok berkuasa di sini," balas Elvano tanpa ragu.
Mata Keelua melebar, mengapa kedua temannya ini tiba tiba berdebat? Bisa saja mereka tiba tiba terlibat perkelahian juga.
"Lo nantangin, ya?" Bumi mendekat ke arah Elvano.
Keelua berdiri di tengah tengah keduanya, ia akan sekuat tenaga menghalangi aksi kedua laki laki yang sama sama keras kepala ini. Bisa terjadi masalah yang besar jika merek benar benar adu jotos di lingkungan sekolah. Dan ini masih sangat pagi, suasananya terlalu indah untuk melihat doa orang saling memukuli satu sama lain.
"Enggak usah banyak bacot, lo itu cuma-argh!"
"BUMI. STOP!"
Keelua kembali memekik kaget saat ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Bumi baru saja melayangkan satu pukulan yang mendarat tepat di pipi sebelah kanan Elvano.
Tanpa pikir panjang Keelua langsung maju dan mendorong tubuh Bumi agar menjauh dari Elvano yang sudah mendapatkan bogem mentah.
"GUE BILANG STOP! LO ENGGAK DENGAR, HAH?!"
"Dia yang duluan gangguin lo, Keel. Orang kayak dia harus di kasih pelaiaran." kata Bumi.
"Biarin aja, enggak usah bantuin dia, Keelua." Bumi buka suara lagi.
"Elvano enggak ganggu gue, jangan apa apa itu pakai kekerasan," ujar Keelua seraya membawa tubuh Elvano berjalan bersamanya.
Kedua orang itu pergi meninggalkan Bumi yang terdiam dan hanya bisa mengeram kesal.
"Gue bilang juga apa."
Keelua mendongak dan melihat ke arah wajah Elvano yang tiba tiba buka suara.
"Anggota geng EX itu enggak baik, Keel. Lo lihat apa yang terjadi sama gue sekarang, 'kan? Mereka itu emang cuma bisa mukul orang dan enggak mau tau apa yang sebenarnya terjadi. Setelah ini kejadian sama gue, lo masih enggak mau percaya sama apa yang gue bilang?" tanya pemuda itu.
Kali ini Keelua diam, ia tak menyangkal seperti terakhir kali.
Entah lah, Keelua merasa Geng EX itu tidak jahat, mereka sangat baik padanya. Hanya saja, watak mereka memang seperti itu mungkin karena mereka semua memang punya kekuasaan. Namun, jika dilihat secara individual, tiap anggotanya punya karakter yang berbeda dan yang paling penting; tidak boleh menilai seseorang dari luarnya saja sebelum mengenal orang itu dengan baik.
Keelua hanya tidak ingin membuat perasaan Elvano lebih buruk maka dari itu dia tidak mengatakan apa pun atau terkesan membela Geng EX lagi.
"Lo masuk ke kelas lo duluan, ya. Nanti gue minta tolong sama satpam buat mindahin motor lo ke parkiran," ucap Keelua saat mereka sudah sampai di depan kelas Elvano.
"Lo harus ingat kata kata gue, Keel," pesan Elvano sebelum Keelua melangkah pergi.
Si gadis yang mengunakan tas berwarna nude itu mengangguk tanpa mengatakan apa apa lalu melenggang pergi meninggalkan Elvano dengan perasaan yang campur aduk.
Untuk apa Bumi bersikap seperti itu kepada Elvano? Itu terkesan berlebihan dan hanya membuat situasi semakin buruk.
Seperti apa yang Keelua katakan, gadis itu kembali lagi ke luar gedung sekolah lalu pergi ke pos satpam untuk meminta bantuan pada penjaga sekolah tersebut agar memindahkan motor sport Elvano ke parkiran motor tempat di mana motor itu harusnya berada.
"Yang punya motor itu lagi sakit perut, Pak. Makanya motornya di tinggal gitu aja di sana. Mohon bantuannya," jawab Keelua saat ditanyai tentang kronologi bagaimana bisa kendaraan beroda dua tersebut ditaruh di sana.
Setelah selesai, Keelua bergegas kembali ke gedung sekolah karena sebentar lagi jam masuk pelajaran pertama akan dimulai.
"Keelua!"
Entah dari arah mana terdengar seseorang memanggil nama Keelua, gadis itu akhirnya berhenti di tempatnya kemudian mencari asal suara.
BYUUUUR!
Dari atas, satu ember berisi air tumpah dan membasahi seluruh tubuh Keelua mulai dari kepala sampai kaki.
Gadis itu syok hingga tak bisa mengatakan apa apa, sontak saja ia menjadi pusat perhatian orang orang yang berada di luar gedung sekolah dan yang berada di dalam gedung sekolah itu.
Setelah Keelua basah kuyup, barulah terdengar suara tawa dari lantai atas, di mana orang orang yang menyiram Keelua itu berada. Dari suara tawanya, Keelua bisa menebak siapa siapa saja orangnya.
Keelua mendongak, ia mengangkat kepalanya dengan seluruh rambut yang basah, dugaannya benar, oknum yang baru saja menyiramnya adalah Isabella dan teman temannya.
Gadis yang malang itu menarik napas panjang, ia tak tau apa kesalahannya hingga Isabella berlaku kurang ajar seperti ini terhadapnya. Entah ada perasaan aneh di dalam dada Keelua yang mengatakan bahkan ia tak perlu menanggapi orang orang yang menyebalkan ini, ia tau betul bahwa tipe orang seperti mereka akan lebih senang jika digubris.
Dengan perasaan yang campur aduk, Keelua kembali menunduk kemudian berbalik dan melangkah perlahan menuju arah yang berlawanan dengan yang ia tuju tadi. Gadis itu lebih memilih pulang daripada tinggal di sekolah dengan seluruh seragam yang basah.
"Woi, cupu! Enggak punya nyali lo?" teriak seseorang dari lantai atas, ia pasti adalah salah satu teman Isabella.
Keelua terus melangkah, ia tak ingin menanggapi orang orang tidak waras itu, dia masih ingin hidupnya tenang tanpa musuh. Meskipun mampu melawan siapa saja, Keelua sangat tidak suka memiliki musuh, ia merasa hidupnya akan menjadi tidak tenang jika ada perasaan dendam di dalam hatinya.
"Budek banget, anjing," umpat orang lain lagi.
Semua orang memandangi Keelua, gadis itu sama sekali tidak peduli, ia membiarkan saja orang orang menatapnya dengan tatapan berbeda beda.
"Awas!"
Orang orang memekik seolah berteriak pada Keelua bahwa ada sesuatu yang akan membahayakannya, gadis itu pun berbalik dan di detik pertama ia melihat sebuah ember yang dilempar melayang ke arahnya dan akhirnya gadis itu hanya bisa menutup matanya karena sudah tak punya waktu untuk menghindar.
Beberapa detik menutup mata, Keelua tak merasakan apa apa. Perlahan lahan ia membuka mata dan begitu terkejutnya dia karena mendapati seorang pemuda sudah berdiri di depannya dengan ember tadi di tangannya.
"Raka? Lo ngapain?" tanya Keelua dengan gemetar.
"Siapa yang ngelempar ini?" tanya Keelua pada semua orang.
Semua yang menyaksikan kejadian tadi masih ada di sana, belum ada satu pun yang membubarkan diri termasuk Isabella dan teman temannya yang menjadi pelaku utama.
"KALIAN TULI? SIAPA YANG NGELEMPAR?!" teriak Anraka lagi.
Masih tidak ada yang menjawab, para saksi mata tentu saja takut pada Isabella dan teman temannya, tidak ada yang berani buka suara karena mereka juga tak mau mencari masalah.
"Gue kasih tau sama kalian, jangan pernah ada yang berani ganggu dia. Ganggu dia artinya berurusan sama gue." Anraka berdiri di depan Keelua seolah olah menjaga gadis itu dari siapa pun, menjaga gadis itu dari dunia yang selalu bisa melukainya.
Keelua masih tak paham situasi, gadis itu diam saja dan tidak mengatakan apa apa. Ia masih memproses segala hal yang baru saja terjadi padanya, tubuhnya masih lembab dan ia mulai merasa kedinginan.
"Ayo." Anraka mencekal lengan Keelua lalu membawa gadis itu pergi entah ke mana.
Tak lama berselang, terlihat motor Anraka keluar dari gerbang sekolah bersama Keelua di belakangnya dan sudah mengenakan jas sekolah milik Anraka.
Semua orang tercengang, apa yang terjadi antara Anraka dan Keelua? Apa mereka memiliki hubungan yang spesial atau apa?
Ada Bumi di sana, ia memandangi kepergian Anraka bersama gadis yang ia suka dengan tatapan yang tak bisa terbaca. Ada perasaan aneh di dadanya tapi ia percaya bahwa sahabatnya tidak akan mungkin mengecewakannya.
Anraka tidak mungkin punya hubungan dengan Keelua yang notabenenya adalah gadis yang pemuda itu benci.
"Gue yakin, si Raka enggak mungkin suka sama cewek modelan kayak Keelua," gumam pemuda itu dalam hati.